
Setelah Bulan berada di kamarnya sendiri bersama Samudra dan juga Ibunya. Samudra selalu duduk di samping bangkar Bulan untuk menemaninya sambil terus memegang erat tangan dan mengusap perut istrinya.
Sementara Bulan tersenyum lebar merasakan usapan tangan suaminya sangat membuatnya nyaman, tenang dan juga bahagia. Sedangkan Ibu Dara duduk di sofa belakang tak jauh dari Samudra sambil tersenyum melihat anak, menantu dan juga cucunya yang baru hadir bahagia.
...*...
...*...
Sepulangnya Bulan dari rumah sakit 1 Minggu yang lalu, kini keadaan Bulan terlihat begitu bahagia atas perlakuan dan sikap suaminya yang semakin lembut serta penuh perhatian.
Bahkan sedikit saja ada penganggu yang mencoba untuk menghalangi jalan Bulan, segera mungkin Samudra menyingkirkannya supaya tidak akan membuat Bulan celaka atau berada dalam bahaya.
Saat ini Bulan sedang berada di dalam kamarnya menunggu kepulangan suaminya yang sedikit terlambat.
"Huhh, bosen juga ya hampir seharian aku di dalam kamar. Pengen deh bikin yang pedes-pedes, kaya mie goreng tektek. Enak kali ya?"
"Cuman aku harus gimana? Ini sudah jam 11 malam, yang jualan pasti pada tutup.Bahkan Ibu juga udah tidur."
"Hem, apa aku buat sendiri aja kali ya ? Hitung-hitung sambil nunggu Mas samudra pulang, sekalian olah raga malam, biar badanku tidak terlalu kaku."
Bulan berbicara seorang diri sambil mengusap perutnya yang masih rata itu. Kemudian dia perlahan menaruh ponselnya di atas meja kecil dekat bangkar, lalu pergi meninggalkan kamar.
Bulan perlahan menuruni anakan tangga, memegang pembatas tangga sambil mengelus perutnya sendiri dan tersenyum.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita akan makan apa yang kamu inginkan, jadi Dedek sabar dulu ya. Mungkin ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama, gapapa 'kan?"
__ADS_1
"Hem, makasih kesayangan Bunda. Baik-baik di dalam ya, jangan nakal dan selalu sehat. Bunda sayang Dedek."
Bulan tersenyum bahagia karena dia sudah tidak sendiri lagi, ada malaikat yang harus dia jaga sampai kelak malaikat itu muncul dengan segala kelucuan dan kegemasannya.
Bulan berjalan menuju dapur. Dimana rumah itu hanya ada pembantu untuk membereskan rumah sehingga, ketika jam kerja habis maka pembantu itu akan pulang ke rumahnya sendiri.
Selebihnya urusan rumah Ibu Dara dan Bulanlah yang memegang semua kendali. Ibu Dara tidak mau hidupnya tergantung dengan pembantu, dia harus bisa melakukan semuanya seperti biasa. Ibarat kata pembantu itu hanya untuk membantu mereka, bukan mengambil alih semua mengerjakan rumah tangga.
Sesampainya di dapur, Bulan membuka kulkas dan mencari beberapa bahan yang akan dia gunakan, kemudian menyiapkan bumbu-bumbunya sambil merebus mie.
Semua Bulan kerjakan sendirian, sampai dia tidak sadar kalau tubuhnya sudah mulai kelelahan. Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam.
Seharusnya Bulan sudah beristirahat, beberapa jam lalu. Akan tetapi, dia malah berkutak dengan semua peralatan masak.
"Assalammuaikum ...."
Jadi kalau dia lembur atau pulang larut malam, maka Samudra tidak akan harus merepotkan rumah untuk membukakn pintu yang nanti akan mengangguku jam tidur orang rumah.
"Hem, sepertinya aku pulang sangat larut. Pasti Bulan dan Ibu sudah tidur, lebih baik aku segera bersih-bersih ke kamar deh. Aku harap, kepulanganku tidak sampai membangunkan Bulan."
"Pokoknya aku harus lebih berhati-hati, ketika masuk ke kamar supaya tidak membuat Bulan terkejut. Kasihan juga, pasti hari ini dia lelah banget karena menungguku yang tak kunjung pulang."
Samudra mengoceh kecil sambil berjalan mendekati anakan tangga, akan tetapi ketika kakinya mau melangkah menaiki anakan tangga. Samudra mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Su-suara apa itu? Jangan bilang, kalau di dapur ada maling? Astagfirullah, memangnya pak security tidak melihat kalau ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam rumah!"
__ADS_1
"Ini sudah tidak bisa aku biarkan lagi. Aku harus mengahadapinya, apapunnyang terjadi, sebelum istri, anak dan mertuaku menjadi korbannya!"
Samudra berbisik di dalam hati kecilnya sendiri. dia tidak menyangka kalau rumahnya bisa sampai kemasukan maling, padahal sudah ada 2 security yang berjaga-jaga di sekitaran rumahnya.
Perlahan Samudra melangkahkan kakinya setelah menaruh tas di sofa ruang keluarga. Tak lupa dia mengambil sebuah pentungan yang ada di vas bunga yang cukup besar. Samudra melakukan ini semua hanya demi berjaga-jaga jika maling tersebut langsung menyerangnya.
"Tenang Sam. Tenang! Pokoknya percaya aja kalau kamu pasti bisa mengusir maling itu, bismillah!"
Samudra berbicara kecil sambil memegang pentungan itu dan menaruhnya di atas pundak kanannya, sambil menghitungnya.
Satu ...
Dua ...
Ti-----
Arrrghhh ...
...***Bersambung***...
...Selamat berbuka puasa Bestie, bagi yang menjalankannya ❤️...
...Author cuman mau kasih tahu, di novel ini akan ada GIVEAWAY bagi 3 orang yang akan beruntung mendapatkannya! 😊...
...Caranya mudah selalu dukung novel ini dengan cara kumpulkan poin sebanyak-banyaknya, agar diujung hari H kalian bisa menjadi pemenang 🎉...
__ADS_1
...Pemenang akan author ambil dari rangking umum ya, jadi terus semangat berikan dukungan 🥰...
...Terima kasih 😎...