Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Siapa Samudra Sebenarnya


__ADS_3

Sesekali menatap wajah Om Faisal secara sekilas, disitu terlihat betapa bingungnya saat Om Faisal melihat wajah Samudra tidaklah seburuk apa yang dia bayangkan selama ini.


Samudra malah terlihat enjoy dan juga senang menikmati kehidupan yang sangatlah rumit untuk dijalankan.


Hanya saja, perkataan Om Faisal yang kesekian kalinya berhasil membuat pipinya, seakan-akan tertampar atas ucapannya yang mampu mencubit hatinya untuk kembali mengingat semuanya yang sudah mereka lalui.


"Apa kamu tidak kangen untuk kembali memanggil orang tuamu dengan sebutan Papah dan Mamah? Apakah kamu selamanya akan seperti ini?"


"Lantas, apa kamu pernah memikirkan bagaimana sakitnya hati mereka, saat mereka harus menjadi orang lain hanya sekedar bertemu dengan cucunya?"


"Sam, denger ya. Yang namanya masa lalu biarlah berlalu, orang tuamu juga sudah mengakui kesalahannya dan juga tidak akan mengulanginya lagi. Mereka sadar bahwa apa yang mereka berikan itu, bukanlah sesuatu yang kamu butuhkan."


"Ditambah lagi, misimu juga sudah selesai bukan? Kamu sudah membuktikan pada kedua orang tuamu jika kamu bisa hidup tanpa bantuan mereka, tanpa peraturan dari mereka dan juga tanpa harta yang mereka berikan."


"Sekarang apa lagi yang kamu tunggu? Kenapa susah sekali untukmu mengakui semuanya?


"Lihatlah, istrimu! Dia harus bekerja keras dan rela meninggalkan anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Cuman demi membantumu untuk menghidupi anak kalian, supaya mendapatkan kehidupan yang layak!"


"Cuman, kenapa kamu terlalu egois dengan semua itu. Jika kamu kembali dengan orang tuamu. Kehidupan bisa langsung berbalik 180 derajat, kamu pun tidak akan merasakan hidup yang seper---"


Samudra memotong pembicaraan Om Faisal dengan sangat datar. Nadanya pun langsung terdengar sangatlah serius, membuat hati Om Faisal sedikit nyelekit.


"Maaf Om, saat ini hidupku sudah jauh lebih baik. Aku pun tidak akan pernah kembali pada kedua orang tuaku, jika misiku belum ada yang selesai!"


"Ingat, meski hidupku seperti ini aku akan tetap bersyukur. Setidaknya aku bisa menghidupi keluarga kecilku dengan hasil keringatku sendiri."


"Jika masalah misi, semua misi itu belum selesai sampai tuntas. Aku pernah berjanji pada mereka ketika mereka hampir saja menjodohkanku dengan wanita yang tidak baik, tidak sopan, bahkan cara berpakaiannya pun jauh dari ajaran islam yang sesungguhnya. Aku akan tetap memiliki pasangan hidup sesuai dengan pilihan hatiku sendiri!"

__ADS_1


"Wanita yang hanya memikirkan penampilannya bukanlah auratnya, merupakan wanita yang tidak baik untuk dijadikan seorang istri. Jadi buat apa selalu menuruti mereka yang ingin menjodohkanku. Lebih baik aku angkat kaki, keluar tanpa membawa barang satu apapun kecuali identitas dan juga bakat serta semangat yang terpendam."


"Bagaimana dengan Bulan? Dia adalah istriku yang baik, sholeha dan juga mempunyai kasih sayang yang besar terhadap keluarganya. Hanya saja, dia masih labil dengan pendiriannya. Sering kali dia tergoda dengan hawa napsunya sendiri untuk terlihat seperti mereka yang hidup serba berkecukupan bahkan lebih."


"Masih ingat bukan, ketika waktu itu hidupku mulai berada diatas. Bulan selalu menikmati hasil yang memuaskan, akan tetapi ketika aku kembali terjatuh dia langsung tidak terima dengan semua yang terjadi!"


"Tanpa dia sadari, efeknya terjadi pada Raka. Dia harus lahir dalam keadaan Bulan setres dan juga Raka harus menjadi bayi prematur, yang mengharuskan hidup selama sebulan dengan bantuan alat medis."


"Bahkan disaat semua tabunganku habis dan segala macam, Bulan selalu menyalahkanku dia terus menerus lantaran, dia belum bisa menerima setiap ujian yang Allah berikan."


"Itu saja baru sekedar harta yang tak seberapa, bagaimana jika Bulan tahu tentang diriku yang sebenarnya? Apakah dia akan mensyukuri nikmat yang ada, ataukah dia akan semakin merasa sombong dengan semua itu?"


"Entahlah, misiku hanya satu. Aku ingin hidup bersama istrikuyang selalu bersyukur memilikiku. Mau hidup susah ataupun senang denganku, maka dia tetap akan terus berpegangan tangan dan berjalan bersamaku tanpa lelah sedikitpun!"


