Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Jomblo Akut


__ADS_3

Setelah itu dia mengangkat Raka dan mendudukannya di kursi depan Dzaky. Kemudian Bulan pun ikut duduk sambil menata makanan di depan Raka untuk memudahkannya mengambil makanannya sendiri.


Sementara Dzaky dia berusaha mengalihkan pandangannya untuk menghindari Bulan, lantaran wajahnya saat ini benar-benar sudah sangat malu dan juga merona.


Sampai akhirnya suasana menjadi canggung, dimana mereka bertiga makan dengan keadaan terdiam. Bulan dan Dzaky hanya mendengar celotehan Raka saja yang tidak mau diam.


"Makannya pelan-pelan, Sayang. Nanti keselek loh, ini minum dulu biar tenggorokannya enggak seret." ucap Bulan sambil memberikan minuman kepada Raka secara perlahan.


Ketika Raka sedang minum, tiba-tiba dia tersendak membuat Dzaky refleks bangkit dari tempat duduknya dan menepuk dada Raka secara perlahan.


Melihat perlakuan Dzaky, membuat Bulan benar-benar sangat syok. Wajah Dzaky begitu panik, layaknya seorang Ayah pada anak kandungnya sendiri.


"Aduhh, lain kali minumnya pelan-pelan ya, Boy!" ucap Dzaky menatap Raka, kemudian langsung menatap Bulan.


"Kamu juga, ngasih minum anak bukannya lihat sikon dulu. Mulutnya masih penuh malah dikasih minum, orang tuh sabar biar dia selesai ngunyah dulu. Baru di kasih minum, bukan malah di sodori kaya gitu!"


Dzaky menatap Bulan dengan tatapan yang sangat tajam, dimana Bulan malah merasa bingung dan juga kaget.


"Hahh? Di-dia memarahiku? Aku ini 'kan Bundanya, kenapa seolah-olah kau adalah Ayahnya dan aku orang lain?"


"Ckkk, dasar pria aneh! Makannya kalau mau punya anak tuh cepetan nikah, jangan jadi jomblo akut kaya gini!"


Bulan berbicara tanpa rasa bersalah, dimana Raka hanya bisa menatap kedua orang dewasa itu dengan mata polosnya. Sementara Dzaky, dia menatap tajam ke arah Bulan dengan ekspresi wajah yang sangat marah.


"Yaakk, apa kau bilang tadi, hahh? Jomblo akut? Hehh, Sukiyem. Aku ini bukan jomblo ya, aku cuman belum menemukan pasangan yang pas aja. Ngerti!" pekik Dzaky, penuh amarah.


"Yakk, namaku Bulan bukan Sukiyem! Makannya jadi cowok tuh jangan galak-galak, jadi cewek juga ogah-ogahan kali mau ngedeketinnya!" cerocos Bulan, kesal.


"Hahh? Apa maksudmu berkata sepetti itu, hahh? Asalkan kau tahu aja ya, banyak wanita di luaran sana yang mengantri padaku. Hanya saja aku tidak mau, karena dari sekian banyaknya wanita. Tidak ada satu pun yang sesuai dengan keteriaku. Paham, kau!"

__ADS_1


Suara Dzaky yang terbilang menggelegar membuat Raka sedikit ketakutan, dia langsung berhambur turun dari kursinya dan segera memeluk Bundanya.


Sementara semua pengunjung juga menatap ke arah meja mereka, karena perdebatan sengit itu berhasil menyia perhatian mereka sehingga menjadi penasaran.


"Bunda, Laka takut!" ucap Raka di dalam pelukan Bundanya.


"Jangan takut, Sayang. Bunda ada disini kok!" Bulan langsung memeluk Raka dan membawanya duduk di dalam pangkuannya.


"Bo-boy, ma-maafkan Om ya. Om udah buat kamu takut, semua ini gara-gara Bunda kamu yang selalu meledek Om!"


"Om janji, Om enggak akan marah-marah atau membentak kamu lagi. Jadi Om mau temenan, boleh?"


Dzaky tersimpuh di hadapan Bulan, sambil jari kelingkingnya dia sodorkan di hadapan Raka. Wajah Dzaky pun dibuat begitu sedih supaya bisa menarik perhatian Raka, agar mereka bisa berbaikan dan menjadi sahabat.


Awalnya Bulan terkejut, cuman saat melihat Raka mendongak menatap wajah Bundanya dengan tatapan polosnya. Seolah-olah Raka sedang meminta persetujuan dari Bundanya, apakah dia boleh berteman dengan Dzaky ataupun tidak.


Bulan yang hapal dengan tatapan Raka, hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Raka kembali menatap Dzaky dan melirik ke arah kelingkingnya.


Degh!


Dzaky menghentikan ucapannya saat jari kelingking Raka yang sangat mungil itu terpaut di jari kelingkingnya. Kali ini Dzaky sangat terkejut dan juga merasa kebahagiaan yang tidak bisa Dzaky jelaskan.


