Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Panggil Raka, Kakak


__ADS_3

Raka terdiam sejenak menatap wajah Bundanya dan Opa Jerome yang tersenyum sambil mengangguk. Berbeda sama Oma Dena, dia menatap sinis ke arah cucunya, sehingga membuat Raka menjulurkan lidah padanya.


"Oke, Laka buktiin ya. Kalau Laka bisa bilang ... Eee, a-apa tadi namanya?"


"Donor hati, Sayang." Bulan kembali menuntun anaknya supaya dia bisa mengatakannya, walaupun masih terdengar cadel.


Degh!


Bulan, Oma Dena dan Opa Jerome langsung merasa penasaran. Jantung mereka berdetak tidak karuan menunggu respon dari Raka. Apakah dia bisa mengatakan semua itu? Atau Raka akan kembali mengatakan hal yang sama seperti apa yang ada dipikirannya Oma Dena saat ini?


"Do ... Do-donor."


Duaaakk!


Mata Bulan langsung membola besar, ketika mendengar putra kesayangannya sudah bisa mengatakan huruf R sangat lancar. Begitu juga Opa Jerome, dia pun merasa bahagia disaat cucunya sudah tumbuh semakin besar.


"A-apa tadi yanh kamu bilang?" tanya Oma Dena yang masih tidak percaya.


"Ishh, Oma. Oma ini budek ya, tadi Raka bilang donor ya donor!" sahut Raka, kesal. Suara terdengar sangat lancar serta lantang.


Dimana kedua bola mata Oma Dena hampir saja copot, ketika mendengar cucunya sudah bisa mengatakan semua itu dengan benar.


Padahal susah payah Oma Dena mengajarinya, tetapi disaat Bulan yang mengajarkan Raka bisa langsung dengan lantangnya mengatakan semua itu begitu jelas tanpa cadel sedikit pun.


"Alhamdulillah, Kakak sudah bisa berbicara dengan benar? Bunda seneng banget, disaat Bunda sedih mendengar kabar tentang Ayah. Cuman, Bunda senang sekarang Kakak sudah lancar mengatakan huruf R. Hem, Bunda terharu."


Bulan langsung memeluk anaknya sambil menciumi wajahnya sesekali. Yang mana air matanya tiba-tiba menetes karena kebahagiaan melihat perkembangan Raka saat ini.


Ya, walaupun Bulan di landa kesedihan yang cukup mendalam setelah mengetahui kondisi suaminya. Akan tetapi, Allah Maha baik. Dia memberikan Bulan kebahagiaan melalui anak-anaknya, sehinga rasa sedih di dalam hatinya sedikit berkurang.


"Raka juga senang denger Bunda manggil Raka, Kakak. Raka suka dipanggil Kakak, Raka bahagia. Pokoknya Bunda sama Dedek sehat-sehat ya, biar nanti Raka bisa dipanggil Kakak sama Dedek langsung." ucap Raka, membalas pelukan Bulan.


"Hem, cucuku sudah besar. Selamat ya, Sayang. Opa ikut seneng dengernya. Semoga apa yang Kakak doakan, bisa langsung di dengar sama Allah. Aamin ...."

__ADS_1


Opa Jerome mengusap kepala cucunya sambil tersenyum. Meskipun hati dan pikirannya masih berpacu kepada Samudra, anak sematawayangnya. Tidak menutup kemungkinan, Opa Jerome juga senang melihat cucu pertamanya sudah semakin pintar.


Raka melepaskan pelukan Bundanya dan terkekeh kecil, wajahnya benar-benar sangat menggemaskan mirip seperti Samudra di waktu kecil.


"Hihi, iya dong, Opa. Raka 'kan sekarang udah jadi Kakak. Nah, sekarang Raka mau Bunda, Opa, Oma, sama Ayah harus memanggil Raka, Kakak. Oke?"


Senyuman pepsodent itu berhasil membuat semuanya gemas, termasuk Oma Dena. Dia meneteskan air matanya ketika apa yang di prediksi adalah, salah.


Oma Dena yang mengakui kesalahannya, langsung menatap cucunya untuk meminta maaf jika dia sudah meledek serta meremehkannya.


"Cu-cucuku, ma-maafin Oma. Oma udah meledekmu, Ra---"


"Kakak, Oma. Kakak!" sahut Raka cemberut.


"Ba-baiklah, Kakak maafin Oma ya. Oma udah meremehkan Kakak, Oma kira Kakak---"


"Gapapa, Oma. Kakak udah maafin Oma kok. Kakak juga seneng berkat Oma, Kakak udah bisa ngomong lancar. Karena Oma terus meledek Kakak, jadi Kakak bisa deh. Terima kasih Oma cantik."


