Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Roda Kehidupan


__ADS_3

Semua itu karena Samudra juga pernah ada diposisi istrinya yang hidup dalam keadaan sulit. Bagaimana hidup dalam ekonomi yang susah, tetapi harus tetap bertahan meneruskan hidup.


Namun, kembali lagi. Tidak baik juga kalau seseorang harus berpikir hidupnya akan terus diatas, tanpa mau merasakan bagaimana susahnya ketika di bawah.


Apa lagi kehidupan seseorang itu bagaikan sebuah roda, kadang diatas dan kadang pun berada di bawah.


Semua tergantung dari takdir yang sudah Allah berikan padanya, dengan tujuan agar mereka bisa lebih bersabar lagi dalam menghadapi ujian-Nya.


"Mas? Mas marah sama aku? Mas sedih ya karena ucapan aku--"


Samudra tersenyum menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Bulan menghentikan ucapannya.


"Tidak, Sayang. Mas tidak marah kok, Mas cuman mau minta maaf sama kamu. Karena mungkin, sebentar lagi hidup kita tidak akan seenak saat ini." jawabnya.


Degh!


Perasaan Bulan semakin tidak enak, ketika mendengar perkataan suaminya yang sangat sensitif di hatinya.


"Ma-maksud Mas berbicara seperti itu a-apa? Hi-hidup kita 'kan, sudah enak Mas. Jadi kenapa Mas berbicara seolah-olah hidup kita kembali ke titik nol?" tanya Bulan terbata-bata.


"Mas tahu, Dek. Kita pernah berada hidup dalam ekonomi yang sulit buat kita jelaskan, betapa susahnya kita dulu ketika belum sampai ada di titik ini. Cuman mau bagaimana lagi, Dek. Mungkin ini sudah takdir Allah, yang ingin kembali menguji rumah tangga kita."


Penjelasan Samudra yang semakin berlibet membuat perasaan Bulan menjadi tidak karuan. Sehingga kemana arah tujuan Samudra, Bulan sudah bisa membacanya.


"Ma-maksud Mas, se-semua yang kita punya ini akan kita tinggalkan begitu saja? Ta-tapi kenapa, Mas! Kenapa kita harus meninggalkan hidup seenak ini dan memilih untuk hidup susah? Apa alasannya, Mas berbicara seperti ini. Jangan bilang Mas banyak hutang rentenir di luaran sana, iya!"


"Kenapa sih, Mas! Kenapa Mas ada urusan dengan rentenir, apa penghasilan Mas selama ini kurang? Atau jangan-jangan Mas ikutan judi, iya? Jawab, Mas. Jawab!"


Bulan sedikit berbicara keras akibat rasa kesalnya ketika mendengar semua perkataan suaminya. Inilah keadaan yang Bulan tidak suka, jika dia harus kembali merasakan kerasnya hidup dengan perekonomian yang sangat susah.

__ADS_1


Samudra yang mendengar tuduhan tak enak dari suaminya hanya bisa mengelus dada sambil beberapa kali beristigfar sebanyak mungkin.


"Astagfirullah'allazim, ya Allah. Kuatkan Hamba dalam menghadapi semua ujian-Mu ini, agar Hamba bisa menjalankannya sebaik mungkin. Berikanlah Hamba ketabahan dan kesabaran yang lebih luas alagi, supaya Hamba tidak lepas kendali untuk menyikapi semua ini." gumam batin Samudra sambil tersenyum menatap istrinya.


Bulan menangis memukuli dada suaminya saat pikiran jelek itu terus bersarang di dalam isi kepalanya. Bulan tidak mau kalau hidupnya kembali ke titik awal.


Dia hanya mau hidup seperti saat ini yang ketika menginginkan apa-apa, selalu keturutan tanpa adanya hina dari orang lain.


Padahal baru banget mereka merasakan hidup enak, tidak seperti pertama kali Bulan belum ketemu Samudra. Sampai akhirnya, Samudra mulai memeluk istrinya, menciuminya dan perlahan menarik napas lalu menjelaskan semuanya.


Di saat Bulan sudah tenang, Samudra melepaskan pelukannya sambil meraup wajah istrinya dan menatapnya sedalam mungkin.


"Dek, dengar Mas ya. Roda kehidupan itu selalu berputar, terkadang kita bisa berada di bawah dan terkadang kita pun bisa diatas. Semua itu tergantung takdir yang Allah berikan pada kita, tetapi ingat Dek. Semua cobaan itu pasti ada hikmahnya."


"Tidak mungkin Allah memberikan cobaan pada Hambanya di luar batas kemampuannya, jika kita di uii dengan semua ini berarti kita mampu untuk melewati semuanya."


"Hanya saja, kita harus lebih semangat lagi dan berusaha bagaimana caranya suatu saat nanti kita bisa kembali berada di kehidupan ini, atau bisa jadi jauh lebih baik dari saat ini."


