
Bulan yang melihat keasyikan antara keduanya ketika bermain, membuatnya tanpa di sengaja tersenyum lebar.
Bulan tidak menyangka bahwa atasannya yang terkenal sangat menyebalkan itu, ternyata adalah orangnya sangat asyik dan juga begitu menyayangi anak kecil.
Semua itu benar-benar dari ekspetasi Bulan yang mengira, bahwa Dzaky itu merupakan orang yang hanya bisanya membuat orang kesal, dan selalu menyebalkan.
"Boy, mau balapan motor enggak? Nanti kalau menang dapat hadiah es krim sepuasnya. Gimana?" ajak Dzaky, membuat Raka menatapnya dengan mata yang sedikit kesal.
"Ishh, ishh, ishh ... Aku ndak mau!" Raka menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kata Ayah, alo kita meyalukan cecuatu dengan menghalapan mendapatkan balasan itu cama aja aya kita belduda."
Jawaban Raka berhasil membuat Dzaky langsung menatap ke arah Bulan, dengan tatapan yang sangat bingung.
"Berduda? Ma-maksudnya?" tanya Dzaky, wajahnya terlihat begitu pelongo. Sedangkan Bulan hanya bisa menggelengkan kepalanya, lantaran dia juga tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Ya ampun, cucah ya ngomong cama olang dewaca. Maca belduda aja ndak tahu, ckk ckk ckk ...." Raka menepuk dahinya sendiri, lalu menggelengkan kepalanya sangat gemas.
Dzaky dan Bulan hanya bisa saling pandang memandang dengan tatapan yang benar-benar bingung. Yang ada di pikiran mereka saat ini yaitu, apa hubungannya balapan dengan duda?
Entahlah, anak kecil itu memang selalu bisa membuat orang dewasa kewalahan dengan sikapnya yag selalu susah di tebak
"Maca olang dewaca ndak tahu belduda cih? Itu loh yang cuka main adu-adu ayam, teyus uga main kaltu pakai uang loh. Bunda ndak tahukah? Padahal Ayah cuka biyangin Laka, alo anti Laka udah becal ndak boyeh aya gitu, doca!"
Degh!
Mendengar penjelasan kalimat yang Raka utarakan berhasil membuat Dzaky langsung menghembuskan napasnya secara kasar.
"Hahhh, astaga Raka, Raka! Kau ini buat Om bingung aja tahu enggak!"
"Kalau itu namanya tuh berjudi, bukan berduda. Sementara berduda itu merupakan status dari seorang pria yang sudah tidak memiliki istri. Contohnya---"
"Contohnya aya Om gitu? Tan Om cendili ndak punya istli."
Lagi-lagi anak yang hampir berusia 5 tahun itu berhasil membuat jantung Dzaky berdetak tidak menentu. Perasaannya benar-benar di buat naik turun oleh anak yang usianya jauh di bawahnya.
Sementara Bulan, dia cuman bisa menahan tawanya lantaran perkataan anaknya sangatlah random. Raka mengucapkan kalimat itu sesuai dengan pemikirannya yang spontan, akibat penjelasan Dzaky.
"Prrfftt, Raka enggak boleh begitu, Sayang. Om Dzaky ini bukan duda loh, tapi ...."
"Tapi apa, Bunda?" tanya Raka, menatap polos ke arah Bundanya.
__ADS_1
Seketika Dzaky langsung menatap tajam ke arah Bulan, tatapannya berubah menjadi sinis lantaran Dzaky paham apa yang ada dipikiran Bulan saat ini.
"Kauu!!" geram Dzaky.
"Ishh, Bunda. Tapi, apa? Emangna alo Om Dzaky itu bukan duda, teyus apa?" tanya Raka kembali, penuh penasaran.
Bulan langsung membungkukkan badannya, lalu mendekatkan bibirnya di telinga anaknya sambil membisikannya sesuatu.
"Om Dzaky bukan duda, Sayang. Cuman dia perjaka tua yang masih tong-tong hihi ...."
Bulan tertawa cukup puas ketika dia sudah selesai membisikan sesuatu pada anaknya, sementara Dzaky terus menatapnya dengan tatapan sinis.
"Apa yang Bundamu katakan, Raka? Coba katakan pada Om!" tegas Dzaky, wajahnya terlihat begitu datar saat melihat respon Raka yang terdiam. Sedangkan Bulan, begitu asyik dengan tawanya yang tidak bisa berhenti.
"Adi, Bunda biyang atanya Om itu si Jaka tong-tong, gitu." jawab Raka sangat polos.
Dzaky terdiam mencerna perkataan Raka, lantaran dia tidak mungkin menanyakan semua kebenaran itu pada Bulan. Apa lagi Bunda malah semakin tertawa saat mendengar anaknya mengatakan apa yang diakatakan menggunakan kalimatnya sendiri.
"Si Jaka tong-tong? Ma-maksudnya?" gumam batin Dzaky sambil berpikir keras, sampai akhirnya di detik yang kesekian Dzaky langsung paham dan mengerti apa yang dimaksud oleh Raka tadi.
"Kau!"
"Apa yang sudah kau katakan pada anakmu, hah? Bisa-bisanya kau bilang, kalau saya ini perjaka tong-tong?"