Sejuk sekali melihat pemandangan yang begitu manis, dimana awalnya cucu dan Oma berantem. Kini, malah menjadi sangat manis. Senyuman lebar terukir jelas di wajah semuanya, saat menatap Raka yang sedang tertawa akibat di kelitiki oleh Omanya.


Setelah selesai bercanda, seorang suster datang membawakan makanan untuk Bulan yang baru saja bangun.


"Permisi. Maaf menganggu waktunya, syukurlah Nyonya Bulan sudah sadar. Jangan lupa untuk minum obatnya setelah makan, saya akan memanggilkan dokter untuk mengecek keadaan Nyonya saat ini."


Sang suster tersenyum sambil menata makanan diatas meja bangkar Bulan, dibantu oleh Oma Dena.


"Terima kasih, Sus. Ohya, apakah suster tahu bagaimana keadaan suami saya. Tuan Samudra?" tanya Bulan, penasaran.


"Sejauh ini keadaan Tuan masih sama, Nyonya. Maka dari itu, kami juga sudah berusaha untuk mengabari semua rumah sakit, bila ada pendonor yang cocok dengan Tuan. Mereka akan segera mengabari kami."


"Ya sudah, saya permisi dulu. Permisi!"


Suster pun pergi meninggalkan ruangan Bulan, dimana Oma Dena langsung mengusap pipi menantunya itu dengan lembut penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sabar ya, Sayang. Mamah yakin, Samudra pasti kuat kok. Dia akan kembali sehat lagi, kita doain aja ya. Ingat, kekuatan doa itu sangat mujarab. Jadi, banyak-banyaklah berdoa supaya doa kita bisa segera sampai ke Yang Maha Kuasa."


Bulan menatap Oma Dena, lalu tersenyum dan mengangguk. Rasanya Bulan ingin sekali menangis, cuman kembali lagi. Dia harus kuat demi anak-anaknya saat ini.


Apa lagi posisi dia sedang hamil. Tidak mungkin, kalau Bulan harus terus berlarut di dalam kesedihan. Sebab, itu semua akan membuat anak yang ada di dalam kandungannya menjadi bahaya.


"Bunda makan ya, Kakak suapin mau?" Raka tersenyum setelah dia membuka semua plastik yang menutupi makanan Bundanya.


"Bunda bisa makan sendiri kok, Sayang." Bulan langsung mengambil sendok dari tangan Raka, kemudian kembali di rebut oleh Raka dengan tatapan sendu.


"Ayolah, Bunda. Kali ini aja, Bunda sakit Kakak yang urusin ya. 'Kan setiap Kakak atau Ayah sakit, Bunda yang selalu ngurusin kami. Jadi, sekarang gantian Kakak yang suapin. Nanti juga kalau Ayah bangun, Kakak juga akan suapin Ayah. Kakak mohon Bunda, yayaya. Please!"


Permintaan Raka membuat Bulan langsung menoleh ke arah Oma Dena dan Opa Jerome yang sedang berdiri menatap kearah mereka sambil tersenyum serta menganggu.


"Tuh 'kan, Opa sama Oma aja setuju. Bunda juga dong, please ...."


"Hem, baiklah. Kakak boleh nyuapin Bunda, tapi dikit-dikit ya. Soalnya mulut Bunda masih pahit dan juga sedikit mual."


"Oke, Kakak janji pelan-pelan. Tapi, Bunda juga harus makan yang banyak biar Dedeknya kenyang enggak kelaperan lagi."


Buna cuman bisa menganggukan kepalanya sambil membaca doa makan, lalu perlahan mulai membuka mulutnya menerima suapan bubur dari tangan Raka.


Sesekali, Oma Dena membantu Raka untuk memotong lauknya yang sedikit keras. Tak lupa, Opa Jerome pun mengabadikan momen indah itu untuk kenang-kenangannya yang akan di lihatkan oleh Samudra ketika dia sadar nanti. Dengan tujuan agar Samudra bisa lebih semangat lagi, untuk istri dan juga anak-anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Haii guys plot GIVE A WAY udah di tutup ya di jam 19.00 tadi ya. Jadi author akan mengumumka siapa pemenangnya....


...Saksikan terus dibab selanjutnya, terima kasih buat kalian semua yang sudah mensuport author sejauh ini....


...Jangan lupa, ikuti terus karya baru author yang akan rilis di awal bulan ❤️*...


...*****Bersambung*****...

__ADS_1


__ADS_2