
Samudra tersenyum, lantaran dia merasa tidak enak menawari mereka selaku orang kaya dengan makan seadanya.
Oma Dena yang mengingat sesuatu langsung meminta Samudra untuk mengambilnya di dalam mobilnya. Dimana Oma Dena ternyata sudah membawakan lauk untuk mereka, yang di masak dengan sendirinya pagi-pagi buta.
Setelah itu mereka pun makan bersama dalam keadaan Raka terlihat begitu senang ketika bisa memakan ayam goreng ke sukaannya. Ditambah pula ada beberapa lauk lainnya, seperti udang balado dan juga rendang.
"Nyam, nyam. Ayamna enyak Oma, Laka cuka ayamna. Makacih ya Oma Opa udah bawain Laka ayam goyeng aya upin ipin, Laka ceneng deh. Ceneng banget hihi ...."
Raka tertawa gemas sambil memakan ayam goreng yang saat ini berada di tangannya. Begitu bahagianya Raka hanya karena dia memakan ayam goreng 2 potong saja, sudah membuat Raka sangat bersyukur atslas segala nikmat yang di berikan oleh Allah SWT.
"Pelan-pelan makannya, Sayang. Awas nanti keselek, sakit loh tenggorokannya." ucap Ibu Dara menatap cucunya yang terlihat bahagia.
"Iya, Nek. Abisna Laka ceneng deh bica makan aya gini, api Laka uga ceneng bica makan macakan Nenek yang enak. Alaupun ake tahu, uman itu enyak Nek. Anti Nenek macakin agi buat Laka ya."
Perkataan Laka benar-benar berhasil membuat kedua hati wanita itu merasa meleleh. Ya walaupun Raka makan enak dengan masakan Oma Dena, tetapi dia juga tidak melupkan masakan Neneknya yang selalu dia makan setiap harinya.
Seakan-akan Raka tidak mau membuat kedua wanita itu kecewa padanya, akibat Raka memilih salah satu dari mereka. Sementara Samudra yang melihat anaknya, berusaha keras untuk menahan air matanya yang hampir saja menetes.
"Maafkan Ayah ya, Nak. Ayah belum bisa membuat Raka bahagia hanya dengan memakan ayam goreng setiap harinya, tapi Ayah janji inyasaallah suatu saat nanti Raka tidak akan lagi merasakan kesulitan seperti saat ini. Tunggu waktu yang indah itu tiba nantinya ya Sayang, Ayah tidak akan lagi membuat Raka merasakan kesusahan!"
Samudra berbicara di dalam hatinya dengan mata yang berkaca-kaca, begitu juga Opa Faisal yang melihat cucunya sudah tumbuh menjadi anak yang sangat mengerti keadaan kelurganya membuatnya begitu bangga.
"Aku tidak menyangka, cucuku bisa tumbuh menjadi anak yang sangat hebat dan juga selalu bersyukur atas ap yang dia terima. Aku yakin, semua ini
tidak jauh dari didikan Samudra!"
"Dia memang Ayah yang terbaik, yang bisa membuat anaknya mengerti meski usianya masih terbilang sangatlah kecil. Akan tetapi berkat Samudra, Raka bisa memiliki pola pikir yang sangat dewasa jauh diats usianya."
__ADS_1
"Sam, aku salut sama kamu. Kali ini kamu benar-benar telah berhasil membuktikan padaku, kalau kamu bisa hidup bahagia tanpa bantuan dari siapapun!"
*Maafkan aku, jika pada waktu itu aku hanya bisa membuatmu merasakan sakit hati, atas sikapku yang selalu mengendalikan semua tentang hidupmu. Sekali lagi maafkan aku, Sam. Aku telah salah dalam mengambil keputusan!"
Opa Faisal berkata di dalam hati kecilnya saat melihat perubahan Samudra yang sudah semakin terlihat begitu membaik.
Hampir kurang lebih 25 menit lamanya mereka pun sudah selesai dengan sarapan paginya sama menu yang tak biasanya mereka makan setiap harinya.
"Raka mandi dulu, yuk. 'Kan Bunda udah kerja, jadi Raka mandi sama Nenek dulu ya. Pokoknya semua kebutuhan Raka, Nenek yang akan menyiapkannya." ucap Ibu Dara membuat Rakha mengangguk antusias sambil tersenyum.
"Ihh, Oma mau ikut dong. Oma juga 'kan, mau mandiin Raka boleh ya? Pleasee ...." sahut Om Dena.
