
Entah apa yang Samudra pikirkan saat ini, dia terlihat begitu bingung, takut dan juga khawatir jika apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar terjadi. Karena Samudra sangat paham, dari semua cerita yang Bulan katakan itu membuat Samudra sedikit percaya, jika ada sesuatu yang mengganjal di dalam sikap atasan Bulan pada istrinya itu.
Kecurigaan dan juga rasa penasaran mulai muncul membuat Samudra melek sepanjang malam untuk selalu berjaga agar apa yang dia pikirakan tidak sampai terjadi.
Berulang kali Samudra beristigfar sampai perasaannya mulai tenang, barulah tepat di jam 3 dini hari, dia mulai memejamkan matanya dan tertidur bersama istrinya yang sudah lebih dulu bermimpi.
...*...
...*...
Pagi hari, Samudra dan Raka kembali mengantar Bulan untuk berangkat kerja. Setelah kembali dari mengantar Bulan, Samudra langsung mandikan Raka dan menyiapkan semuanya lalu mengantarkan ke rumah Bi Edoh. Kemudian barulah Samudra mengurus dirinya sendiri dan berangkat ke sawah untuk mengecek pekerjaannya.
Selama berada di sawah, Samudra terlihat tidak fokus dan sering kali melamun. Sehingga membuat beberapa karyawannya meminta Samudra untuk beristirahat di saungnya karena terlihat jelas bahwa wajah Samudra tidak sesegar biasanya.
Terkadang di saat Samudra sakit pun, dia masih tetap giat dalam bekerja. Berbeda dengan sekarang, tidak terlihat sakit tetapi, terlihat seperti orang yang memiliki banyak beban pikiran.
Jadi, ketika ada karyawannya yang bertanya, sering kali Samudra melamun sampai-sampai membuat yang lainnya cuman bisa memberikan perhatian kecil, kalau
Samudra harus pulang ke rumah untuk beristirahat.
Melihat kondisi Samudra yang seperti ini, apapun pekerjaan yang dia lakukan semua menjadi tidak benar dan malah membuat kerjaan menjadi bertambah.
Mau tidak mau, Samudra pun pulang. Tak lupa dia meminta maaf pada karyawannya karena dia sudah membuat semuanya merasa cemas. Mereka hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya,
...*...
...* ...
Tepatnya di rumah, Samudra langsung duduk di ruang tamu setelah dia sudah membersihkan tubuhnya dan membuat minuman segar untuk tenggorokannya yang terasa haus.
"Huhh, ada apa denganku hari ini? Kenapa pikiranku jadi tidak karuan, kaya gini sih!"
"Jangan bilang kalau aku cemburu dengan atasannya, akhh tapi masa iya aku cemburu. Buat apaan juga aku cemburu, toh Bulan sudah menjadi istriku kurang lebih 7 tahun ini 'kan. Jadi tidak mungkin Bulan tertarik dengan atasannya itu."
__ADS_1
"Cuman, kenapa dari penjelasan Bulan semalam. Seakan-akan atasannya itu seperti menaruh hati pada istriku? Apa benar dia menyukai, Bulan? Bukannya dia tahu, kalau Bulan sudah menjadi istri orang lain. Namun, kenapa pria itu kaya memperlakukan istriku lebih spesial dari karyawan lainnya?"
"Astgafirullah, apaan sih Sam. Kamu itu kenapa sih, kenapa malah jadi berpikir ngelantur seperti ini. Mana mungkin atasannya suka sama istrimu, toh istrimu sudah menjadi bagian dari hidupmu. Lagi pula pasti selera atasannya bukan Bulan, apa lagi biasanya seorang atasan seperti dia selalu mencari yang cantik, mulus dan juga se*y berbeda sama istriku yang menutup auratnya."
"Tapi, tunggu deh. Semalam Bulan bilang kalau nama atasannya itu siapa? Hem, aaa ... Eee ... Si-siapa sih, a-aku lupa. Aduh, siapa ya. Hem, akhh aku ingat. Dzaky?"
"Dzaky, Dzaky, Dzaky. Hem, namanya mirip dengan sahabatku. Bahkan dia juga katanya sedang membangun cabang kecil di desa sebrang, tapi masa iya Dzaky atasan Bulan sama dengan Dzaky sahabatku?"
"Akhh, tidak mungkin. Jikalau benar juga, tidak mungkin selera Dzaky seperti istriku. Karena aku tahu betul selera wanita yang Dzaky inginkan seperti apa."
"Aduhh, apaan sih. Kenapa jadi nyambungnya ke sana ya. Udahlah, mendingan aku berkebun aja. Sekalian ngilangin penat dan juga pikiran jelek ini. Setelah itu, nanti aku jemput Raka aja dan mengajaknya jalan-jalan siapa tahu dengan begitu pikiranku akan teralihkan."
