
Bulan yang awalnya kesal, sedih sekarang sudah jauh lebih membaik. Dia malah terkekeh melihat wajah suaminya yang mulai tergoda dengannya, sampai akhirnya mereka kembali menikmati malam yang panjang bersama tanpa gangguan siapapun.
Apa lagi saat ini jam masih menunjukkan pukul 8 malam, sementara Raka datang ke kamar setelah mereka sudah selesai melakukan permainan panasnya. Jadi, tidak lagi membuat Bulan dan Samudra harus menahan sesuatu yang nanggung.
...*...
...*...
Hari semakin berganti, saatnya Bulan mencari pekerjaan. Dimana dia mendapatkan pekerjaan di daerah sebrang desa, dengan jarak dari rumah ke tempat kerja sekitar kurang lebih 2 jam lamanya.
Bulan melamar pekerjaan di sebuah Perusahaan yang tidak terlalu mewah, bahkan Perusahaan itu pun baru saja merintis. Jadi, bisa di katakan kalau Perusahaan itu sedang membuka peluang bagi orang-orang desa yang memiliki kemampuan yang lebih dari segi kecerdasan.
"Huhh, ini adalah hari pertama bagiku untuk bertemu langsung dengan Bos besar. Ini juga adalah langkah awal supaya aku bisa menjemput rezeki, pokoknya aku harus lebih semangat lagi agar kelak Raka bisa tumbuh besar tanpa mengalami kesulitan sepertiku dulu."
"Pokoknya kehidupan Raka harus jauh lebih baik dariku, titik! Apapun akan aku lakukan asalkan kehidupan Raka terus berjalan sampai dia sukses nantinya!"
Bulan berbicara di dalam hati kecilnya ketika dia baru saja sampai di depan Perusahaan, lalu matanya melihat ke arah bangunan dan perlahan melangkahkan kedua kakinya. Tak lupa dia membaca Basmallah sebelum melakukan aktifitas pertamanya.
Ini merupakan yang pertama kalinya Bulan bisa memasuki kantor dengan suasana yang bersih dan juga sejuk. Rasa dingin yang di sebabkan oleh AC ruangan membuat Bulan sangat nyaman.
Bahkan banyak karyawan yang tersenyum menganggukkan kepalanya saat menyapa Bulan yang baru saja resmi di terima di Perusahaan.
Namun, dia masih harus melewati beberapa ujian yang harus dijalaninya kembali, agar Bulan bisa menjadi karyawan tetap untuk selamanya.
Langkah kaki Bulan terhenti tepat di depan meja admin yang berada di loby, kemudian Bulan bertemu dengan seorang wanita cantik yang berjaga di sana.
"Permisi, Mbak. Saya Bulan, karyawan baru yang di terima 2 hari lalu. Hari ini saya di suruh menghadap ke CEO, apakah Mbaknya tahu dimana ruangan CEO?" tanya Bulan, jantungnya mulai berdebar. Dia terlihat begitu gugup.
"Oh, Mbak Bulan ya. Mari saya antar, soalnya Tuan sudah menunggu di ruangannya. Tuan juga titip pesan jika Mbak Bulan sudah datang, maka saya diminta untuk mengantarkan Mbak Bulan bertemu dengan beliau." jawabnya.
__ADS_1
Bulan hanya bisa tersenyum lalu dia mulai mengikuti langkah kaki wanita tersebut, untuk naik ke lantai paling atas. Dimana terdapat ruangan khusus CEO, asisten pribadinya dan juga meja sekretaris yang berada di dekat pintu ruangan CEO.
Perlahan wanita itu mengetuk pintu sampai terdengar balasan dari atasannya yang mempersilakan mereka masuk. Setelah itu mereka masuk dalam keadaan badan yang sedikit membungkuk serta menunduk, sebagai pertanda bahwa mereka telah menghormati atasannya.
"Permisi, Tuan. Perkenalkan ini adalah Mbak Bulan, dia telah berhasil melewati serangkaian tes untuk menjadi pengganti sekretaris Tuan yang beberapa hari lalu mengundurkan diri." ucap wanita itu.
Degh!
Bulan yang baru saja mendengar perkatan dari wanita tersebut, benar-benar terkejut. Dia sama sekali tidak tahu, jika di Perusahaan ini sedang membutuhkan untuk menjadi sekretaris.
Awalnya Bulan melamar kerja di sini hanya untuk iseng-iseng berhadiah, karena Bulan melihat gajinya yang begitu lumayan untuk membantu menutupi perekonomian keluarganya.
Namun, apa yang terjadi. Iseng-iseng berhadiah itu membuat Bulan seperti mendapatkan sebuah dopraise yang sangat mengejutkan.
