Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kedatangan Tamu Spesial


__ADS_3

Saking terburu-burunya Bulan, di melupakan sesuatu dan kembali mendapatkan peringatan keras serta wejangan di pagi hari dari Dzaky. Sehingga membuat hati Bulan semakin kesal dan juga gondok.


Rasanya Bulan ingin sekali menyerah, lalu pergi dari kantor ini. Hanya saja Bulan segera kembali teringat dengan tujuan utamanya, lalu dia pun bergegas beberapa kali mengucapkan istigfar didalam hatinya supaya dia dijauhkan dari hati yang mudah memanas.


"Permisi, Tuan. Berkas apa yang harus saja segera kerjakan?" tanya Bulan dengan wajah takut bercampur kesal.


"Berapa usiamu saat ini?" tanya balik Dzaky dengan tatapan datar.


"Sa-saya? 26 tahun, Tuan. A-ada apa ya? Kenapa Tuan menanyakan tentang umur saya?" ucap Bulan, sangat bingung.


"Apakah selama 26 tahun ini, tidak ada satupun yang mengajarkanmu tentang sopan santun atau adap bagaimana memasuki ruangan seseorang dengan baik dan benar?"


Perkataan Dzaky berhasil membuat Bulan menyadari akan kesalahannya. Mungkin, ketika Bulan kesal dan merasa tergesa-gesa takut jika Dzaky kembali memarahinya. Maka, Bulan melupakan sesuatu yang sangat penting.


Melihat wajah Dzaky begitu marah, Bulan langsung terdiam. Dia menggerutuki kebo*dohohannya sendiri, ketika melupakan kebiasaannya di rumah untuk memasuki ruangan orang lain tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya---"


"Lupa? Buru-buru? Atau memang tidak diajarkan?"


Ingin sekali Bulan berkata kasar pada pria yang begitu menyebalkan, yang saat ini sudah menjadi bosnya sendiri. Akan tetapi, Bulan selalu menahannya karena dia sadar jika dia pun bersalah.


"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja, saya tahu saya salah. Sekali lagi ma-maaf!" ucap Bulan menundukkan kepalnya, dia tidak berani untuk menatap Dzaky karena saat ini Dzaky benar-benar sedang marah.


"Kau tahu bukan, jika ini ruangan CEO. Atasan yang memiliki Perusahaan ini, sekaligus yang memegang kendali atas semuanya!"


"Apakah kau tidak ada sopan santun sama sekali pada atasanmu?"


"Beginikah cara kedua orang tuamu mengajarkanmu cara memiliki akhlak yang baik?"


Degh!


Perkataan Dzaky sangatlah menampar hati kecil Bulan, dari tadi dia berusaha bersabar menahan sesuatu di dalam hatinya. Akan tetapi, ketika sudah menyangkut atau membawa nama kedua orang tuanya. Maka Bulan tidak bisa lagi menahan gejolak emosi di dalam hatinya.


"Cukup, Tuan. Cukup!"


"Jangan mentang-mentang Tuan orang kaya, pemilik dari Perusahaan ini. Bisa seenaknya Tuan berkata seperti itu!"


"Ingat, Tuan. Disini saya yang salah, bukan kedua orang tua saya. Bahkan almarhum Bapak saya selalu mengajarkan saya tentang kebaikan, hanya saja disini karena saya terburu-buru dan juga Tuan menyuruh saya segera ke ruangan. Maka dari itu saya reflek melupakan semua itu, paham!"

__ADS_1


"Sekali lagi Tuan mengaitkan semua kesalahan saya kepada kedua orang tua saya, maka saya tidak akan bisa tinggal diam. Mau Tuan menganggap saya berani melawan dan sebagainya saya tidak peduli, karena bagi saya kesalahan saya ya kesalahan saya. Tidak ada kaitan sama kedua orang tua saya!"


"Sekali lagi maaf kalau saya tidak sopan, karena saya tidak terima jika kesalahan saya di oper kepada kedua orang tua saya!"


"Jika Tuan tidak menyenggol lebih dulu, saya tidak akan seperti ini. Jadi, mana berkas yang harus saya kerjakan?"


"Ini? Ini? Apa Ini? Baiklah, saya bawa semuanya. Terima kasih!"


Bulan mengatakan semua itu dengan sangat lantang, lalu dia mengambil beberapa berkas yang ada di meja Dzaky dan membawanya keluar untuk segera mengerjakannya.


Untungnya Bulan masih ingat bagaimana cara memakai komputer, ataupun cara mengerjakan semua dokumen yang harus dia tangani.


Jika Bulan melupakan semua itu, maka dia harus memulai semuanya dari nol dengan bantuan orang lain untuk mengajarkannya sampai Bulan kembali bisa mengurus semuanya sendirian.


Dzaky hanya bisa terdiam melihat Bulan sudah meninggalkan ruangannya dalam keadaan marah dan kesal.


Padahal niatnya Dzaky ingin memarahi Bulan agar dia semakin merasa tertekan dan takut padanya, cuman ini malah kebalikannya. Bulanlah yang marah pada Dzaky akibat perkataannya yang sedikit keluar jalur, sehingga Bulan merasa tersenggol.


Ya, bagaimana tidak. Jika semua orang pun melakukan kesalahan dengan sendirinya, lalu di kaitkan oleh kedua orang tuanya. Maka, siapapun tidak akan terima kalau kedua orangtuanya di senggol tanpa mereka melakukan kesalahan.


