Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Raka Dititipkan Bi Edoh


__ADS_3

Ciuman pendarat di kening mendiang Ibu Dara dengan sangat indah, dihiasi eh pelukan hangat dari cucu kesayangannya membuat Bulan tidak kuat melihat keromantisan itu.


Namun, Samudra tetap harus menguatkan keluarganya. Walau dia pun tidak kuat melihat anak seusia Raka bisa menjadi pria yang begitu hebat, lebih dari dirinya sendiri.


Sampai akhirnya setelah jenazah Ibu Dara di shalatkan, langsung segera di bawa ke makaman. Dimana Ibu Dara akan di kuburkan tepat di sebelah suaminya yang sudah lama meninggalkannya lebih dulu.


Sekitar jam 12 kurang, Ibu Dara telah dimakamkan dengan layak bahkan semua keluarganya juga sudah kembali ke rumah. Tak lupa semua pria pun pergi ke masjid untuk menunaikan shalat jum'at serta Samudra akan meminta doa dari semua warga untuk mertuanya yang sudah tiada.


...*...


...*...


Hari-hari terus berganti, hingga tidak terasa saat ini sudah memasuki 40 hari kepergian Ibu Dara. Acara 40 harian, mereka lakukan dengan tujuan untuk mendoakannya agar Ibu Dara bisa tenang dialamnya.


Saat ini Samudra dan Bulan pun sudah kembali memulai aktifitasnya setelah mereka sudah lama tidak bekerja. Kebetulan, ada seorang tetangganya yang bisa diandalkan untuk menjaga, menemani serta mengantarkan Raka kesekolah.


Raka yang semakin tumbuh besar, dengan ketampanan yang tiada tandingannya membuat teman wanita di sekolahnya merasa senang berteman dengannya. Apa lagi cara bicara Raka juga sudah membaik, hanya saja dia masih sedikit cadel ketika menyebutkan huruf L dan juga F.


...*...


...*...


Pagi hari, Samudra mengantarkan Bulan untuk berangkat kerja. Dimana Raka selalu ikut, lantaran sekarang di rumah sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa menjaga Raka seperti mertuanya.

__ADS_1


Sementara Rak, dia sudah bersekolah dan berangkat pukul 10 pagi menjelang siang, itu pun di titipkan oleh tetangganya atau bisa di sebut sebagai pengasuh Raka ketika kedua orang tuanya bekerja.


Setelah selesai mengantarkan Bulan, mereka berdua langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Samudra segera mandikan Raka serta memakaikan seragam sekolahnya dengan sangat telaten.


Sudah 1 Minggu ini Raka menjalani hari-harinya di sekolah mulai dari jam 10 sampai jam 1 siang. Sehingga Raka bisa mengenal lebih banyak lagi teman dan menambah tentang ilmu pengetahuannya.


"Ayang, nanti kalau Laka pulang sekolah. Laka boleh 'kan ikut sama Ayah ke sawah? Laka bosen di lumah teyus, Bi Edoh juga enggak bisa main sama Laka 'kan Bi Edoh halus jualan." keluh Raka sambil sarapan disuapi oleh Samudra.


"Ya, 'kan Raka tahu sendiri Bi Edoh itu harus jualan. Kalau enggak jualan nanti gimana Bi Edoh sama keluarganya bisa, hem?"


"Lagi pula Bunda selalu pesan, setelah Raka pulang sekolah nanti. Raka harus tidur siang, enggak boleh main terus nanti Raka bisa kecapean jatuh sakit, gimana? Bunda sama Ayah 'kan jadi sedih,"


"Makannya Raka mainnya sama Ayah aja kalau Ayah udah pulang kerja ya. Habis itu nanti kita jemput Bunda deh, katanya Raka mau selalu ikut kalau Ayah nganter dan jemput Bunda kerja. Hayo, Raka lupa?"


Beginilah Samudra, dia harus ekstra kerja keras untuk membuat anaknya mengerti tentang keadaan dan situasi saat ini. Jika kedua orang tuanya memang harus bekerja, sehingga dia selalu di titipkan oleh tetangganya yang tidak memiliki anak dan hanya tinggal berdua oleh suaminya sambil berjualan.


