
Mereka perlahan mulai beristirahat karena tubuh, pikiran dan juga mental sudah terkuras habis ketika mereka harus menerima ujian sebesar ini.
Sama halnya seperti Bulan, dia mencoba untuk beristirahat sambil memeluk Raka. Meski, pikirannya selalu ke suaminya. Hanya saja dia kembali memikirkan nasib anaknya. Jika Bulan setres, maka itu akan berakibat fatal untuk sang anak.
Mau tidak mau, bisa tidak bisa. Bulan harus tetap beristirahat agar dia bisa segera pulih, dan bisa selalu ada di dekat suaminya walau hanya dari jarak yang cukup jauh.
...*...
...*...
Keesokan harinya Bulan di berikan izin dari dokter untuk menjenguk suaminya bersama Raka. Hanya saja mereka cuman di berikan waktu kurang lebih selama 5 sampai 10 menit.
Bulan yang sudah memakai pakai medis, tetap harus menggunakan pakaian yang steril untuk memasuki ruangan ICU tersebut. Tak lupa Raka juga di pakaikan pakaian tersebut, meskipun kebesaran yang penting dia bisa bertemu dengan Ayahnya.
Bulan dan Raka perlahan memasuki ruangan dibantu oleh sang suster yang mendorong kursi roda milik Bulan. Itu semua karena dia tidak boleh kebanyakan berjalan karena tubuhnya masih sedikit lemas.
"Terima kasih, Sus." ucap Bulan, tersenyum menatap wajah sang suster.
"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi dulu ya, semoga kedatangan Nyonya dan anak Nyonya bisa membuat Tuan Samudra kembali semangat untuk bisa sembuh melawan penyakitnya. Ya sudah, saya permisi dulu. Mari Nyonya ...." jawab sang suster, diangguki oleh Bulan sambil tersenyum.
Raka menatap Ayahnya dalam keadaan bingung, karena tubuh Samudra semua di penuhi oleh alat-alat yang berfungsi untuk tetap memantau keadaannya meskipun dalam kondisi koma.
Bulan meminta Raka untuk duduk di kursi sebelah bangkar Ayahnya, kemudian Bulan memajukan sedikit kursi rodanya agar tidak terlalu jauh dari suaminya.
"Assalammualaikum, Ayah. Raka datang buat menjenguk Ayah. Ayah seneng enggak, ketemu sama Raka? Bunda juga ada, ini."
Raka menyapa Ayahnya lebih dulu, sambil menoleh ke arah Bundanya. Dimana Bulan masih terdiam mencoba untuk tetap menahan air matanya.
"Ayah tahu enggak, sekarang Raka udah bisa ngomong R loh. Dengerin ya, Rrrr ...."
__ADS_1
Lidah Raka bergetar saat dia mengucapkan huruf R begitu lama dan juga panjang, layaknya orang yang lagi mainan.
"Ayah pasti kaget ya, mendengar suara Raka udah tidak cadel lagi hehe ...."
"Ayah tahu 'kan, semua ini ulah Oma, Ayah. Dia selalu ngeledekin Raka, udah tahu Raka tidak bisa berbicara huruf R. Cuman Oma selalu aja menyebalkan, terus pas tahu Raka udah bisa diajarin sama Bunda. Ehh, Oma langsung minta maaf terus Oma juga nangis meluk Raka. Tapi, Raka bilang kalau Oma enggak salah malahan Raka seneng karena Oma juga Raka bisa ngomong lancar. Jadinya kita baikan deh."
Raka begitu serius menceritakan semuanya kepada Samudra, membuat Bulan hanya bisa tersenyum meneteskan air matanya sambil mengusap kepala anaknya.
Raka terlihat begitu tegar, dia juga sama sekali tidak menangis melihat Ayahnya. Meskipun Bulan tahu, mata Raka sudah mulai berkaca-kaca menahan kesedihan di dalam hatinya.
"Ayah, Raka sama Bunda mau kasih kabar kalau saat ini Raka udah punya Dedek dong hehe ... Raka seneng deh, bahkan sekarang Raka dipanggil Kakak. Jadi Ayah juga ya, harus panggil Raka Kakak. Oke?"
"Jujur Ayah, Kakak enggak nyangka kalau doa Raka sama Ayah di kabulin sama Allah, seneng deh rasanya. Sekarang di dalam perut Bunda udah bukan ada nasi lagi, tapi udah ada Dedeknya hihi ...."
"Cuman kata dokter cantik, Dedeknya belum kelihatan wajahnya mirip siapa. Apakah Ayah, Bunda atau Raka. Soalnya Dedeknya kecil banget. Raka harus nunggu 4 bulan lagi biar bisa lihat Dedek gitu katanya. Lama banget 'kan? Ya, makannya Raka harus sabar. Sama seperti Raka sabar nunggu Ayah bangun."
Celotehan Raka tiada habisnya, dia terus saja berbicara mewakilkan Bundanya yang tidak tahu harus berbicara seperti apa lagi. Sebab, jika Bulan berbicara sudah dipastikan dia akan menangis. Dan Bulan tidak mau sampai Raka melihat dirinya menangis, hanya karena meratapi kesedihan melihat kondisi suaminya.
