Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Perasaan Raka Yang Tidak Enak


__ADS_3

Dzaky yang baru saja keluar dari ruangannya dan ingin pergi ke ruangan meeting, langsung di suguhkan oleh pemandangan yang sangat membuatnya penasaran.


Tingkah Bulan yang terlihat khawatir, panik, cemas dan juga gelisah bercampur aduk menjadi kesatuan layaknya kredok. Berhasil menarik simpati Dzaky.


Dzaky berusaha tetapi tenang, walau hatinya sedikit mencemaskan Bulan. Kemudian, dia melangkahkan kakinya dekati Bulan, yang mana asistennya baru keluar ruangan juga ikut berjalan mendekat ke arah Bulan dari arah yang berlawanan sama Dzaky.


Setelah itu, kehadiran Dzaky dan asistennya membuat Bulan terkejut hingga ponsel di tangannya pun terjatuh dan membuat ponselnya rusak dan mati total. Sampai kartu serta layarnya pecah berserakan dimana-mana.


Prangg!


"Astagfirullah, Tuan! Kalian ngapain disitu, hahh. Sumpah kalian tuh bikin aku jantungan tahu tidak!" pekik Bulan mengusap dadanya dengan wajah yang semakin panik.


"Siapa suruh, orang bukannya kerja ini malah asyik-asyikan teleponan mulu. Memangnya kerjaanmu sudah selesai? Belum 'kan, jadi kenapa di saat jam kerja malah main ponsel!" sahut Dzaky, menutup ke khawatirannya.


"Hyaaa, apaan sih. Saya ini bukan sedang bermain ponsel ya, cuman saya lagi mencari tahu siapa orang misterius yang sudah mengambil gambar kit--"


Bulan segera menghentikan perkataannya karena dia sadar, jika dia meneruskannya maka permasalahan ini akan semakin panjang. Jadi, sebaiknya Bulan tidak memberitahu pada siapapun. Cukup dia saja yang tahu, dan dia pula yang akan membereskan orang jahil tersebut.


"Gambar kit, apaan?" tanya Dzaky, penasaran. Sedangkan asistennya cuman terdiam sesekali membaca gerak-gerik Bulan yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Jangan bilang kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?" sahut asisten Dzaky, berhasil semakin membuat napas Bulan semakin tidak karuan.


"E-enggak, kata siapa? Ma-maksudnya gambar kit itu gambar ... Eee, i-itu ku-kucing, ahhya kucing. Aku mau bilang cat, cuman kenapa malah jadi kit sih, aduh ... Sepertinya aku harus belajar bahasa ingris lagi deh. Bahasa ingrisku belepotan."


Bulan berusaha keras untuk mengalihkan pikiran mereka sambil menunjukkan wajah seriusnya, meskipun masih terlihat sangat cemas.


"Kucing? Apa hubungannya sama kucing? Stop membod*dohi saya, Bulan. Tidak mungkin kamu sebegitu khawatirnya kepada binatang, pasti ada yang kau sembunyikan dari saya, bukan? Persis seperti apa yang dikatakan asisten saya tadi!" ucap Dzaky, datar.


"Tidak, Tuan. Memangnya salah kalau saya khawatir? Toh, kucing itu saya rawat dari kecil sampai besar, lalu dia ma*ti karena tertabrak. Bagaimana saya tidak khawatir coba, makannya punya pikiran tuh yang positif aja. Apa-apa nuduh mulu, berasa saya ******* aja!" celetuk Bulan, berpura-pura kesal untuk mengalihkan pikiran mereka berdua.

__ADS_1


Sampai mata Bulan tidak sengaja menatap ke arah lantai, dimana ponselnya sudah menjadi bangkai yang tidak bisa lagi di gunakan.


"Huaaa, ponselku!"


"Ya ampun, kenapa jadi seperti ini sih hiks ...."


"I-ini 'kan ponsel baru aku beli sebulan yang lalu, menggunakan gaji pertamaku. Tapi, sekarang? Kenapa hancur hiks ...."


Bulan meneteskan air matanya sambil mengambilin kartu dan juga memory ponselnya, penuh kehati-hatian agar tidak terkena pecahan kaca.


Memang benar, itu ponsel yang baru dia beli bulan kemarin menggunakan gaji pertamanya. Akan tetapi, sudah tidak bisa lagi dia pakai untuk mengabadikan momen bersama anak dan suaminya.


Namun, mau bagaimana lagi. Ponsel yang terbilang cukup mahal bagi Bulan itu sudah menjadi barang rongsok yang tidak ada nilainya lagi.


Bulan merasa sedih akibat kecerobohannya yang tidak bisa memegang ponsel dengan benar, membuat ponsel itu terjatuh dan hancur tak tersisa.


"Sudah jangan nangis lagi, nanti saya gantikan yang lebih baik lagi. Sekarang mendingan kamu kerjakan tugasmu, masalah ponsel biar urusanku. Jangan lupa uruh OB untuk membersihkan semua ini!"


