Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Perumpamaan


__ADS_3

Itulah Samudra, dia terlalu baik kepada anak dan juga istrinya. Dia rela mengesampingkan urusannya demi kebahagiaan istri serta anaknya, jadi mana tega Bulan mengkhianatinya. Atau membuat rumah tangga mereka hancur, karena saat ini cuman Samudra dan Rakalah yang Bulan punya.


Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah terindah yang Allah berikan padanya, walau dia harus menghadapi orang misterius itu di kemudian hari.


Mereka bertiga pulang dalam keadaan Raka yang sangat bahagia, karena perasannya yang dia rasakan tentang Bundanya, tidak benar. Begitu juga Bulan, dia selalu memeluk suaminya penuh cintai, lantaran Bulan tidak akan pernah mau melepaskannya.


Malam hari, tepat di saat Bulan dan Samudra telah selesai melakukan dinas malamnya. Tiba-tiba saja perkataan Samudra berhasil mencubit hati Bulan sambil membuat matanya berkaca-kaca.


Samudra memeluk istrinya, sambil mengelus wajahnya penuh cinta. Lalu dia mengutarakan sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Dek, seumpama nanti Mas tiada. Apakah kamu akan menikah lagi, atau akan fokus ngurusin Raka?"


Pertanyaan inilah yang membuat Bulan kembali mengingat kejadian tadi siang, mengenai foto yang seseorang kirim melalui ponselnya yang sudah hancur.


"Astagfirullah, Mas. Cepat istigfar enggak, pokoknya enggak mau tahu. Cepat istigfar sebelum se*tan lewat mengabulkannya!" ucap Bulan, melototkan matanya.


"Itukan cuman perumpamaan loh, Dek. Bukan--"


"Aku bilang istigfar ya istigfar, Mas. Susah banget sih kalau di bilangin!" sahut Bulan, kesal.


"Yayaya, Mas istigfar. Astagfirullah'alazim ... Udah 'kan? Nah, sekarang coba jawab pertanyaan Mas tadi."


Samudra mengikuti permintaan istrinya, akan tetapi dia juga tidak melupakan tentang pertanyaannya itu. Bagi Samudra, jawaban Bulan memang tidak terlalu penting untuknya.

__ADS_1


Hanya saja dia mau mengetes seberapa besar cintanya pada dirinya. Walaupun, suatu saat nanti jika Samudra pergi lebih dulu dan Bulan akan menikah lagi, itu malah bagus.


Sebab ada yang akan menjaga mereka berdus setelah Samudra pergi. Cuman orang itu harus yang tepat. Jika tidak, maka bukan kebahagiaan yang hadir, melainkan rasa sakit yang akan Bulan terima dari jodoh barunya kelak.


"Kenapa harus pertanyaan itu sih, Mas. Bagaimana jika aku salah menjawab pertanyaanmu, pasti aku akan kembali melukai hatimu. Dan aku tidak mau itu, cukup dulu aku selalu melukai hatimu dengan perkataan serta keluhanku atas semua masalah yang terjadi pada keluarga kita."


"Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Aku tidak mau kehilanganmu, ataupun Raka. Cukup kepergian Ibu yang terakhir, karena aku mau bahagia bersamamu dan juga Raka."


"Jadi, aku mohon Mas. Please, jangan berbicara seperti itu. Sudah cukup aku kehilangan keluargaku, sekarang tidak lagi. Pokoknya kita harus terus bersama sampai suatu saat nanti kita bisa melihat Raka bahagia dengan jodohnya dan kita bisa menimang cucu yang menggemaskan. Apakah Mas tidak memiliki impian itu?"


Tanpa tidak di sengaja, Bulan telah menjawab pertanyaan Samudra. Meskipun sedikit melenceng, tetapi masih satu jalur yang sama. Dari sini Samudra tersenyum mencium kening istrinya sedikit lama, membuat Bulan terkejut.


"Terima kasih, Sayang. Tanpa kamu ketahui, perkataan yang keluar dari bibirmu itu adalah sebuah jawaban yang menenangkan hatiku. Itu tandanya kamu memang masih mencintaiku, sehingga kamu tidak mau aku pergi. Padahal dulu, kamu selalu saja mengucapkan kalimat-kalimat fatal yang ingin mengakhiri pernikahan kita."


"Namun, sekarang aku lega. Dibalik emosimu yang labil itu, terdapat cinta yang sangat luar biasa untukku dan juga Raka. Sekali lagi terima kasih ya, Dek. Kamu adalah anugerah Allah yang selalu aku syukuri, meski banyak kekurangan tetapi kamu selalu menjadi yang sempurna untukku."


