
Semua itu mungkin bisa terjadi akibat rasa cemas dan takutnya akan kehilangan Raka, jadi dia lepas kendali dan lupa sama apa yang di ucapakan itu. Nyatanya, perkataannya mampu melukai hati seseorang, walaupun wajar jika dia mengkhawatirkan kondisi anaknya.
Cuman tidak di benarkan juga, jika apa yang Bulan lakukan itu merupakan sikap yang baik dalam menghadapi suatu masalah. Satu posisi, pria ini sudah mengakui kesalahannya, sementara Bulan belum bisa terima. Dia hanya takut kalau kondisi anaknya yang masih sangat kecil, memiliki trauma akibat kajadian tadi.
...*...
...*...
Sesampainya di rumah, Bulan langsung membawa Raka ke dalam kamar dalam keadaan wajah yang sangat cemas. Sementara Ibu Dara yang melihat anaknya seperti menangis penuh kekhawatiran, membuatnya pun ikut menjadi panik.
Ibu Dara mengikuti setiap langkah kemanapun Bulan pergi, sampai akhirnya terhenti di kamar. Ibu Dara yang melihat keadaan cucunya tiba-tiba panas menjadi sangat bingung, bahwasanya ketika mereka berangkat ke sawah suhu tubuh Raka itu baik-baik saja.
Namun, kenapa ketika pulang suhu tubuhnya malah menjadi sakit seperti ini? Entahlah, dia juga belum bisa mengajukan pertanyaan saat melihat anaknya masih dalam keadaan gelisah.
Bulan segera mengambil sebuah kompresan dan juga obat untuk Raka, dimana dia terlihat begitu gugup disertai dengan rasa ketakutan.
Sampai akhirnya Raka yang sudah meminum obat dan juga badannya beberapa kali di kompres, Ibu Dara mulai menanyakan apa yang telah terjadi pada mereka.
"Nak, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian pulang dalam keadaan seperti ini? Dan, apa yang teejadi pada Raka? Kenapa tubuhnya bisa panas, sementara ketika berangkat kalian baik-baik saja." tanyanya, disertai rasa bingung dan juga cemas.
Bulan menoleh ke arah Ibunya, kemudian dia langsung memeluknya begitu erat. Tak terasa tangis Bulan seketika pecah bersamaan dengan dia menceritakan kejadian tersebut pada Ibunya.
Ibu Dara yang mendengarkan kisah itu benar-benar sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa mereka hampir saja mengalami kejadian tak mengenakan.
Sehingga dari kisah itu, Ibu Dara bisa mengambil kesimpulan kalau suhu tubuh Raka memanas akibat rasa trauma yang dia alami beberapa saat yang lalu.
"Astagfirullah'halazim, Nak. Kalian gapapa 'kan? Terus juga gimana respon dari pengemudi itu?" ucapnya.
Bulan kembali menjelaskan tentang pria itu yang terkesan sombong dan juga angkuh. Akan tetapi, Ibu Dara malah sedikit membenarkan tentang pria itu. Karena bagi Ibu Dara dia sudah berusaha meminta maaf, cuman Bulan seakan-akan malah menyalahkan semuanya padanya.
__ADS_1
Sedikit adanya perdebatan antara Bulan dan Ibu Dara, sampai akhirnya Ibu Dara berhasil meredakan emosi di dalam hati Bulan.
Ya, walaupun Ibu Dara tidak mengetahui kejadian sebenarnyan. Cuman, sikap yang Bulan ambil itu adalah sikap yang salah, baginya cara berbicara penduduk desa yang baik dan benar tidaklah seperti itu.
Hanya saja, Ibu Dara mengerti. Jika Bulan melakukan semua ini lantaran perasaannya di penuhi
oleh rasa ke khawatiran pada anaknya, serta ketakutan akan kehilangan Raka.
"Sudah, Nak. Kamu tidak perlu berpikiran seperti itu, semua takdir kematian, jodoh, kehidupan bahkan rezeki sudah terletak pada diri kita sejak kita belum di lahirkan. Kalau pun itu terjadi, kita hanya bisa ikhlas dan bersabar, karena itu sudah merupakan takdir kita yang telah di tulis."
"Yang terpenting sekarang, Raka baik-baik saja. Dia hanya syok dan sedikit trauma akibat kejadian itu. Jadi kamu sebagai Bundanya yang ada di kejadian itu harus bisa membuatnya mengerti, agar rasa ketakutan itu tidak sampai berlarut-larut."
