Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kejadian Mengejutkan


__ADS_3

Begitu juga Samudra, dia berusaha menahan tawanya saat Raka terus merengek meminta maaf karena udah menjahili Ayahnya sendiri. Padahal dia tidak tahu, bahwa Ayahnya pun sedang menjahilinya. Sehingga mereka kembali berbaikan, dan Samudra fokus untuk mencarikan grab untuk mereka berangkat ke tempat tujuan.


Cuman selang beberapa menit, akhirnya mereka mendapatkan grab mobil. Tanpa berlama-lama lagi, perlahan mereka mulai masuk menempati tempat duduknya masing-masing. Dimana Raka dan Bulan duduk di kursi belakang dan Samudra duduk di kursi depan bersama sang supir.


...*...


...*...


Sesampainya di suatu gedung yang cukup mewah dengan hiasan yang sangat indah. Berhasil membuat mata Bulan dan Raka pun bergejolak ingin keluar, lalu berlari menatap semua isi gedung sampai tuntas.



Gedung pencakar langit, adalah salah satu gedung terbesar yang ada di kotanya. Hanya orang tertentulah yang bisa hadir memasuki gedung tersebut.


Begitu juga Samudra dan keluarga kecilnya, mereka masuk menggunakan barkot yang ada di ponsel Samudra supaya mendapat akses masuk ke dalamnya.


Setelah itu, mereka mulai melangkah memasuki gedung sambil bergandengan. Dimana posisi Raka berada di tengah kedua orang tuanya, menggandeng tangan mereka tanpa mau melepaskannya.


Terlihat jelas bahwa Raka sangat menyayangi kedua orang tuanya. Sampai-sampai membuat banyak pasang mata menatap iri ke arah mereka yang terlihat layaknya keluarga bahagia.


Meskipun Samudra tidak mengenal banyak orang disana, akan tetapi Bulan sangat tidak asing dengan wajah orang-orang yang berada di sekitarnya.


"Sebenarnya Mas Sam ini mengajakku di acara apa sih, kenapa wajah-wajah mereka tidak asing? Kaya aku tuh mengenal mereka, cuman aku lupa siapa. Dan dimana aku bisa kenal mereka, tetapi tidak mungkin. Siapa tahu aja karena aku terbiasa ketemu banyak orang ketika kerja, jadi aku terlalu banyak mengenali wajah mereka walaupun aku sendiri pun lupa."


Bulan mengoceh di dalam hatinya ketika matanya menatap beberapa orang yang benar-benar wajahnya sangat dia kenali. Hanya saja dia lupa dengan nama ataupun tidak tahu harus menyapanya seperti apa. Bulan cuman bisa tersenyum sepanjang mereka berjalan untuk lebih memasuki gedung.


Sampai akhirnya ada satu orang yang menyapanya dengan wajah terkejut. Begitu juga Bulan, dia tidak menyangka akan bertemu dengannya di acara ini.


"Bu-bulan? Kau Bulan 'kan?" tanyanya, dengan wajah bingung.


"Ehh, Tu-tuan? Ko-kok Tuan ada di sini? Memangnya Tuan tidak datang ke acara Tuan Dzaky?" tanya Bulan.

__ADS_1


Wajahnya benar-benar terlihat begitu syok, saat bertemu oleh asisten pribadi Dzaky di acara sahabat suaminya.


"Kamu kenal dengan dia?" tanya Samudra.


"Ya, Tuan. Dia ini sekretaris Tuan Dzaky, maka dari itu saya terkejut dengan kedatangannya di sini. Sebelumnya Tuan mengatakan bahwa Bulan tidak akan hadir diacaranya, karena dia ada acara bersama keluarganya."


Penjelasan dari asisten Dzaky kali ini berhasil membuat mereka semua bingung. Disatu sisi Bulan bingung, kenapa dia bisa ketemu asisten Dzaky diacara sahabat suaminya. Ada apa sebenarnya ini? Itulah yang menjadi pertanyaan di dalam kepala Bulan saat ini.


Sama halnya seperti Samudra, dia benar-benar terkejut. Setelah mengetahui bahwa Dzaky yang selama ini Bulan ceritakan, ternyata memang sahabatnya.


Padahal beberapa kali Samudra menangkis semua itu, karena menurutnya nama Dzaky di dunia ini sangatlah banyak. Dan tidak mungkin kalau itu benar-benar sahabatnya, seperti dugaannya selama ini.


Namun, nyatanya dia salah. Dzaky yang berusaha ingin merebut istrinya, memang sahabatnya sendiri. Lantas, apakah hati Samudra hancur setelah dia tahu siapa Dzaky sebenarnya? Ya, jelas.


Hati Samudra memang sedikit hancur, tetapi dia masih bisa menyembunyikan itu semua. Seakan-akan dia berusaha keras untuk melupakan semua kejadian yang terjadi pada istri dan sahabatnya.


"Tuan kenapa ada disini?" tanya Bulan yang masih penasaran.


