
Setelah Bulan sudah dipasangkan impusan dengan baik, dokter tersebut segera berpamitan dan pergi dari ruangan untuk mengurus yang lainnya.
Begitu juga Samudra, dia menitipkan Bulan pada salah satu suster agar dia bisa mengecek semua kesiapan almarhum mertuanya.
Tak lupa Samudra segera memberikan kabar duka cita ini pada Om dan Tantenya, agar mereka bisa langsung datang untuk membawa Raka bertemu dengan Neneknya untuk terakhir kalinya.
Jenazah Ibu Dara diinapkan terlebih dahulu di rumah sakit, lantaran dia meninggal tepat setelah shalat isya dimalam jum'at. Dimana hari itu adalah hari kematian yang sangat bagus.
Sementara Samudra masih tetap menjaga istrinya, sesekali dia selalu menerima kabar dari sang suster yang memberitahukan tentang kesiapan jenazah Ibu Dara.
Tak lupa, Samudra meminta tolong pada salah satu karyawannya untuk memberikan kabar duka ini pada warga setempat. Supaya mereka bisa membantu Samudra menyiapkan semuanya, agar ketika jenazah tiba di rumah duka hanya tinggal menyolatkan dan segera di makamkan tanpa harus menunggu kembali.
...*...
...*...
Di dalam bawah alam sadar, Bulan bermimpi bertemu dengan Ibu Dara di suatu tempat yang sangat indah dengan cahaya putih yang menghiasi sekeliling tubuh Ibu Dara.
"Ibu, mau kemana?" ucap Bulan yang berada dibelakang, menatap punggung Ibunya.
Ibu Dara pun berbalik, dalam keadaan bibir tersenyum lebar menatap anaknya yang terlihat kebingungan.
"Ibu ingin bertemu dengan Ayahmu, dia sudah menunggu Ibu di sana. Kamu cukup di sini, temani anak dan suamimu agar kelak kalian bisa hidup bersama penuh kebahagiaan."
"Jaga dirimu baik-baik ya, Nak. Kamu boleh bersedih, tetapi jangan sampai berlarut-larut. Saat ini hidupmu masih sangat panjang, meski Ibu sudah tidak lagi bisa lagi bersamamu."
"Namun, ingatlah. Jika Ibu dan Ayah akan tetap berada di dalam hati kecilmu, karena kamu merupakan bintang di dalam terangnya cahaya kami."
Mendengar jawaban dari Ibunya, membuat air mata Bulan menetes sampai semua itu terbawa di dalam dunia sadarnya.
__ADS_1
Samudra yang melihat istrinya mengeluarkan air mata, merasa cukup hancur. Disaat Bulan sedang beristirahat, kesedihan atas kehilangan Ibunya benar-benar cukup mendalam sampai membuatnya tertidur dalam keadaan menangis.
Kembali lagi di bawah alam sadar, Bulan yang tidak mau kehilangan Ibunya langsung memeluknya cukup erat dan menangis di dalam dekatan hangatnya pelukan seorang Ibu.
"Hiks, I-ibu. Please, Bulan mohon jangan tinggalkan Bulan disini sendirian. Bulan tidak mau sampai Ibu pergi, Bulan mau Ibu selalu ada di samping Bulan sampai nanti Bulan bisa membahagiakan Ibu."
"Ibu tahu 'kan, saat ini Bulan sedang berjuang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih, agar kehidupan kita bisa lebih baik lagi. Tapi, kenapa Bu. Kenapa Ibu malah mau ninggalin Bulan. Apa salah Bulan, Bu? Apa, katakan sama Bulan. Supaya Bulan bisa memperbaikinya asalkan Ibu tidak pergi hiks ...."
Ibu Dara hanya bisa tersenyum memeluk anaknya yang seperti anak kecil baginya. Padahal jelas-jelas, saat ini Bulan sudah berkeluarga. Sehingga dia tidak lagi sendirian menghadapi kehidupan untuk kedepannya.
"Bu, ayo kita pergi. Sekarang Bulan sudah besar, dia juga sudah memiliki suami dan juga anak yang sangat menggemaskan. Tugas Ibu juga sudah selesai, jadi sekarang waktunya Ibu menemani Ayah di sini ya."
Suara pria yang sangat Bulan kenal berhasil membuat Bulan membolakan matanya, lalu melepaskan pelukan Ibunya dan menoleh kearah sumber suara tersebut.
Seorang pria paruh baya memakai pakaian serba putih dengan cahaya yang sangat terang, berhasil membuat Bulan terpanah.
