Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Pacaran Itu Apa, Tante?


__ADS_3

Sabrina memarahi Jefri dengan wajah kesalnya, cuman Jefri hanya bisa meminta maaf padanya. Sebenarnya Jefri memang punya mobil, cuman mobilnya tidak sebagus yang lain.


Ditambah lagi saat mau dipakai mobilnya malah rusak, jadi mau tidak mau mereka harus memakai motor. Hitung-hitung supaya bisa lebih dekat dan mesra lagi, tetapi namanya juga Sabrina dia selalu saja berbicara yang membuat hati Jefri serasa di cubit.


Disaat Sabrina sedang memarahi Jefri tiba-tiba saja Raka yang melihat wajah Sabrina tidak asing, langsung mendekatinya karena penasaran sama wajah Sabrina yang sedikit samar bagi Raka.


"Tante sama Om yang pelnah ketemu Bunda, Ayah sama aku di pasal malam itu 'kan?" tanya Raka, bingung.


"Loh, Boy? Kamu sekolah disini juga?" tanya Jefri, tersenyum lebar.


"Iya, aku sekolah di sini diantelin sama Bi Edoh. Om sama Tante ngapain disini? Ketemu sama anaknya ya?" tanya Raka, polos.


"Hehe, kami belum punya anak Boy. Kami juga belum nikah, jadi mana mungkin kami punya anak. Om sama Tante ke sini habis ketemu sama Danu, ponakan Om. Apa kamu kenal?" jawab Jefri, berjongkok sambil memegang pipi Raka.


"Danu? Oh ya, Laka kenal. Danu itu temen sekelas Laka kok. Oh, jadi Om ini Omnya Danu ya?" ucap Raka, tersenyum.


"Iya, Om---"


"Hai, ganteng. Ketemu lagi kita." ucap Sabrina langsung memeluk Raka, membuat Jefri terkejut begitu juga Raka.


"I-iya, Tante." jawab Raka, sedikit ketakutan. Ini baru pertama kalinya Raka di peluk oleh seseorang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.


"Aduh, akhirnya Tante ketemu lagi sama kamu. Ohya, dimana Bunda sama Ayahmu? Apakah mereka ada di sini? Terus Bi Edoh itu siapa?" tanya Sabrina, berjongkok mengikuti tinggi Raka.


"Ada apa dengan Sabrina, kenapa dia terlihat akrab dengan anak temennya. Sedangkan sama ponakanku, dia seperti tidak suka. Aneh banget sikapnya bisa berubah-ubah begitu ya." gumam batin Jefri, ketika melihat sikap Sabrina kepada Raka.


"Bunda 'kan kelja, Ayah juga kelja. Jadi, tiap Laka sekolah diantelin sama Bi Edoh tetangga Laka yang baik." jawab Laka, sambil menatap Sabrina.


"Hem, gitu. Raka pernah denger enggak, kalau Bunda Raka itu setiap hari pergi ke kantor bukan untuk kerja, melainkan pacaran sama atasannya."

__ADS_1


Perkataan Sabrina berhasil membuat Jefri langsung membolakan matanya. Dia tidak percaya kalau kekasihnya itu bisa berbicara seperti itu pada anak kecil, mengenai orang tuanya.


"Pacalan? Pacalan itu apa, Tante?" tanya Raka, kebingungan.


"Pacaran itu---"


"Cukup, Sabrina! Ucapanmu sudah terlalu kelewat batas, dia itu anak kecil. Jadi jangan cuci otaknya dengan perkataanmu yang membuatnya pikirannya terganggu. Paham!" sahut Jefri.


Baru kali ini Sabrina mendengar Jefri sedikit membentaknya membut Rak terkejut mendongak menatap Jefri. Saat ini wajah Jefri terlihat begitu datar ketika menatap Sabrina.


"Apaan sih, udahlah kamu tuh diam aja. Ini urusan aku, jadi stop ikut campur paham!" ucap Sabrina berdiri, menatap tajam ke arah Jefri.


"O-om, Ta-tante jangan belantem. Laka ta-takut liat kalian, kasian Tantenya. Jangan di bentak ya, Ayah aja kalau belantem sama Bunda enggak pelna bentak-bentak. Ayah selalu nasihati Bunda baik-baik, jadi Om juga jangan gitu ya." ucap Raka, mulai menjaga jarak walaupun dia mencoba untuk melerainya.


Jefri yang menyadari kalau dia sudah membentak Sabrina, langsung meminta maaf. Begitu juga sama Raka, Jefri pun meminta maaf lantaran melihat Raka seperti ketakutan saat menyaksikan mereka bertengkar.