"Hahh? I-ini serius aku di terima menjadi sekretaris? Perasaan aku melamar menjadi karyawan biasa, tetapi kenapa Mbak itu bilangnya sekretaris pengganti? Apakah Tuan itu sedang mencari yang baru, tap---"
Jantung Bulan berdetak sangat kencang ketika dia berhasil melihat wajah CEO yang akan menjadi atasannya. Wajah itu, bukanlah wajah yang asing bagi Bulan.
Sampai akhirnya wanita itu refleks wajahnya langsung bingung ketika atasannya seperti telah mengenali Bulan sebelumnya.
"Loh, Nyo-nyonya? Nyonya ini bukannya yang waktu itu hampir tertabrak mobil saya karena lagi ngelamun?" tanya CEO tersebut.
"I-iya, Tuan. Se-sebelumnya saya mau minta maaf atas sikap saya pada waktu itu, jujur. Saya terkejut dengan kejadian itu, akibat kejadian itu membuat anak saya sedikit trauma. Saya mohon Tuan. Jangan usir saya dari Perusahaan ini!"
"Saya benar-benar butuh banget pekerjaan ini, karena dengan ini saya bisa membantu biaya keperluan keluarga kecil saya. Ditambah sebentar lagi saya harus mendaftarkan anak saya sekolah TK kecil, jadi sekali lagi maafkan saya Tuan."
"Saya janji, saya akan terima apapun hukuman yang akan Tuan berikan..Yang penting Tuan jangan usir saya dari sini. Jujur, ini adalah pengalaman yang pertama bagi saya untuk bisa bekerja. Jadi, saya mohon Tuan. Jangan kaitkan pekerjaan dengan masa lalu!"
Bulan berjalan beberapa langkah mendekat ke samping kanan CEO tersebut sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Sekarang kamu keluar, tugasmu dari saya sudah selesai. Silakan kembali bekerja dan tinggalkan saya bersama dia, berdua!" tegas pria itu melirik ke arah wanita itu.
Seketika melihat Tuanya memberikan lirikan dengan kode tertentu membuat dia paham, kemudian langsung berpamitan dan segera pergi meninggalkan Bulan berdua dengan pria itu.
Jantung Bulan semakin tidak normal, akibat tatapan pria itu semakin menajam. Ya, memang Bulan sadar bahwa apa yang dia katakan waktu itu adalah kesalahan. Cuman, mau bagaimana lagi, semuanya juga sudah terjadi.
Bulan hanya bisa pasrah menerima hukuman yang akan di berikan oleh pria itu. Hanya saja, ada satu kata yang pria itu ucapkan mampu membut Bulan terkejut, dan segera duduk tepat di hadapannya.
"Duduk, atau saya akan langsung memecatmu sebelum kamu memulai pekerjaanmu yang pertama di hari ini!" ancamnya.
Bulan hanya terdiam menunduk sambil memainkan tangannya, bisa di lihat jika saat ini Bulan sangatlah gemetar. Baru kali ini dia mendengar nada tinggi dari seorang pria. Sementara suaminya, mau semarah apapun dia tetap bersikap lemah lembut padanya.
"Siapa tadi namamu? Bu-bulan sabit?" tanya pria itu, dengan cuek sambil melihat berkas tentang biodata Bulan.
"Bu-bukan, Tuan. Nama saya Bulan Shazkia Octavia, dan saya berusi--"
"Saya cuman nanya nama, bukan umur. Jadi enggak usah menjelaskan secara detail, karena saya masih bisa membaca biodatamu di sini!"
Pria itu menunjukkan map berwarna kuning, yang berisikan tentang semua surat lamatan pekerjaan yang Bulan berikan 1 Minggu yang lalu.
Bulan tersenyum sambil menahan semua rasa kesalnya. Rasanya Bulan ingin sekali memaki-maki pria yang ada di hadapannya ini. Cuman Bulan sadar, kalau dia tidak bisa melawan karena posisi dia benar-benar terancam.
"Huhhh, sabar Bulan! Ingat, tujuanmu bekerja untuk membahagiakan Raka agar kelak dia menjadi pria yang jauh lebih baik dan sukses. Jadi, terima saja apa yang dia katakan, meski hatimu rasanya ingin sekali menjawab semua ucapannya yang menjengkelkan itu!" ucap Bulan di dalam hatinya.
Setelah beberapa menit, pria itu selesai membaca semua surat yang Bulan berikan untuk melamar kerja. Dari nilai, ataupun yang lainnya sangatlah bagus. Hanya saja ada satu kendala yang membuat pria itu mempetimbangkan semuanya.
Sementara Bulan dia masih terdiam, menunggu pria tersebut kembali menyuarakan suaranya dengan mulut pedasnya itu.
...***Bersambung***...
__ADS_1