"Mas, maafkan aku ya. Selama ini aku selalu menyakiti perasaanmu, perkataanku yang sangat tajam hampir saja merusak impian anak kita. Apa lagi aku masih sangat labil untuk mengambil keputusan ketika kita sedang ada masalah."


"Cuman, aku bersyukur banget. Ketika aku beberapa kali mengatakan pisah, kamu selalu berusaha mengindarinya dan tidak menanggapinya. Mungkin jika kamu menanggapi aku, pasti sekarang kita sudah tidak bersama lagi. Disitu aku akan sangat menyesali perbuatanku sendiri, sudah melepas orang yang begitu sempurna."


"Mas tahu tidak, kepergian Ibu membuatku sadar bahwa semakin aku menyia-nyikan orang yang aku sayang. Maka semakin cepat Allah memanggilnya."


"Sering kali aku tidak mendengar semua nasihat Ibu, hingga mebgabaikannya dan akhirnya Ibu pergi meninggalkanku. Dari situ aku tidak mau lagi menyia-nyiakan kamu dan Raka, Mas. Cukup kepergian Ibu, yang mengajarkanku untuk lebih bersyukur lagi atas apa yang aku miliki saat ini."

__ADS_1


Bulan memeluk suaminya dengan begitu erat, hingga terdengar suara terisak dari balik tubuh Samudra. Yang mana Bulan menangis sesegukan karena dia kembali mengingat tentang Ibunya.


Apa lagi, Bulan sedikit bingung sama orang yang telah menerornya. Karena sampai sekarang Bulan belum menemukan penyebab orang itu ingin menghancurkan rumah tangganya.


Namun, Bulan tetap berusaha terlihat baik-baik saja agar tidak membuat Samudra cemas. Padahal tanpa Bulan sadari, menyembunyikan apa yang dia ketahui dari suaminya sama saja memberikan peluang untuk orang lain.


Harusnya Bulan jujur mengenai semua itu sebelum orang tersebut benar-benar akan menghancurkannya.


Lebih baik Samudra mengetahui semuanya lebih awal, dari pada akhirnya dia tahu semua itu dari orang tak bertanggung jawab. Maka, bisa dipastikan bom yang selama ini tertidur bisa meledak sangat dahsyat. Bagaikan Gunung Merapi yang meletus, sampai membuat ratusan orang tak bersalah terkena imbasnya.


Cuman, karena efek ketakutan yang ada di dalam hati Bulan. Membuat Bulan tidak tahu harus bagaimana dalam menyikapi semua itu. Dia malah memilih jalur yang salah, untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, sampai Bulan menemukan siapa orang yang telah menerornya.


"Cupcupcup, Sayang. Udah ya jangan nangis, nanti jelek loh. Masa baru senang-senang bercinta, sekarang nangis sih. Lagi pula aku juga tidak akan melepaskanmu, Sayang."


"Aku sudah janji dengan diriku sendiri, kalau aku akan selalu ada di samping kalian apapun yang terjadi nantinya. Bagiku, kalian adalah duniaku. Jadi, aku tidak mau duniaku sampai padam akibat keegoisanku yang tidak bisa mengambil keputusan dengan cara baik."


Penjelasan Samudran semakin membuat Bunda takut, jika badai itu terjadi akibat kecolongannya. Apakah Samudra masih bertahan dengannya, setelah melihat foto yang tidak benar itu? Bagaimana jika Samudra melupakan janjinya, dan meninggalkannya? Apakah Bulan akan sanggup melewati semua itu seorang diri dan harus mengurus Raka tanpa Samudra?


Tidak! Bulan langsung mencoba untuk menghilangkan semua pikiran jelek itu dari isi kepalanya, Bulan tidak mau sampai hal buruk terjadi pada pernikahan mereka.


Akhirnya Bulan berjanji, setelah dia mengetahui orang itu Bulan akan jujur pada suaminya. Walau tanpa Bulan sadari, itu sama saja seperti dia menggali lubangnya sendiri.


Namun, mau bagaimana lagi. Ketakutan membuat Bulan tidak bisa berpikir jernih, yang saat ini dia pikirkan hanyalah bagaimana mencegah hal negatif itu masuk ke dalam rumahnya. Supaya tidak membuat apa yang sudah dia bangun selama ini, tidak hancur sia-sia hanya karena foto yang diambil untuk membuat Samudra menjadi salah paham.

__ADS_1


Beberapa menit mereka mengobrol, tanpa di sadari mereka pun tertidur dalam keadaan saling memeluk satu sama lain. Seakan-akan posisi itu seperti melambangkan kekuatan cinta mereka, yang tidak akan pernah bisa di pisahkan dengan apapun, kecuali maut dan juga takdir.


...***Bersambung***...


__ADS_2