
"Pokoknya imageku harus tetap terjaga, jangan sampai rusak hanya karena wanita itu! Dasar menyebalkan!"
Dzaky berbicara dengan kesal di dalam mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya pergi meninggalkan kantor ketika motor Samudra sudah tidak terlihat oleh kedua matanya.
...*...
...*...
Hari terus berganti, dimana saat ini Bulan sudah bekerja selama 1 bulan penuh dan dia juga menerima gaji pertamanya sebesar Rp. 5,500,000,-00.
Ini merupakan gaji pertama yang Bulan hasilkan selama dia belajar menyesuaikan diri di kantor milik Dzaky, atasan yang sangat ngeselin untuknya.
Ya, walaupun dibalik sifat Dzaky yang sangat membuatnya tidak karuan. Ternyata Dzaky juga memiliki sifat yang baik, dia selalu beberapa kali memberikan makan siang kepada Bulan ataupun mengajaknya untuk makan siang di luar bersama dengan asisten pribadinya.
Apa lagi Bulan sudah mulai aktif untuk mengikuti semua kegiatan Dzaky, mulai dari meeting dan mengurus yang lainnya. Sehingga pekerjaan asisten pribadinya pun sedikit berkurang karena bantuan dari Bulan.
Cuman, ada yang membuat Samudra janggal dari setiap kali Bulan selalu menceritakan kebaikan atasannya. Seakan-akan Samudra paham, jika atasannya itu seperti memiliki perasaan kepada istrinya, lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
Tepat di hari Sabtu, Bulan sedang libur bekerja. Dia ingin mengajak semuanya untuk pergi ke pinggir kota, untuk mengunjungi sebuah Mall.
Sekali-kali Bulan ingin menyenangkan keluarganya, meski hanya sekedar mencuci mata dan membahagiakan Raka, dengan cara mengajaknya bermain permainan yang ada di time zone.
Awalnya semuanya sudah sepakat untuk berangkat, tepatnya pukul 9 pagi hari. Hanya saja Samudra malah mendapatkan berita jika lahan pertaniannya memiliki masalah di aliran irigasi.
Semua itu membuat aliran air di sawahnya menjdi tersumbat dimana-mana dan tidak bisa mengalir seperti biasanya.
Sementara Ibu Dara, dia malah tiba-tiba sakit kepala akibat darah tingginya kumat. Jadi, Samudra sama Ibu Dara tidak bisa ikut bersama Bulan dan juga Raka untuk pergi bersenang-senang.
__ADS_1
Ya, sedih sih. Cuman mau bagaimana lagi, Bulan juga tidak bisa memaksakan keadaan. Sehingga dia meminta izin kepada suami dan Ibunya untuk pergi ke Mall bersama Raka.
Bulan ingin sekali menikmati suasana baru, serta membuat anaknya bahagia dengan gaji pertamanya itu. Hitung-hitung sebagai pengganti waktu yang selama 1 bulan ini telah terbung, akibat Bulan sudah mulai sibuk.
Perlahan Bulan dan Raka pergi dengan menaiki ojek yang sudah Bulan pesan sebelumnya. Rasanya berat meninggalkan Ibu Dara di rumah sendirian, cuman Rakanya juga sudah tidak sabar. Dia ingin sekali merasakan permainan di Mall seperti temannya yang lain.
Tanpa berlama-lama, saat ojek itu datang. Bulan serta Raka langsung berpamitan, kemudian mereka pergi dalam keadaan wajah tersenyum. Dimana terlihat jelas bahwa muka Raka, benar-benar senang ketika diajak jalan-jalan bersama Bundanya.
Setelah kepergian Raka dan Bulan, kini saatnya Samudra pun pergi untuk mengecek sawahnya. "Bu, Sam tinggal sebenar gapapa? Nanti siang Sam pulang kok, Ibu enggak usah masak. Sam belikan makanan di luar aja, Ibu cukup istirahat sampai Sam pulang ya."
"Tapi, Nak. Kalau Ibu tidak masak, bukannya itu malah menjadi pemborosan? Lagian Ibu gapapa, kok. Ibu cuman pusing dikit, kamu tenang aja."
