
Wajah tegang, khawatir dan juga gelisah mulai menyelimuti Samudra. Entah mengapa Samudra harus mengusahakan bagaimana caranya di saat seperti ini, dia harus berada di samping istrinya.
Saat sudah sampai di rumah sakit, Samudra terus berlari menuju ruangan persalinan yang sudah di beritahu oleh keluarganya.
"Mah, Pah. Bagaimana keadaan Bulan? Apakah dia sudah melahirkan?" tanya Samudra, panik.
"Belum, Bulan masih pembukaan 6. Kamu masuk saja, tadi dokter sudah mewanti-wanti kalau kamu datang langsung suruh masuk. Sebab, Bulan sangat membutuhkan kehadiran kamu." jawab Oma Dena.
"Terus dimana, Raka? Kenapa dia tidak ikut sama Mamah dan Papah?" tanya Samudra, kebingungan.
"Tenang aja, Raka lagi di ajak Grandma sama Grandpanya untuk cari udara segar di depan. Supaya dia tidak terus menangis mengingat Bundanya yang dari tadi kesakitan." sahut Opa Jerome.
"Ya sudah, Sam. Masuk dulu ya," ucap Samudra, tergesa-gesa memasuki ruangan persalinan.
Oma Dena dan Opa Jerome hanya bisa duduk di depan ruang tunggu, menantikan kelahiran cucunya yang masih dalam suasana tegang.
...*...
...*...
...*...
Di dalam ruangan bersalin, Bulan sudah dalam persiapan untuk menyambut kelahiran anak ke-2. Samudra datang langsung menggenggam tangan istrinya dan mengusap kepalanya.
"Maafin, Mas ya, Dek. Mas terlambat. Gimana keadaanmu?" tanya Samudra penuh kecemasan yang tidak bisa di jelaskan.
__ADS_1
"Huhh, huhh ... A-aku baik-baik saja, Mas. Ra-rasanya sakit banget, hiks ...."
Bulan menangis di dalam rangkulan Samudra dengan perasaan campur aduk. Satu sisi dia bahagia sebentar lagi akan bertemu anak ke-2, tetapi di sisi lain rasa sakit yang di berikan benar-benar luar biasa.
"Sabar ya, Sayang. Insyaallah kamu pasti bisa, ingat! Waktu itu kamu berhasil melahirkan Raka, meskipun kamu selalu mengeluh rasa sakit. Sekarang cobalah untuk tetap tenang, tarik napasmu pelan-pelan. Kemudian ikuti apa yang dokter sarankan."
Samudra terus berusaha mencoba untuk memberikan kekuatan, semangat dan juga nasihat. Walau hatinya sendiri tidak tenang, hanya saja Samudra tidak ingin menunjukannya kepada istrinya.
Apa lagi dalam kondisi seperti ini, Samudra harus bisa memberikan suport kepada Bulan agar dia tetap semangat melewati semua proses tersebut.
Dan, benar saja. Dalam hitungan beberapa menit, Bulan sudah pembukaan terakhir. Kini saatnya sang dokter dan beberapa suster bergegas menyiapkan semua keperluan untuk menyambut sang Baby.
"Huhh, huhh ... Sa-sakit, Mas. Sakit hiks ...." keluh Bulan yang terus menangis. Samudra berusaha untuk mengelap keringat istrinya sambil beberapa kali mencium keningnya.
"Istigfar, Sayang. Banyak-banyaklah berzikir, sebab pertolongan Allah jauh lebih besar dari pada rasa sakit yang kamu rasakan saat ini. Berserah dirilah, kepada Sang Pencipta. Supaya semuanya di permudah oleh-Nya. Semangat istriku, Mas yakin kamu pasti bisa, bismillah. Oke?"
"Tuan, tolong bantu saya ya. Berikan semangat kepada Nyonya. Sebab, jalan bayi sudah mulai terbuka. Sekarang dengarkan saya baik-baik, Nyonya tarik napas dalam-dalam. Setelah saya hitung sampai 3, Nyonya bantu dorong Baby dari dalam ya. Tapi, ingat jangan mengangkat bokong, karena itu akan membuat kesobekan yang cukup besar. Mengerti?"
Sang dokter tersenyum menatap Bulan sambil sesekali melihat ke arah jalan bayi untuk memastikan bila waktunya sudah tiba.
Bulan dan Samudra saling menatap satu sama lain, kemudian mengangguk dan kembali menatap ke arah depan.
Setelah itu sang dokter memberikan aba-aba yang langsung Bulan ikuti sesuai perintahnya. Hanya dengan 3 kali dorongan, sang Baby pun berhasil lahir tanpa kekurangan satu apapun.
Oeekk ... Oeekk ... Oeekk ...
__ADS_1
Suara tangisan bayi terdengar sangat keras, membuat Samudra dan Bulan merasa terharu. Mereka pun berpelukan satu sama lain, untuk menumpahkan rasa kebahagiaan yang tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata.
"Alhamdulillah, anak ke-2 Tuan dan Nyonya adalah perempuan. Dia sangat cantik, bersih dan juga mulus sama seperti Ibunya."
Sang dokter sedikit mengangkat sang Baby untuk menunjukkan kepada kedua orang tuanya. Samudra dan Bulan merasa sangat terharu saat melihat wajah anaknya.
Akan tetapi sang anak harus di bersihkan lebih dulu, baru akan di berikan kepada kedua orang tuanya. Samudra tidak henti-hentinya terus mencium serta memeluk istrinya yang masih dalam keadaan basah kuyub akibat keringat saat melahirkan anaknya.
Setelah itu, Samudra di minta oleh sang dokter untuk keluar dari ruangan lebih dulu. Semua itu karena sang dokter ingin membersihkan tubuh Bulan serta sedikit menjahit jalan keluar bayi yang sobek akibat dorongan cukup kuat.
Samudra keluar dari ruagan dalam keadaan yang sangat bahagia. Dia langsung memeluk Oma Dena serta Opa Jerome secara bergantian, mereka tidak menyangka bila cucu keduanya adalah perempuan.
Dari gerak-gerik Bulan ketika hamil, semua mengarah ke anak laki-laki. Akan tetapi saat waktunya tiba, mereka malah mendapatkan cucu yang sepasang. Yaitu laki-laki dan juga permpuan.
Raka yang baru saja datang bersama Tya dan juga Dipo pun merasa senang, akhirnya cucu mereka telah lahir dalam keadaan selamat tanpa kekurangan satu apapun.
"Horeee, Kakak dapat Dedek perempuan. Yeeeyy, Kakak senang banget. Akhirnya doa Kakak di kabulkan sama Allah, Kakak janji Kakak tidak akan membuat Dedek menangis. Dan Kakak akan bantu Bunda buat jaga Dedek pas Ayah lagi kerja."
Sorakan bahagia Raka benar-benar membuat semuanya tersenyum. Samudra langsung menggendong anaknya dan menciumnya berulang kali.
Dia tidak menyangka bila Raka telah tumbuh menjadi anak yang baik dan juga sangat mengerti keadaan kedua orang tuanya.
Sama halnya kedua orang tua Dzaky dan juga Samudra, mereka juga saling mengucapkan satu sama lain atas kelahiran cucu mereka.
Tidak lupa mereka pun berpelukan satu sama lain, meskipun itu bukan anak dari Dzaky. Akan tetapi Samudra sudah menjadi bagian dari keluarganya. Jadi, apapun itu mereka tetap adalah satu keluarga yang tidak bisa di pisahkan.
__ADS_1
...***Bersambung***...