Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Misi Tersembunyi


__ADS_3

"Ingat, harga diri pria dan wanita itu sangatlah berbeda. Jika wanita dilihat dari tutur kata serta prilakunya yang baik, sementara pria terletak dari seberapa besar dia memiliki keinginan untuk bekerja. Kalau pria itu sangat malas untuk bekerja, apakah kelak harga dirinya tidak akan diinjak-injak oleh wanita yang apa-apa bisa sendiri, tanpa harus mengandalkan prianya?"


Degh!


Jantung pria itu seketika nyaris saja berhenti ketika mendengar ceramah yang Samudra berikan. Karena meskipun dia beberapa kali telah di peringati oleh kedua orang tuanya, tetapi kata-kata Samudralah yang berhasil menyentuh hatinya.


"Te-ternyata lu dari dulu enggak pernah berubah ya, Sam. Lu selalu bisa buat gua terkejut dengan semua perkataan yang keluar dari mulu lu itu,"


"Sumpah, selama gua punya temen, enggak ada satu orang pun yang bisa bikin gua diam ketika di nasihati. Ini yang bikin gua salut sama lu dari dulu, makannya gua selalu cari lu. Dimana pun lu berada gua akan temui lu, karena cuman lu doang yang bisa buat gua kaya gini."


"Seriusan, Sam. Gua enggak akan pernah lupain lu sampi kapanpun itu, lu akan selalu jadi sahabat gua. Ingat itu!"


Samudra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sementara pria itu terus menerus mengoceh tanpa henti. Sampai akhirnya satu pertanyaan mampu membuat wajah Samudra menjadi lesu dan juga datar.


"Ohya, lu ngapain ada di rumah sakit ini? Apa lu lagi sakit? Sakit apaan, kok gua enggak tahu. Perasaan gua, dari dulu lu tuh enggak pernah ke rumah sakit. Meskipun panas tinggi, lu tetap memilih di rumah tanpa mau merepotkan orang lain apa lagi keluarga lu."


Samudra menatap pria itu dan menunduk perlahan, lalu dia kembali menatapnya sambil tersenyum. "Anak sama mertua lagi kena DBD, mereka di rawat disini. Sedangkan BPJS tidak bisa digunakan di rumah sakit ini, sementara tabunganku semuanya udah habis."


"Kini, hanya tersisa sawah dan juga rumah. Itu pun aku mikir berkali-kali jika menjual salah satunya, apakah ke depannya aku bisa membahagiakan istri, anak dan juga mertuaku kembali?"


Pria tersebut yang mendengar kisah Samudra, benar-benar syok. Ternyata Samudra yang dia kenal saat ini sudah menjadi kepala rumah tangga. Sesuai dengan misi yang sedang dia jalani.

__ADS_1


"Hahh? Seriusan lu udah nikah? Apa misi lu udah tercapai, sehingga lu memutuskan untuk menikah?" tanyanya dengan wajah serius.


Samudra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak, misi itu belum terwujud masih 30 sampai 40 persen. Sisanya kurang lebih 70 persen lagi untuk menyelesaikan misi tersebut.


"Se-serius? Kalau misi lu belum tercapai, kenapa lu udah nikah duluan?" tanyanya, kembali.


"Disaat aku udah memantapkan hati pada satu pilihan, maka pilihan itulah yang akan aku perjuangkan. Mungkin awalnya aku ingin menyelesaikan misi terlebih dahulu, barulah aku akan menikah. Akan tetapi, Allah telah membuatku jatuh hati terlebih dahulu dan sedikit merubah misiku. Disitu aku merasa, jika misi yang sedang aku jalani merupakan misi yang tidak semudah ketika aku bayangkan dulu."


"Cuman, ya sudahlah. Mau misiku berhasil atau tidak, aku akan tetap berjuang terlebih dulu. Jika itu berhasil, ya alhamdulillah. Dan jika tidakpun tak masalah, yang terpenting aku tidak akan memaksakan kehendakku ketika takdir Allah telah berbicara."


Senyuman terukir dari sudut bibir mereka berdua, betapa kagumnya pria itu pada sosok Samudra yang semakin ke sini semakin melihat sisi lain darinya.