"Tidak, aku tidak mau, Mas. Tidak mau! Kenapa Mas memaksaku seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi, hiks ...."


"Kenapa Mas selalu mengatakan hal yang tidak pernah mau aku dengar lagi! Kenapa, Mas kenapa hiks ...."


Samudra yang tidak tega langsung memeluk istrinya, membawanya ke dalam pelukannya dan mulai menjelaskan secara bertahap.


"Ma-maafkan aku, Sayang. Beberapa bulan terakhir ini Perusahaan Bosku sedang ada masalah besar, ada 1 karyawan yang telah menyalah gunakan keuangan Perusahaan dan mengkhianati kepercayaan Bosku, jadi saat ini Perusahaan tempatku bekerja mengalami kebangkrutan."


"Semua karyawan di pulangkan setelah di berikan gaji dan pesangon yang cukup. Sehingga kami semua sudah tidak lagi bisa lagi bekerja di Perusahaan itu. Untuk itu aku mau minta maaf, kalau kedepannya hidup kita akan sedikit lebih susah."


"Aku juga harus memutar otak, bagaimana aku mencari pekerjaan yang layak supaya bisa menyambung hidup, dan bisa memberikan nafkah untuk kalian semua."

__ADS_1


"Kemungkinan besar, selama aku tidak bekerja kita bisa menyambung hidup menggunakan sisa uang tabungku. Jika itu tidak menyukupi, maka mau tidak mau, kita harus menjual apa yang kita punya satu persatu sampai aku mendapatkan pekerjaan."


"Sekali lagi aku minta maaf, Sayang. Kalau kabar tidak mengenakan ini harus kamu dengar. Cuman mau bagaimana lagi, aku sudah pusing dan tidak tahu lagi harus seperti apa. Yang penting aku mohon, disaat hidupku sedang dibawah seperti ini aku mohon kamu jangan pernah sedikitpun berpikiran untuk meninggalkanku ya!"


"Jujur, aku bisa hidup tanpa harta sekaligus. Tetapi, aku tidak bisa hidup tanpa kalian semua. Hidupku akan berakhir jika kalian pergi meninggalkanku, aku mohon Sayang. Kita mulai semuanya dari nol ya, kamu mau 'kan?"


Mata Samudra berkaca-kaca saat melihat tangis istrinya tidak lagi terbendung, Bulan menangis sesegukan mendengar kenyataan yang pahit ini.


Ya, memang Bulan merupakan wanita yang baik. Akan tetapi, semua manusia punya sisi lemahnya tersendiri. Bahkan Bulan sangat lelah ketika dia harus kembali memulai semuanya dari nol, karena itu akan membuatnya kembali merasakan kehidupan yang begitu sulit.


Berkali-kali Samudra memeluk, mencium dan juga meminta maaf kepada Bulan karena dia belum bisa membuatnya bahagia. Samudra merasa bahwa dia belum bisa menjadi suami ataupun kepala rumah tangga yang baik untuk mereka semua.


Hampir 1 jam Bulan menangis sesegukan membuat napasnya terasa sesak, dan tanpa disangka perutnya mulai merasakan kontraksi hingga dia mengeluh kesakitan.


"Arrghh, hiks ... Pe-perutku, sa-sakit Mas, sa-sakit, arghh!" teriak Bulan, sambil memegangi perutnya.


"Astagfirullah, kamu kenapa Sayang. Kenapa sama perutmu?" sahut Samudra bingung, wajahnya terlihat sangat cemas terhadap istrinya.


"Arrghh, i-ini perutku sakit, Mas. Sa-sakit arghh, hiks ...." jawabnya lagi, sambil menjerit membuat Ibu Dara mendengar suara anaknya yang sedikit samar.


Dengan perasaan khawatir Ibu Dara berlari ke arah kamar Samudra dan Bulan, lalu membuka pintu kamar sambil memberikan salam.


"Assalammualikum,"


"Astagfirullah Bulan! Ada apa dengan Bulan, Nak Sam? Kenapa dia menangis kesakitan begini!"


"Ya Allah, Nak. Ada apa ini. Usia kandunganmu belum 9 bulan, tetapi kamu merasa kontraksi seperti orang yang mau lahiran. Ini ada apa sebenarnya, Nak Sam. Katakan ada apa dengan istrimu!"


Ibu Dara menangis melihat anaknya kesakitan seperti ini, dia tidak percaya kalau Bulan akan melahirkan karena usia kandungannya saja baru memasuki usia 7 bulan. Yang seharusnya 2 bulan lagi dia harus melahirkan, cuman melihat kondisi Bulan yang seperti ini membuat mereka menjadi panik.

__ADS_1


Namun, ada satu kejadian yang membuat mereka terkejut bukan main. Sampai akhirnya wajah mereka terlihat semakin panik.


...***Bersambung***...


__ADS_2