Jadi, kedua orang tuanya itu mau Raka main hanya sekedar main dan kembali beristirahat serta belajar agar dia bisa tumbuh menjadi anak yang lebih baik dari kedua orang tuanya kelak.


"Iya Laka tahu, Ayah. Tapi 'kan, Laka bosen tahu. Masa Laka cuman bisa tidul, makan, sekolah, main sebental, terus makan lagi, tidul lagi. Laka juga pengen ke sawah nemenin Ayah, boleh ya ya ya. Ayah ganteng deh, jadi bolehin Raka nanti siang ikut Ayah ya. Piss, Ayah ganteng. Ayah baik deh hehe ...."


Beginilah Raka, dia sangat pintar merayu sang Ayah karenabelajar dari Bundanya yang sedang menginginkan sesuatu akan merayu Ayahnya. Selagi itu tidak berlebihan dan bisa dijangkau, maka Samudra tidak akan bisa menolaknya.


"Huhh, baiklah. Nanti setelah makan siang Raka boleh ikut Ayah ke sawah, tapi ingat. Raka enggak boleh lari-larian ya, Ayah enggak mau nanti Raka jatuh terus berda*rah. Pasti nanti Ayah kena omel Bundamu, tahu'kan gimana Bunda kalau udah marah?"

__ADS_1


"Hiihihi, siap Ayah. Laka ndak lali-lalian kok, Laka akan dengelin Ayah, yang penting Laka bisa nemenin Ayah yeeeyy holeee ...."


Raka bersorak bahagia ketika permintaannya di turuti oleh Ayahnya, tak lupa Raka memeluknya sebentar dan kembali tertawa penuh kesenangan.


"Udah, senangnya. Ingat, enggak boleh--"


"Bellebihan, kalena itu tidak baik. Kalau kita kebanyakan ketawa, nanti kita bisa tiba-tiba nangis. Jadi, ketawa secukupnya dan sedih sewajalnya."


Raka menjawab semua perkataan Ayahnya dengan begitu baik. Disini Samudra merasa senang, ketika apa yang selalu dia katakan tidak pernah Raka lupakan.


Senyuman Samudra mempertandakan bahwa dia telah berhasil mendidik anaknya agar tumbuh menjadi anak yang lebih mengerti tentang apa yang baik dan mana yang salah.


Tangan Samudra terangkat untuk mengusap kepala anaknya sangat bangga. Dia tidak percaya bisa membesarkan anaknya dengan didikan yang cukup baik, walau terkadang Raka juga masih sedikit lepas kontrol ketika marah sama seperti Bundanya.


"Hem, pinternya anak Ayah. Ya sudah habiskan sarapannya terus Ayah akan antarkan Raka ke rumah Bi Edoh biar tidak ke siangan. Pokoknya Raka harus sekolah yang rajin, dan belajar yang tekun biar nilai Raka nanti bagus-bagus."


"Syukur-syukur Raka bisa menjadi juara kelas, pasti Bunda nanti akan sangat senang dan bangga sama Raka. Jadi Raka harus semangat, okay?"


"Okay, Ayah. Laka akan giat belajalnya supaya Laka bisa menjadi laki-laki yang hebat sepelti apa yang Bunda inginkan."


Raka begitu semangat untuk mewujudkan impian Bundanya yang menginginkan Raka kuliah dan meneruskan cita-cita Bulan, untuk menjadi sosok pria yang memiliki karier dan masa depan yang lebih cerah lagi.


Samudra hanya bisa tersenyum melihat kobaran semangat anaknya yang sangat membara, bagaikan si jago merah yang akan melahap semuanya hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Samudra mengantarkan Raka ke rumah Bi Edoh yang tak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak 5 rumah dari rumahnya, sehingga ketika berangkat dan pulang sekolah Raka akan bersama dengannya. Sampai Samudra kembali menjemputnya pulang.


...***Bersambung***...


__ADS_2