"Tidak dengan, Bulan. Dia masih sangat sering kali melepaskan genggaman itu dan ingin memiliki pekerjaan agar kelak dia bisa menjadi seorang pahlawan lebih dariku untuk membahagiakan anakku!"


"Nah, apa jadinya jika Bulan mengetahui siapa diriku sekarang? Apakah dia akan kembali bermanja denganku hanya karena sebuah harta? Bukan sikap yang dia berikan tulus dari hati padaku?"


"Dan yang paling penting, tak henti-hentinya dalam keadaan apapun, dia akan selalu mengucapkan rasa bersyukurnya yang selalu dipanjatkan atas kebaikan Allah SWT. Yang sudah menyatukan melalui sebuah ikatan halal."


Mendengar penjelasan dari Samudra, membuat Om Faisal mengerti. Meski keadaan mereka sangatlah sulit, akan tetapi Samudra ingin mengajarkan pada keluarga kecilnya jika kehidupan bukan hanya soal harta dan juga tahta. Masih ada banyak kasih sayang yang bisa membuat bahagia tanpa uang sedikitpun.


Namun, tetap saja sama. Uang adalah segalanya bagi semua orang tanpa terkecuali. Jika uang sudah bertindak, maka sebahagia apapun seseorang akan tetap hancur oleh keserakahan.


Awalnya Om Faisal merasa senang ketika mendengar Samudra sudah mau berencana nikah pada saat itu, cuman kembali lagi. Pernikahan dulu yang dianggap sebagai jalan kembalinya Samudra ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Ternyata salah.


Sampai detik ini tidak sedikitpun Samudra menceritakan siapa kedua orang tuanya dan siapa dirinya yang sebenarnya. Semua itu Samudra sembunyikan agar dia bisa menyelesaikan misinya terlebih dulu.

__ADS_1


Samudra selalu berharap agar kelak rumah tangganya tidak akan terpecah belah hanya karena soal harta, tahta dan juga pasangan.


"Lantas, jika istrimu masih tetap seperti ini. Bagaimana kehidupan anakmu kedepannya? Apakah kamu mau melihat anakmu putus sekolah hanya karena masalah biaya?"


"Raka itu sudah berusia 4 tahun, sedikit lagi dia harus sekolah mendaftar di TK kecil, supaya kelak dia bisa mengenal yang namanya huruf, angka, gambar, dan yang lainnya."


"Bagaimana jika suatu saat nanti kita ambil pahitnya, Bulan telah sukses dan meninggalkanmu? Apakah kamu rela, melepaskannya hanya demi keegoisanmu untuk mengejar misimu?"


Samudra terdiam menatap lurus ke arah depan, dimana bola matanya sudah sangat berkaca-kaca ketika kata-kata menyakitkan itu keluar dari bibir Om Faisal.


"Sam, tidak bisa menentukan itu semua. Hanya waktu yang bisa menjawab bagaimana kehidupan kami kedepannya."


"Jika memang Bulan jodohku, mau sampai kapanpun dia tetap berada di sampingku, walau pun dalam keadaan sangatlah susah. Cuman kalau Bulan jodohku dunia dan akhirat, maka insyaallah aku akan siap menerimanya."


"Aku harus tetap berjuang untuk mepertahankan semuanya, meskipun pada akhirnya aku tidak tahu kalau berhasil atau gagal berakhir sia-sia."


"Aku cuman mau disaat wanitaku tahu siapa aku yang sebenarnya, sikapnya tidak akan berubah. Dia tetap akan merasa rendah hati, dan tidak gelap oleh sesuatu hal yang akan dia dia lihat nantinya."


Terlintas jelas di wajah Samudra, kalau dia yakin dengan pendiran dan misinya, jika dia akan mengutarakan semuanya ketika istrinya sudah bisa menjadi wanita yang bisa mensyukuri nikmat yang datang. Baik itu positif atau negatif kita kan mensyukurinya.


Bukan maksud Samudra untuk menjdi suami yang pelit, hanya saja dia tidak mau jika sewaktu-waktu mereka susah dan hidup dengan sangat berkecukupan itu malah membuat semuanya hancur.


Sama halnya seperti kemarin, ketika Bulan merasa lelah akan hidupnya dia beberapa kali sempat ingin berpisah dengan Samudra.


Terus, apa kabar jika suatu saat nanti Bulan tahu Samudra yang sebenarnya, kemudian mereka menjalani hidup seperti orang di luran sana yang sangat berada. Dan disaat yang telah di tentukan oleh Allah untuk mengambil semuanya? Apakah mental Bulan bisa sekuat saat ini?


Maka, jawabannya tidak akan pernah mungkin. Ini baru di uji dengan keadaan Samudra yang lumayan berada, kemudian mereka di jatuhkan kembali di titik paling terendah. Maka bisa di pastikan Bulan akan semakin tidak terima.

__ADS_1


Jadi Samudra menahan semua perasaannya hanya untuk membenarkan, serta mendidik istrinya sedikit demi sedikit, supaya kelak bisa menjadi wanita yang sesuai dengan impiannya yaitu bidadari syurga.


...***Bersambung***...


__ADS_2