
"Huhhh, sabar Bulan! Ingat, tujuanmu bekerja untuk membahagiakan Raka agar kelak dia menjadi pria yang jauh lebih baik dan sukses. Jadi, terima saja apa yang dia katakan, meski hatimu rasanya ingin sekali menjawab semua ucapannya yang menjengkelkan itu!" ucap Bulan di dalam hatinya.
Setelah beberapa menit, pria itu selesai membaca semua surat yang Bulan berikan untuk melamar kerja. Dari nilai, ataupun yang lainnya sangatlah bagus. Hanya saja ada satu kendala yang membuat pria itu mempetimbangkan semuanya.
Sementara Bulan dia masih terdiam, menunggu pria tersebut kembali menyuarakan suaranya dengan mulut pedasnya itu.
"Kamu tahu, saya ini mencari sekretaris yang masih sendiri bukan berkeluarga. Sedangkan Nyonya?" ucap pria itu dengan tatapan remeh.
"Perasaan waktu saya lihat syarat daftar melamar kerja di sini tidak memakai status, harus begini begitu. Yang penting nilai bagus, kemampuan ada dan juga bisa di percaya. Tapi, kenapa sekarang Tuan malah menanyakan hal itu!" jawab Bulan, sedikit menunjukkan kekesalannya.
"Ya, suka-suka sayalah. Orang ini Perusahaan saya, ya saya yang berhak memilih karyawan. Mau dia lajang, atau berkeluarga ya saya yang menentukan. Ya walaupun semua pihak udah menerimamu menjadi sekretaris saya, tetapi bagi saya kamu masih belum memenuhi syarat. Jadi---"
"Please, Tuan. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk bekerja di sini, setidaknya lihat dulu bagaimana cara saya bekerja. Jika baik Tuan bisa mempertahankan saya, kalau tidak Tuan bisa memecat saya. Yang terpenting Tuan bisa melihat seberapa gigih saya untuk mempertahankan pekerjaan ini."
"Tuan, tahu tidak? Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat saya inginkan, karena ada impian yang harus saya bangun saat saya sudah memiliki pekerjaan ini. Jika impian saya ketika masih muda semuanya sudah hancur, maka ada impian yang harus saya pupuk kembali serta menanamkannya pada anak saya."
"Jujur, Tuan. Saya ingin sekali melihat anak saya bahagia, hidup dengan serba kecukupan, makan selalu enak dan tidurpun selalu nyenyak tanpa gunjang-ganjing berita sindiran dari tetangga saya. Ketika saya melihat mereka semua seperti ingin membuat anak saya merasa iri pada anak mereka, disitulah hati seorang Ibu hancur berkeping-keping."
"Saya tahu, anak saya itu anak yang baik. Anak yang tidak pernah memikirkan hal jelek yang mereka katakan, tetapi naruni seorang Ibu tidak bisa di bohongi Tuan. Jika sebenarnya anak saya juga mau seperti anak yang lainnya yang bisa makan ini, main itu, pokoknya apapun bisa keturutan selagi semua bisa di jangkau. Kalau saya mengandalkan penghasilan suami itu tidak akan cukup, Tuan. Disini saya bekerja hanya demi anak saya, bukan keegoisan saya."
"Berat rasanya membagi waktu antara bekerja, dan mengurus anak. Cuma mau bagaimana lagi, jika semua itu tidak saya lakukan. Mau kapan lagi saya bisa membuat anak saya bahagia, serta membuat hidupnya tidak sesusah saat ini. Bayangkan saja Tuan, semua anak bisa makan dengan lauk ayam ataupun daging, naget dan lainnya. Sementara anak saya?"
"Dia cuman bisa makan dengan lauk tahu setiap harinya, tanpa bisa merasakan nikmatnya lauk yang lainnya. Semiris itukah hidup saya, Tuan? Apakah tidak ada sedikit saja rasa kasian pada saya, saya cuman ingin membahagiakan anak saya. Apakah salah? Hiks ...."
Bulan menceritakan semua kisah, bagaimana dia begitu menyayangi anaknya. Dia sangat ingin merubah nasib anaknya agar kelak tidak sampai berada di titik seperti ini.
__ADS_1
Ibu mana sih yang bisa melihat anaknya hanya sekedar makan dengan lauk itu, tanpa bisa memilih mau makan ini itu atau mau punya ini itu.