Raka menggelengkan kepalanya sambil berkata. "Tidak, Om. Laka udah maapin Om tampan kok, Laka uga ndak benci cama Om. Ayah biyang semayah apapun kita cama ceceolang, kita ndak boyeh menyimpan kebencian ataupun amayah yang cangat becal."


"Cemua itu bica membuat Allah mayah cama kita, coalna kita ndak mau maapin olang yang udah minta maap. Maca, Allah maha pemaap, api kita cebagai hambana ndak mau maapin cih tan ndak boyeh anti doca Om."


"Laka uga ndak mau jadi anak yang nakal, anti Allah mayah teyus bica-bica cemua doa Laka ndak di dengal cama Allah dong. Ishh, ndak mau!"


"Pokokna Laka mau jadi anak baik aja, bial anti doa Laka bica di dengal Allah cupaya Laka bica mengajak Bunda, Ayah, Nenek cemuanya pelgi ke lumah Allah yang ada di alab cana di tanah cuci. Om mau itut? Anti Laka ajak Om ke cana, Laka yang bayalin deh glatis buat Om tampan. Mau?"

__ADS_1


Perkataan Raka berhasil membuat Dzaky hampir saja meneteskan air matanya, sehebat inikah anak di usia Raka? Kenapa bisa, anak kecil seperti Raka telah berhasil membuat siapapun orang yang ada disana benar-benar tersentuh.


"Raka itu anak baik, pintar, hebat, dan juga shaleh. Om cuman bisa mendoakan semoga doa-doa Raka selama ini bisa terkabulkan, agar kelak Raka bisa membawa orang-orang yang Raka sayangi pergi ke tanah suci. Aamin ...."


"Aamin, maacih ya Om. Om baik deh. Cekalang Om cama Bunda ndak boyeh belantem-belantem agi ya. Kata Ayah, kita halus damai, alo kita kecal atau mayah. Cukup ucapkan astagpilullah'alazim cebanyak-banyaknya biyal hati kita adem agi. Oteh?"


Dzaky menganggukan kepalanya, lalu dia menunduk sebentar untuk menghapus butiran air yang sudah mulai menetes. Kemudian kembali menatap Raka dan Bulan dengan wajah tersenyum bahagia.


Sementara Bulan, dia matanya berkaca-kaca ketika anaknya selalu berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali atas sikapnya yang sangat dewasa, melebihi sikap Bundanya sendiri.


"Mas, didikanmu memang luar bisa. Kau sangat berhasil menjadi seorang Ayah untuk Raka. Maafkan aku, jika aku belum bisa menjadi istri sekaligus Bunda yang baik untuk kalian. Aku hanya bisa berharap semoga kita selalu bersama baik dunia maupun akhirat kelak. Aamin Allahhuma Aamin."


Bulan berbicara di dalam hatinya sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya. Dzaky yang melihat Bulan juga terharu atas sikap anaknya itu, benar-benar tidak menyangka.


Ternyata disini bukan hanya mereka saja yang terharu atas sikap Raka, karena hampir semua orang yang ada disana ikut merasakan sikap anak kecil yang sangat manis itu.


Setelah keadaan mulai membaik mereka pun kembali melanjutkan acara makan siangnya, sesekali Raka bercanda oleh Dzaky.


Dimana wajah Dzaky terlihat sangat senang, ketika dia bisa berkenalan sama Raka. Anak baik, yang tidak pernah membosankan seperti anak kecil yang lainnya.


Saat makan siangnya sudah selesai, tiba-tiba saja Raka malah mengajak Dzaky untuk ikut bermain dengannya. Bahkan Raka menawarkan, kalau permainan yang akan Dzaky mainkan semuanya akan di bayari oleh Raka.


Hebat bukan? Ya, itulah Raka. Dengan kepolosannya dia mampu membuat semua orang merasa bahagia hanya karena sikap manisnya yang sangat berkesan.


Jika Dzaky mau pun, Dzaky bisa membelikan Mall tersebut untuk Raka. Cuman, disini Dzaky seolah-olah seperti orang biasa ataupun sahabat bagi Raka yang tidak memiliki apa-apa, sehingga mereka bisa bermain bersama sesuai dengan keinginan Raka.


Bulan yang melihat keasyikan antara keduanya ketika bermain, membuatnya tanpa di sengaja tersenyum lebar.


Bulan tidak menyangka bahwa atasannya yang terkenl sangat menyebalkan itu, ternyata adalah orangnya sangat asyik dan juga begitu menyayangi anak kecil.

__ADS_1


Semua jauh dari ekspetasi Bulan yang mengira, bahwa Dzaky itu nerupakan orang yang hanya bisanya membuat orang kesal, dan selalu menyebalkan.


...***Bersambung***...


__ADS_2