Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Keadaan Samudra


__ADS_3

Dzaky tersenyum melihat Bulan dan Raka sudah kembali berbaikan, walaupun hatinya sedikit teriris ketika Bulan dan Raka sangat mencintai sosok Samudra.


Begitu juga asisten Dzaky, dia pun tersenyum melihat Raka. Lalu, dia di minta oleh Dzaky untuk mengurus semua biaya rumah sakit saat suster datang untuk meminta mereka menyelesaikan administrasi.


Opa Jerome serta Oma Dena tersenyum bahagia ketika melihat pemandangan itu. Hati mereka pun mterasa lega, membuat Oma Dena pun ikut memeluk Bulan dan Raka.


Sementara Opa Jerome hanya mengelus kepala cucunya sambil tersenyum. Mereka benar-benar bangga dengan sosok Samudra yang telah berhasil mendidik anak serta istrinya, untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.


...*...


...*...


Selang beberapa menit saat Bulan dan Raka berbaikan, akhirnya seorang dokter bersama asistennya keluar dari ruangan UGD dalam keadaan yang cukup lesu.


Wajah sang dokter pun terlihat sangat sedih, akan tetapi semuanya berusaha untuk berpikir positif bila keadaan Samudra akan baik-baik saja, sesuai sama harapan mereka semua.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Bulan, penuh kekhawatiran yang cukup mendalam.


"Ayah Laka pasti sembuh, ya 'kan doktel?" sahut Raka, berdiri di samping Bulan.


"Katakan apa yang terjadi dengan anak saya, Dok? Apakah anak saya punya penyakit dalam?" sambung Oma Dena, cemas.


"Tuan dan Nyonya semuanya saya harap kalian tenang dulu ya, saya akan menjelaskan semuanya pelan-pelan. Saya harap kalian semua bisa menerima kenyataan ini, dengan ikhlas dan juga sabar."


Perkataan sang dokter, benar-benar berhasil membuat perasaan mereka bercampur aduk. Dimana mereka sudah berusaha berpikir positif tentang Samudra, akan tetapi kode yang diberikan malah membuat perasaan mereka kembali menjadi pesimis.

__ADS_1


"Apa maksud dokter mengatakan semua itu, hahh! Sahabat saya itu, orang yang sangat kuat. Tidak mungkin kalau dia sampai kenapa-kenapa, paham!" tegas Dzaky, suaranya cukup membuat Raka ketakutan dan langsung memeluk pinggang Bulan.


"Sabar, Tuan. Suaramu itu membuat Raka takut, lebih baik kita dengarkan penjelasan dokter dulu. Aku yakin, Tuan Samudra baik-baik aja." ucap asistennya, berusaha keras menenangkan atasannya.


Dzaky yang sudah kepalang di penuhi dengan rasa kesal dengan perkataan sang dokter, membuat darahnya sedikit mendidih. Hanya saja, ketika melihat ketakutan di wajah Raka membuat Dzaky mulai mengontrol semuanya.


Dzaky takut bila emosinya membuat Raka memiliki trauma dengan suara-suara keras, karena Dzaky tahu. Pasti selama ini Samudra dan Bulan mendidik Raka dengan cara baik, tanpa adanya bentakan.


"Ra-raka ma-maafkan Om, Om udah buat Raka takut. Maafin Om, ya. Om janji tidak marah-marah lagi, tapi Raka mau 'kan maafin Om. Please!"


Dzaky berjongkok di hadapan Raka sambil memberikan jari kelingkingnya. Semua itu membuat asistennya benar-benar terkejut bukan main, ini kejadian yang cukup langka kalau Dzaky mau seakrab ini dengan anak kecil.


"Sumpah, semua ini jauh dari sifat Tuan Dzaky yang biasanya. Selama ini Tuan Dzaky selalu menjaga jarak dengan anak kecil, tetapi kali ini berbeda. Dia terlihat sangat dekat sama Raka, bahkan menyeyangi Raka walaupun baru pertama kali bertemu. Apa semua ini karena cintanya kepada Bulan, sehingga Tuan Dzaky bisa seluluh ini sama anak kecil?"


"Arrgh, apaan sih. Kenapa aku malah berpikir seperti itu! Harusnya aku bahagia dong, kalau Tuan Dzaky sudah menyukai anak-anak. Jadi, kemungkinan besar Tuan Dzaky sebentar lagi akan mendapatkan jodoh. Yang jelas bukan sama Bulan, ya. Pokoknya jauh-jauh deh, jangan sampai Tuan mempunyai pikiran seperti itu. Kasian juga karirnya yang baru melesat, pasti akan langsung down bila ada pemberitaan miring mengenai dirinya."