Namun, Bulan sangat bersyukur ketika dia memiliki anak luar biasa seperti Raka. Karena dari kecil Samudra telah mendidiknya menjadi anak yang jauh lebih baik dari usianya, sampai akhirnya Raka bisa tumbuh tanpa merasakan perasaan yang Bulan rasakan.
Anak sekecil itu seharusnya bisa merasakan nikmatnya hidup enak, makan enak dan juga bisa main apapun tanpa harus merasakan pedihnya hidup ketika tidak memiliki apapun.
Cuman, balik lagi. Ini sudah menjadi garis takdir yang Allah berikan pada keluarga kecil Bulan. Jadi, mau tidak mau dia harus menjalankannya dengan ikhlas. Walaupun rasanya sangat berat, tetapi dengan kekuatan anak maka semuanya bisa terlewatkan.
Pria itu yang mendengar kisah Bulan, benar-benar takjub. Meski dia dihantam oleh keadaan, tetapi Bulan tidak pernah menyerah hanya demi tujuannya untuk membuat anaknya bahagia.
Dari sini bisa dia lihat bahwa kehidupan yang pria itu jalani, ternyata masih jauh diatas Bulan. Dia hanya merasakan betapa pahitnya perjuangan untuk membangkitkan Perusahaannya sendiri, tetapi Bulan berjuang demi bisa membahagiakan orang-orang yang mereka sayangi.
"Baiklah, saya akan kasih kamu waktu 3 bulan. Jika kamu bekerja dengan gigih, giat dan sangat tepat waktu. Saya akan mempertahankan kamu, jika tidak maka saya harus mengeluarkan kamu. Bagaimana?"
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih!"
"Ohya, bolehkah saya tahu nama Tuan?"
Bulan bertanya tanpa rasa malu, membuat pria itu terkejut. Lantaran baru Bulanlah yang berani menanyakan tentang siapa Tuannya.
"Hem, seumur-umur baru kau yang berani menanyakan siapa saya!" ucap pria itu, tersenyum miring.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya---"
"Dzaky!" jawab, pria itu dengan cepat.
__ADS_1
Bulan pun tersenyum mengangguk sambil meminta maaf kalau dia telah lancang untuk menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya dia tanyakan.
Dzaky Fayyadh Radhitya, adalah seorang pria berusia 30 tahun. Dia juga merupakan anak dari orang yang cukup berada, bahkan dia pun menjadi pria idaman wanita yang cukup mengagumi ketampanannya.
Setelah selesai, Bulan pun berpamitan pada Dzaky lantaran hari ini Bulan hanya diminta untuk sekedar bertemu dan tanya jawab. Selebihnya besok dia baru bisa memulai pekerjaannya.
Bulan pamit, lalu pergi meninggalkan Dzaky dalam keadaan Dzaky yang sedikit penasaran. Entah mengapa sikap Bulan yang seperti itu berhasil membuat Dzaky penasaran.
...*...
...*...
Sesampainya di rumah, Bulan datang dengan wajah yang sangat ceria. Dia langsung di sambut oleh Raka yang merasa kangen oleh Bundanya, padahal itu baru beberapa jam Raka di tinggal Bulan. Akan tetapi, Raka sudah sangat kangen dengannya. Lantas bagaimana jika setiap hari Raka harus melihat Bundanya bolak-balik berangkat kerja?
Apakah nantinya Bulan bisa membagi waktunya dengan Raka, disela kesibukannya? Atau Raka akan selalu merasa kesepian tanpa ditemani Bulan setiap harinya? Entahlah, semua itu tergantung dari Bulannya sendiri yang harus membagi semua waktunya dengan baik.
"Yeeyy, Bunda cudah puyang. Hole, Laka bica main cama Bunda hehe ...." sorak Raka penuh kegirangan.
"Uhh anak Bunda sayang." sahut Bulan yang langsung merentangkan tangannya, menerima tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Betapa bahagianya Raka saat Bundanya sudah pulang, mereka saling berpelukan dan mencium pipi satu sama lain. Sampai akhirnya Raka mengajak Bulan untuk mainan bersama, terlihat jelas ketika pertama kali Bulan meninggalkan Raka. Dia benar-benar seperti merindukannya, padahal dia hanya pergi sebentar. Apa lagi jika bekerja setiap hari? Apakah Raka sanggup dan tidak rewel ketika Bundanya pergi bekerja.
...***Bersambung***...
__ADS_1