
Maka, jawabannya tidak akan pernah mungkin. Ini baru di uji dengan keadaan Samudra yang lumayan berada, kemudian mereka di jatuhkan kembali di titik paling terendah. Maka bisa di pastikan Bulan akan semakin tidak terima.
Jadi Samudra menahan semua perasaannya hanya untuk membenarkan, serta mendidik istrinya sedikit demi sedikit, supaya kelak bisa menjadi wanita yang sesuai dengan impiannya yaitu bidadari syurga.
Mereka terus berbincang satu sama lain, sampai akhirnya tak lama Raka datang dengan wajah tampannya setelah mandi.
"Opaaaa ...." teriak Raka, dimana dia berlari sambil diikuti oleh Oma Dena di belakangnya.
Sementara Ibu Dara, dia berada di dapur untuk membereskan semuanya setelah itu barulah mereka bisa duduk santai di depan sambil berbincang-bincang.
"Uhh, cucu Opa udah wangi dan juga tampan. Sini-sini cium dulu, hem ... Harum!"
Opa Faisal membawa Raka ke dalam pangkuannya, lalu menciumnya beberapa kali membuat Raka terkekeh.
"Hihihi, Opa geli ihh haha ...." ucap Raka sambil memberontak di dalam pelukan Opa Faisal.
Samudra menggeser tempat duduknya, untuk memberikan celah agar Oma Dena bisa duduk bersama mereka bertiga.
"Ada apa kalian ke sini? Tumben banget, aku kira kalian ada di ruang depan. Pas di cari kalian malah ada di sini," cicit Oma Dena menatap Samudra dan Opa Faisal.
"Tidak ada apa-apa, kami cuman ngobrol biasa aja." ucap Samudra tersenyum.
"Obrolan apa yang kalian bahas, kenapa tidak mengajakku? Aku juga 'kan ingin ikut ngobrol sama kalian." sahut Oma Dena, wajahnya sedikit cemberut.
"Ini obrolan laki-laki, jadi kau tidak perlu tahu itu, Sayang." jawab Opa Faisal.
"Opa, Opa. Tadi Kata Oma, alo Opa malas mandi. Oma yang mandiin, benelan? Emangna Opa macih kecil di mandi juga, tan Opa udah becal maca macih di mandiin cih. Laka aja mau belajal mandi cendili loh, tan mayu."
Satu perkataan Raka mampu membuat Samudra dan Opa Faisal terdiam membeku. Sementara Oma Dena langsung melototkan matanya, berkat kecerobohannya sendiri membuat Raka menatap polos ke arah Opa Faisal.
__ADS_1
"Aduh, ma*ti aku. Karena mulutku yang lemes membuat cucuku ikut terseret, huaa ... Gimana ini, pasti suamiku akan memarahiku. Huhh, bisa-bisanya aku keceplosan ketika sedang memandikan Raka."
Wajah Oma Dena merona ketika Samudra dan Opa Faisal menatapnya dengan tatapan penuh penyelidikan. Selama ini Samudra menjaga keras Raka supaya dia tidak sampai berpikir yang tidak-tidak.
Namun, berkat satu perkataan Oma Dena berhasil membuat kepolosan Raka mulai ternodai. Dari situ, Opa Faisal membolakan matanya menatap istrinya.
"Opa, emangna Opa ndak mayu cama Oma. Maca udah gede macih di mandiin?" ucap Raka kembali.
"E-enggak kok, ka-kata siapa? O-opa enggak di mandiin loh, O-oma tuh bo-bohong. Bu-buktinya Opa bisa mandi sendiri. Beneran deh, suer!"
Opa Faisal berusaha mencoba untuk mengalihkan Raka, agar dia tidak berpacu pada perkataan Oma Dena.
"Benelan Opa? Teyus napa, Oma biyangnya gitu?" tanya Raka, bingung.
"Sstt, jangan di dengerin ya. Mungkin maksud Omamu itu, dia memandikan Opa ketika Opa sedang sakit, Raka tahu sendiri 'kan. Kalau orang sakit itu tidak bisa melakukan semuanya sendirian, jadi Opa di bantu oleh Oma deh. Gitu!"