Dengan perasaan yang masih sedih, Bulan perlahan mencoba kembali mengerjakan tugasnya. Ya meskipun, pikirannya masih kemana-mana memikirkan tentang foto tersebut. Di tambah lagi ponselnya rusak begitu saja, rasanya Bulan ingin sekali berteriak yang kencang agar rasa sesak di dalam hatinya bisa keluar tanpa meningalkan rasa sedoh atas semua yang terjadi.


Berbeda sama ditempat lain, seseorang sedang tertawa senang ketika dia berhasil menakut-nakuti Bulan dan membuatnya hampir setres.


"Lihat saja Bulan, satu persatu akan gua hancurkan darimu. Kemudian akan gua buat lu menjadi orang yang penuh ketakutan. Sehingga lu akan dikira depresi dan pada akhirnya lu berada di tempat yang seharusnya, yaitu rumah sakit jiwa haha ...."


Itulah isi suara hati seseorang yang cukup jahat, dengan merasa puas setelah mengirimkan pesan tersebut.


...*...


...*...

__ADS_1


Di rumah, Samudra sedanh memandikan Raka yang baru saja dia jemput dari rumah Bi Edoh. Setelah selesai memandikan Raka, barulah Samudra mandi kemudian membuatkan makanan sebelum mereka menjemput Bulan di kantor.


"Ayah, Bulan lagi ngapain ya di kantol? Kok pelasaan Laka tidak enak, dali tadi Laka kepikilan Bunda mulu. Ayah bisa 'kan teleponin Bunda, Laka mau ngomong sebental aja. Janji!"


Raka berbicara di sela makan sorenya sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang sangat kecil. Samudra hanya bisa menatapnya dan kembali memakan makanannya.


"Nanti Ayah teleponin Bunda, sekaranh makan dulu. Enggak baik makan sambil berbicara, nanti keselek loh. Kalau soal itu insyaAllah, Bunda pasti baik-baik aja kok. Jadi, lebih baik Raka doain Bunda aja, supaya Bunda bisa selalu sehat dan di lancarkan rezekinya. Aamin ya Rabbal'alamin."


Samudra berusaha berpikir positif tentang istrinya, walau dihatinya pun tahu jika ikatan batin antara anak dan Ibu tidak bisa di pungkirin. Cuman Samudra tidak mau sampai memiliki pikiran negatif, karena itu sama saja seperti dia sedang mendoakan hal buruk terjadi pada istrinya.


"Aamin ya Allah, semoga Bunda Laka baik-baik aja. Dan kita bisa selalu belsama, Aamin Allahhuma Aamin."


Raka kembali melanjutkan makannya menggunakan tangannya sendiri. Semakin Raka bertumbuh besar maka semakin sering pula, Samudra mengajarkan hal-hal yang harus Raka lakukan sendiri. Bertujuan agar tidak membuat Raka tumbuh menjadi anak yang manja.


Setelah selesai makan, mereka pun langsung bersiap-siap untuk menjemput Bulan di kantor. Ya, meski beberapa kali nomor Bulan tidak aktif, Samudra masih tetap berpikir positif sampai dia menemukan jawabannya sendiri.


2 jam kurang perjalanan menuju kantor Bulan, akhirnya mereka sampai dan menunggu di tempat biasa sambil duduk manis, minum serta membeli cemilan di dekat warung tak jauh dari kantor Bulan.


Selang 15 menit, akhirnya Bulan keluar kantor dan berjalan ke arah warung. Dimana, Raka serta Samudra terlihat sangat bahagia karena tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.


Hanya saja, saat Samudra menanyakan masalah ponsel wajah Bulan langsung merubah sedih sambil menceritakan semuanya kejadian tadi. Walau tidak sedetail apa penyebab semua itu terjadi, karena Bulan takut sampai Samudra akan menjadi salah paham.


Dari situ, Samudra hanya bisa menasihati istrinya agar tidak berlarut-larut di dalam kesedihan. Bahkan Samudra rela memberikan ponselnya untuk Bulan gunakan demi kepentingan pekerjaan, supaya memudahkan berkomunikasi sampai Bulan bisa membeli ponselnya kembali.


Itulah Samudra, dia terlalu baik kepada anak dan juga istrinya. Dia rela mengesampingkan urusannya demi kebahagiaan istri serta anaknya, jadi mana tega Bulan mengkhianatinya. Atau membuat rumah tangga mereka hancur, karena saat ini cuman Samudra dan Rakalah yang Bulan punya.


Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah terindah yang Allah berikan padanya, walau dia harus menghadapi orang misterius itu di kemudian hari.


Mereka bertiga pulang dalam keadaan Raka yang sangat bahagia, karena perasannya yang dia rasakan tentang Bundanya, tidak benar. Begitu juga Bulan, dia selalu memeluk suaminya penuh cintai, lantaran Bulan tidak akan pernah mau melepaskannya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2