Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Di Tutuk Jadi Batu


__ADS_3

...*** Maaf ya Bestie, ada bab yang terlompat. Soalnya author udah up kemarin cuman pada masuk review manual, dan baru hari ini ke rilisnya. Itu pun bab pertamanya udh kelompat duluan sama bab kedua. Jadi maaf ya kalau enggak nyambung. Baca ulang bab sebelumnya aja. Terima kasih ***...


"Telima kacih, Ayah Bunda. Laka cayang kalian celamanya. Udah yuk bobo, Laka antuk hoaam ...."


Raka menguap, lalu memejamkan kedua matanya. Dimana kedua orang tua Raka pun mengelus serta menatap wajah anaknya yang begitu menyejukkan hatinya.


Tak lama mereka pun ikut tertidur bersama anaknya dalam keadaan mereka saling menatap satu sama lain dalam posisi miring.


...*...


...*...


Adzan subuh telah berkumandang, membuat Samudra dan Bulan pun langsung bergegas bergantian untuk mandi. Meski mereka tidak jadi melakukannya, tetapi sisa-sisa getaran tersebut masih melekat erat di dalam diri mereka.


Setelah selesai semuanya, Samudra langsung pergi keluar rumah untuk mengecek kebunnya, sedangkan Bulan dia pergi ke dapur untuk mengecek bahan masakan yang akan dia masak nanti bersama Ibunya.


Sementara Raka, dia masih tetidur nyenyk karena semalaman dia tidak bisa tidur akibat kelamaan bercanda dengan Ayah dan Bundanya.


Bulan berjalan ke arah dapur, lalu dia melihat Ibunya sedang mengecek sisa bahan sayuran serta bumbu dapur lainnya yang masih ada.


"Assalammuaikum, Bu. Lagi apa?" sapa Bulan membuat Ibu Dara pun menoleh dan tersenyum.


"Waalaikumsalam, Nak. Ini loh lagi cek bahan sayuran dan bumbu dapur lainnya." jawab Ibu Dara.


"Apa bahan-bahan di dapur sudah pada habis, Bu?" tanya Bulan yang ikut mengecek.


"Kalau sayuran sih kita bisa metik di kebun, kalau lauknya itu sudah pada abis, Nak. Ibu cuman kasihan aja sama Raka, jika setiap hari harus makan pakai telur atau pun tahu tempe."

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri, 'kan. Udah hampir 3 bulan ini loh, Raka belum makan ayam, pasti dia kangen makan ayam goreng kesukaannya lagi. Apa kamu tidak ada uang simpanan sedikit aja, setidaknya beli 4 potong ayam saja buat Raka. Ibu enggak tega, Nak."


Ibu Dara berbicara dengan nada sedikit di kecilkan, semua itu karena Ibu Dara tidak mau sampai Samudra mendengarnya. Dia tidak enak, jika perkataannya ini akan menyinggung perasaannya.


Apa lagi Ibu Dara sangat tahu betul bagaimana kondisi pertanian Samudra saat ini. Sehingga dia tidak mau sampai membuat Samudra kembali memikirkan hal yang terkesan sepele, tetapi sebenarnya sangat berefek besar pada rumah tangga mereka.


Bulan hanya bisa terdiam, dia sendiri pun bingung. Karena hampir semua tabungannya di pakai oleh Samudra untuk kembali mengurusi sawahnya, dengan harapan semoga panenan yang berikutnya bisa membawa keberkahan.


Melihat anaknya hanya terdiam membisu membuat Ibu Dara mengerti, sampai perkataannya membuat Bulan terkejut dan langsung membantahnya.


"Ya sudah tidak usah dipikirkan, Sayang. Jika kamu tidak ada, jangan dipaksakan. Kasihan suamimu, pasti saat ini dia lagi pusing dengan perekonomian kita. Jadi kamu harus bisa mengiritnya seirit mungkin agar kehidupan kita kedepannya bisa terus berjalan. Masalah Raka tenang aja, insyaallah Ibu bisa membelikan Raka ayam goreng."


Ucapan Ibu Dara ini berhasil membuat Bulan membolakan matanya. Dia terlihat begitu syok, dan juga kesal dengan apa yang keluar dari mulut Ibunya.


"Ma-maksud Ibu apa ngomong begitu? Dari mana Ibu punya uang buat beli ayam goreng untuk Raka? Jangan bilang Ibu mau menjual perhiasan dari almarhum Bapak. Iya?"