"Lagi pula aku percaya, jika istriku bukanlah wanita yang rela menyakiti perasaan orang-orang yang dia cintai. Ya, walaupun wataknya sedikit keras. Akan tetapi, dia masih bisa untuk di arahin jika dia mulai sedikit belok."
Samudra terus menerus mengutarakan isi dan pikirannya dengan tatapan lurus. Bayang-bayang akan pikiran negatif selalu terlintas di dalam isi kepala Samudra. Dia benar-benar takut dan tidak mau berburuk sangka pada seseorang, yang dia sendiri tidak tahu tentang kenyataannya seperti apa.
Dirasa perasaannya semakin tidak baik, membuat Samudra segera menyibukkan dirinya agar tidak membuat pikirannya semakin liar meraja lela. Sehingga akan menimbulkan percikan api yang akan membuat rumah tangga mereka sedikit panas ataupun terguncang.
Berbeda dengan Bulan yang sedang menyibukkan diri untuk tetap fokus mengurus berkas yang cukup menguras tenaga dan juga pikirannya.
Tepat jam makan siang, Dzaky keluar dari ruangannya bertepatan dengan Bulan yang baru saja mau meninggalkan mejanya.
"Tunggu!" ucap Dzaky mebuat Bulan pun kembali berbalik dan menatapnya.
"Ya, Tuan. Ada apa? Jika ada kerjaan tolong di pending dulu, kasih saya waktu 20 menit saja untuk makan. Baru saya akan--"
"Ikut saya makan siang di Resto!"
Dzaky berbicara dengan wajah datarnya dalam keadaan posisi kedua tangan berada di saku celana dan dia berdiri tegak di depan meja Bulan, sampai terlihat cukup gagah.
"Loh, kok saya." pekik Bulan menunjuk dirinya sendiri.
"Saya enggak mau, Tuan ajak asisten Tuan aja, saya udah biasa makan di kantin. Lagi pula di Resto itu makanannya mahal, Tuan. Mana sanggup saya bayarnya." ucap Bulan kembali, menolak mentah-mentah ajakan atasannya tersebut.
__ADS_1
"Ckk, berisik! Ini 'kan saya yang ngajak, berarti saya yang membayarnya. Kamu tinggal pilih menunya, terus makan. Simple bukan? Kecuali, kamu yang pengen ikut. Barulah kamu bayar sendiri. Paham?" tegas Dzaky, cuek.
"Tap--"
"Permisi, Tuan. Apakah Tuan mau makan siang, mari saya temani." ucap asisten Dzaky, sedikit memberikan penghormatan pada atasannya.
"Tuhkan, sudah ada dia. Udah Tuan berdua aja, toh biasanya juga berdua. Sekarang ngapain malah milih bertiga. Aneh!" gerutu Bulan, tidak mengerti dengan sikap atasannya ini.
"Tuan mau ngajak sekretaris Bulan untuk makan siang bersama kita? Tumben, memang ada urusan pekerjaankah yang harus di bahas sambil makan siang?" tanya asistennya, bingung.
"Udah jangan pada bawel. Kalian berdua ikut saya makan siang, tiadak ada bantahan kalau gaji kalian bulan ini mau aman. Jika tidak, maka kalian harus gigit jari selama sebulan tidak akan mendapatkan gaji!"
Degh!
Dzaky langsung berjalan perlahan meninggalkan mereka berdua. Dimana Bulan dan asisten Dzaky, langsung menelan air liurnya secara kasar.
Mereka tidak menyangka jiklau perkara makan siang, bisa sampai membuat mereka tidak mendapatkan gaji selama 1 bulan penuh.
Kejam, bukan? Itulah Dzaky, apapun yang dia inginkan harus keturutan. Kalau tidak, maka dia bisa bertindak seenak jidatnya sendiri.
Ya, walaupun begitu Dzaky pun adalah orang yang cukup baik, hanya saja dia tidak bisa menggunakan kebaikan hatinya dengan benar.
"Yakk, saya tidak mau makan bareng Tuan. Bisa-bisa akan menimbulkan gosip terbaru tentang saya. Memangnya tidak cukup apa, gosip tentang Tuan yang menjadi simpanan saya. Hahh? Apakah Tuan masih mau membuat gosip, kalau Tuan akan menjadi madu dari suami saya. Begitu!"
Degh!
Dzaky terdiam di tempat, dalam keadaan masih membelakangi Vulan dan juga asistennya.
Jantung Dzaky spontan berdetak cukup kencang, ketika mendengar kalimat yang Bulan katakan. Dia tidak menyangka kalau Bulan bisa mengatakan semua itu tanpa adanya rasa malu terhadap atasannya sendiri.
Asisten Dzaky pun ikut terdiam ketika melihat Dzaky berbalik lalu menunjukkan reaksi wajah yang cukup merona, menggambarkan jika Dzaky seperti menahan malunya saat Bulan mengatakan tentang madu suaminya. Itu artinya seakan-akan Dzaky ingin dijadikan suami kedua oleh Bulan.
...***Bersambung***...
__ADS_1