Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kekhawatiran Samudra


__ADS_3

Samudra berusaha untuk menetralkan rasa gelisah di dalam hatinya, sambil terus melihat keadaan Bulan dari spion diatasnya.


"Insyaallah, Bulan tidak apa-apa, Nak. Sudah kamu fokus saja dengan mobilmu, supaya kita bisa segera sampai di rumah sakit."


Tangan Ibu Dara terus mengusap pipi anaknya sesekali dia memberikan minyak kayu putih yang ada di kotak P3K yang ada di dalam mobil ke hidung Bulan.


...*...


...*...


Kurang lebih 20 menit, mobil Samudra berhenti tepat di depan rumah sakit. Dia segera berlari keluar mobil, kemudian membawa Bulan ke dalam pelukannya.


Security yang berjaga di depan rumah sakit segera memanggil perawat untuk membawakan sebuah bangkar untuk Bulan.


Saat Bulan sudah diletakkan diatas bangkar, Samudra langsung meminta tolong pada security untuk mengurus mobilnya terlebih dahulu. Sementara dia ingin segera menyusul mertuanya supaya bisa menemani Bulan di ruangan UGD.


Setelah urusan selesai, Samudra bergegas berlari mencari ruangan UGD.


Sesampainya di sana, dia segera menanyakan keadaan istrinya kepada mertuanya dengan wajah cemas.


"Bu, bagaimana keadaan Bulan? Apakah dia baik-baik aja? Terus juga, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya, 'kan?" tanya Samudra, wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Semua itu terlihat dari tingkah Samudra yang semakin tidak karuan, dia berjalan kesana-kesini mengintip dari celah pintu untuk melihat istrinya. Kemudian kembali menatap mertuanya yang terlihat mengkhawatirkan anaknya, tetapi masih bisa bersikap tenang.


"Nak, Sam. Lebih baik duduk dulu ya, tidak baik mencemaskan keadaan istrimu seperti ini. Banyakin istigfar dan berdoa saja, semoga tidak ada apa-apa dengan Bulan."


"Sekarang kita serahkan semuanya pada Allah, dan juga dokter yang sedang berusaha keras untuk menolong istrimu."


Ibu Dara menatap serta menasihati Samudra agar dia tidak berlebihan dalam menyikapi suatu keadaan genting seperti ini.


Samudra langsung beristigfar beberapa kali, sambil meminta maaf kalau dia sudah melakukan kesalahan. Mereka pun duduk bersama di kursi tunggu, sambil terdiam menatap ke arah pintu.

__ADS_1


"Ya Allah, Hamba mohon berikan kesehatan pada istri Hamba. Jangan biarkan dia merasakan sakit, Hamba siap untuk menggantikan posisinya, asalkan istri Hamba selalu sehat dan bahagia. Aamiin yarabbal'alamin."


Samudra berdoa di dalam hatinya, meskipun dia cemas dan gelisah tetap saja Samudra harus bisa bersikap tenang menghadapi semua cobaan ini.


"Ya Allah, berikanlah anakku kekuatan untuk menghadapi rasa sakit yang Hamba sendiri tidak tahu ada apa dengannya. Dan beri pula menantuku ketenangan untuk menyikapi semuanya ujian yang Engkau berikan ini. Aamin ya Allah ...."


Ibu Dara terlihat sangat tenang, padahal didalam hatinya, dia begitu gelisah meliha keadaan anaknya. Karena yang dia tahu, anaknya tidak memiliki penyakit apapun. Bahkan keadaannya selama ini selalu terlihat baik-baik saja. Cuman, entah bagaimana cara anaknya bisa tiba-tiba jatuh sakit seperti ini.


Sudah hampir 10 menit mereka menunggu, akhirnya pintu ruangan pun terbuka bersamaan dengan keluarnya dokter dan juga asistennyan.


"Sus, tolong panggilkan dokter Hani. Suruh dia segera ke sini untuk memeriksa keadaan Nyonya Bulan." titah dokter tersebut.


"Baik, Dok. Saya akan panggilkan dokter Hana, permisi." jawab suster, lalu pergi meninggalkan dokter di depan pintu.


Samudra dan Ibu Dara yang berada di depan ruangan merasa bingung, perasaan mereka semakin cemas ketika dokter itu malah memanggil dokter lainnya untuk menangani penyakit Bulan.


"Dok, apa yang terjadi dengan istri saya? Kenapa dokter malah memanggil dokter lainnya, apakah separah itukah penyakit istri sayax sehingga tidak bisa ditangani oleh 1 dokter?" tanya Samudra, wajahnya terlihat panik.


