Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Mendatangi Pemakaman


__ADS_3

Hanya saja Sabrina belum sempat bertemu sama Bulan yang di ketahui sudah mengundurkan diri, lalu Dzaky yang masih berada di luar negeri. Jadi mau tidak mau, Sabrina harus sabar menunggu waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya.


...*...


...*...


Keesokan harinya tepat pukul 10 pagi menjelang siang, keluarga Samudra sudah selesai sarapan pagi. Kini, mereka sedang bersiap-siap sekalian menunggu ke datangan asisten Dzaky.


Hari ini adalah hari yang sangat membuat mereka semua merasa tegang, kerena mereka harus pergi menemui siapa orang yang sudah mendonorkan hatinya pada Samudra dan juga menemui keluarganya untuk sekedar berterima kasih atau memberikan apa yang harusnya dia dapatkan.


"Mas, kok aku jadi penasaran ya. Kira-kira orang itu apakah masih muda atau sudah berkeluarga?" tanya Bulan yang duduk di samping suaminya.


"Aku kurang tahu, dia sama sekali tidak memberitahuku. Siapa orang itu, mungkin Papah sama Mamah yang tahu. Apa lagi semua ini di urus oleh mereka dan juga Dzaky." jawab Samudra menatap ke dua orang tuanya secara bergantian.


"Mamah enggak tahu apa-apa, Papahmu kali. Dia yang deket banget sama Dzaky sahabatmu, apa lagi dia 'kan satu bisnis dengannya." sahut Oma Dena menatap suaminya.


"Meskipun Papah dekat dengan Dzaky ataupun keluarganya, tetapi Papah juga tidak tahu siapa orang itu. Bahkan untuk meminta identitasnya saja Papah tidak di berikan akses, katanya tunggu waktu yang tepat kita akan mengetahui siapa orang itu. Ya sudah, Papah serahkan semuanya pada asisten Dzaky. Dia yang mengurus tentang orang itu, jadi kita hanya mengikuti intruksi darinya saja."

__ADS_1


Penjelasan yang di berikan oleh Opa Jerome berhasil membuat mereka semakin kebingungan, rasa penasaran pun sudah mulai meronta-ronta.


Pada akhirnya asisten Dzaky pun datang, lalu sedikit berbicara basa-basi agar tidak semakin membuat semuanya menjadi tegang. Kemudian mereka pun berangkat menggunakan mobil yang saling beriringan.


Dimana posisi Bulan, Dzaky dan Raka berada satu mobil bersama asisten Dzaky. Sementara Oma Dena dan Opa Jerome berada di mobil sendiri yang mengikuti dari arah belakang.


Selama di perjalanan semuanya hanya bisa terdiam dan terus bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri. Siapa orang baik yang ada di balik kesembuhan Samudra, kenapa identitasnya sangat di rahasiakan?


Apakah itu salah satu taktik agar tidak membuat kegaduhan di dunia maya? Entah, dari pada mereka menerka-nerka yang belum tentu benar, lebih baik mereka fokus saja sama perjalanan. Sebentar lagi juga akan mengetahui siapa orang tersebut.


1 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah pemakaman besar yang sangat terawat. Pemakaman ini merupakan pemakaman khusus untuk keluarga.


Tidam seperti pemakaman umum lainnya yang terkadang kurang terurus oleh penjaganya, ataupun keluarganya. Belum lagi suka tertimbun atau di di rapatkan oleh makam orang lain yang tidak tahu siapa. Sehingga banyak keluarga ke bingungan untuk mencari makam keluarganya yang telah berubah.


Oma Dena, Opa Jerome dan juga Samudra merasa tidak asing sama tempat tersebut. Mereka sangat tahu, tentang silsilah pemakaman ini.


Akan tetapi, mereka tidak mau berpikiran aneh. Meskipun mereka sudah tahu jika ini merupakan pemakanan orang-orang penting yang memiliki nama besar, ataupun kekayaan yang tidak bisa di hitung berapa jumlahnya.

__ADS_1


Oma Dena selalu berbisik kepada suaminya, mengenai tentang pemakaman itu. Jika benar adanya, berarti orang yang mendonorkan hatinya untuk Samudra bukanlah orang sembarangan. Orang tersebut pasti memiliki kedudukan penting di dalam dunia perbisnisan atau sebagainya.


Bulan berjalan sambil menggandeng tangan Raka, sedangkan asisten Dzaky memapah Samudra karena dia masih harus berhati-hati ketika sedang berjalan. Sementara Oma Dena dan Opa Jerome berada di belakang mengikuti mereka.


Pemakaman ini sangatlah luas, megah dan juga memiliki akses jalan yang tidak begitu sempit. Jadi mereka semua bisa jalan tanpa harus ke sandung batu nisan makam orang lain.


Kurang lebih mereka berjalan sekitar 5 menit lamanya. Kini, telah sampai di salah satu makam yang tanahnya masih sangat baru. Wangi taburan bunga yang segar pun menjadi ciri khas makan yang belum ada 40 hari, bahkan buket bunga pun berada di kelilingnya yang menambahkan wangi. Mereka bisa melihat itu semua dari arah belakang nisan.


Setelah mereka semakin dekatkan, tiba-tiba mata mereka langsung membelalak. Mereka tidak percaya bila orang yang mendonorkan hatinya untuk Samudra adalah seseorang yang sangat berjasa untuk keluarga Samudra.


Seketika Samudra terjatuh lemas di atas makam tersebut, lalu air matanya menetes tanpa henti. Dia masih tidak percaya dengan semua yang dia lihat saat ini, beberapa kali dia menatap asisten Dzaky meminta jawaban. Akan tetapi dia hanya bisa menundukkan kepalanya.


Raka yang belum begitu bisa membaca hanya bisa bertanya-tanya pada mereka siapa orang yang sudah menyembuhkan Ayahnya. Bulan hanya bisa menangis memeluk anaknya, dia tidak tega untuk mengatakannya.


Sama halnya seperti Oma Dena dan Opa Jerome yang sudah berada di sisi mereka, dia pun tidak menyangka dengan kenyataan yang besar ini.


"Katakan padaku, apakah semua ini benar? Apakah nisan ini tidak salah menuliskan nama? Jawab aku, jawab!" pekik Samudra menatap tajam ke arah asisten Dzaky, dimana bola matanya di penuhi oleh kesedihan yang teramat mendalam.

__ADS_1


Sampai akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arah mereka semua. Orang itu yang menjawab semua pertanyaan Samudra tanpa melewatkan sedikitpun.


...***Bersambung***...


__ADS_2