
Penjelasan dari Dzaky benar-benar membuat Bulan terlihat begitu syok, dia tidak menyangka kalau semua ini di luar dari logikanya. Jika mereka semua akan di pertemukan di acara yang penting ini.
Samudra sendiri tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menatap sahabatnya dengan senyuman kecil untuk sekedar menyapanya.
Namun, tanpa mereka ketahui Samudra sedang menahan rasa sakit yang ada di dalam dadanya yang mulai kambuh.
Raka yang sudah pegal berdiri terus, langsung merengek kepada kedua orang tuanya membuat suasana menegangkan itu sedikit teralihkan.
Tanpa basa-basi lagi, Dzaky langsung membawa mereka untuk duduk di kursi khusus yang sudah di siapkan untuk sahabat terbaiknya.
"Bunda, Laka mau minum haus." ucap Raka menatap Bundanya yang saat ini masih terlihat syok.
"Raka mau minum? Bentar ya, Om panggilin pelayannya dulu." sahut Dzaky, langsung memanggilkan pelayan untuk membawakan beberapa minuman serta cemilan.
Tak butuh waktu lama, Raka pun mendapatkan apa yang dia mau beserta cemilannya untuk menggoyang lidah Raka.
"Hem, enak Om. Makasih ya ...." ucap Raka, sambil memakan cemilan yang ada.
Dzaky hanya bisa tersenyum melihat Raka yang sepertinya sudah melupakan kejadian yang mempertemukannya untuk pertama kali. Dimana pada waktu itu Dzaky hampir menabrak Bulan dan Raka, akan tetapi kejadian yang sudah lama membuat Raka sudah melupakannya.
Di saat Raka sedang asyik makan, mereka bertiga kembali membicarakan tentang kesalah pahaman ini. Yang mana Bulan masih tidak percaya bila Samudra dan Dzaky tidak tahu apa-apa tentang semua ini.
"Mas, kenapa diam aja? Katakan, sebenarnya Mas sudah tahu ini semua, 'kan?" tanya Bulan dengan suara lembutnya sambil menatap suaminya.
"Mas juga baru tahu ini, Dek. Makannya Mas sedikit kaget, sebelumnya kami bertemu hanya karena tidak sengaja ketika Ibu sakit. Itu pun biaya semua Dzaky yang menanggungnya. Awalnya Mas sudah curiga saat mengetahui nama atasanmu Dzaky, dan dia juga memiliki Perusahaan di desa sebelah dekat kota. Cuman Mas berpikir positif aja, kalau nama Dzaky itu banyak. Jadi, Mas tidak berpikir sejauh itu." jelas Samudra yang diangguki oleh Dzaky.
"Apa yang dikatakan suamimu memang benar, jadi kamu jangan menyalahkannya. Semua ini karena takdir yang mempertemukan kita di sini. Untuk itu aku minta maaf, jika aku sudah membuat istrimu susah selama bekerja di Perusahaanku. Sekali lagi maaf, andai saja aku tahu kalau Bulan adalah istrimu. Aku tidak akan mungkin memberatkan pekerjaannya, dengan pekerjaan yang tidak seharusnya dia kerjakan." jawab Dzaky, tatapannya penuh rasa bersalah pada Samudra.
__ADS_1
"Santai aja, namanya juga urusan pekerjaan. Selagi istriku mampu itu tak masalah kok, yang penting tidak sampai menyiksa atau menguras semua tenaganya. Sudahlah, tidak perlu minta maaf malah aku senang, kalau istriku bisa bekerja di Perusahaanmu. Jadi aku bisa lebih tenang, ketika menitipkan dia padamu saat berada di kantor." sahut Samudra tersenyum, lalu memegangi dadanya.
"Mas gapapa? Apa dada Mas, sakit lagi?" tanya Bulan, melihat gelegat tingkah suaminya sedikit aneh.
"Ayah sakit? Ayah sakit apa, Bunda?" tanya Raka, mencemaskan keadaan Ayahnya.
"Kau sakit, Sam? Bagaimana kalau kita ke rumah sak--"
"Tidak perlu, aku baik-baik aja kok. Mungkin karena aku syok, jadi dadaku sedikit sakit." jawab Samudra sangat tenang, tanpa mau membuat mereka menjadi khawatir.
"Apa kau punya riwayat penyakit jantung, Sam?" tanya Dzaky, berhasil membuat Bulan semakin panik.
"Pe-penyakit jantung? Be-benarkah begitu, Mas? Katakan dengan jujur!" pekik Bulan, yang sudah tidak bisa menutupi kepanikan di wajahnya.
