
Peperangan antara hati dan juga pikiran membuat Dzaky tidak karuan. Satu sisi dia masih mengharapkan kalau Bulan bisa menjadi miliknya, tetapi disisi satunya lagi Dzaky terus berusaha keras untuk melupakannya.
Namun, tetap saja Dzaky tidak bisa keluar dari perangkap cintanya sendiri. Sebelum dia benar-benar menemukan seorang wanita pengganti Bulan, yang bisa membuatnya nyaman melebihi dia nyaman kepada Bulan.
...*...
...*...
Keesokan harinya, tepat pukul 10 siang. Samudra dan Raka sudah rapih, hanya tinggal Bulan saja yang belum siap.
"Aduh, aduh ... Anak Ayah tampan sekali pakai baju jas seperti itu." ucap Samudra saat melihat anaknya yang berpenampilan berbeda dari biasanya.
"Ayah juga tampan, bajunya pun sama kaya Laka hihi ... Ohya, Ayah. I-ini baju dari siapa?" ucap Raka, sambil menatap tubuhnya.
"Hem, dari siapa ya? Kasih tahu enggak ya?" goda Samudra, sambil berlagak seperti orang yang sedang berpikir.
"Isshh, Ayah. Kasih tahu dong, 'kan Laka enggak pelna pakai baju ini. Teyus ini, kita mau kemana?" jawab Raka, penasaran.
"Kita mau menghadiri acara dari sahabat Ayah yang ada di dekat kota, nah ... Ini juga baju, pemberian dari sahabat Ayah. Makannya kenapa jas Raka dan Ayah samaan, karena mereka membelikan seragam yang sama buat Raka, Ayah dan juga Bunda. Bedanya Bunda pakai baju dress, bukan jas. Gitu, Sayang."
Samudra menjelaskan pakaian yang mereka gunakan saat ini adalah pemberian dari sahabatnya. Sebab, beberapa hari lalu sahabat Samudra mempaketkan sebuah pakaian khusus untuk keluarga kecil Samudra, supaya bisa menghadiri acaranya.
Pakaian formal dengan perbaduan warna putih dan hitam, benar-benar terlihat sangat cocok bagi mereka berdua. Pose keduanya, bahkan raut wajahnya pun memang mirip, bagaikan pinang di belah dua.
Belum lagi sepatu pantofel yang mereka pakai terlihat sangat mengkilat, menambah kesan ketampanan dari keduanya. Di tambah lagi dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya, ikut serta dalam memperindah penampilannya.
Ya, walaupun terlihat simpel dan sederhana, akan tetapi visual mereka mampu membuat seseorang yang melihatnya akan takjub serta begitu terkesan.
Bagaimana tidak, meskipun mereka berasal dari orang tak punya. Postur tubuh dan raut wajahnya mau diapain pun tetap cocok.
Semua itu dikarenakan, sebenarnya Samudra adalah anak dari orang yang berada. Hanya saja dia tidak mau mengatakan semua itu, lantaran takut bila nanti Bulan akan menjadi orang sombong dengan apa yang mereka miliki.
Sama halnya seperti dulu, ketika kehidupan mereka berada diatas berkat Samudra yang mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, malah membuat Bulan selalu tergantung oleh kemewahan.
__ADS_1
Di saat Raka dan Samudra sedang asyik berbicara sambil sesekali bercanda, tiba-tiba mereka berdua di kejutkan dengan suara sepatu heels milik Bulan yang terdengar cukup nyaring.
"Bu-bunda?"
"Sa-sayang?"
Raka dan Samudra menatap kagum ke arah Bulan yang saat ini terlihat sangat cantik. Bahkan pakaian yang Bulan gunakan benar-benar cocok di tubuhnya.
Kedua pria tampan itu begitu terkejut, oleh penampilan keseharian Bulan yang selalu terlihat biasa saja. Akan tetapi, bila pergi ke acara penting dia selalu berhasil membuat mata mereka hampir saja copot.
Dress kebaya modern yang Bulan pakai sangat-sangat selaras dengan kecantikan wajahnya. Perbaduan warna brokat putih dan juga pink, menambahkan keanggunan yang terpancar dari aura Bulan layaknya seorang bidadari.
Hiasan wajah yang tidak terlalu tebal dan juga menor, semakin menambah kecantikan natural seorang Bulan. Persis seperti namanya Bulan, yang mampu bersinar di setiap kegelapan.
"Wah, Bunda cantik banget pakai baju itu? Ini benelan Bunda 'kan, Ayah?" puji Raka menatap ke arah Bundanya, lalu beralih menatap sang Ayah.
Dimana wajah Raka sudah memerah lantaran dia, betul-betul terkejut. Selama ini Raka hanya melihat Bundanya berpenampilan biasa aja, tetapi tetap terlihat cantik.