"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu bersih-bersih dulu. Biarkan Raka istirahat supaya suhu tubuhnya cepat membaik. Ibu mau ke kamar dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung kabarin Ibu ya."
Ibu Dara berbicara sambil mengusap air mata anaknya yang sedari tadi menetes, semua itu akibat rasa kecemasan di dalam hatinya yang sangat berlebihan.
Bulan hanya bisa mengangguk di sertai dengan sedikit senyuman, lalu Ibu Dara pun menepuk pipi anaknya kemudian bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Bulan di kamar.
Tangan Bulan terarah untuk mengusap pipi anaknya sambil tersenyum, lalu dia meminta maaf karena kejadian tadi serta mencium kening anaknya beberapa detik. Kemudian dia pergi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, baru dia akan menemani Raka sampai dia terbangun nantinya.
...*...
...*...
Jam makan malam, dimana Samudra sudah mengetahui kejadian yang menimpa anak dan istrinya.
Awalnya Samudra terkejut, cuman ketika melihat kondisi anaknya sudah jauh lebih membaik. Akhirnya Samudra hanya sedikit memberikan nasihat pada Raka dengan bahasa yang mudah dia pahami.
Dari situ, suhu Raka sudah tidak lagi memanas. Dia sudah sehat meski, di pikirannya masih ada rasa takut akan kejadian itu, cuman itu masih batas wajar.
__ADS_1
Mereka pun makan bersama hanya sekedar dengan menu yang sederhana. Untungnya Raka sebagai anak, dia sangat mengerti tentang keadaan kedua orang tuanya yang sedang dalam perekonomian yang sulit.
"Hem, enyak Nek. Anti ahunya di ecapi aya ini agi ya, Nek. Teyus acih abenya yang anyak buanget biar anti alo udah becal Laka bica cuka cambal aya Ayah, Bunda cama Nenek uga hehe ...."
Celoteh Raka sambil memasukan satu suapan ke dalam mulutnya, meski cara makan Raka masih berantakan. Akan tetapi, dia sudah belajar untuk melkukan hal apapun sendiri walau masih sering di bantu dan juga di lihatin oleh Bulan.
Raka dari kecil memang sangat suka makan tahu, mau itu di goreng, atupun di kecapin serta di sayur semuanya pun Raka suka. Baginya itu adalah makanan favorit untuknya di saat keadaan keluarga mereka sedang surut.
Cuman, jika keadaannya membaik maka makanan favorit kedua Raka yaitu ayam goreng macam Upin & Ipin yang selalu dia tengok di televisi.
"Pelan-pelan, Sayang makannya. Itu pedes loh, nanti Raka uha uha. Jangan lupa cabenya di pinggirin ya, jangan di makan juga nanti sakit perut loh." ucap Bulan sambil memberitahu anaknya.
"Ndak, Bunda. Ini enyak loh, ndak pedes uga. Tan Nenek buatnya untuk Laka, butan untuk Bunda wlee!" ledek Raka membuat semuanya hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya.
Meskipun mereka terlihat begitu bahagia dengan menu sederhana itu, tetapi sebenarnya di dalam hati Ibu Dara dan juga Samudra, mereka sangat kasian pada bocah berusia 4 tahun itu jika harus makan makanan yang tidak berprotein.
Namun mau bagaimana lagi, ini sudah jalannya dari Allah mereka harus menghadapi kesulitan. Setidaknya mereka masih bisa bertahan dan makan setiap hari, itu sudah membuat mereka bersyukur.
Berbeda dengan Bulan, matanya sudah sangat berkaca-kaca melihat nasib anaknya yang begitu susah.
Rasanya Bulan ingin sekali segera mendapatkan kerjaan, lalu dia akan membelikan serta memasakan Raka berbagai lauk yang mengandung protein. Supaya kelak Raka bisa tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan juga berfrestasi, serta dia bisa menggantikan untuk mewujudkan cita-cita Ibunya.
Selang beberapa menit, setelah mereka selesai makan. Mereka ngumpul di ruang tengah sambil bercanda dan menonton televisi. Tak lama mata Raka sudah mulai mengantuk, maka semuanya pun beristirahat ke dalam kamarnya
Bulan berusaha menidurkan anaknya, sementara Samudra hanya duduk menyandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Semua itu Samudra lakukan agar dia bisa memperluas tentang pengetahuannya sebagai seorang petani.
Akan tetapi setelah Raka tertidur pulas, Bulan kembali memulai untuk membuka suara dan melanjutkan keinginannya untuk meminta izin bekerja pada suaminya.
__ADS_1
...***Bersambung***...