"Sstt, Sayang. Aku tidak apa-apa, aku sehat kok. Jadi tolong jangan begini ya, kasian Raka nanti dia jadi ikut mencemaskanku." jawab Samudra, mengelus pipi istrinya.
Samudra menggelengkan kepalanya, supaya istrinya tidak lagi membahasnya di depan anaknya. Sebab tatapan Raka saat ini, benar-benar sangat menyedihkan.
"Ayah gapapa 'kan?" tanya Raka, sedih.
"Ayah gapapa kok, Sayang. Udah Raka makan dulu ya, nanti keselek loh." ucap Samudra, tersenyum.
Raka pun mengangguk dan kembali meneruskan memakan puding yang masih tersisa setengah. Sementara Dzaky yang melihat kemesraan mereka tepat di hadapannya, membuat hatinya terasa teriris. Cuman Dzaky berusaha tersenyum seakan dia bahagia melihat rumah tangga sahabatnya yang sangat membuatnya iri.
Baru beberapa menit berlalu, seorang MC langsung memanggil Dzaky untuk naik keatas panggung kecil karena acara akan segera di mulai. Dimana semua orang berdiri untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun, untuk Dzaky.
Suara teriakan, hingga tepukan tangan yang sangat keras meramaikan gedung yang sangat besar ini. Banyak anak kecil yang berlari kesana-kemari serta menyaksikan Dzaky untuk meniup lilin serta memotong kue.
__ADS_1
Setelah semua terlaksana, Dzaky pun kembali menyambut para tamu yang ingin memberikan hadiah serta ucapan selamat untuknya. Sehabis itu, lagi-lagi Dzaky menemani Samudra dan keluarga kecilnya.
"Sorry ya, tadi di tinggal sebentar. Ohya gimana, kalian bahagia 'kan datang ke acaraku ini. Jarang-jarang aku merayakan hari ulag tahun seperti ini, kalau bukan sekalian merayakan kesuksesanku yang baru saja menang tender besar." ucal Dzaky, tersenyum menatap mereka secara bergantian.
"Laka seneng, Om. Acaranya besal banget, teyus juga makanannya enak-enak. Tapi, Laka mau kue itu boleh?" ucap Raka yang menunjuk ke arah kue ulang tahun Dzaky.
Kue yang bertemakan hitam bercampur abu-abu, membuat Raka penasaran dengan rasanya. Apa bola-bola yang menghiasinya serta terdapat botol kecil diatasnya, benar-benar berhasil menyita perhatian Raka.
Baru kali ini Raka melihat kue ulang tahun yang sangat besar dengan hiasan berbeda dari biasanya. Jadi, itu yang memicu ketertarikan Raka untuk mencobanya.
"Sayang, enggak boleh gitu. Raka makan kue ini aja ya, atau kalau enggak nanti kita beli di toko kue. Mau?" bujuk Bulan, lantaran dia takut bila kue ulang tahun tersebut mengandung alkohol.
"Laka mau kue itu, Bun. Laka maunya itu, kuenya lucu banget beda sama kue ulang tahun bisanya. Pokonya Laka mau cobain itu, boleh 'kan Om?" rengek Raka menatap sendu ke arah Dzaky.
"Raka, enggak boleh gitu. Kue itu kan punya Om Dzaky, nanti kita beli aja ya." ucap Samudra, membantu menasihati anaknya.
"Udah gapapa, kuenya aman kok. Lagian juga itu mau dibagi-bagi nanti sama panitianya. Bentar aku ambilin dulu ya, atau Raka mau ikut. Biar Raka bisa memotong kuenya sendiri, hem?" sahut Dzaky, langsung mendapatkan anggukan kepala dari Raka yang terlihat begitu meresponnya.
"Huaaa, mau Om. Laka mau potong kuenya, tapi ajalin ya ...." ucap Raka, antusias.
Dzaky pun tersenyum menatap Raka, kemudian dia langsung menggendong Raka dan membawanya pergi mendekati kue ulang tahun. Dimana Dzaky mengajarkan Raka untuk memotong kue secara rapi agar tidak mengotori pakaiannya.
Setelah selesai mengambil kue, Raka dan Dzaky kembali kemejanya bersama Bulan serta Samudra. Mereka yang melihat Raka makan secara lahap, benar-benar membuatnya bahagia. Apa lagi Dzaky, dia sudah mulai menyayangi Raka seperti keponakannya sendiri.
Namun, di saat mereka sedang tersenyum melihat tingkah lucu Raka. Tiba-tiba saja sepasang suami-istri berjalan mendekati meja mereka, kemudian langsung nyapanya dengan wajah yang sangat bahagia. Berbeda dengan mereka semua yang malah terkesan sangat terkejut dengan pertemuan kali ini.
__ADS_1
...***Bersambung***...