
"Baiklah, tolong sampaikan kabar baik ini kepada atasanmu. Segeralah kembali, dan temui sahabatnya. Pasti sebentar lagi Samudra akan bangun, dan mencari sahabatnya."
Perkataan Opa Jerome diangguki oleh asisten Dzaky, lalu dia pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju suatu tempat untuk mengurus pekerjaan yang belum selesai.
...*...
...*...
3 hari selang pasca operasi transplantasi da*rah, kini akhirnya mereka mendapatkan kabar baik. Bila Samudra sudah mulai membaik dan telah melewati masa kritisnya.
Mereka cukup menunggu kapan Samudra bangun kembali membuka matanya, setelah beberapa hari ini dia tertidur cukup lama.
Tepat malam hari, Raka tidur bersama dengan Oma Dena dan juga Opa Jerome di ruangan depan. Sedangkan Bulan tak sengaja ketiduran sambil duduk di kursi sebelah bangkar Samudra.
Perlahan jari Samudra yang tangannya di jadikan bantalan oleh Bulan, mulai bergerak. Menunjukkan bila Samudra terus berusaha untuk sadarkan diri.
Benar saja, hitungan detik dia mencoba keras membuka kedua matanya menyesuaikan lampu cahaya ruangan yang sangat silau.
Kemudian matanya satu persatu terbuka menatap langit-langit kamar yang sangat asing untuknya. Kemudian dia menoleh ke arah istrinya yang selalu setia, sampai dia ketiduran hanya sekedar menunggunya kembali terbangun.
"Sa-sayang, ka-kamu ke-kenapa ti-tidur di-di sini?" ucap Samudra, suara yang sangat lirih hampir nyaris tidak terdengar.
Rasa kasian menyelimuti hatinya melihat kondisi istrinya, tetapi dia pun tersenyum bahagia. Ketika bisa melihat kesetiaan Bulan padanya, padahal bila di ingat-ingat Bulan selalu meminta pisah.
Namun, sekarang berbeda. Dia malah seakan-akan tidak mau kehilangan Samudra, jadi dia rela menunggu seperti ini hanya demi suami tercinta.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah membuatmu khawatir, pasti aku telah melewatkan banyak waktu. Sehingga hanya ada tangisan yang aku berikan saat kalian melihat kondisiku. Sekali lagi maafkan aku!"
Air mata Samudra menetes disertai suara hati yang sangat menggetarkan. Meski terasa sakit di bagian dadanya, tetapi Samudra belum tahu jika dia sudah melakukan operasi. Dia menyangkarasa sakit itu karena penyakit, tetapi sebenarnya sakit akibat jahitan.
"Maaf, bila suatu saat nanti aku harus pergi karena penyakit ini. Sebab, aku tidak mau merepotkanmu, anak kita dan juga keluargaku sendiri. Pasti kamu juga masih marah sama aku, karena aku sudah berbohong. Untuk itu, aku cuman bisa meminta maaf dan akan menjelaskan padamu. Kenapa aku bisa sampai seperti ini."
Samudra yang belum bisa banyak berbicara, dia hanha bisa mengandalkan suara hatinya. Sesekali tangan kirinya terangkat perlahan, lalu dia gerakan untuk menggapai kepala istrinya.
__ADS_1
Dia mengusapnya pelan-pelan, tetapi akibat pergerakannya berhasil membuat tidur Bulan terganggu dan terkejut saat tangan seseorang berada diatas kepalanya.
"Ta-tangan siapa ini?" guman Bulan, bingung manatap ke arah tembok.
"Tu-tunggu, ta-tangan ini tangan ... Ma-mas Sam?"
Bulan yang menyadari semua itu segera menoleh ke arah suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya.
"A-asalamualaikum, Sa-sayang ...." ucap Samudra susah payah menahan rasa sakit di tenggorokannya.
"Wa-walaikumsalam, Mas Sam hiks ... A-aku kangen banget, terimakasih ya Allah. Akhirnya kamu selamat Mas, dan operasi itu berjalan lancar."
"Seandaikan sedikit saja kamu terlambat mendapatkan pendonor hati. Sudah dipastikan aku, Raka dan semuanya bisa kehilanganmu untuk selamanya."
Degh!
Samudra benar-benar terkejut, dia tidak menyangka bila memiliki penyakit semenakutkan itu. Sampai dia harus menerima sumbangan donor hati.
Bulan yang mengerti keterkejutan suaminya, perlahan mulai menceritakan kepadanya sambil terus menggengam tangannya sesekali menciuminya.
Sampai akhirnya Bulan mau membangunkan anak dan mertuanya, langsung di larang oleh Samudra. Dengan tujuan biarman mereka beristirahay, sebab mereka juga kelelahan untuk mengurusinya.
