
Beberapa kali dia meminta maaf pada istrinya karena sudah mengikari janjinya sendiri, sedangkan mertuanya yang melihat menantunya selalu menyalahkan diri langsung mencoba untuk menenangkannya.
"Nak, percayalah. Apa yang kamu lakukan hari ini sudah benar, masalah itu kita pikirkan nanti. Kita fokus dengan keselamatan istri serta anakmu dulu, pahamkan apa yang Ibu maksud?"
Samudra mendongak ke atas menatap mertuanya dan menganggukan kepalanya, lalu dia mulai berdiri serta meminta izin pada mertuanya untuk pergi ke masjid, karena waktu sudah mau memasuki Ashar.
Dimana mereka akan secara bergantian menunaikan ibadahnya, sambil berjaga serta menunggu kapan dari dokter yang sedang melakukan operasi.
...*...
...*...
2 jam setengah kemudian, lampu oprasi yang awalnya berwarna hijau kini telah berganti warna menjadi merah. Pertanda bahwa operasi telah selesai di lakukan.
Samudra langsung berdiri dengan wajah cemasnya, menunggu pintu terbuka. Berharap sang dokter akan membawakan kabar baik tentang anak serta istrinya.
"Bismillah, semoga anak dan istri Hamba selamat ya Allah. Hamba mohon berikanlah mereka kesehatan agar bisa kembali berkumpul pada Hamba, Aamin Allahhuma Aamin." doa Samudra di dalam hati kecilnya.
"Sabar ya, Nak. Insyaallah mereka semua selamat dan sehat, tanpa kekurangan satu apapun. Ibu yakin, Bulan dan anakmu itu adalah orang yang kuat. Jadi kamu tidak perlu khawatir, semua akan berjalan seperti harapan kita."
Samudra mengangguk tersenyum menatap mertuanya, entah jika tidak ada Ibu Dara. Kemungkinan Samudra sudah sangat frustasi dan juga berantakan, ketika menghadapi suasana seperti ini.
Tak lama sepasang suami istri datang dengan wajah panik serta bahagia ketika anak dari keponakannya telah lahir dan juga akan menjadi cucunya.
Denada Nadheera, adalah Tante dari Samudra yang berusia 50 tahun. Tante Dena merupakan saudara dari Ibu Samudra, yang entah kemana keberadaannya saat ini.
Diusianya yang sudah mulai menua, dia tetap menjaga penampilannya agar selalu terlihat awet muda dan juga manis.
Tante Dena datang tidak sendirian, melainkan bersama dengan seorang pria yang bertubuh gagah, walaupun usianya tidak lagi muda. Yang mana itu adalah suami dari Tante Dena.
Faisal Rayyanza, adalah Paman dari Samudra yang saat ini berusia 55 tahun. Di usia yang mulai menua, penampilan Om Faisal selalu terlihat rapi.
Ketampanan wajahnya terlihat begitu mempersona, membuat Om Faisal banyak di rebutkan wanita. Baik muda maupun yang tua. Sampai semua itu tidak membuatnya menanggapi wanita itu, kecuali istrinya sendiri.
__ADS_1
Om Faisal merupakan pria yang hamble pada siapapun, akan tetapi dia akan bersikap dingin terhadap wanita dan akan mengnanggapi 1 wanita yitu istrinya.
Mereka datang dengan segala ke khawatirannya ketika Samudra mengabarinnya, bahwa kondisi Bulan sedang tidak baik-baik saja.
"Assalammualaikum, Sam. Bagaimana kabar istrimu?" ucap Tante Dena langsung memeluk Samudra.
"Sam, belum tau ma- Tan. Dokter belum memberi kabar, padahal lampu oprerasinya udah mati beberapa menit lalu." jawab Samudra, sambil melepaskan pelukannya.
Om Faisal tersenyum kecil sambil salaman tanpa menempel, sementar Tante Dena segera memeluk Ibu Dara tak lupa mengucapkan kata-kata yang menguatkan untuknya.
"Sabar ya, Besan. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Bulan dan bayinya." Tante Dena melepaskan pelukannya menatap serta menggenggam tangan Ibu Dara.
"Aamin, Allahhuma Aamin. Terima kasih, Besan." ucap Ibu Dara tersenyum.
"Sebenarnya ada apa dengan Bulan, Nak? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Karena setahu kami, usia kandungnnya itu baru msuk 7 bulan. Namun, yang kami herannya kenapa dia bisa melahirkan secepat itu?"
Pertanyaan sensitif itu sedikit menyenggol perasaan Samudra, karena memang ini semua gara-gara dia. Yang mana mertuanya pun belum tahu apa yang terjadi pada anaknya.
Ketika Samudra mau membuka suara menjelaskan keadaan sebenarnya, tetapi dia urungkan saat sang dokter keluar dengan keadaan wajah sedikit gelisah.
"Dok, bagaimana keadaan anak istri saya? Mereka selamat, 'kan? Mereka baik-baik aja, 'kan? Jawab, Dok. Jawab!" ucap Samudra dengan perasaan cemas bercampur panik.
