Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Bukti Cinta Anak Laki-laki


__ADS_3

"Sayang, udah ya jangan nangis lagi. Ini di tempat umum loh, nanti malam kita teruskan lagi pembicaraan ini ya."


"Aku tahu, banget kok perasaanmu saat ini. Pasti hati dan pikiranmu sedang sama-sama kacau. Jadi sabar dulu ya, Dek. Aku cuman enggak mau, jika Raka ke sini secara tiba-tiba, terus melihat Bundanya nangis. Yang ada aku yang kena marah oleh penjagamu yang terlalu posesif itu."


"Jadi----"


"Bunda? Bunda napa, tok nangis? Wah, Ayah apain Bunda? Hem, ndak beyes ini. Ayah pasti agi omeyin Bunda, tan?"


"Huhh, dacal Ayah ini. Bica-bicana mayahin peyempuan, cini alo mau mayah cama Laka aja. Angan cama Bunda, Bunda itu ndak boyeh di malahin talena Bunda itu bidadali sulga Laka!"


Degh!


Perkataan terakhir Raka berhasil membuat kedua orang tuanya terkejut bukan main. Jantung mereka pun hampir saja copot, saat tahu bahwa Raka bisa mengatakan kalimat yang indah seperti itu.


Inilah, bukti cinta seorang anak laki-laki pada Ibunya. Ketika dia bisa menjaga serta memuliakan Ibunya, maka suatu saat nanti anak laki-laki ini tidak akan mempermainkan wanitanha.


Anak berusia 4 tahun itu baru saja datang, melihat keadaan Bundanya langsung melototin Ayahnya. Benar bukan? Baru juga, beberapa detik yang lalu Samudra mengatakan semua itu. Tiba-tiba entah dari mana Raka datang dengan segala wajah polos yang sudah bercampur marah.


Selama ini Samudra memang selalu mengajarkan Raka tentang kebaikan, sehingga dia bisa tumbuh seperti saat ini. Cuman, terkadang pula apa yang Samudra katakan itu selalu dibalikan oleh jagoan kecilnya yang satu ini.


Bulan yang melihat anaknya segera bergegas mengahapus semua air matanya, lalu tersenyum membawa Raka ke dalam pangkuannya sambil memeluknya.


"Huhh, Sayang. Anak Bunda yang shaleh, Bunda gapapa kok, Sayang. Bunda ini cuman lagi kelilipan, terus Ayah mau nolongin Bunda. Tapi, Ayah enggak tahu caranya gimana. Raka bisa tolongin Bunda, hem?"


Bulan mencoba untuk mengalihkan pikiran Raka, agar dia tidak beranggapan bahwa Bulan menangis karenanya.


"Benelan Bunda telilipan? Bunda ndak bohong, tan? Ayah ndak ahatin Bunda? Ayah ndak omeyin Bunda, juga?" tanya Raka berulang kali, hanya mendapatkan gelengan kepala dari Bundanya.


"Bunda hanya kelilipan aja, Sayang. Aduhh, bisakah Pangeran kecil ini membantu Bundanya?" ucap Bulan, berulang kali sambil berpura-pura kelilipan.


"Huhh, Ayah ini bicana apa sih. Maca Bunda telilipan ndak mau di toyongin, dacal aneh. Sini Bunda, cama Laka aja!"


Laka langsung mendongak menatap Bundanya yang saat ini sedikit menundukkan kepalanya. Kemudian perlahan Raka meniup-niup kedua mata Bulan dengan sangat lucu, hingga membuat Bulan sedikit geli.


Sementara Samudra hanya tersenyum menatap anaknya yang sangat mencintai Bundanya.

__ADS_1


"Begitu besar rasa cintamu pada Bundamu, Nak. Semoga kelak, kamu bisa menjadi anak laki-laki kebanggaan kita semua yang tidak pernah bisa menyakiti seorang perempuan sedikit pun!"


Batin Samudra berucap dengan sebuah harapan yang besar. Jika anak laki-lakinya yang satu ini, bisa menjadi anak yang selalu berpegang teguh pada ajaran kebaikan.


Setelah selesai, Bulan memeluk anaknya lalu menciumi wajahnya sampai Raka sendiri pun tertawa cekikikan. Semua itu akibat rasa geli yang Raka rasakan, ketika Bulan gemas padanya dan malah menggelitiki tubuh mungil tersebut.


"Udah ya bercandanya, enggak baik jika berlebihan nanti bisa ngompol loh. Atau bisa juga jika orang terlalu banyak tertawa, nanti tiba-tiba bisa nangis. Jadi stop ya bercandanya, nanti kan bisa bercanda lagi." ucap Samudra lembut, sambil tersenyum.


