Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Demi Uang


__ADS_3

Perdebatan semakin sengit, hingga rumah yang tadinya dingin seketika langsung sangat panas. Samudra tak henti-hentinya terus membela harga dirinya di depan kedua orang tuanya, sampai akhirnya Opa Jerome tidak sengaja mengatakan niat terselubung dibalik semua perjodohan ini.


"Cukup, Sam! Asal kamu tahu aja ya, Mamah sama Papah terpaksa melakukan ini, karena Papah butuh suntikan dana dari keluarga dia. Papah tidak mau Perusahaan mengalami penurunan yang akan mengakibatkan kebangkrutan, mengerti!"


"Jadi, Papah mohon kamu ngertiin keadaan kita sekarang. Papah sudah bingung harus bagaiman lagi, mencari suntikan dana itu tidak mudah. Makannya Papah nekat menjodohkanmu dengan anaknya."


Degh!


Penjelasan dari Opa Jerome itu berhasil menusuk hati Samudra yang paling dalam, sebab alasan di balik semuanya hanya karena harta. Mereka tidak memikirkan sedikitpun nasib anaknya, jika sampai memiliki istri seperti itu.


Dari sini Samudra mulai paham, jika yang ada di dalam pikiran kedua orang tuanya hanyalah sekedar masalah keuangan bukan kebahagiaan anaknya sendiri.


Prokk ... Prokk ... Prokk


Samudra bertepuk tangan sambil tersenyum setelah mendengar semua ucapan Opa Jerome. Hatinya begitu sakit, tetapi dia harus tetap bersikap sopan agar perkataannya tidak akan menyakiti kedua orang tuanya.


Semarah apapun Samudra kepada orang tuanya, dia tetap menjaga lisannya. Semua itu, berkat Samudra yang menghargai jasa kedua orang tuanya yang sudah sangat mulia untuk melahirkan, mengurus dan juga membesarkannya sampai detik ini.

__ADS_1


"Ohh, jadi ini alasan di balik perjodohan kalian? Ternyata kalian ingin menjual anak sendiri demi uang? Haha, sungguh dramatis sekali kehidupanku. Bisalah di buat novel judulnya [Menjual Anak Demi Uang] gimana, bagus bukan? Haha ...."


Tawa Samudra terdengar sangat nyaring di telinga kedua orang tuanya. Mereka bisa melihat adanya kekecewaan di wajah Samudra, sebab dia merasa di anggap jika kedua orang tuanya ingin menjual anaknya sendiri demi kepentingan mereka.


Oma Dena berusaha menjelaskan kepada Samudra, kalau apa yang ada di pikirannya saat ini asalah salah. Mereka hanya ingin menikahi Samudra untuk beberapa bulan ke depan, selebihnya bila tidak cocok maka Samudra bisa mengakhirinya sendiri.


Namun, Samudra kembali di kejutkan oleh sifat kedua orang tuanya yang seakan ingin mempermainkan sebuah pernikahan, hanya demi sebuah kejayaan dunia.


Samudra yang sudah tidak bisa lagi menahan apa yang dia rasakan saat ini, langsung saja mengatakannya sangat lantang yang malah kembali membuat Samudra sendiri terkejut atas reaksi Opa Jerome.


"Baiklah, kalau Papah ingin Perusahaan maju. Maka, Papah nikahi saja wanita itu 'kan itu Perusahaan Papah, bukan Samudra. Jika Samudra akan tetap tidak ingin menikahinya, Samudra akan memilih jalan Samudra sendiri tanpa kalian harus ikut campur. Paham!"


Degh!


Jantung Samudra kembali berdebar kencang setelah mendengar perkataan Opa Jerome. Dia tidak menyangka hanya demi uang, Opa Jerome malah mengusirnya dan tidak lagi menganggapnya seorang anak.


"Papah! Hantikan semua perkataanmu itu, ini sudah kelewat batas, mau bagaimana pun Samudra Dia tetaplah anak kita satu-satunya. Kita tidak boleh mengusirnya, aku tahu lama kelamaan Samudra juga akan mengerti tentang kondisi keuangan kita."

__ADS_1


Oma Dena menangis sambil menatap tajam ke arah suaminya. Satu sisi Opa Jerome tidak sengaja mengatakan semua itu, sebab dia hanya mau menggertak anaknya supaya ingin menuruti semua yang dia katakan.


Namun, siapa sangka. Samudra malah tersenyum lebar menatap kedua orang tuanya yang masih cekcok. Kemudian tangannya terangkat untuk menghapus semua air mata yang menetes, lalu dia mendekati kedua orang tuanya membuat mereka terkejut.


"Baiklah, jika itu mau Anda, Tuan Jerome. Saya akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah kembali sebelum kalian menyadari semua kesalahan yang sudah kalian lakukan. Dan untukmu, Nyonya Jerome. Saya ucapkan terimakasih telah melahirkan anak durhaka seperti saya yang tidak bisa menuruti semua permintaan kalian."


"Namun, suatu saat nanti saya berjanji. Saya akan buktikan kalau saya bisa mencari wanita yang baik agamanya dan baik pula akhlaknya. Kalian tunggu saja kabar baik itu, aku akan mendidik keluarga kecilku agar mereka mengerti bila kebahagiaan diatas segalanya. Bukan diatas uang yang bisa membeli kebahagiaan!"


"Saya pamit, sekali lagi terimakasih atas kebaikan kalian kurang lebih 21 tahun ini telah merawat saya dan juga membesarkan saya. Terimakasih, terimakasih dan terimakasih. Permisi!"


Degh!


Opa Jerome tidak menyangka bila anaknya benar-benar nekat untuk memilih pergi dari rumah dari pada harus mengikuti semua permintaannya. Padahal tidak sulit, tetapi kenapa begitu berat untuk anaknya, sampai dia harus memilih keluar dari rumah?


Entahlah, Oma Dena malah menyalahkan semuanya kepada suaminya. Dia memukul keras suaminya sambil menangis, setelah mengetahui bila Samudra akan pergi dari rumah untuk meninggalkan mereka berdua.


Akan tetapi, ketika Samudra mau ke kamarnya mengambil barang-barangnya. Baru saja melangkahkan kakinya ke anakan tangga, Opa Jerome malah mengehentikannya dan mengatakan sesuatu yang lebih menggoreskan hati Samudra.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2