Samudra pun terdiam, kemudian sang dokter mulai menatap mereka satu persatu dan menjelaskan bagaimana keadaan Bulan di dalam.
"Jadi, begini Tuan, Nyonya. Keadaan Nyonya Bulan saat ini masih sangat lemah, jadi kemungkinan seharian ini dia akan tertidur. Supaya ketika nanti terbangun tubuhnya sudah fit kembali."
"Namun, anak Tuan ...."
Degh!
"A-anak saya kenapa, Dok? Dia gapapa, 'kan? Dokter jangan buat saya cemas ya, cepat katakan anak saya kenapa!"
Emosi Samudra mulai tidak terkontrol ketika perkataan dokter tersebut berhasil hampir menghentikan detak jantung.
"Saat ini Nyonya Bulan telah melahirkan anak laki-laki yang lucu dejgan berat sekitar 2,6 kilo gram. Dan kelahiran anak Tuan termasuk bayi prematur, bahkan berat badannya seharusnya bisa mencapai 3,5 kilo gram."
"*Namun, karena keadaan kami harus mengeluarkannya lebih cepat dari waktu yang di tentukan."
__ADS_1
"Artinya, untuk ke depannya. Bayi Tuan akan saya rawat di ruangan inkubator selama fisik dan juga berat badan bayi normal. Barulah kami bisa mengeluarkannya, karena detak jantung bayi sedikit lemah serta bayi Tuan sedikit mengalami keracunan."
"Akan tetapi, tenang saja. Semuanya sudah aman terkendali, hanya saja istri dan anak Tuan harus lebih beristirahat. Sampai sini apakah ada pertanyaan?"
Samudra terdiam meratapi nasib anaknya yang sangat malang sekali, seharusnya dia bisa lahir secara normal dan bukan sesar. Apa lagi dia juga bisa memiliki berat badan standar seperti anak lainnya yang baru lahir, bukan seperti saat ini yang terkesan sangat menyedihkan.
Hati Samudra tergores cukup mendalam, jika keadaan ini akan terjadi. Kemungkinan besar, Samudra tidak akan mengatakan semuanya sampai Bulan bisa menerima kenyataan secara bertahap.
Om Faisal yang melihat keadaan ponakannya terdiam tidak mengerti harus berkata apapun, dia langsung mengambil alih semuanya.
"Saya mohon, lakukan perawatan yang terbaik untuk mereka berdua, Dok! Saya tidak mau apa bila ponakan dan cucu saya kenapa-kenapa, saya mau mereka semua sehat. Paham!" tegas Om Faisal, diangguki oleh dokter.
"Baik, Tuan. Kami akan lakukan yang terbaik buat mereka semua. Semoga dalam beberapa hari kedepan keadaan mereka bisa jauh lebih stabil dari saat ini. Kalau begitu saya pamit, mau mengurus bayi Tuan Samudra lebih dulu. Permisi!"
Ketika dokter mau memasuki ruangan itu kembali, tiba-tiba Samudra menahannya dan membuat dokter menghentikan langkahnya serta berbalik untuk sekedar menatap Samudra.
"Stop, tunggu!" ucap Samudra, dengan mata memerah menahan emosi pada dirinya sendiri.
"Ada apa, Tuan? Apakah ada yang di pertanyakan?" ucap dokter, sedikit bingung.
"Kapan saya bisa bertemu dengan mereka semua?" tanya Samudra, wajahnya terlihat sedikit datar.
"Untuk saat ini saya akan memindahkan Nyonya Bulan ke dalam kamarnya, barulah Tuan bisa menemui sekaligus menemaninya selama 24 jam." jawab dokter, tersenyum.
"Lantas bagaimana dengan anak saya?" tanya Samudra, kembali.
"Kalau untuk anak Tuan, maaf hari ini belum bisa di jenguk lebih dulu. Jika Tuan mau, bisa melihatnya dari luar kamar bayi melalui kaca. Tetapi, jangan khawatir. Kemungkinan besar, besok atau lusa Tuan bisa melihat anak Tuan dari jarak dekat dengan di temani suster ataupun dokter yang berjaga di sana. Kalau gitu saya permisi dulu!"
Sang dokter masuk ke ruangan itu untuk membantu suster lainnya serta mengecek keadaan Bulan, sebelum di pindahkan ke dalam kamarnya.
Sementara Samudra, terjatuh duduk di lantai sambil menekuk kakinya sedada dan menjambak rambut penuh frustasi.
Dia menangis sesegukan saat sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, menghadapi ujian ini. Jika boleh digantikan, maka Samudra siap menggantikan posisi anaknya saat ini.
"Ma-maafkan Ayah, Nak. Ayah udah membuatmu merasakan sakit saat baru lahir hiks ...."
Melihat Samudra tak berdaya, Om Faisal segera merangkul sambil terus memberikan semangat agar dia tidak sampai putus asa. Sedangkan Ibu Dara berpelukan pada Tante Dena, setelah mengetahui cucu mereka dalam kondisi tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
...***Bersambung***...