
"Ini semua gala-gala, Bunda! Coba kalau Bunda enggak ninggalin Ayah, pasti Ayah Laka tidak akan sakit. Laka benci Bunda, Laka benci hiks ...."
Raka mengamuk di dalam pelukan Oma Dena, yang membuatnya sedikit kewalahan untuk mengontrol setiap gerakan tubuh Raka yang begitu lincah.
Sorotan mata Raka terlihat bahwa dia sangat marah kepada Bundanya, sebab menurut Raka ini semua terjadi akibat Bulan yang ingin membawanya pergi dari Samudra.
Padahal tanpa Raka ketahui, Ayahnya seperti itu karena ada sesuatu yang bersarang di dalam tubuhnya. Hanya saja semua terjadi, tepat ketika semua misi Samudra terbongkar sebelum waktunya tiba.
Kurang lebih 5 menit, mereka semua sampai di rumah sakit besar. Asisten Dzaky langsung berlari memanggil perawat untuk membawakan bangkar.
Tanpa menunggu lama, Dzaky dan asistennya di bantu oleh perawat lainnya untuk menaruh Samudra diatas bangkar. Kemudian mereka mendorongnya dengan cepat ke ruang UGD.
Begitu juga dengan Raka, Oma Dena dan juga Opa Jerome. Mereka pun berlari mengikuti arah kemana Samudra di bawa.
Sesampainya di depan ruangan UGD, Samudra langsung di tangani oleh beberapa dokter ahli untuk mengecek kondisi tubuhnya. Sementara Bulan, harus menangis di dalam pelukan Oma Dena ketika dia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam menemani suaminya.
"Maaf, Nyonya. Nyonya tidak boleh masuk ke dalam, biarkan dokter yang akan menanganinya. Jika ada kabar, kami akan segera memberitahunya. Permisi!"
Suster tersebut langsung menutup pintu, saat Oma Dena sudah memeluk Bulan dari arah belakang.
"Sabar, Sayang. Percayakan semuanya sama Allah, bantu dokter yang menyelamatkan Samudra dengan doa. Aku yakin, anakku akan kembali membuka matanya. Ingat! Dia adalah pria yang sangat kuat, pria yang hebat dan pria yang tidak pernah mengeluh sedikitpun!"
"Jadi, kamu sebagai istrinya harus bisa lebih kuat darinya. Lihat anakmu, apa kamu tidak kasian dengan Raka. Dia sudah beberapa kali muntah di mobil hanya karena menangisi Ayahnya, sekarang waktunya kamu harus bangkit. Kuatkan dirimu, supaya kamu bisa menyemangati anak dan juga suamimu. Jangan seperti ini, Samudra pasti tidak akan menyukainya, Sayang."
Oma Dena selalu berusaha untuk membuat Bulan kuat, meski hatinya sendiri pun sangat hancur ketika melihat anaknya sudah tidak berdaya.
Namun, sebagai seorang Ibu. Oma Dena harus bisa kuat, agar menantu dan juga cucu serta anaknya bisa kuat menghadapi semua ujian ini.
__ADS_1
"Hiks, a-aku mau masuk ke dalam. Izinkan aku masuk, Sus. Aku mohon, kasihan suamiku di dalam pasti dia sendirian. Dia butuh aku di sampingnya, Sus. Jadi, aku minta tolong buka pintunya, buka hiks ...."
Bulan menggedor pintu berulang kali dalam keadaan yang sangat lemas, bahkan hampir saja Bulan pingsan dan terjatuh bersama Oma Dena bila Dzaky tidak siap untuk membantunya.
Perlahan Oma Dena memeluk Bulan, dan membawanya untuk duduk di kursi panjang dengan sedikit bantuan dari Dzaky. Yang mana Opa Jerome memangku Raka yang saat ini masih menangis sesegukan dalam keadaan mulai melemah.
"Maafkan Samudra, Nak. Maafkan dia, dia tidak salah. Semua ini karena kami, kami yang sudah membuat Samudra harus melakukan semua ini. Jadi, Mamah mohon jangan salahkan Samudra hiks ...."
"Kalian kenapa bohongin aku, apa alasannya? Setahuku Mas Sam tidak pernah berbohong soal apapun sama aku, cuman kenapa kali ini dia membohongiku soal kalian? Dan kenapa juga kalian mau dianggap sebagai Om dan Tantenya. Ini semua sebenarnya ada apa sih, konspirasi apa yang sedang kalian lakukan padaku dan juga Raka. Kenapa kalian tega, apa salah kami hiks ...."
Bulan menangis menatap wajah Oma Dena dengan tatapan yang masih penuh kekecewaan, dia benar-benar bingung. Ada apa sama semua ini, kejadian yang bagaimana yang bisa membuat Samudra tidak mau mengakui mereka. Sehingga mereka harus berpura-pura menjadi Om dan Tantenya, hanya sekedar untuk bisa dekat sama Raka.