"Ya sudah, Mas. Aku sama Raka pulang dulu ya, kasian Raka sepertinya udah mulai ngantuk. Nanti Mas pulang jangan terlalu sore, jaga kesehatan Mas. Jangan sampai nanti Mas sakit." jawab Bulan, yang diangguki oleh Samudra.


"Raka pamit dulu sama Ayah, kasih Ayah semangat biar nanti kerjanya tambah semangat!" titah Bulan membuat Raka mengangguk.


"Ayah, Laka puyang dulu ya. Ayah hati-hati di cini, pokokna Ayah harus cemangat, cemangat, cemangat holee hehe ... Muuaachh!"


Raka berdiri sambil melompat layaknya seorang tim hore yang sedang memberikan suport. Tak lupa dia mencium pipi Ayahnya serta memeluknya sebentar, kemudian melepaskannya lagi bersamaan dengan Samudra yang mencium kening anaknya.


Sementara Bulan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan bersiap-siap, lalu bersaliman pada suaminya. Setelah itu menggandeng tangan anaknya, memberikan salam dan pergi meninggalkan Samudra sambil Raka lambaian tangannya pada Ayahnya.


"Dadahh, Ayah. Laka cayang Ayah!" teriaknya membuat Samudra ikut memberikan lambaian tangannya.


"Oteh, Ayah. Dahh ...."


...*...


...*...


Selama di perjalanan Bulan terlihat begitu melamun, dia selalu memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuknya agar dia bisa membantu memulihkan perekonomian keluarganya.


Sampai Bulan tidak sadar jika Raka melepaskan tangannya dan berlari ke arah sebrang jalan untuk memberikan sesuatu padanya.


"Bunda, Laka ke cana bentak ya. Bunda tunggu cini, oteh!"


Bulan yang tidak menggubris anaknya, hanya bisa berjalan tanpa menggandeng tangan Raka. Sementara Raka baru sampai di sebrang jalan, lali mengambil sesuatu untuk dia berikan pada Bundanya.


"Wahh, bunga ini antik banget. Laka mau kacih ini buat Bunda, pasti Bunda ceneng deh." ucap Raka sambil memetik bunga di sebrang jalan.

__ADS_1


Ketika Raka menyebrang jalan, posisi tidak ada kendaraan sama sekali. Akan tetapi, saat Bulan menyadari bahwa Raka tidak ada di sampingnya, dia terlihat begitu panik.


"Loh, Ra-raka? Di-dimana kamu, Nak!" pekik Bulan, cemas mencari keberadaan Raka.


Dari sebrang Raka yang mendengar perkataan Bundanya, sedikit menongolkan kepalanya dari balik pepohonan.


"Bunda, Laka di cini. Bental ya, Laka agi ambil cecuatu buat Bunda. Bunda tunggu di citu ya!" teriak Raka membuat Bulan langsung mencari arah sumber suara tersebut.


"Astagfirullah, Raka! Kamu ngapain disitu, Nak. Ya Allah, Raka. Kamu ini buat Bunda khawatir, tahu enggak sih!"


"Udah kamu diam di sana ya, jangan kemana-mana. Bunda ke situ, sekarang!"


Perkataan Bulan tidak di dengar oleh Raka, karena dia sedang asyik memetik bunga yang akan dia berikan pada Bundanya.



Bunga kecil-kecil tersebut dengan berbagai macam warna berhasil membuat Raka terlena. Dia mengambil satu persatu bunga itu hanya untuk dia berikan pada Bundanya.


"Ahaa, dapat. Yeeyy, pasti Bunda ceneng deh Laka kacih bunga ini. Anti alo Laka punya uang Laka mau belikan Bunda bunga yang buanyak banget hehe ...."


Raka tertawa sambil melihat tangan mungilnya sudah di penuhi kurang lebih 5 bunga. Kemudian dia pun keluar dari balik semak tersebut dan berjalan mendekati Bulan.


Namun, Bulan dan Raka yang tidak melihat ada sebuah mobil hanya bisa meneruskan langkah kaki mereka. Sampai-sampai kelakson mobil tersebut berbunyi dengan sangat nyaring, hingga keduanya pun menoleh dan berteriak sekeras mungkin.


Tin, tin!


"Aaarrghhhh ...."


"Bunda!"


"Raka!"


Teriak Bulan dan Raka secara bersamaan, hingga bunga yang tadinya terpegang erat di tangan Raka pun terjatuh ke bawah. Mata Raka melotot begitu besar saat melihat ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya dan semakin mendekat.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2