Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Pelgi Ke Lumah Allah


__ADS_3

Ibu Dara sebenarnya udah tahu apa yang akan Raka katakan, karena sebelumnya Raka sudah menceritakannya sehingga membuat Ibu Dara paham kenapa Samudra memilih untuk malam-malam pergi ke Masjid.


Perlahan Raka mulai menceritakan kejadian tersebut dengan versi anak-anak pada umumnya, disini bukan karena Raka anak tukang ngadu ya. Melainkan Raka tidak mau melihat Bundanya selalu bersedih, jadi dia meminta tolong pada Ayahnya untuk menghibur Bundanya.


...Flashback...


Ketika pagi hari, Raka ingin sekali jalan-jalan keliling desa sambil menikmati udara pagi yang sangat sejuk karena semalam habis terguyur hujan.


Dingin, sejuk dan segar semua bercampur menjadi satu membuat semua orang yang menikmati pagi itu merasa bahagia.


"Bunda, ayo jalan-jalan. Laka mau liyat cawah Ayah, teyus anti Laka mau teliak-teliak ke Ayah aya gini 'Ayah, Laka datang uhuyy' gitu haha ...."


Raka tertawa begitu semangat ketika dia sedang membayangkan akan bertemu dengan Ayahnya dalam keadaan bahagia. Sementara Bulan hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Raka yang begitu lucu.


Dia melompat-melompat kegirangan ketika ingin melihat Ayahnya bekerja, rasanya Raka hanya ingin mengejutkan Ayahnya yang ada di sawah.


"Ya sudah, kita pamitan dulu sama Nenek ya." ucap Bulan, menggandeng tangan Raka


"Siap Ibu negara, hhahaha ...." Raka begitu antusias ketika dia ingin bertemu Ayahnya.


Setelah berpamitan dan memberikan salam, segera mungkin mereka berjalan sambil saling bergandengan tangan. Dimana Raka selalu jalan melompat-melompat penuh kegirangan.


"Bun, Bun. Lihat deh, nunungnya bagus ya. Kita kecana yuk, teyus anti kita teliak kenceng aya di tipi tipi itu loh,"


"Bunda cayang Ayah cama Laka, Bunda uga janji ndak mau ninggalin Laka cama Ayah. Nah, anti Laka cama Ayah bales gini. Laka cama Ayah juga cayang Bunda, ndak akan pelnah ninggalin Bunda celamanya. Gimana, celu tan hehe ...."

__ADS_1


Raka tertawa puas bersama Bulan sepanjang jalan, mendengar kalimat simple itu berhasil membuat mata Bulan berkaca-kaca.


"Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan Hamba jagoan kecil yang sangat manis ini. Semoga kelak apa yang dia ucapkan, akan selalu menjadi doa terbaik bagi kami. Aamin." ucap Bulan di dalam hati.


Tak lama ada beberapa orang yang sedang berkumpul, serta melihat kekompakan mereka membuat semuanya merasa iri akan kemesraannya.


Namun, ada juga beberapa orang yang melihat mereka menggunakan pandangan tak suka dan sinis ketika mengetahui kehidupan Bulan dari kecil sampai sekarang yang tidak pernah berubah.


"Wihh, ada yang jalan-jalan pagi nih. Hai Raka, makin hari pinter aja ya sekarang." sapa tetangga.


"Hehe, alhamdulillah makacih Bude." jawab Raka penuh senyuman.


"Anak ganteng, kok jalan sih? Kenapa Raka enggak beli sepeda aja, lihat tuh anak Bude. Dia udah pinter 'kan main sepedahnya, terus Raka kapan dong beli sepeda? Masa mau jalan mulu, kasian kakinya nanti capek loh." sindir tetangga satunya.


Bulan yang paham akan tatapan sang anak, hanya bisa mencoba untuk menasihatinya secara perlahan.


"Sabar ya, Sayang. Anak Bunda 'kan anak yang pintar, jadi harus bisa sabar ya. Nanti kalau Ayah ada uang, kita beli sepeda yang Raka suka. Mau?" ucap Bulan, meyakinkan.