Bulan yang masih bingung dengan perkataan asisten Dzaky itu, langsung berbalik lalu menatap suaminya untuk memastikan. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa acara sahabat Samudra bisa pas dengan acara ulang tahun Dzaky? Entahlah, Samudra sendiri pun terdiam mematung. Dia masih sangat terkejut, bahwasanya selama ini istrinya bekerja dengan sahabatnya sendiri.


"Mas, katakan dengan jujur. Apa maksud dari semua ini? Kemarin malam kamu bilang, kamu mau mengajakku dan Raka ke acara sahabatmu. Lantas kenapa kita malah menghadiri acara atasanku? Jangan bilang kamu bohongin aku, iya? Tapi, tunggu!"


"Acara Tuan Dzaky ini acara yang spesial, tidak mungkin sembarang orang bisa masuk ke sini tanpa undangan yang resmi. Terus sekarang pertanyaanku, kamu dapat dari mana undangan itu?"


"Apa jangan-jangan, kamu dan Tuan Dzaky sudah pernah bertemu sebelumnya? Atau Tuan Dzaky sendiri yang meminta tolong padamu, supaya bisa membawaku ke acara ini. Benar begitu, Mas?"


Degh!


Seseorang yang awalnya berniat ingin mendekati sahabatnya, malah di kejutkan oleh percakapan mereka. Sehingga membuat jantungnya berdebar sangat cepat, seperti orang yang sedang terkena serangan jantung secara mendadak.


Siapa lagi jika bukan Dzaky. Dari kejauhan Dzaky memanv sudah melihat Samudra datang bersama keluarga kecilnya, cuman ketika langkahnya semakin mendekat. Dzaky malah diberikan kejutan di hati ulang tahunnya dengan hadia spesial, yaitu pemandangan yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Dimana, Dzaky tahu bahwa selama ini wanita yang dia suka adalah istri dari sahabatnya sendiri. Kejam bukan? Ya itulah yang dirasakan oleh Dzaky saat ini, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah mengkhianati sahabatnya sendiri.


Dengan tubuh yang sedikit bergetar, Dzaky mendekati Samudra serta langsung menjawab semua pertanyaan Bulan yang tidak bisa suaminya jawab. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya Samudra masih tidak menyangka semua itu terjadi di luar dari perkiraannya.


"Ekhem, maaf mengganggu waktunya. Bisakah saya yang akan menjawab semua pertanyaanmu itu, untuk mewakili sahabat saya?" ucap Dzaky, berdiri tepat di belakang Bulan dan asistennya.


Raka yang tidak mengerti apapun hanya bisa terdiam menatap orang-orang dewasa berbicara dengan bahasa yang tidak dia mengerti.


Samudra menatap wajah Dzaky dengan tatapan penuh arti, begitu juga Dzaky. Dia menatap Samudra dengan rasa bersalahnya, meskipun Dzaky tidak tahu apakah Samudra mengetahui tentang perasaannya atau tidak pada Bulan.


Namun, Dzaky yakin bila Samudra mendapatkan banyak kisah tentangnya dari istrinya. Jadi, Samudra bisa menyimpulkan bahwa Dzaky telah menaruh perasaan pada istrinya


"Tidak bisa, aku mau suamiku yang akan menje ... Laskan."


"Tu-tuan Dzaky? Kau--"


"Ya, ini saya. Dzaky atasanmu, sekaligus sahabat dari suamimu. Kenapa, apa kamu terkejut? Sama, saya dan suamimu pun pasti sangat-sangat terkejut dengan kenyataan ini. Akan tetapi, inilah kenyataannya kalau saya dan Samudra adalah sahabat lama. "


"Dimana kami baru bertemu tidak sengaja di rumah sakit, saat dia sedang mengurus pengobatan mertuanya yang sedang sakit parah."


"Akan tetapi, jujur. Kami pun tidak tahu bila kamu adalah istri dari sahabat saya, dan suamimu pun tidak tahu bila kamu adalah karyawan saya. Untuk itu, jawaban dari semua pertanyaanmu adalah ketidak sengajaan. Bila kita di pertemukan di acara saya dengan status berbeda, yang mana kamu datang sebagai istri dari sahabat saya dan bukan sebagai karyawan saya."


Penjelasan dari Dzaky benar-benar membuat Bulan terlihat begitu syok, dia tidak menyangka kalau semua ini di luar dari logikanya. Jika mereka semua akan di pertemukan di acara yang penting ini.


Samudra sendiri tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menatap sahabatnya dengan senyuman kecil untuk sekedar menyapanya.


Namun, tanpa mereka ketahui Samudra sedang menahan rasa sakit yang ada di dalam dadanya yang mulai kambuh.


Raka yang sudah pegal berdiri terus, langsung merengek kepada kedua orang tuanya membuat suasana menegangkan itu sedikit teralihkan.


Tanpa basa-basi lagi, Dzaky langsung membawa mereka untuk duduk di kursi khusus yang sudah di siapkan untuk sahabat terbaiknya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2