Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Laka Benci Bunda!


__ADS_3

Mendengar teriakan itu membuat Raka yang kembali berlari bersama Bulan langsung berhenti, saat dia menoleh melihat Ayahnya terjatuh di lantai sambil tangan satunya memegang dada dan yang satunya lagi seperti ingin menggapai tangan Raka.


"Ayah!"


"Bunda, Ayah jatuh! Ayo kita tolongin Ayah, Laka kasian sama Ayah. Laka mohon, Bun. Laka mohon ayo kita ke Ayah. Bunda enggak boleh jahat sama Ayah, hiks ...."


Tangis Raka pecah melihat keadaan Ayahnya yang sudah terbaring lemah. Tanpa menunggu jawaban dari Bulan, Raka berusaha keras melepaskan tangannya. Kemudian dia berlari sekencang mungkin untuk menolong sang Ayah.


"Ma-mas, Sam!"


Bulan meneteskan air matanya menatap suaminya dengan rasa bersalah. Tanpa memikirkan masalah yang tadi, Bulan pun segera berlari mendekati suaminya yang sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bisa mengejarnya.


"Sam, kamu gapapa, Nak? Please, katakan sama Mamah. Sebenarnya kamu sakit apa?" ucap Oma Dena, wajahnya terlihat sangat panik.


"Kenapa kamu bisa begini sih, Sam. Ayo bangun, Nak. Bangun!" sahut Opa Jerome, mencoba untuk mendudukan Samudra dibantu oleh Dzaky.


"Om, sebenarnya Samudra sakit apa? Kenapa dia kaya gini? Apa dia punya riwayat jantung dari kecil?" tanya Dzaky, panik.


"Tidak, Sam tidak punya penyakit dalam dari kecil dia sehat kok. Om juga bingung kenapa dia bisa begini!" sahut Opa Jerome, gelisah.


"Hahh, hahh ... Ra-raka, Bu-bulan. Ma-maafin aku, a-aku udah ngecewain kalian hiks ...."


Samudra menangis sambil memegangi dadanya, dengan suara terbata-bata. Dimana dadanya benar-benar terasa sangat menyakitkan.


"Ayah!" pekik Raka, langsung memeluk Samudra yang sedang duduk dalam kondisi lemas tak berdaya.


"Mas, kamu kenapa bisa kaya gini? Sebenarnya kamu itu sakit apa sih, kenapa kamu enggak pernah bilang sama aku. Kenapa!" pekik Bulan yang langsung jongkok di samping Samudra sambil menatapnya.


"Ma-maafkan aku, a-aku ti-tidak be-bermaksud untuk me-membohongi ka-kalian. A-aku cu-cuman, uhukk uhukk ...."


Belum juga Samudra selesai berbicara, dia sudah terbatuk. Hanya saja kali ini dia batu dengan mengeluarkan cairan merah yang sangat membuat semuanya panik.

__ADS_1


"Da-da*rah?" ucap Dzaky ketika melihat Samudra memuntahkan cairan berwarna merah.


"Ma-maafin a-akuhh ...."


Degh!


"Mas Sam!"


"Ayah!"


"Sam!"


Teriak semuanya, membuat suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan canda tawa. Kini, berakhir dengan pilu. Dimana Samudra harus memejamkan kedua matanya tepat setelah dia memutahkan cairan merah tersebut.


Wajah bahagia dan juga senang, seketika berubah menjadi menyedihkan. Raka selalu memeluk Ayahnya tanpa mau melepaskannya, lantaran dia benar-benar takut akan kehilangan sosok Ayah. Sama halnya seperti Bulan, yang juga ikut memeluk suaminya di hiasi oleh rintikan air mata.


Terlihat jelas, jika Bulan sangat menyesal karena dia berpikir bahwa semua ini terjadi akibat ulahnya yang langsung pergi begitu saja, tanpa mau mendengarkan tentang penjelasan suaminya.


Asisten Dzaky langsung turun tangan untuk membantu membawa Samudra ke arah mobil. Tak lupa Bulan pun ikut bersama mereka.


Sementara Raka yang menangis ingin ikut bersama Ayahnya, langsung di gendong oleh Opanya dan di bawa ke dalam mobil mereka. Kemudian mengikuti kemana pun mobil asisten Dzaky pergi.


Didalam mobil, Bulan hanya bisa menangisi keadaan Samudra yang saat ini berada di dalam pangkuannya sambil terus memegangi tangannya. Sesekali, Bulan menciumi kening suaminya penuh kasih sayang.