Terlihat jelas bahwa Ibu Dara mencoba untuk menenangkan Samudra, agar tidak terus menerus mencecar dokter itu dengan segala pertanyaan. Wajah dokter terlihat bingung, dia tidak tahu harus mulai dari mana menjawab pertanyaan Samudra.


Pada akhirnya disaat semuanya mulai tenang, sang dokter perlahan mencoba menjelaskan pada mereka apa yang telah terjadi dengan Bulan.


"Begini Tuan, Nyonya. Sepertinya sebentar lagi Tuan akan mendapatkan kabar baik, hanya saja saya kurang yakin. Apakah pirasat saya benar atau tidak, jadi untuk memastikan saya harus meyakinkannya dengan memanggil dokter khusus untuk mengecek kebenaran tersebut."


"Ya sudah, saya kembali masuk dulu untuk mengecek keadaan yang lain. Kabar selanjutnya biar dokter Hani yang akan menjelaskan semuanya. Permisi!"


Sang dokter, tersenyum. Kemudian dia kembali memasuki ruangan sambil menunggu kedatangan dokter Hani.


Sementara Samudra dan Ibu Dara saling menoleh satu sama lain. Mereka masih tidak mengerti dengan jawaban yang dokter berikan.


"A-apa yang tadi dokter itu katakan, Bu?"

__ADS_1


"Ka-kabar baik? Ma-maksudnya kabar baik apa? Kenapa dalam kondisi Bulan sakit seperti ini, dia malah mengatakan kabar baik. Apakah dokter itu sedang bercanda, Bu?"


Samudra menatap mertuanya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia juga tidak paham apa yang di maksud oleh dokter itu.


Banyak teka-teki yang berhasil membuat mereka semakin penasaran, sampai akhirnya dokter Hani datang bersama 2 suster. Salah satunya asisten dari dokter yang tadi menangani Bulan.


Dokter Hani memberikan senyuman kepada Samudra dan Ibu Dara sebelum dia memasuki ruangan. Cuman, di saat Samudra ingin ikut ke dalam dia malah di hadang oleh salah satu suster.


"Sus, berikan kesempatan buat saya untuk mendampingi istri saya. Saya mohon, please. Saya mohon, Sus!" pekik Samudra sambil menahan pintu.


"Maaf, Tuan. Tuan tidak boleh masuk ke dalam, lebih baik Tuan tunggu di sini dulu. Nanti dokter yang akan menjelaskan kondisi istri Tuan, permisi!"


Suster berusaha keras untuk menutup pintu, bersamaan dengan Samudra yang terlihat kesal.


Beberapa kali Samudra menggedor pintu, berteriak. Dia terus memohon untuk menemani istrinya, sampai membuat Ibu Dara terharu atas sikap menantunya yang sangat mengkhawatirkan istrinya.


"Sabar, Nak. Sabar!"


"Lebih baik kita berdoa saja, agar Bulan baik-baik saja di dalam. Ingat, tadi dokter bilang kalau kamu akan mendapatkan kabar baik. Jadi, kita tunggu saja ya!"


"Kalau boleh jujur, sebenarnya Ibu juga mengkhawatirkan keadaan Bulan. Cuman kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain ikhtiar, tawakal dan berdoa. Semoga kita bisa mendapatkan kabar baik yang akan dokter sampaikan."


Ibu Dara selalu menasihati menantunya, Samudra benar-benar sangat beruntung bisa memiliki mertua sebaik Ibu Dara. Dia tidak tahu apa jadinya kalau Ibu Dara bukan mertuanya, maka bisa di pastikan Samudra bisa bersikap gegabah dalam menghadapi segal ujiannya.


"Semoga saja ya, Bu. Samudra tidak mau kalau ada hal buruk yang terjadi pada Bulan, Samudra takut, Bu. Takut, hiks ...." cicit Samudra.


Samudra meneteskan air matanya, baru kali ini Ibu Dara melihat bulir-bulir air menetes dari mata seorang pria hanya karena mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Padahal Bulan tidak apa-apa, mungkin karena Samudra begitu mencintainya membuat dia seakan-akan Bulan memiliki penyakit yang sangat berat.


Perlahan, Ibu Dara mengajak menantunya untuk kembali duduk di kursi tunggu. Mereka terdiam, sambil menantikan kabar dari dokter Hani yang pasti saat ini sedang memeriksa keadaan Bulan.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2