Raka hanya tersenyum menatap Ibunya dan kembali menatap semua Ibu-ibu, serta beberapa kali matanya melirik ke arah anak-anak yang sedang bahagia menaiki sepeda barunya.


Ada satu kalimat terlontar dari mulut anak seusia Raka yang telah berhasil menampar semua orang yang ada di sana. Termasuk Bulan, Bundanya sendiri. Dia tidak menyangka anak kecil yang dia lahirkan mampu berkata seperti itu.


"Laka ndak mau beli cepeda, Bude. Kasian Ayah, anti Ayah telja teyus malah cakit lagi. Pokokna Laka ndak mau Ayah cakit, jadi Laka jalan kaki aja. Yang penting Ayah, Bunda, cama Nenek cehat cemuanya bica nemenin Laka campe nanti Laka yang atan ajak meleka pelgi ke lumah Allah di tanah suci aamin."


Raka tersenyum menunjukkan sederetan giginya membuat semua jantung mereka terhenti untuk beberapa detik.

__ADS_1


Anak seusia Raka yang seharusnya hanya tahu makan, tidur dan main. Ternyata memiliki pemikiran yang sangat dewasa, semua ini tidak jauh dari didikan Samudra.


Bulan sendiri saja yang menjadi Bundanya, sangat-sangat terkejut dengan jagoan kecilnya ini. Seakan-akan Raka kecil memiliki kelebihan dalam pola berpikir yang membuat dia bisa sedewasa itu, lebih dari umurnya.


Disaat semuanya terdiam tiba-tiba saja ada seorang anak kecil, yang menaiki sepedanya dengan wajah tidak suka menatap Raka.


"Hei, Laka. Anak petani miskin, mana cepedamu. Ayo kita balapan, anti kalo menang aku belikan es krim 2. Gimana?" ucap anak kecil itu.


Raka menggelengkan kepalanya cepat, sambil tangan terus menggandeng Bulan. "Ndak mau, kata Ayah alo begitu namanya taluhan. Dan itu pelbuatan yang Allah tidak suka, jadi Laka ndak mau buat Allah mayah-mayah. Anti alo Allah mayah, Laka ndak bica bawa Ayah, Bunda cama Nenek pelgi ke rumah Allah, dong?"


"Issh, ndak mau. Laka mau ke lumah Allah titik! Laka uga gapapa di biyang miskin, tapi anti alo Laka udah aya laya kamu mau tan belteman cama Laka? Nanti Laka ajak ke lumah Allah uga, mau?"


Anak yang terlihat polos seperti Raka, ternyata mudah sekali menyeram apa yang Samudra ajarkan sedari kecil. Sehingga apapun yang membuatnya seperti diejek tidak akan membuat Raka gentar, seperti anak pada usianya yang selalu nangis dan bertengkar ketika di kucilkan.


"Wah, Raka hebat ya. Ngomong-ngomong siapa yang ngajarin Raka ngomong begini? Ayah apa Bunda, hem?" tanya tetangga itu kembali.


"Hem, Ayah, Bude. Ayah celalu biyang alo kita di jelekin cama oyang atau diejek tita halus bales dengan senyuman atau alo perlu balasnya pakai kebaikan. Cupaya anti Allah tidak mayah, Laka takut alo Allah mayah bica-bica Laka ndak boyeh macuk ke lumahnya." jawab Raka, polos.


"Aduh, Ayah Raka memang hebat ya. Berarti selama ini Raka bisa seperti ini karena Ayah, itu artinya Bunda enggak pernah nasihatin Raka ya. Uhh, kasihan. Bundamu memang begitu, makannya Ayahmu itu sebenarnya tidak beruntung mendapatkan Bundamu. Jadi kamu---"


Ucapan tetangga itu terhenti ketika Bulan yang awalnya terdiam mulai terpancing oleh perkataan mereka. Sampai akhirnya mereka berdebat dengan nada yang saling bersautan, dimana Raka yang tidak mengerti hanya bisa mencoba melerai Bundanya.


Untungnya tidak ada adegan jambak menjambak, hanya ada adu mulut saja. Raka yang tidak tega melihat Bundanya menangis, langsung memegang tangannya dan mendongak ke atas dalam keadaan wajahnya memberikan sebuah senyuman manis.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2