Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Impi Buyuk


__ADS_3

Samudra tersenyum menasihati istrinya yang wajah Bulan yang sudah memerah menahan hasrat yang belum bisa tersalurkan. Sama halnya seperti Samudra, cuman dia berusaha keras menahan juniornya yang sudah mengeras sambil menutupinya menggunakan bantal.


Saat Bulan sudah memakai pakaiannya dan keadaan mereka telah kembali normal, perlahan Bulan bangkit kemudian berjalan membukakan pintunya. Betapa terkejutnya Bulan saat melihat seseorang menangis di hadapannya.


"Assalammuaikum, Nak. Ma-maaf ya malam-malam Ibu ganggu tidur kalian."


"Waalaikumsalam, ya gapapa Bu." sahut Samudra yang duduk selonjoran diatas kasur untuk menutupi sesuatu yang menonjol dari sarungnya.


"Uluhh, uluhh anak Bunda kenapa menangis. Sayang? Ada apa, hem?" tanya Bulan yang sudah berjongkok langsung memeluk anaknya.


"Loh, Raka kenapa. Bu? Bukannya tadi baik-baik saja, kok sekarang nangis."


"Ini loh Raka dari tadi nangis mulu, katanya mau tidur sama Bundanya. Padahal Ibu sudah mencoba untuk membujuknya, cuman mau gimana lagi. Dia masih tetap nangis, soalnya tadi sempat kaget pas bangun tidur. Jadi langsung nyariin Bunda sama Ayahnya." jelas Ibu Dara membuat Samudra dan Bulan langsung paham.


Ya memang begitu, Raka ketika tidur dan terbangun dia akan menyari Ibunya terlebih dahulu. Cuman jika sudah lama tidurnya, dan kebangun dipagi hari Raka tidak akan secengeng ini.


"Hiks, La-laka tatut. Adi Laka impi buyuk, Bunda cama Ayah ninggalin Laka, huaa hiks ...."


Degh!


Perkataan anak kecil itu berhasil membuat semuanya terkejut, begitu juga Ibu Dara. Karena saat di tanyain Raka tidak mau menjawabnya, tetapi sekarang Raka sudah mengatakan apa yang dia rasakan.


Perasaan Bulan yang memeluk anaknya menjadi tidak karuan, karena beberapa jam lalu Bulan sempat ingin berpisah dengan Samudra. Yang untungnya Samudra tidak menggubrisnya, sehingga hubungan mereka kembali membaik.


"Suttt, Sayang. Jagoan Bunda, hei. Sini lihat Bunda, bukannya Bunda selalu bilang sama Raka kalau tiba-tiba Raka mimpi buruk, Raka harus banyak-banyak istigfar. Habis itu Raka minum air, terus Raka baca doa lagi minta sama Allah supaya Raka dikasih mimpi yang indah. Baru deh Raka bisa tidur lagi, bukan menangis seperti ini."


"Kalau Raka nangis, itu tidak membuat Raka menjadi tenang. Yang ada perasaan dan pikiran Raka akan semakin tidak tenang, bukannya Raka sendiri yang bilang kalau kita harus sama-sama terus. Hem?"

__ADS_1


Penjelasan Bulan membuat Raka terdiam, meski masih sedikit terisak. Kemudian Bulan menghapus air mata Raka dengan perlahan dan menciumnya.


Sementara Samudra yang melihat itu merasa sedikit tergores, ketika anaknya bisa merasakan apa yang Samudra rasakan jika tadi sampai mengiyakan perkataan Bulan. Maka, sudah dipastikan mimpi Raka akan menjadi kenyataan.


Namun, sayangnya. Bulan hanya pandai untuk berbicara untuk menasihati anaknya, padahal dia sendiri pun hampir menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri.


Ibu Dara hanya bisa mengelus kepala cucunya, lalu dia berpamitan agar mereka bisa segera beristirahat. Samudra yang sudah tidak melihat Ibu mertuanya itu, bergegas mengambil alih Raka ke dalam pelukannya.


Lalu, mereka masuk ke dalam kamar dan menutup pintu serta menguncinya. Dimana Samudra membawa Raka di dalam pelukannya sambil duduk di samping kasurnya.