"Raka!" panggil Bi Edoh sambil berlari kecil.


"Astagfirullah, Raka. Bibi cariin Raka dimana-mana loh, kenapa Raka disini. Ayo cepat masuk, Raka enggak boleh di luar sekolah lama-lama nanti banyak orang jahat!" ucap Bi Edoh, kembali.


"Maafin Laka ya, Bi. Laka udah buat Bibi hawatil, ya udah ayo kita masuk ke sekolah."


Bi Edoh langsung menarik Raka, ketika dia menatap ke arah Sabrina dan juga Jefri. Orang yang sama sekali tidak dikenalinya, membuat Bi Edoh was-was dengan keberadaan mereka.


Sementara Raka dia mengikuti Bi Edoh, sambil melambaikan tangannya kepada Sabrina dan juga Jefri.


"Si*al! Kenapa harus ada orang itu sih, padahal sedikit lagi gua bisa cuci tuh otak anaknya. Cuman kenapa selalu gagal, gagal, dan gagal terus. Arrghh!" ucap batin Sabrina sambil menunjukkan wajah kesalnya dan juga berekspresi layaknya singa yang ingin menerkam musuhnya.


"Rak--"

__ADS_1


"Udah, Sayang. Udah cukup ya, kamu bertingkah. Aku tahu maksudmu berbicara seperti itu pada Raka, karena kamu mau mencuci otak anak dari temenmu 'kan? Dengan begitu kamu bisa mengotori pikirannya, karena kamu tidak menyukai Ibunya. Benar 'kan dugaanku!"


Apa yang dikatakan oleh Jefri berhasil membuat Sabrina sedikit terkejut. Cuman, sedetik kemudian Sabrina tersenyum menepuk-nepukkan pipi Jefri.


"Uhh, ternyata dibalik sikapmu yang kampungan. Kamu memiliki kepekaan yang cukup mengejutkan ya. Tapi, syukur deh kalau kamu tahu itu semua. Jadi aku tidak perlu menyembunyikannya lagi."


"Dahlah ayo kita pergi dari sini, tapi besok-besok kita ke sini lagi ya. Aku mau menemui Raka, karena ada beberapa yang harus aku kasih tau sama dia tentang Bundanya di kantor yang diam-diam telah bermain gila dengan atasanku!"


Penjelasan Sabrina, benar-benar membuat Jefri terkejut. Dia menggelengkan kepalanya kepada Sabrina atas niat buruknya yang seakan-akan ingin menghancurkan kedua.


"Sabrina, aku tahu kamu itu sebenarnya wanita yang baik. Jadi, please! Jangan rusak rumah tangga orang lain. Lebih baik kita fokus aja sama hubungan kita, supaya kita bisa menyusul yang lain untuk berumah tangga." ujar Jefri, dengan suara lembutnya saat menasihati kekasihnya.


"Berisik tahu enggak sih, lagian juga siapa yang mau nikah sama lu. Mendingan gua jadi pera*wan tua dari pada nikah sama cowo model kaleng krupuk kaya lu. Cihh, najis!"


"Kalau bukan karena Ibu, gua malas jalan sama lu. Apa lagi jadi cewek lu, amit-amit tujuh turunan. Mending gua dempetin Om-om kaya raya, dari pada ngurusin cowok enggak punya apa-apa. Yang ada kalau udah nikah malah lu yang numpang hidup sama gua, dihh ogah banget!"


Kali ini perkataan Sabrina sudah benar-benar menyakiti hati Jefri. Dia tidak menyangka, kalau Sabrina memiliki mulut yang sangat pedas melebihi pedasnya cabai se*tan.


"Yayaya, terserah dirimu aja!" sahut Jefri yang sudah tidak tahu harus berbicara apa lagi.


Tanpa mengulur waktu lagi, Jefri langsung menaiki motornya dan menghidupkannya. Kemudian Sabrina menaikinya tanpa menyentuh tubuh Jefri dan duduk berjauhan dengannya.


Disini Jefri sangat bingung, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi sikap Sabrina yang sangat liar ini.


Ada rasa bimbang dan juga keraguan yang membuat Jefri gelisah antara dia harus meneruskan hubungan ini atau menyudahinya. Lalu memilih wanita lain yang lebih baik dari Sabrina, cuman Jefri kembali berpikir bahwa dia harus sedikit lagi lebih bersabar. Siapa tahu Sabrina bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ini.


Mereka pergi meninggalkan sekolah itu menuju rumah Kakanya Jefri, dimana Jefri lagi ada urusan sambil berniat ingin memperkenalkan Sabrina kepada keluarga Kakaknya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2