"Maafin aku, Mas. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini, aku juga tidak tahu kalau kejadiannya akan separah ini hiks ...."


"Kamu juga kenapa tidak pernah bilang, Mas. Sebenarnya kamu itu sakit apa, aku tidak ngerti. Selama ini kamu terlihat baik-baik aja, sehat. Cuman kenapa harus begini jadinya? Kenapa!"


"Kalau udah kaya gini, apa yang harus aku lakuin, Mas. Aku bingung, hiks ... Apa kamu tega meninggalkan aku sama Raka? Apa kamu sejahat itu sama aku, Mas. Iya? Bila benar begitu, itu tandanya kamu mengingkari janjimu untuk bisa menua bersamaku. Dan kita akan menemani Raka tumbuh besar sama-sama sampai akhirnya dia menemukan jodohnya sendiri."


"Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu harus bangun. Kamu harus sehat, kamu harus tersenyum lagi dan kamu harus membuka matamu, sekarang! Aku mau kamu temani aku berjuang untuk Raka, titik!"

__ADS_1


Melihat keadaan itu membuat hati Dzaky sangat teriris. Ya, memang seharusnya di keadaan yang genting seperti ini Dzaky harus mengesampingkan rasa cemburunya. Cuman, perasaan itu selalu muncul ketika Dzaky menatap wajah Bulan.


Jelas-jelas saat ini keadaan sahabatnya sangat kritis, harusnya Dzaky bisa fokus untuk menolong sahabatnya bukan malah terus memupuk perasaannya pada istri sahabatnya.


Namun, sedetik kemudian Dzaky langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah depan.


"Berapa lama lagi kita sampai di rumah sakit?" ucap Dzaky, menatap asistennya.


"Sebentar lagi, Tuan. Di ujung jalan tinggal belok kanan kita sudah sampai." jawabnya, berusaha tetap fokus.


"Ckk, tambahkan kecepatannya. Sekarang! Saya tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan sahabat saya, paham kamu!" bentak Dzaky, yang segera diangguki oleh asistennya.


"Tuan, cepat tolong suami saya. Saya mohon, hiks .... Saya tidak rela kalau harus kehilangannya sekarang juga. Saya tidak mau!"


Bulan menangis sesegukan dengan nada yang terdengar sangat pilu, membuat Dzaky pun tidak bisa apa-apa. Dia hanya mencoba untuk menenangkan Bulan yang sekarang terlihat begitu panik.


Sama seperti di dalam mobil Oma Dena dan Opa Jerome. Raka terus saja menangis di dalam pelukan Omanya, sesekali Raka terus memanggil nama Ayahnya sampai dia terbatuk hingga memuntahkan isi perutnya.


Oma Dena yang tidak tega melihat Raka seperti ini, hanya bisa menangis mencoba untuk menenangkannya walaupun hatinya sendiri sangat gelisah menyaksikan keadaan anaknya.


"Ayah, uhukk uhuk ...."


"Ssstt, Sayang. Udah ya nangisnya, nanti Raka muntah lagi loh. Kasihan perutnya, jadi Raka harus sabar dulu ya Sayang. Ayah pasti baik-baik aja kok, 'kan ada Bunda di samping Ayah." ucap Oma Dena sambil memeluk cucunya, sesekali menangisi keadaan anaknya yang entah sekarang seperti apa.


"Sabar ya anak ganteng, Opa yakin. Ayahmu orang yang kuat, jadi pasti Ayahmu akan baik-baik aja. Dia tidak akan menyerah begitu aja, Opa percaya itu!" sahut Opa Jerome, yang ikut menenangkan Raka.


"Ini semua gala-gala, Bunda! Coba kalau Bunda enggak ninggalin Ayah, pasti Ayah Laka tidak akan sakit. Laka benci Bunda, Laka benci hiks ...."


Raka mengamuk di dalam pelukan Oma Dena, yang membuatnya sedikit kewalahan untuk mengontrol setiap gerakan tubuh Raka yang begitu lincah.


Sorotan mata Raka terlihat bahwa dia sangat marah kepada Bundanya, sebab menurut Raka ini semua terjadi akibat Bulan yang ingin membawanya pergi dari Samudra. Padahal tanpa Raka ketahui, Ayahnya seperti itu karena ada sesuatu yang bersarang di dalam tubuhnya. Hanya saja semua terjadi, tepat ketika semua misi Samudra terbongkar sebelum waktunya tiba.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2