Dzaky sedikit membentak Bulan, membuat Raka hanya bisa terdiam melihat Tom And Jerry kembali berdebat.
"Lah, memang benar 'kan? Ingat, ya Tuan Dzaky yang terhormat. Pria berkualitas itu beda tipis dengan pria yang tidak laku. Jadi kalau menurutku itu, Tuan termasuk kategori pria yang tidak laku."
"Buktinya semua wanita cantik yang ada di kantor maupun dimana aja tidak ada tuh yang mau deketin dirimu. Sedangkan yang saya tahu, banyak wanita cantik selalu mengejar seorang CEO seperti Tuan. Cuman nyatanya, Tuan hanya sekedar pajangan yang dilihat keindahannya, tetapi tidak bisa dimiliki."
Sudut bibir Dzaky terukir senyuman miring yang sangat kecil, dengan tatapan mata begitu mendalam. Wajah datar dan juga tarikan napas yang sangat berat berhasil membuat Bulan menatapnya penuh ketakutan.
"Oh jadi begitu ya, Nyonya Bulan yang paling terhormat!"
"Jadi, menurutmu saya ini pria yang tidak laku. Bukan begitu Nyonya? Baiklah, tidak masalah. Saya sangat berterima kasih pada Nyonya Bulan, karena Nyonya sudah menyadarkan saya. Padahal niatnya bulan depan saya mau memberikan bonus yang cukup lumayan besar untukmu."
"Namun, sepertinya saya harus menarik semua niat baik saya itu. Karena kelihatannya, Nyonya ini sangat tidak membutuhkannya. Lagi pula gaji Nyonya pasti udah sangat besar, ya 'kan? Jadi sudah tidak perlu lagi menerima bonus dan sebagainya, bukan begitu?"
"Hem, baiklah. Terima kasih, Nyonya Bulan. Sepertinya waktu saya untuk bersenang-semang sudah habis. Saya harus pamit, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan!"
"Ohya, untuk kamu Boy. Pertahankan sikapmu yang polos, dan juga pintar ini ya. Lain kali kita main bareng lagi, okay?"
__ADS_1
"Om senang banget bisa bertemu sama kami, Boy. Pokonya Om akan selalu mendoakan semoga kamu bisa jauh lebih baik lagi dari Bundamu itu."
"Jangan lupa salamin buat Ayahmu. Bilang sama Ayahmu, sabar-sabar ya punya istri seperti Bundamu. Kalau udah enggak kuat, buang aja ke tong sampah masih muat kok!"
"Terus nanti tinggal Ayahmu cari aja istri yang baru yang lebih cantik, baik dan juga tidak jahat seperti Bundamu."
"Dahhh, anak ganteng!"
Dzaky melambaikan tangannya, lalu pergi meninggalkan Bulan dan Raka sebelum kedua tanduk Bulan mendadak keluar, bagaikan seorang iblis yang sedang marah.
"Dadah, Om Aky. Anti kita main baleng agi ya!" teriak Raka sambil melambaikan kedua tangannya dan tersenyum.
"Siap, Boy!" balas Dzaky, sambil berjalan cepat sebelum terkena amukan singa betina.
"Yaakk, dasar atasan menyebalkan! Lihat nanti ya, aku akan membalas perbuatanmu!" teriak Bulan, kesal.
Dzaky tertawa lepas saat mendengar suara Bulan, lalu dia meledeknya dengan cara menaruh kedua tangannya di samping telinga sambil menjulurkan lidahnya.
Hampir semua pengunjung yang ada disana terdiam melihat aksi Bulan dan Dzaky yang benar-benar seperti anak kecil.
Raka melihat perlakuan Dzaky kepada Bundanya, malah tertawa gemas membuat Bulan langsung menoleh kearah anaknya. Dimana kedua tangan Bulan berada di samping pinggang dan matanya melotot sangat besar.
"Upps, ma-maap Bunda. La-laka belcanda kok, ha-habisna Om Aky lucu. Maca dia begini, wleee ...."
Raka malah mengikuti semua tingkah Dzaky yang semakin membuat Bulan bertambah kesal. "Rakaaa!!" Bulan berteriak penuh tenaga membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Huaaa, ada monstel galak. Aaa, takut! Bhaha ...." Raka tertawa sambil berlari, membuat Bulan segera mengejarnya.
Hampir kurang lebih 10 menit mereka berlarian mengejar satu sama lain, sampai akhirnya Raka tertangkap dan meminta ampun saat Bulan menggelitikinya.
"Hahah, ampun Bunda ampun haha ...."
"Enggak mau, habisnya Raka ngeselin banget. Masa Raka belain Om Dzaky dari pada Bunda sih!"
"Haha, ya ya ndak Bunda. Laka belain Bunda aja, api lepas duyu. Peyut Laka cakit nih, tenggolokan Laka haus uga huhh ...."
"Haus? Ya udah, kita beli minum dulu yuk!"
Bulan menyudahi aksinya, lalu dia mengajak anaknya untuk mencarikannya air minum agar bisa mengobati tenggorokan Raka yang sangat kering.
Namun, siapa sangka. Disaat Bulan sedang duduk menemani Raka minum, tiba-tiba dia mendapatkan 1 panggilan yang membuat wajahnya terlihat begitu khawatir, cemas dan juga sedikit panik.
__ADS_1
...***Bersambung***...