"Boyeh, Oma cama Nenek boyeh mandiin Laka cama-cama. Api jangan pada belantem ya hihi ...."
"Aaaa, cucu Oma pinter banget sih banget sihh. Oma jadi tambah sayang deh." ucap Oma Dena sambil menatap ke arah cucunya.
Raka terkekeh lalu dia pun turun dari kursi dan pergi bersama Oma Dena dan juga Ibu Dara selaku Neneknya. Raka begitu senang saat hari ini karena dia bisa mandi di temani oleh 2 bidadari kesayanganya, lantaran satu bidadari yang sangat spesial.
Sementara Opa Faisal dia hanya terdiam melihat pergerakan Samudra, sampai akhirnya dia mengeluarkan kalimat yang membuat Samudra terkejut.
"Sam, bisakah kita berbicara di luar? Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu." ucap Opa Faisal penuh keseriusan.
"Mau bicara soal apa? Sepertinya penting sekali!" jawab Samudra menatapnya saat dia sudah menutup semua lauk, di meja makan menggunakan tutup saji.
"Ya bisa dibilang begitu, kamu ada waktu 'kan? Apa kamu mau ke sawah?" tanya Opa Faisal.
"Tidak, mana mungkin aku ke sawah sementara kalian baru saja datang ke rumah. Paling aku ke sawah hanya untuk mengeceknya saja, selebihnya aku pasrahkan semuanya pada karyawanku." sahut Samudra, dengan lantang.
__ADS_1
"Syukurlah, ya sudah kita bicara di luar aja biar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kita yang cukup serius ini." ujar Opa Faisal, tersenyum.
"Baiklahh, gimana kalau kita ngobrol di kebunmu saja. Sekalian aku ingin melihat susana di sana. Bisa?" ucap Om Faisal, lalu berdiri dari kursinya.
"Ya sudah kita bicara di sana aja, udara di sana juga cukup adem jadi tidak akan kepanasan." jawab Samudra.
Kemudian mereka pun berjalan meninggalkan ruang makan, menuju kebun yang terdapat di samping rumah melewati pintu samping rumah.
Sesampinya di sana mereka berjalan sambil melihat beberapa tumbuhan yang Samudra tanam untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah itu, mereka duduk di dekat saung kecil yang ada di belakang sambil menatap satu sama lain dalam mode serius. Wajah mereka benar-benar tanpa ekspresi, dimana akan ada obrolan yang cukup serius.
Mereka terdiam untuk beberapa detik, kemudian Samudra langsung membuka suara lebih dulu. "Ada apa, Om? Apa yang ingin Om bicarakan pada, Sam?"
Om Faisal terdiam lalu menatap Samudra, kemudian menjawab pertanyaan itu dengan berat hati. "Mau sampai kapan kamu seperti ini? Apa kamu tidak kasian dengan anak dan juga istrimu?"
"Tidak bisakah kamu bekerja di tempat yang lebih baik? Tidak seperti sekarang, aku tahu. Keeahlianmu itu bukan disini, Sam. Melainkan di tempat yang seharusnya kamu berada."
"Kamu itu bisa hidup jauh lebih dari ini, cuman kenapa kamu mengambil jalan seperti ini? Cobalah liat anak dan istrimu, mereka sebenarnya tidak mau menjalani hidup yang sesulit ini."
"Namun, karena kamu telah berhasil mendidik anakmu untuk tumbuh menjadi anak yang lebih mengerti tentang kedua orang tuanya dan istrimu yang rela banting tulang demi membantu perekonomian kalian. Apakah tidak ada sedikitpun terlintas untuk mengubah hidup kalian?"
Perkataan yang terlontar dari mulut Om Faisal sangatlah sedikit menyentuh hati Samudra. Akan tetapi, Samudra hanya memilih tersenyum menatap ke arah kebun.
Sesekali menatap wajah Om Faisal secara sekilas, disitu terlihat betapa bingungnya saat Om Faisal melihat wajah Samudra tidaklah seburuk apa yang dia bayangkan selama ini.
Samudra malah terlihat enjoy dan juga senang menikmati kehidupan yang sangatlah rumit untuk dijalankan.
__ADS_1
Hanya saja, perkataan Om Faisal yang kesekian kalinya berhasil membuat pipinya, seakan-akan tertampar atas ucapannya yang mampu mencubit hatinya untuk kembali mengingat semuanya yang sudah mereka lalui.
...***Bersambung***...