"Ayah!" pekik Bulan yang saat ini sudah berhasil memeluk Ayahnya, sambil menumpahkan segala kerinduannya yang selama ini dia pendam.
"Anakku, ternyata sudah besar ya. Ayah senang bisa bertemu denganmu kembali, Ayah hanya bisa meminta pada Allah. Agar kelak kamu bisa tumbuh menjadi peri kecil Ayah yang cantik, baik dan juga memiliki cinta kasih yang sangat tulus."
"Maafkan Ayah, jika selama ini Ayah sudah membuat kamu dan Ibumu susah untuk menjalani kehidupan kalian selama ini. Hanya saja, Ayah bahagia ketika Ayah bisa melihatmu bahagia bersama keluarga kecilmu. Apa lagi kamu di pertemukan dengan jodoh yang sangat baik, membuat hati Ayah terasa begitu bahagia."
"Jadi, kamu tidak perlu sedih lagi. Sekarang Ibumu adalah tanggung jawab Ayah, dia akan aman bersama Ayah disini. Lebih baik kamu kembalilah bersama suami dan juga anakmu yang sudah menunggumu di sana."
"Ingat pesan Ayah, jangan pernah kamu menyia-nyiakan pria sebaik suamimu dan menyakiti anak selucu anakmu. Karena jika kamu kehilangan mereka, kamu akan merasakan perasaan yang teramat menyesal untuk seumur hidupmu."
"Jaga mereka, layaknya kamu menjaga dirimu sendiri. Berikan mereka kasih sayang yang berlimpah dan kamu juga harus perbanyak sabar supaya bisa menghadapi setiap lika-liku kehidupan yang akan kalian jalani."
"Ayah dan Ibu tidak akan meminta apa-apa, selain kamu hidup bahagia bersama suami dan anakmu. Jika kamu selalu merasakan kebahagiaan, maka kami akan selalu tersenyum lebar. Cuman, kalau kamu merasa bersedih maka kami akan sangat sedih karena ketika wajahmu penuh dengan air mata. Kami sudah tidak bisa lagi menghapusnya."
__ADS_1
Perkataan Ayah Bulan, membuat Bulan sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dia hanya bisa terus memeluk Ayahnya dengan isak tangis yang termat menyesakkan dadanya.
Sampai akhirnya pelukan itu perlahan mulai terlepas dengan tatapan kedua orang tua Bulan yang menatap anaknya penuh cinta, serta hiasan senyuman membuat Bulan mengerti jika saat ini mereka sangatlah bahagia bisa kembali di persatukan.
Namun, perlahan demi perlahan saat Bulan mulai tersenyum melihat kebahagiaan kedua orang tuanya. Tiba-tiba saja tubuh kedua orang tua Bulan mulai menjauh seakan-akan ada yang menarik ataupun menyedot kebelakang.
Wajah panik, khawatir dan juga air mata kembali terpecahakan ketika Bulan berlari mengejar kedua orang tuanya, tetapi tidak selalu berhasil. Sehingga semua itu membuat Bulan sangat-sangat hancur.
Sekeras dan sekencang apapun tekat Bulan untuk mengejar kedua orang tuanya, tetap saja membuat Bulan tidak bisa menggapainya sampai dia pun terjatuh dan berteriak di dalam kesedihannya.
"Ayah!"
"Ibu!"
"Jangan tinggalkan Bulan!"
"Bulan mohon, kembalilah. Bulan hanya ingin hidup bersama kalian, jika kalian pergi. Maka Bulan ingin ikut bersama kalian, Bulan tidak mau hidup sendiri dikerasnya dunia, Bulan tidak mau!"
"Ayah, Ibu! Kalian kenapa jahat meninggalkan Bulan sendirian di sini, kenapa hiks ...."
"Apakah Bulan adalah anak yang nakal, sehingga kalian sangat tega meninggalkan Bulan. Iya? Jika benar begitu, Bulan janji. Bulan akan menjadi anak yang baik, sesuai dengan keinginan kalian. Asalkan Bulan bisa selalu bersama kalian, Bulan mohon Ayah Ibu. Jangan tinggalin Bulan, Bulan benci kesendirian. Bulan benci, hiks ...."
Bulan menangis sesegukan, dengan suara teriakan yang cukup kencang mewakilkan isi hatinya ketika dia tidak lagi melihat kedua orang tuanya.
Sampai seketika seseorang berdiri tepat di depan Bulan, lalu dia berjongkok sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangannya.
Perlahan Bulan mengangkat kepalanya, dan menatap lekat manik mata indah itu dengan tatapan yang sangat mendalam.
...***Bersambung***...
__ADS_1