Oma Dena terdiam membisu menatap suaminya, dia tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan semua ini. Apa lagi mereka juga tidak ada hak untuk menceritakannya, lantaran semua ini sesuai atas permintaan Samudra yang ingin menjelaskannya sendiri pada Bulan diwaktu yang tepat.
Namun, tanpa di sengaja Allah malah mempercepat agar Bulan bisa mengetahui semuanya sampai membuatnya begitu syok.
Sementara Dzaky dan asistennya hanya bisa terdiam berdiri di dekat pintu UGD sambil mendengarkan ada kisah apa dibalik semua ini.
Dzaky yang memang sedikit tahu tentang Samudra pun, sangat terkejut ketika mendengar Bulan memanggil kedua mertuanya dengan panggilan berbeda dari biasanya.
Disitulah yang membuat Dzaky benar-benar merasa bersalah. Dia takut karena ulahnya bisa menghancurkan semua yang sudah Samudra susun.
Entah itu apa, yang jelas Dzaky baru ingat. Bila semua ini pasti ada kaitannya sama misi Samudra yang hampir saja selesai.
Hanya saja, baru juga Oma Dena ingin membuka mulutnya. Kembali di kejutkan oleh perkataan Raka yang sangat menyakitkan hati Bulan.
Sebenarnya Raka terdiam bukan berarti dia tidak mendengar semua perkataan mereka, cuman Raka sedikit bingung dan malah salah mengartikan kalau Samudra sakit di sebabkan oleh Bulan.
__ADS_1
"Cukup, Bunda! Jangan malahin Oma sama Opa, semua ini yang salah adalah Bunda!"
"Coba aja tadi Bunda tidak menarik tangan Laka dan membawa Laka pelgi dari Ayah. Pasti Ayah tidak akan sakit sepelti ini, Ayah pasti sehat. Jadi, semua ini salah Bunda. Bunda yang udah buat Ayah sakit, Bunda yang jahat! Bunda yang udah tega buat Ayah sakit, pokoknya Laka benci sama Bunda! Laka benci, arrrrghhh ...."
Degh!
Kata-kata Raka sangat menyayat hati Bulan, membuat pikiran Bulan semakin tidak karuan. Apa yang dikatakan Raka pun tidak salah, bila Bulan mau mendengarkan penjelasan Samudra tidak akan kejadiannya seperti ini.
Disitulah Bulan terdiam membisu, dia pun menerima semua perkataan anaknya tanpa membantahnya. Bagi Bulan, ini memang salahnya. Cuman yang membuat Bulan semakin sakit hati adalah, kata-kata kebencian yang dilontarkan dari anak kesayangannya.
"Raka, stop Sayang!"
"Raka tidak boleh berbicara seperti itu sama Bunda, Bundamu itu tidak salah. Ayahmu sakit karena penyakit, bukan karena Bundamu. Kalau sampai Ayahmu dengar, pasti Ayah akan sangat sedih melihat anak kesayangannya membenci Bundanya sendiri."
"Raka lupa, Allah itu tidak suka sama orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh dendam. Allah pasti marah, kalau ada seorang anak yang membenci orang tuanya sendiri. Apa Raka mau Allah marah? Terus kalau Allah udah marah, gimana caranya Raka bisa membawa kita ke rumahnya ke Mekkah, hem? Raka lupakah sama impian Raka itu?"
Opa Jerome berusaha keras untuk membuat Raka mengerti dengan bahasa yang mudah dia pahami, sebab Opa Jerome sangat tahu bagaimana hancurnya Bulan saat ini. Ketika anaknya sendiri membencinya, cuman karena salah paham tentang dirinya.
Bulan hanya bisa menangis di dalam pelukan Oma Dena, tanpa berani untuk menatap anaknya yang sedang marah.
"Tapi, Opa. Ayah tadi baik-baik aja, terus pas Bunda ngajak Laka pelgi. Disitu Ayah langsung sakit, belalti itu salah Bunda. Bunda yang udah buat Ayah sakit, jadi Bunda yang halus beltanggung jawab. Bunda halus sembuhin Ayah balu Laka mau maapin Bunda. Pokonya Laka mau Ayah sembuh hiks ...."
Tangisan Raka yang terdengar sangat pilu, lagi-lagi menambah luka di dalam hati Bulan. Dia tidak menyangka, sebegitu sayangnya Raka sama Ayahnya sampai dia rela menyalahkan Bundanya sendiri.
Lantas, bagaimana bila nanti Raka harus tahu jika Ayahnya tidak bisa di selamatkan? Apakah selamanya Raka akan membenci Bundanya, atau Bulan bisa menghadapi kebencian Raka seorang diri tanpa adanya Samudra?
Entahlah, pikiran Bulan benar-benar sudah tidak bisa di jelaskan lagi. Rasanya dia ingin sekali memeluk suaminya dan mengatakan, bahwa dia tidak akan pernah kuat. Jika harus dibenci oleh anaknya sendiri, jikalau Samudra harus pergi akibat penyakit yang tidak di ketahuinya.
__ADS_1
...***Bersambung***...