"Tidak, Bu. Sekarang Ibu istirahat di kamar dan jangan keluar sebelum Sam pulang. Nanti kita makan bareng, biar Sam yang beli lauknya, lagian pula Raka sama Bulan pasti pulang sore."
"Jadi, mereka juga sudah makan di sana, pokoknya Ibu tidak perlu masak. Sayang juga, jika tidak kemakan yang ada nanti Ibu udah capek-capek masak, malah ke buang sia-sia."
Sam membawa Ibu mertuanya ke dalam kamar sambil membuatnya mengerti, jika kondisinya harus banyak beristirahat. Apa lagi semakin hari tubuhnya semakin menua dan rentan akan penyakit.
Setelah itu, Samudra pamit dan pergi ke sawah untuk segera mengurus semua permasalahan itu, lalu kembali siang harinya sambil membawakan makanan serta mengecek keadaan Ibu mertuanya.
...*...
...*...
Kurang lebih 2 jam lamanya, Bulan dan Raka sudah sampai di depan Mall yang sangat besar.
__ADS_1
Central Plaza, merupakan salah satu Mall terbesar yang ada perbatasan antara desa dan juga Kota. Hampir semua orang desa pergi ke Mall ini, ketika mereka ingin menikmati suasa baru.
Betapa kagumnya Raka saat melihat bangunan besar, luas nan mewah yang menjulang tinggi ke atas. Berhasil membuat mata Raka berbinar-binar.
Selama ini, baru sekali Raka melihat bangunan besar yang tidak pernah dia lihat di desanya, lantaran di desa hanya ada pasar malam di setiap malam minggu.
Dimana banyak pengunjung yang saling berhamburan untuk masuk ke dalam Mall, agar mereka bisa segera mendapatkan apa yang mereka inginkan. Untungnya Bulan dan Raka datang di siang hari, sehingga pengunjung tidak seramai ketika malam hari.
"Bun, ayo kita macuk ke dayem. Laka ndak cabal mau liyat icinya aya apa." ucap Raka dengan wajah penasarannya sambil tangannya menarik-narik baju Bulan, yang saat ini sedang membayar ongkos ojeknya.
"Ya, Sayang. Sebenatar ya, Bunda bayar ojeknya dulu!" jawab Bulan mengeluarkan uang 150 ribu untuk membayar biaya transportasi.
"Loh, alo di bayal teyus kita puyangna naik apa. Bunda?" tanya Raka, bingung.
"Raka lupa ya? 'Kan Ayah yang akan jemput kita, jadi sekarang waktunya Raka untuk main sepuasnya. Yeeyy!" ucap Bulan dengan wajah bahagianya.
"Yeeeyy, holee ... Akhilna Laka bica main uga ke Mall, jadi Laka ndak akan di ledekin lagi cama teman-teman."
"Telima kasih ya Allah, Allah baik deh udah izinin Laka pelgi ke cini. Laka janji, Laka ndak akan combong bial Laka bica main ke cini teyus!"
Rasa syukur yang Raka ucapkan, bergema di telinga Bulan. Dia tidak menyangka anak sepintar Raka bisa memberikannya kesadaran bahwa apapun keadaannya, mereka harus tetap rendah hati dan tidak boleh sombong seperti yang lainnya.
Hati Bulan sangat tersentuh, akibat dia saja hampir melupakan nikmat yang Allah berikan. Sehingga Bulan hanya fokus pada tujuannya untuk melihat anaknya bahagia, dan melupakan rasa bersyukur terhadap rezeki yang dia berikan.
"Ya sudah, ayo masuk. Ingat ya, Raka harus gandeng tangan Bunda enggak boleh di lepas dan juga Raka enggak boleh jauh-jauh dari Bunda. Paham?"
"Raka tahu 'kan, Mall ini sangat besar. Jadi akan banyak pengunjung didalamnya, Bunda enggak mau sampai Raka lepasin tangan Bunda. Terus nanti Raka hilang, Raka enggak bisa ketemu Bunda Ayah gimana? Raka mau?"
__ADS_1
Raka langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak mau sampai hal buruk itu terjadi. Sampai akhirnya tangan Raka memegang erat tangan Bundanya yang membuat Bulan pun tersenyum.
...***Bersambung***...