Opa Faisal memberikan sedikit penjelasan pada Raka, supaya dia bisa mengerti bahwa apa yang di ucapkan oleh Omanya bukanlah sesuatu yang sesuai dengan apa yang Raka pikirkan.
...***Flashback***...
Saat ini Raka, sudah berada di dalam kamar mandi bersama dengan Ibu Dara dan juga Oma Dena.
Perlahan Raka membuka semua pakaiannya dibantu oleh Oma Dena, sedangkan Ibu Dara dia hanya tersenyum membiarkan mereka menikmati masa-masa bersamanya.
Raka berendam di dalam bak sambil terus memainkan mainannya, sesekali menyipratkan air tersebut ke arah Oma Dena. "Huhh, airnya dingin Oma. Enyak hihi ...."
"Oma sampoin dulu ya, habis itu baru sabunan." ucap Oma Dena tersenyum. Raka hanya menganggukan kepalanya, menikmati setiap sentuhan yang Oma Dena berikan untuk membersihkan tubuhnya.
"Oma, Oma. Oma tahu enggak, Laka cama Ayah cuka mandi bayeng loh. Adang Laka mandiin Ayah, teyus Ayah mandiin Laka. Oma pelnah ndak?" tanya Raka, dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Pernah dong, Opa sering banget minta di mandiin sama Oma bahkan suka mandi bareng juga. Ehhh--"
Oma Dena langsung menutup mulutnya sendiri secara refleks, akibat dia keceplosan membicarakan rahasia aset pribadinya sendiri.
"Opa cama Oma mandi bayeng? Kata Ayah, cewek cama cowok ndak boyeh mandi bayeng kalena berbeda."
"Aktu itu Laka pelnah mau andi bayeng cama Bunda, api ndak boyeh, boyehnya Bunda mandiin Laka teyus balu Bunda mandi gitu. Cuman alo Opa cama Oma mandi bayeng, itu ndak boyeh anti doca loh. Tan aulat cewek ndak boyeh di lihatin cama cowok, teyus cowo uga."
Perkataan Raka mampu menyadarkan Oma Dena ketika dia melakukan kesalahan, disitu Oma Dena bingung harus menjelaskan seperti apa lagi pada cucunya. Akan tetapi, Ibu Dara atau Nenek Dara langsung membantu menjelaskan secara perlahan padanya.
"Raka sayang, dengerin nenek ya. Apa yang Ayah ucapkan itu benar, cuman semua itu berlaku untuk pasangan yang belum menikah. Jika sudah menikah mandi bareng itu tidak masalah, malah menambah pahala bagi mereka."
"Hahhh? Makcudna gimana, Nek? Laka ndak ngelti." Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat jelas dia sangat bingung dengan penjelasan Neneknya.
"Nanti kalau Raka sudah besar, Raka akan paham dengan semuanya. Sekarang Raka mandi dulu ya sama Oma, Nenek mau ke belakang sebentar."
Raka mengangguk dan kembali meneruskan acara mandinya bersama dengan Omanya untuk yang pertama kalinya.
Oma Dena berusaha untuk bersikap biasa saja ketika dia telah melakukan kesalahan, hanya ada satu harapan di dalam hatinya kalau Raka akan melupakan perkataannya tadi.
Namun, siapa sangka. Raka malah menanyakan pada Opa Faisal di depan Ayahnya, dari situlah tatapan Opa Faisal pada Oma Dena langsung berbeda. Layaknya seorang predator yang akan memangsa makanannya sendiri
"Ya sudah ayo masuk, kalian ngadem di dalam rumah aja. Aku mau cek ke sawah dulu sebentar, takut ada yang di butuhkan. Nanti aku akan segera kembali." ucap Samudra untuk memecahkan ketegangan di dalam suasana tersebut.
"Ayo, Opa Oma kita main di dayem. Laka punya mainan buanyakk banget, Opa cama Oma temenin Laka main ya. Piss!"
Raka memohon dengan nada yang sangatlah merendah, membuat Opa dan Omanya langsung mengangguki dengan antusias.
Seketika Raka melompat penuh ke girangan lantaran dia bisa bermain dengan Oma dan Opanya, sehingga rasa rindunya terhadap Bundanya yang baru saja kerja sudah terobati.
__ADS_1
...***Bersambung***...