"Astaga, ada apa dengan dia? Apakah dia lagi PMS? Perasaan yang salah dia deh, cuman kenapa dia yang balik marah?"


"Ckk, dahlah. Mendingan siap-siap karena sebentar lagi akan ada meeting penting, semoga saja pikiranku tidak terganggu akibat masalah ini!"


Dzaky berbicara sendiri, kemudian dia pergi ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri karena wajahnya terlihat begitu kusam.


Setelah itu, Dzaky kembali duduk di kursi kebanggaannya sambil meneruskan kerjaannya sembari menunggu meeting tepat di jam 10 menjelang makan siang.


Sementara Bulan dia terlihat begitu fokus untuk mengurus dan menyelesaikan berkas-berkas atupun dokumen, agar bisa segera di setor pada atasannya yang terbilang sangat menyebalkan itu.


...*...


...*...


Berbeda ketika di desa, saat Samudra dan Raka baru saja sampai. Kemudian selang kurang lebih 10 menit, tiba-tiba rumahnya kedatangan seseorang menggunakan mobil mewah.


Siapa lagi jika bukan Oma dan Opanya yang merupakan Tante serta Om dari Samudra. Wajah Raka yang awalnya lesu karena tidak ada Bundanya, seketika langsung ceria saat mendengar klakson mobil yang sangat dia kenali.


Bahkan saat mereka mau menyantap sarapannya, Raka langsung turun dari kursinya dan berlari ke arah depan untuk menyambut orang yang dia tunggu-tunggu.

__ADS_1


"Assalammualaikum ...." sapa Oma Dena sama Opa Faisal dengan penuh senyuman tepat di depan pintu.


Dari jauh Raka sudah berlari sambil berteriak, wajahnya terlihat begitu berseri-seri ketika rasa rindu serta kangennya telah terobati.


"Oma, Opa. Huaaa, Laka kangen!" pekik Raka berlari, lalu langsung ditangkap oleh Opa Faisal begitu cepat dan membawanya memutar sambil melayang diatas udara.


Samudra dan Ibu Dara tersenyum melihat betapa bahagianya Raka, ketika dia bertemu dengan 2 orang yang jarang sekali menemaninya bermain.


"Ayo masuk dulu, kasihan capek-capek dari jauh masa mau berdiri aja. Ayo Raka ajak Opa sama Omamu masuk sini, Nenek mau buatkan minun dulu." ucap Ibu Dara sambil tersenyum, lalu memegang lengan Samudra dan pergi meninggalkan mereka untuk membuatkan jamuan tamu spesial.


"Om, Tan. Ayo masuk dulu, tumben datangnya di hari biasa. Memangnya Om tidak ada kerjaan di Perusahaan?" tanyanya sambil duduk menemani Om dan Tantenya.


"Hari ini kerjaan lagi kosong, dari pada di rumah Tantemu uring-uringan kangen sama Raka. Ya sudah, Om ajak aja ke sini."


"Tuh, buktinya lihat aja mereka udah kaya teman lama yang tidak pernah bertemu. Ohya, dimana istrimu?" tanya Opa Faisal, selaku On Samudra.


"Sekarang Bulan sudah bekerja menjadi sekretaris di Perusahaan yang cukup besar, letaknya di dekat desa sebrang yang hampir dekat dengan perkotaan." jawab Samudra, menatap Opa Faisal.


"Kerja? Apakah kalian kekurangan?" celetuk Oma Dena, wajahnya terlihat begitu terkejut saat mendengar penjelasan Samudra.


Samudra hanya tersenyum menatap Om dan Tantenya, terlihat jelas betapa khawatirnya mereka ketika mengetahui Bulan harus bekerja untuk membantu perekonomian mereka yang sedang surut.


"Ayo, silakan di minum. Ma-maaf ya, di sini tidak ada cemilan enak, cuman ada tempe mendoan hehe ...."


Ibu Dara menyuguhkan teh manis hangat dan juga beberapa potong mendoan, yang tadi sudah dia goreng beberapa menit lalu ketika mereka baru saja mau menyantap sarapannya.


"Ihh, enggak perlu repot-repot, Jeng. Ini juga udah lebih dari cukup kok, yang penting kan bisa ketemu dengan cucuku yang tampan ini hahha ...."


Oma Dena kebali menggelitiki Raka sampai dia tertawa lepas dengan wajah memerah menahan rasa gelinya.


"Udah dulu ya bercandanya, sekarang kita sarapan bareng-bereng yuk!"


"Kebetulan banget, Ibu tadi masak nasi goreng lumayan banyak untuk ngabisin nasi kemarin supaya enggak ke buang. Jadi ayo kita makan bersama. Cuman maaf ya, disini makan seadanya. Tidak ada lauk yang spesial."


Samudra tersenyum, lantaran dia merasa tidak enak menawari mereka selaku orang kaya dengan makan seadanya.


Oma Dena yang mengingat sesuatu langsung meminta Samudra untuk mengambilnya di dalam mobilnya. Dimana Oma Dena ternyata sudah membawakan lauk untuk mereka, yang di masak dengan sendirinya pagi-pagi buta.


Setelah itu mereka pun makan bersama dalam keadaan Raka terlihat begitu senang ketika bisa memakan ayam goreng ke sukaannya. Ditambah pula ada beberapa lauk lainnya, seperti udang balado dan juga rendang.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2