Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Menantu Idaman


__ADS_3

"Seriusan enggak mau ikut saya? Ya su--"


"Baiklah aku ikut, tapi jangan besar kepala. Semua ini aku lakukan demi Raka, aku kasian jika dia berada di luar kelamaan seperti ini akan membuat tubuh kecilnya terserang penyakit."


"Apa lagi, dia baru sembuh dan keluar dari rumah sakit 1 bulan lalu akibat terkena DBD. Jadi aku tidak mau, semua itu terulang kembali!"


Dzaky mendengarkan setiap curhatan hati seorang Ibu yang tidak ingin anaknya sampai merasakan sakit, merasa sedikit kasihan. Cuman kembali lagi, dari perkataan Bulan seakan-akan dia tahu jalan pikiran Dzaky saat ini.


...*...


...*...


30 menit berlalu, keadaan masih tetap sama. Sampai akhirnya, Dzaky memulai percakapan lebih dulu ketika melihat Bulan mulai tidak nyaman.


"Ngantuk? Udah tidur aja, kalau sudah sampai di jalan yang kamu tunjukkan nanti saya bangunin." ucap Dzaky memecah kesunyian.


"Tidak usah, saya tidak ngantuk. Cuman--"


"Cuman apa?" tanya Dzaky menoleh sekilas dan kembali menatap lurus ke arah jalan.


"Aku sedang mengkhawatirkan tentang kondisi Ibuku, semakin hari umurnya semakin menua. Ditambah dia juga sudah mulai sakit-sakitkan, maka dari itu suamiku tidak bisa menjemputku karena dia sedang menjaga Ibuku di rumah."


Mendengar curhatan Bulan, membuat Dzaky langsung membayangkan betapa sempurnanya pria yang sudah menjadi suami Bulan saat ini.


Berbeda dengan Dzaky, dia merasa bahwa ketika kedua orang tuanya sakit, malah bersikap biasa aja dan lebih mementingkan dirinya sendiri.


"Pantasan, Raka bisa tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas dan juga hidupnya seperti terarah dengan benar. Ternyata, sosok Ayahnya memang sangat luar biasa."


"Mungkin, jika aku yang menjadi suami Bulan. Sudah di pastikan, aku tidak akan bisa seperti suaminya yang rela memilih untuk mengurusi mertuanya dari pada menjemput anak istrinya diluar rumah. Jelas-jelas dia tahu, betapa bahayanya malam hari bagi orang yang di cintainya."


"Namun, dia mengesampingkan pikiran negatif itu supaya dia bisa merawat mertuanya. Benar-benar menantu idaman, sumpah sosoknya membuatku malah menjadi penasaran. Apa nanti aku bisa melihat wajahnya?"


"Arrrghh, kenapa aku jadi kepo sama suaminya sih. Apa pula ini Dzaky, astaga. Ada apa dengan perasaanmu, kenapa jadi kacau begini!


"Ingat, mau siapa dia atau bagaimana pun wajahnya itu bukan urusanmu. Jelas-jelas dia udah menjadi milik orang lain, jadi tidak bisa lagi kau ambil alih. Paham!"


Dzaky berbicara di dalam hatinya sambil sedikit melamun, hingga tidak sadar bahwa Dzaky hampir saja menabrak sesuatu jika Bulan tidak memberitahukannya.

__ADS_1


"Tuan, awas ada kucing!" pekik Bulan, sambil menunjuk ke arah depan.


"Astaga!" sahut Dzaky, langsung mengerem mendadak membuat mobilnya terhenti.


Ciiitt!


Seketika terdengar suara gesekan ban mobil Dzaky yang mengenai aspal. Sampai-sampai Raka terbangun dalam keadaan terkejut dan menangis sesegukan.


"Hiks, Bu-bunda ....."


"Hustt, hustt, husst. Sayangnya Bunda enggak boleh nangis ya, maafin Bunda ya. Jika suara Bunda mengagetkan Raka."


Bulan memeluk erat Raka sambil mengusap punggungnya, sesekali menciumi pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


Bulan tahu, jika dia bersalah. Bagaimana tidak, suara nyaring Bulan sampai berhasil membuat Raka seolah-olah sedang bermimpi buruk.


Tahu bukan, seperti apa rasanya jika sedang tertidur pulas lalu terbangun akibat kaget. Pasti jantung berdebar sangat kencang, hingga membuat perasaan Raka menjadi tidak tenang.


"Raka maafkan Om Dzaky ya, Om kurang hati-hati. Karena Om juga kamu kebangun sekali lagi maaf ya, Om janji akan lebih hati-hati lagi menyetir mobilnya." ucap Dzaky, raut wajahnya begitu sedih saat mendengar isak tangis Raka yang sangat sesak.


"Makannya Tuan, lain kali kalau sedang menyetir itu jangan sambil melamun. Untung aja kita semua selamat termasuk kucing itu, jika sampai dia tertabrak bagaimana nasib kita?"


Bulan menatap tajam penuh amarah ke arah Dzaky, sambil terus berusaha menenangkan anaknya yang masih terkejut dan juga sedikit terisak.


Raka menangis dengan keadaan yang tidak sadar, sampai akhirnya dia yang sudah bisa tenang kembali tertidur didalam pelukan Bundanya.