"Pokoknya Bulan tidak setuju ya, kalau sampai peninggalan Bapak satu-satunya Ibu jual hanya demi Raka agar dia bisa makan enak. "


"Tidak, Sayang. Ibu tidak akan menjualnya kok, Ibu akan selalu ingat pesan diri kamu. Cuman kemarin Ibu Rita nawarin Ibu, katanya tetangga majikannya sedang mencari asisten rumah tangga. Jad Ibu mau cob---"


"Tidak, Bu. Usia Ibu sudah tidak lagi semuda aku, jadi lebih baik Ibu istirahat di rumah main sama cucu Ibu. Masalah pekerjan, perekonomian, dan kebutuhan itu semua tanggung jawab Samudra. Ibu dan Bulan hanya tinggal diam di rumah saja, biarkan Samudra yang berjuang bekerja keras untuk kalian."


Samudra yang awalnya mau ke kamar mandi, tanpa di sengaja mendengar percekcokan antara istri dan Ibu mertuanya. Disitulah Samudra paham, jika mereka sedang mempeributkan masalah kebahagiaan Raka.


Samudra tidak bermaksud untuk menguping, melainkan dia hanya tidak sengaja mendengar perbincangan mereka berdua di dapur. Sehingga ketika Ibu mertuanya sudah memikirkan sesuatu yang menyusahkan dirinya sendiri, menantunya ini langsung melarang keras Ibu mertuanya.


"Apa yang di bilang Mas Sam itu benar, Bu. Ibu itu sudah tidak lagi muda, jadi lebih baik Ibu di rumah aja main sama Raka, temenin Raka dan ajak Raka belajar udah. Urusan yang lain biar aku dan Mas Sam yang menghandelnya." ucap Bulan, tegas sambil menatap Ibunya.

__ADS_1


"Tapi, Nak. Ibu kasihan sama kalian, satu sisi kalian berjuang buat keluarga kecil kalian. Sementara Ibu hanya duduk manis dan makan dengan tenang."


"Ibu tidak enak, Nak. Ibu ini berasa menjadi beban buat kalian loh, jadi biarkan Ibu bekerja sana. Hitung-hitung buat bantu keuangan kalian loh, lagian fisik Ibu masih kuat kok. Ibu tidak selemah yang kalian khawatirkan, tenang aja. Insyaallah Ibu kuat."


Ibu Dara tersenyum menatap anak dan menantunya secara bersaman. Dimana Samudra serta Bulan tetap membantah semua itu, hingga mereka sedikit beradu argumen satu sama lain.


Sampai akhirnya perbincangan mereka terhenti ketika seorang anak kecil datang sambil mengucek matanya, siapa lagi kalau bukan Raka. Dia baru saja bangun dari tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi setelah itu dia kembali berjalan mendekati kedua orang tuanya.


"Bunda, Ayah napa talian mayahin Nenek? Apa calah, Nenek?" tanya anak kecil itu, dengan wajah polosnya.


Mereka bertiga segera menyudahi perdebatan itu dengan wajah tersenyum menatap Raka, yang saat ini wajahnya terlihat sangat bingung.


"Aduh, anak Bunda udah bangun. Hem? Mau minum?" tanya Bulan tersenyum, sambil memeluk anaknya.


"Bunda cama Ayah angan mayahin Nenek lagi ya, anti Allah mayah loh. Tan Ayah pelna biyang, tita cebagai anak ndak boyeh melawan cama olang tua. Anti jadi durljanah."


Perkataan Raka yang awalnya membuat mereka tersenyum, karena menatap kagum ke arah anak kecil itu. Seketika berubah menjadi pelongo, saat terakhir kalimat Raka mengatakan perkataan yang keluar dari jalurnya.


"Loh, kok durjanah sih." ucap Bulan, terkejut.


"Iya, Bunda. Ayah biyang gitu, atanya anti alo melawan olang tua bica jadi anak durljanah. Yang aya di dongeng itu loh, yang ci maying di tutuk cama Ibunya jadi batu deh."


Bulan menatap Samudra yang saat ini cuman bisa menepuk dahinya ketika perkataannya di plesetkan oleh anaknya sendiri.


Kemudian, mereka tertawa bersama saat mendengar perkataan cadel dari Raka. Sehingga Raka sendiri pun menjadi bingung, saat melihat mereka malah tertawa.


Selang beberapa detik Bulan menyamaratakan tinggi anaknya, kemudian menjelaskan kepada anaknya untuk membenarkan kalimatnya. Meskipun mereka tertawa bersama ketika melihat bocah kecil itu mencoba untuk menasihati orang tuanya, seakan-akan Raka malah terkesan sedang melucu bagaikan seorang pelawak.

__ADS_1


Maklum ya, namanya anak kecil terkadang masih belepotan ketika berbicara dan juga daya ingatnya masih belum terlalu kuat.


...***Bersambung***...


__ADS_2