Namun, kali ini berbeda. Sentuhan make up, riasan tangan dan juga pakaian indah. Benar-benar mampu membungkam mulut Samudra, yang hanya bisa memandangi istrinya tanpa berkedip.
Raka yang ikut menatap Ayahnya, malah tertawa kecil dan langsung menggodanya hingga berhasil membuat wajah Samudra memerah, akibat rasa malunya.
"Cie, Ayah. Liatin Bunda sampai ngeces begitu, cantik ya? Yaiya dong, siapa dulu. Bundanya Laka di lawan hihi ...." ledek Raka.
"Ehhh, sruuppt ... A-apa? E-enggak, Ayah enggak ngeces kok. Mana ada Ayah ngeces, emangnya Ayah anak kecil. Raka kali tuh yang ngeces, huhhh ...."
Samudra yang sudah kepalang malu, malah kembali melimpahkan semua candaan itu kepada anaknya. Sehingga sedikit terjadi senggol menyenggol, tetapi berujung tawaan yang sangat menghibur.
"Hyaaa, kenapa Laka di bawa-bawa. Ciee, Ayah cie ... Haha ...."
"Aaaa, Raka stop menggoda Ayah ya. Atau Ayah akan klitikin nih!"
"Huaaa, Bunda. Ayah tuh nakal, masa Ayah malu-malu kucing mau bilang Bunda cantik banget kaya bidadari dari desa hahah ...."
__ADS_1
"Ya ampun, ini anak diajarin siapa sih ngomong begini!"
"Diajalin Ayah, wleee haha ...."
"Yaaaa, apa-apaan. Ayah enggak pernah ngajarin Raka begitu ya. Dasar!"
"Astagfirullah, enggak Ayah enggak anak. Dua-duanya sama aja, malah ribut terus. Kapan kita berangkatnya, hem?"
Bulan mencoba untuk melerai Tom and Jerry tersebut, dimana Samudra sedang mengejar Raka karena telah berhasil menggoda Ayahnya.
"Hehe, ma-maaf Sayang. Ya sudah aku pesan grab dulu ya, tidak mungkin 'kan berangkat pakai motor. Kasian kamu sama Raka nanti kepanasan, apa lagi jalannya cukup jauh." sahut Samudra, langsung kembali mengambil ponselnya dan membuka aplikasi.
"Ayah mah bukan kasian sama kita Bunda, tapi Ayah takut kalau nanti bedak Bunda luntur Bunda bisa kelihatan kaya Nenek Lampir haha ...."
Degh!
Perkataan Raka, berhasil membuat Samudra terkejut dan langsung menatap anaknya sambil membolakan kedua matanya.
"Mana ada ya Ayah ngo--"
"Oh jadi gitu, Ayah. Jadi, Ayah takut kalau make up Bunda luntur terus di sana nanti Bunda malu-maluin Ayah gitu. Iya?"
Bulan langsung bertolak pinggang menatap tajam ke arah suaminya yang lagi duduk, tanpa berkata apa pun.
"Lah, Ayah enggak bilang gitu Bunda. Suer deh, demi Allah. Ayah diam aja loh disini, mana mungkin Ayah bilang gitu. Ayah cuman takut nanti Bunda kepanasan apa lagi ini 'kan siang hari, lagian juga sejak kapan Ayah malu bawa Bunda?"
"Apa Bunda lupa, dulu Ayah pernah ngajak Bunda setiap ada acara kantor. Terus disitu bulu mata Bunda copot satu, karena lemnya enggk nempel. Lalu, reksi Ayah apa? Cuman ketawa 'kan, terus bantuin Bunda. Nah, makannya itu jangan di percaya omongan Raka."
"Wah, bener-bener ya si Raka. Awas aja kamu, besok kalau sekolah enggak Ayah kasih uang jajan. Biarin aja, biar puasa selama seminggu. Terus cuman bisa lihatin teman-temannya makan jajan aja!"
Raka yang mendengar ucapan Ayahnya langsung merengek tidak karuan, dia segera meminta maaf dan memeluk Samudra dengan tujuan agar uang sakunya tidak di potong.
Sementara Bulan, cuman bisa terkekeh kecil menutupi mulutnya ketika melihat tingkah jahil Raka yang berujung penyesalan.
Begitu juga Samudra, dia berusaha menahan tawanya saat Raka terus merengek meminta maaf karena udah menjahili Ayahnya sendiri. Padahal dia tidak tahu, bahwa Ayahnya pun sedang menjahilinya. Sehingga mereka kembali berbaikan, dan Samudra fokus untuk mencarikan grab untuk mereka berangkat ke tempat tujuan.
__ADS_1
Cuman selang beberapa menit, akhirnya mereka mendapatkan grab mobil. Tanpa berlama-lama lagi, perlahan mereka mulai masuk menempati tempat duduknya masing-masing. Dimana Raka dan Bulan duduk di kursi belakang dan Samudra duduk di kursi depan bersama sang supir.
...***Bersambung***...