Setelah itu, sang dokter pun mulai menjelaskan tentang keadaan Samudra saat ini. Pertama-tama mereka semua terdiam menyimak informasi dari sang dokter.


Namun, lama kelamaan saat tahu kondisi Samudra yang sebenarnya dan apa yang terjadi padanya. Disitulah hati mereka bagaikan tersambar petir yang cukup keras, hingga berhasil membuat semuanya syok.


Mereka tidak menyangka bila Samudra bisa menghadapi cobaan yang sangat berat di dalam hidupnya.


"Sebelumnya saya minta maaf, saat ini keadaan Tuan Samudra sedang dalam kondisi kritis. Semua itu karena Tuan Samudra mengalami kerusakan pada hatinya. Dimana dia harus segera menerima transplatasi hati atau bisa di sebut donor hati, jika tidak. Maka saya tidak bisa memastikan berapa lama lagi Tuan Samudra bisa bertahan hidup."


Degh!

__ADS_1


Lagi-lagi penyakit berbahaya itu membuat mereka terkejut. Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita oleh Samudra, lantaran selama ini Samudra terlihat baik-baik saja di depan mereka semua.


Namun, tanpa mereka sadari Samudra sudah lama merasakan gejalanya. Akan tetapi dia memilih untuk tetap diam, karena bagi Samudra itu hanyalah sakit bisa.


Cuman pada akhirnya, penyakit yang dikatakan penyakit biasa itu malah bersarang hingga membahayakannya nyawanya sendiri.


Itulah pentingnya seseorang untuk menjaga kesehatannya, sedikit egois dengan kesehatan itu sangat penting. Dari pada akhirnya malah menjadi penyakit yang berbahaya di kemudian harinya.


Penting juga untuk semua orang, bila beberapa kali merasakan rasa sakit yang membuat tubuhnya tidak nyaman. Segera di periksa, karena mencegah itu jauh lebih baik dari pada mengobati. Sebab, sehat itu harganya sangat mahal dan tidak bisa di bayar oleh apapun.


Bulan yang sudah lemas menerima kabar mengenai suaminya, langsung terjatuh di lantai membuat semuanya menjadi panik.


Dengan cepat, Dzaky serta asistennya langsung membantu untuk membawa Bulan ke ruangan lain atas perintah dokter. Supaya dokter yang lain, bisa segera memeriksakan keadaan Bulan. Tak lupa Raka dan juga Oma Dena pun ikut bersama mereka.


Berbeda dengan Opa Jerome, dia tetap setia menunggu anaknya sambil mencari jalan keluar. Bagaimana pun caranya, anaknya harus bisa sembuh walaupun dia harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak.


"Te-terus bagaimana kondisi anak saya, Dok? Apa yang harus saya lakukan untuk menolongnya? Apakah tidak ada pengobatan cara lain yang lebih cepat, karena saya tahu. Menemukan donor hati itu tidak mudah, banyak prosedur yang harus di lewati. Sampai akhirnya seseorang di nyatakan cocok untuk menjadi pendonor, dan itu pun pasti masih harus melewati masa uji coba. Apakah hatinya berfungsi dengan baik di tubuh anak saya atau tidak!"


"Maka dari itu, saya mohon. Lakukan semua pengobatan untuk menyelamatkan nyawa anak saya. Saya janji, berapa pun pengobatannya saya akan bayar. Jadi, please! Saya mohon tolong bantu anak saya untuk sembuh, saya tidak tega melihat cucu serta istrinya yang sangat mengharapkan kesembuhan anak saya. Jadi, sekali lagi saya minta tolong. Selamatkan anak saya, bagaimana pun caranya!"


Sang dokter pun mengangguk, dia kembali memberikan pengertian kepada Opa Jerome mengenai anaknya. Bahkan tanpa di suruh pun, sang dokter akan tetap membantu menolong Samudra bersama dokter lainnya. Karena itu sudah menjadi pekerjaan mereka yang sangat mulia.


Setelah di rasa Opa Jerome mulai mengerti, sang dokter beserta asistennya kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengecek kembali ke adaan Samudra yang masih kritis.


Satu sisi Opa Jerome sangat mengkhawatirkan kondisi menantunya, cuman disisi lain dia juga tidak bisa meninggalkan anaknya. Jadi, mau tidak mau dia harus tetap berada di sana untuk berjaga-jaga sambil duduk menunggu kabar selanjutnya dari sang dokter yang menangani anak sematawayangnya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2