Bulan menceritakan beratapa senangnya dia bisa melihat suaminya kembali. Banyak kisah yang terlewatkan membuat Bulan perlahan mulai menjelaskannya
"Mas tahu tidak, Raka sekarang udah tumbuh besar. Ditambah dia sudah begitu lancar berbahasa, mungkin nanti kamu akan syok mendengar anak kita yang cadel itu sudah semakin pintar pintar nyerocos hihi ...." ucap Bulan, antusias.
"Ma-maaf, Ma-mas sudah me-melewatkan hari-hati tanpa kalian. Cuman Mas seneng, saat tahu anak kita juga sudah semakin pintar. Sama sepertimu yang terlihat semakin dewasa dan di penuhi kepercayaan diri." jawab Samudra, mengusap pipi istrinya.
"Ohya aku lupa. Aku dan Raka punya kejutan loh, apa kamu mau dengar?"
Wajah Bulan langsung berubah, dimana tadinya dia terlihat sangat ngantuk dan juga lelah selalu menjaga Samudra. Di tambah dia sendiri juga baru keluar dari kamarnya dan baru di perbolehkan pulang.
Namun, Bulan memilih untuk menemani suaminya sampai dia sadarkan diri. Terbukti bukan, inilah perjuangan dan pengorbanan seorang wanita kepada pasangannya.
__ADS_1
"Kejutan apa, Sayang? Ja-jangan bilang kalau Raka udah naik kelas? Jika benar, berarti aku sudah sangat lama meninggalkan mereka. Banyak waktu terbuang sia-sia, cuman karena penyakit."
Bulan mengelengkan kepalanya sangat cepat, lalu dia tersenyum dan mengusap pipi suaminya.
"Mas tahu, saat ini ak-aku sedang mengandung anak ke-2. Adik dari Raka yang selama ini kita nantikan."
Degh!
Samudra langsung terdiam, mendengar berita bahagia itu. Dia cuman menangis tidak tahu lagi harus mengapreasikan seperti apa.
Bulan yang tidak tega melihat suaminya menangis perlahan mulai berdiri, lalu memeluk Samudra sambil sedikit melonggarkannya agar bisa memberikan jarak supaya tidak menyentuh dadanya yang habis operasi.
"Ka-kamu beneran ha-hamil, Dek? Se-serius, Mas punya anak la-lagi?" ucap Samudra, matanya berkaca-kaca disaat Bulan melepaskan pelukannya.
Bulan mengangguk, dalam keadaan berdiri perlahan meletakkan tangan suaminya ke arah perutnya. Dimana Samudra mengeluskanya sambil menangis bahagia.
"A-anakku? Ka-kamu benar-benar ada di dalam, Nak? A-ayah tidak lagi mimpi 'kan?" tanya Samudra yang masih penasaran.
"Tidak, Ayah. Aku sudah ada kurang lebih 1 bulan di dalam perut Bunda. Aku seneng deh, Ayah sudah bangun. Jadi nanti aku tidak akan kesepian lagi kalau mau main pasti ada Ayah. Pokoknya Ayah sehat-sehat terus ya, tunggu aku keluar dari perut Bunda Nanti kita main sepuasnya bersama Kakak Raka."
Bulan menirukan suara anak kecil yang emmabuat suaminya sedikit mendongak, melihat Bulan terkekeh kecil. Ini kali pertama Bulan bisa kembali tersenyum setelah penantiannya menunggu Samudra telah selesai.
"A-aku senang banget, Sayang. Baru juga aku bangun aku sudah mendapatkan kejutan-kejutan yang bahagia ini. Ma-maaf bila aku sudah membuatmu khawatir hiks ...."
"Sstt, tenang Mas. Ini sudah jalan Allah, yang penting sekarang Mas sudah kembali sehat dan kita bisa kumpul sama-sama lain."
Bulan kembali memeluk suaminya sampai beberapa detik lamany, lalu kembali duduk sambil bercerita-cerita beberapa hati terkahir ini. Sebab, Samudra sudah banyak ketinggalan berita. Jadi, dia mau mengetahui semua itu dengan tuntas.
Kurang lebih 1 jam mereka mengobra, Bulan mulai kembali menguap. Kemudian Samudra menyuruhnya beristirahat, awalnya Bunda tidak mau.
Hanya karena dia kembali mendengar celoteh khas dari suaminya, akhirnya Bulan tertidur diatas sofa panjang yang tak jauh dari bagkar suaminya sambil menatap kearah suaminya.
Bulan tertidur sambil tersenyum, setelah dia kembali bisa merasakan kebahagiaan yang sempat tertunda. Akan tetapi, yang jadi pertanyaan Samudra. Siapa orang yang sudah menjadi pendonor hati ubtuknya? Pertanyaan itu selalu ternhiang di pikirannya, membuat Samudra semakin penasaran.
__ADS_1
Kembalu lagi, Samudra akan menanyakan setelah Dzaky pulang dari luar negeri, agar bisa mengetahui identitas orang itu secara detail. Setelah itu, Samudra kembali memejamkan matanya di rasa hari masih sangat larut. Dengan harapan besok pagi dia bisa jauh lebih putih dan juga sehat.
...***Bersambung***...