"Jagoan Ayah, apa masih ingat Ayah pernah bilang. Jika mimpi itu merupakan bunga tidur, nah bisa jadi mimpi buruk itu terjadi ketika Raka lagi asyik bermain sama Nenek terus tiba-tiba Raka ketiduran dan lupa baca doa deh. Benarkan?"


Perkataan Samudra membuat Raka mengangguk kecil, matanya yang cantik itu masih di penuhi dengan air mata yang mulai sedikit demi sedikit berkurang.


"Udah dong jangan nangis lagi, masa jagoan Bunda sama Ayah cengeng sih. Ihhh, malu tahu udah gede. Katanya Raka mau sekolah, masa masih cengeng. Gimana Bunda sama Ayah mau sekolahin Raka ya, apa Raka enggak usah sekolah aja ya?"


"Huaaa, ndak mau! Laka mau cekolah Bunda, Ayah. Pokokna Laka mau cekolah, titik!"


"Alo Laka cekolah tan Laka bica jadi anak yang pintel, teyus anti alo udah becal bica cali kelja cama kaya Ayah. Nah abis itu Laka nabung deh, alo udah kekumpul Laka beliin lumah yang buecaal banget buat Ayah cama Bunda."


"Ehh catu agi, anti Laka uga mau ajak Ayah, Bunda, Nenek, Opa, Oma buat pelgi ke lumah Allah yang di tanah cuci itu loh Ayah. Yang cuka Ayah biyang sama Laka, nah Laka mau bawa kalian ke cana. Jadi Laka mau cekolah ya, pisss, piss Bunda Ayah, piss ...."


Bulan dan Samudra merasa bangga mendengar anak berusia 4 tahun ini bisa mengatakan kalimat yang sangat menyejukkan hati kedua orang tuanya.


Masyaallah, jarang sekali anak seusia Raka bisa mengerti apa yang baik dan buruk, serta mana yang bisa membuat orang menjadi bahagia dan sedih.


Bulan sama Samudra memeluk Raka begitu erat, mereka benar-benar bangga serta bahagia bisa memiliki putra sepintar dan semenggemaskan ini.

__ADS_1


Pada akhirnya mereka pun tertawa bersama saat Raka merasakan geli akibat kelitikan kedua orang tuanya yang mulai iseng untuk memancing tawa putra semata wayangnya itu.


"Hooamm ...." Raka menguap membuat kedua orang tuanya langsung menyadari bercandanya, kemudian Raka tiduran di atas kasur tepat di tengah-tengah mereka.


"Sekarang Raka baca doa dulu ya, biar bobonya enggak mimpi buruk lagi. Okay?" ucap Bulan, mengelus wajah anaknya.


Raka mengangguk, sambil mengangkat kedua tangannya lalu membacakan doa tidur bersama-sama. Setelah itu Raka tersenyum menatap orang tuanya secara bergantian.


"Bunda, Ayah. Angan ingalin Laka ya, pokoknya kita halus cama-cama teyus. Otey?" ucap Raka diangguki oleh kedua orang tuanya.


"Insyaallah, Sayang. Makannya Raka doain terus Ayah cama Bunda ya, biar kita bisa sama-sama sampai maut memisahkan kita. Intinya Raka banyak-banyak doa yang baik ya, karena doa anak yang Shaleh akan dijabah sama Allah SWT. Dan jangan pernah berpikir yang negatif lagi."


Samudra tersenyum menatap anaknya. Lalu tanpa di sangka Raka meminta kedua orang tuanya untuk mencium pipi Raka bersamaan.


Cup!


Cup!


Mereka mencium pipi Raka bersamaan, kemudian Raka kembali meminta agar kedua orang tuanya saling mencium pipi masing-masing. Disitu membuat Raka terlihat begitu bahagia ketika melihat keakuran kedua orang tuanya yang sangat romantis.


"Telima kacih, Ayah Bunda. Laka cayang kalian celamanya. Udah yuk bobo, Laka antuk hoaam ...."


Raka menguap, lalu memejamkan kedua matanya. Dimana kedua orang tua Raka pun mengelus serta menatap wajah anaknya yang begitu menyejukkan hatinya.


Tak lama mereka pun ikut tertidur bersama anaknya dalam keadaan mereka saling menatap satu sama lain dalam posisi miring.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2