Rasanya dia ingin sekali menjadi pria seperti Samudra yang merupakan pria dambaan wanita, cuman kembali lagi. Selera wanita berbeda-beda, tidak selamanya yang terlihat baik tetap baik. Dan tidak selamanya yang terlihat buruk akan selalu buruk.


"Udah lu tenang aja, masalah biaya anak dan mertua lu gua yang nanggung semuanya. Lu cukup jaga mereka, jangan pikirin tentang biaya lagi. Pokoknya anak dan mertua lu selama di rumah sakit gua yang nanggung. Semoga aja mereka bisa secepatnya pulih biar kalian bisa kumpul lagi."


"Ehh, tapi ngomong-ngomong lu kerja apaan? Jangan bilang lu---"


"Enggak, aku seorang petani di desa." jawab Samudra, berusaha untuk menahan sesuatu yang akan pria itu katakan.


"Hahh? Lu-lu se-serius ja-jadi petani? I-itu sama sekali bukan bakat lu, Sam. Lu itu---"

__ADS_1


"Apapun akan aku lakukan, demi sebuah misi yang harus aku capai. Ingat, selagi kita mau berusaha apapun yang tidak akan pernah mungkin terjadi pada kita, ya akan tetap terjadi. Karena kita tidak akan tahu, dari mana rezeki itu akan datang. Entah dari pintu samping, atas, bawah ataupun depan belakang."


Wajah pelongo penuh keterkejutan akan pekerjaan Samudra, berhasil membuat pria itu sudah tidak sanggup lagi. Dia bingung harus berkata apa lagi, untuk menjelaskan betapa berubahnya Samudra.


"Sumpah, gua benar-benar enggak nyangka lu bisa menjadi seorang petani. Pantes saja, fisik lu yang dulu dan sekarang jauh banget perbedaannya. Meskipun ganteng lu masih tetap abadi ya, cuman kulit lu jadi kusam gitu. Padahal dulu lu tuh behh, jadi pangeran impian setiap wanita. Gua aja sampai insecure, andaikan gua wanita, gua juga akan jatuh cinta sama lu."


"Lagian lu ngapain sih memilih jadi petani, sedangkan lu tamatan anak kulihan. Seharusnya lu ngelamar ke kantoran aja, atau lu mau gabung sama gua. Ayo, gua malah senang. Lu bisa jadi asisten pribadi gua, ehh ... Ta-tapi jangan deh, kayanya lebih cocokan gua yang jadi asisten lu deh."


Samudra tertawa kecil, saat melihat wajah sahabatnya begitu lucu ketika membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.


Mereka tertawa bersama, bercerita tentang kehidupan satu sama lain. Sampai seketika Samudra mendapatkan telepon dari Bulan, bahwa anaknya selalu menangis karena ingin bersama Ayahnya.


Disitulah Samudra segera berpamitan terlebih dahulu, setelah dia sudah memberikan kontaknya pada sahabatnya, sambil mengucapkan terima kasih atas bantuan darinya.


Tak lupa nanti ketika Samudra sudah memiliki uang penggantinya, maka dia akan segera mungkin untuk menggantinya karena baginya hutang adalah hutang, sahabat adalah sahabat. Samudra tidak mau memanfaatkan persahabatan mereka hanya demi uang.


Samudra pergi dalam keadaan wajah sedikit bahagia, meski tanggungannya akan bertambah, tetapi dia tidak masalah. Yang terpenting tanah dan rumahnya masih berada aman di dalam genggamannya.


Mungkin sekitar 2 atau 3 kali panen lagi dengan iualitas padi yang sangat bagus, maka hutang yang Samudra pinjam bisa segera terbayar lunas.


Sementara pria itu kembali meneruskan urusannya, lantaran dia kesini hanya untuk sekedar menengoki karyawannya yang terkena musibah. Setelah itu, dia akan kembali ke kota dengan perasaan bahagia bercampur senang.

__ADS_1


Semua ini akibat dari sekian lamanya dia berpisah, kini sudah kembali menemukan sahabat terbaiknya yang selama ini hilang tanpa kabar apapun.


...***Bersambung***...


__ADS_2