"Ma-maafkan saya, saya tidak sengaja. Saya janji akan lebih berhati-hati lagi, tadi saya kurang fokus aja karena jalanan sepi hingga membuat saya sedikit mengantuk." jawab Dzaky dengan alasan yang masuk logika.


"Kalau Tuan ngantuk berhenti di pinggir cari minuman, entah kopi atau apa kek yang membuat mata Tuan lembali segar!" celetuk Bulan, nadanya semakin sewot.


"Ya-ya maaflah, saya kan udah minta maaf. Ya udah kota cari warung dulu atau alfamart supaya aku bisa membeli sesuatu yang membuatku kembali melek." sahut Dzaky, dengan segala kepura-puraannya.


Bulan hanya melirik kesal, dan kembali fokus untuk menenangkan anaknya. Sementara Dzaky selalu menggerutuki kebo*dohannya sendiri sambil melajukan mobilnya kembali.


Dimana Dzaky mencari sebuah Cafe atau warung hanya untuk sekedar membeli Coffe serta minuman untuk Bulan, supaya terlihat jika dia benar-benar mengantuk.


Padahal itu semua hanya sekedar alasan agar Bulan tidak semakin menintrogasi dirinya. Jika Dzaky terlalu jujur, maka bisa dipastikan Bulan akan semakin menanyakan secara detail penyebab Dzaky melamun.

__ADS_1


Tak jauh dari sana, Dzaky menemukan sebuah warung. Kemudian dia keluar dari mobilnya untuk membeli minuman yang berada di kulkas depan warung.


Dzaky mengambil Coffe Good Day 2 botol, lalu mengambil aqua dan juga teh pucuk. Semua itu merupakan minuman yang cukup dingin, berharap semoga dengan meminum minuman ini bisa membuat suasana yang tadinya tegang menjadi cair.


Setelah balik ke dalam mobil, Dzaky mengambil 2 botol Coffe tersebut lalu memberikan plastik kecil itu pada Bulan. Lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


Bulan hanya bisa menerima dan mengatakan terima kasih, tak lupa dia memberikan kabar pada suaminya jika saat ini dia sedang berada di jalan pulang menuju rumah.


Kurang lebih 1 jam setengah mereka sampai di halaman rumah Bulan, perlahan dia mencoba untuk menggendong anaknya sambil keluar dan membawa tas tentengannya.


"Perlu saya bantu?" ucap Dzaky disaat melihat Bulan sedikit kerepotan.


"Tidak usah, Tuan. Terima kasih banyak atas tumpangannya, saya masuk dulu. Kasian Raka, jangan lupa Tuan pulangnya hati-hati dan jangan melamun lagi!"


Bulan berbicara dengan tatapan yang masih kesal, lalu dia pun berbalik dan pergi lalu meninggalkan Dzaky. Dimana dia masih berdiri di depan mobilnya sambil matanya terus menatap ke arah Bulan yang semakin menjauh.


"A-apa yang dia bilang tadi? A-apakah itu bentuk perhatian darinya?"


"Hyaakk, tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini, huaa, Mamah tolong Dzaky. Dzaky tidak mau jadi pelistor!"


Dzaky berteriak dari dalam hatinya, dan langsung berlari ke arah mobilnya. Ketika Dzaky mulai melajukan mobilnya, Samudra keluar rumah lalu mengambil alih Raka dari dalam gendongan istrinya.


"Dimana Bosmu, Dek? Katanya kamu diantar olehnya, kok tidak ada?" tanya Samudra yang sambil melihat ke arah jalan.


"Baru aja dia pergi, Mas. Itu lihat saja, mobilnya sudah menjauh. Mungkin buru-buru kali, soalnya dia bilang mau nyelesain tugas buat besok. Lagi pula buat apa juga dia mampir, aku tidak mau jika tetangga lihat malah membuat kita menjadi salah paham."


"Suutt, Sayang enggak boleh berbicara seperti itu. Mau bagaimana pun dia, dia yang udah menolongmu dengan Raka. Apa lagi dia juga merupaan atasanmu di kantor. Jadi, kamu harus menghargai dia apapun keadaannya."


"Mas, tidak suka kamu berbicara seperti orang yang tidak tahu terima kasih. Ingat, Dek. Omongan orang jangan terlalu kita tanggapi, percuma. Itu malah akan membuat kita selalu berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kita ambil yang positifnya dan buang yang negatifnya."


"Toh, Mas juga percaya jika istri Mas yang cantik ini tidak akan mungkin meninggalkan Mas dan memilih pria yang lebih segalanya. Karena kamu, pasti tidak akan pernah mau untuk menghancurkan impian Pangeran kecil kita ini."


Samudra tersenyum, menatap istrinya. Bulan benar-benar merasa beruntung dan langsung memeluk suaminya.


Entah mengapa mendengar perkataan suaminya itu, berhasil membuat hati Bulan terasa begitu tentram.


Selang beberapa detik, mereka pun masuk ke dalam rumah. Awalnya Bulan ingin sekali melihat kondisi Ibunya, cuman Samudra menahannya karena mertuanya itu baru bisa tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Jadi, mau tidak mau Bulan pergi ke kamar bersama suami dan anaknya. Tak lupa dia juga membersihkan tubuhnya, kemudian beristirahat karena hari sudah sangat larut malam.


...***Bersambung***...


__ADS_2