Bulan tersenyum ketika Raka menatap wajahnya, dimana air mata Raka sudah hampir saja terjatuh. Akan tetapi, semua itu tidak jadi berkat Raka yang sangat pintar untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Kakak akan selalu menjadi anak yang bisa membanggakan Bunda sama Ayah, sekarang Bunda enggak boleh nangis lagi ya. Bunda 'kan udah janji, kalau kita harus kuat. Kakak tahu Ayah tidak bisa membuka matanya, tapi Kakak yakin Ayah pasti bisa ngerasain apa yang akan Bunda sama Kakak sampaikan."
"Jadi, kita bicara aja apa yang mau kita ceritakan seperti nasihat dokter cantik. Asalkan kita tidak boleh terlihat lemah di depan Ayah, supaya Ayah tidak sedih. Kalau nanti Ayah sedih, pasti itu akan membuat kesehatan Ayah tidak baik. Bunda ingat 'kan pesan dokter tadi pagi. Terus kenapa Bunda nangis?"
Dengan cepat Bulan menghapus air matanya dan tersenyum menatap anaknya. Sekarang bukan lagi Samudra yang memarahinya, melainkan Raka. Seolah-olah dialah yang menjadi pengganti Ayahnya, sampai mereka kembali berkumpul.
"Sebenarnya Raka, ehh ... Kok Raka lagi. Kakak, aduh lupa hehe .... Ya itu, maksudnya Kakak. Nah, sebenarnya Kakak itu kangen banget sama Ayah, kangen di peluk, kangen jalan-jalan dan juga shalat bareng Ayah lagi. Cuman, Kakak enggak mau nangis. Kaka mau kuat, biar Bunda juga kuat. Kasian Dedek, kalau Bunda nangis nanti Dedek juga nangis."
Raka menekukan wajahnya bagaikan baju yang belum di setrika sambil menatap Ayahnya. Terlihat jelas Raka berusaha keras untuk menahan rasa sedihnya dengan segala cara. Sebab, Raka tidak mau bila Bundanya akan semakin merasa sedih.
__ADS_1
Namun, tanpa di kasih tahu Bulan pun sudah bisa merasakan itu semua. Makannya Bulan bertekat untuk tetap kuat ketika melihat suaminya yang masih terbaring lemah seperti putranya.
"Bunda juga kangen di peluk sama Ayah, tapi kalau Ayah bangun nanti yang di peluk duluan pasti Kakak. Bunda 'kan selalu belakangan, apa lagi nanti ada Dedek. Pasti kalian duluan yang di peluk terus Bunda?"
"Tenang aja, Bunda Kakak yang cantik. Nanti kalau Ayah udah bangun. Kakak akan menjaga semua orang, supaya tidak mendekati Ayah. Biar nanti Bunda bisa meluk Ayah yang pertama kali. Gimana?"
"Beneran, janji ya Bunda duluan yang meluk Ayah?"
"Ya, Kakak janji. Asalkan Bunda jangan nangis lagi, bisa?"
Bulan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian menatap suaminya sambil memegang tangannya.
"Hai, Mas. Bagaimana kabarmu, baik 'kan? Pasti kamu seneng ya bisa di tengokin sama aku dan Raka--"
"Kakak, Bunda. Kakak!"
"Ehh, ma-maaf, Sayang. Bunda lupa, hehe ...." Bulan menyengir menunjukkan sederetan giginya, lalu membuat Raka langsung berpura-pura marah.
"Lihatlah putra kesayangamu itu, Mas. Semenjak dia tahu kalau dia akan punya adik, sikapnya menjadi sensitif. Salah manggil aja dia langsung cemberut, pipinya juga udah kaya ikan kembung, hihi ...."
"Bundaaaa ...."
"Uhh, tututu ... Apa sayang?"
"Aaaa ... Kakak udah besar ya, jadi Raka bukan anak kecil lagi yang Bunda gituin. Isshh, Ayah. Lihat tuh, Bunda. Makannya Ayah cepat bangun ya, supaya Ayah bisa belain Kakak kalau Bunda ngeledekin terus."
"Hehe ... Maaf, Kakak sayang. Bunda bercanda kok, Bunda cuman lagi seneng aja bisa lihat Ayah. Bisa bertemu Ayah, semoga aja habis bertemu sama kita. Ayah bisa bangun lagi ya. Aamiin Allahhumma Aamiin ...."
Raka langsung menyahuti doa Bulan, kemudian Bulan kembali meneruskan pembicaraannya. Sementara Raka hanya terdiam karena dia sudah banyak berbicara, dan sekarang giliran Raka memberikan Bulan waktu untuk bercerita pada suaminya.
__ADS_1
Raka hanya menyimak, mendengarkan dan ikut bahagia ketika Bundanya mencium tangan Ayahnya sambil perlahan berdiri menciup kening suaminya.
...***Bersambung***...