Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Perasaan Bulan Yang Sensitif


__ADS_3

Samudra pun berpamitan lalu berjalan menuju kamarnya, sementara Bulan mengajak Raka untuk bersih-bersih sebelum tidur.


Setelah itu, Bulan membacakan dongeng yang Raka minta agar dia bisa tertidur sambil mendengarkan Bulan menceritakan dongeng-dongeng mengenai binatang.


Dirasa Raka sudah cukup pulang tidurnya, Bulan langsung menyelimutinya dan mencium keningnya. Kemudian berjalan perlahan pergi meninggalkan kamar anaknya, menuju kamarnya.


Bulan masuk ke dalam kamarnya melihat Samudra sedang duduk selonjoran diatas ranjang sambil tangan kanannya memegangi dada, tangan kiri memegang ponsel dan sedikit mendongak menutup kedua matanya.


"Astagfirullah, ada apa denganku. Kenapa akhir-akhir ini sering sekali dadaku terasa sakit seperti di tusuk sesuatu. Dan rasanya benar-benar sesak, sakit. Cuman aku enggak boleh ngeluh, pokonya aku harus kuat demi anak dan istriku."


"Bismillah, Hamba mohon ya Allah jika ini penyakit darimu tolong sembuhkanlah dan jika ini bukan penyakit karenamu, tolong hilangkanlah. Berikan Hamba kesehatan yang lebih panjang lagi, agar kelak Hamba bisa selalu menemani anak serta istri Hamba dalam keadaan apapun."


"Semoga Engkau, masih mendengar serta mengabulkan doaku-doaku ini ya Rabb. Hamba mohon, berikan Hamba kesempatan lebih banyak lagi untuk bisa membahagiakan keluarga kecil Hamba. Aamin Allahhumma Aamin ...."


Samudra berbicara di dalam hatinya sambil berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang terasa tidak karuan.


Napasnya pun mulai kembali normal, meskipun masih terasa sesak. Begitu juga dadanya yang sudah sedikit membaik. Kembali membuat Samudra merasa tenang dan nyaman.


Namun, suara Bulan yang sangat mengkhawatirkan berhasil membuat Samudra terkejut dan langsung refleks membuka kedua matanya. Dimana Samudra bersikap baik-baik saja agar tidak sampai membuat Bulan menjadi panik.


"Mas? Mas kenapa? Mas sakit? Apanya yang sakit? Dadanya? Besok kita ke dokter ya?" cecar Bulan dengan berbagai pertanyaan dalam keadaan panik.


Bulan langsung mendekati suaminya, dimana Samudra sudah bersikap baik-baik saja tanpa merasakan kesakitan.


"Raka sudah tidur, Dek?" tanya Samudra, mengalihkan semua pertanyaan Bulan.


"Udah deh, Mas. Jangan mengalihkan, Mas itu kenapa? Jangan bikin aku panik ya, aku enggak mau sampai Mas kenapa-kenapa. Pokoknya besok kita harus pergi ke dokter, titik!" ucap Bulan dengan tegas menatap suaminya.

__ADS_1


"Mas tidak apa-apa, Sayang. Mungkin karena kecapean jadi Mas sedikit merasa lelah gitu, lagian juga Mas baik-baik aja." jawab Samudra mengelus pipi istrinya.


"Makannya, Mas kerja jangan capek-capek. Percuma Mas punya pekerja, kalau semuanya masih Mas kerjaan sendiri. Kalau begitu mah enakan mereka yang memakan gaji buta!" sahut Bulan, kesal.


"Ssstt, tidak boleh berbicara seperti itu. Mas sama mereka itu, sama-sama mencari rezeki. Jadi, Mas juga harus tetap membantu mereka di sawah. Ini juga tubuh Mas masih kuat kok, 'kan Mas masih muda hehe ...."


Samudra tersenyum kecil, agar membuat suasana yang terasa tegang sedikit mencair. Apa lagi saat melihat wajah Bulan yang begitu mengkhawatirkan, membuat Samudra semakin tidak tega bila suatu saat nanti, Samudra harus pergi jauh meninggalkan anak serta istrinya.


"Ishh, Mas. Aku serius ya, tidak bercanda! Pokoknya mulai sekarang Mas kalau mau kerja, kerja secukupnya aja sisanya biar pekerja Mas aja yang ngerjain. Ingat, mereka itu Mas gaji!"


"Jadi biarkan mereka bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sementara Mas hanya sebagai pemandu, pemantau dan sebagainya layaknya komandan ataupun pimpinan. Paham!"


Baru ini, Samudra melihat betapa tegasnya istrinya ketika dia begitu mengkhawatairkan dirinya. Padahal selama ini, Bulan hanya bersikap sewajarnya.


Bila di bilanh perhatian, ya perhatian sih. Cuman lebih tepatnya, perhatian yang lebih kebiasa saja. Tidak sampai seperti saat ini yang benar-benar takut akan kehilangan Samudra.


"Janji ya, awas kalau Mas ada apa-apa enggak ngomong. Tiba-tiba aku tahu Mas sakit, lihat aja. Aku akan marahin Mas 7 hari 7 malam, biarin aja biar kuping Mas budek sekalian!" cicit Bulan, yang sudah benar-benar cemas bercampur marah.


"Bagaimana jika suatu saat nanti Mas pergi lebih dulu? Apakah kamu akan kembali bangkit dan mengurus Raka sampai dia bisa memilih jalannya sendiri?"


"Atau kamu akan tetap terus berada di dalam keterpurukan sampai kamu lupa, bahwa ada Raka yang harus kamu perjuangkan?"


Bulan terdiam menatap suaminya, matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya tumpahlah semua isak tangis Bulan di dalam pelukan suaminya.


Tak lupa tangan Bulan terus memukul kecil dada bidang suaminya beberapa kali, sambil menumpahkan apa yang membuatnya kesal.


"Hiks ... Mas tega, kalau Mas ninggalin aku sama Raka. Bagaimana kehidupan kami ke depannya, hahh! Apa Mas mau melihat masa depan Raka hancur, bahkan Mas mau lihat aku jadi gila. Iya!"

__ADS_1


"Kenapa Mas tega berbicara seperti itu sih, kenapa! Hiks ... A-aku mau Mas selalu ada di sampingku, aku mau Mas selalu bersamaku dan Raka sampai nanti Raka bisa memilih jodohnya sendiri. Aku mau itu Mas, aku mau itu hiks ...."


"Aku enggak mau menemani Raka tumbuh besar seorang diri, aku mau kita berdua yang nemenin Raka. Mas ngerti enggak sih, Mas itu kenapa sih selalu ngomong kaya begini. Apa Mas memang punya niatan buat ninggalin aku, iya? Kenapa, Mas? Apa salahku, apa! Hiks ...."


Entah mengapa, Samudra merasakan bahwa Bulan benar-benar telah berubah. Dia terlihat begitu berbeda dari bisanya.


Kali ini Bulan terlihat lebih sensitif, ketika Samudra selalu mengatakan yang sedikit menggesek hati istrinya.


Emosi Bulan semakin tidak bisa terkontrol, membuat Samudra merasa bersalah, sebab awalnya dia hanya ingin bercanda. Cuman, tanpa disengaja perkataan itu malah berhasil membuat perasaan Bulan seperti dikocok-kocok.


"Sa-sayang, ma-maafin Mas. Ma-mas enggak bermaksud seperti itu kok, beneran deh. Mas cuman mau liat reaksimu aja, karena Mas tuh merasa bahagia kamu sudah jauh lebih berubah dari pada sebelumnya. Kamu juga sangat mengkhawatirkan kondisi Mas. Namun, aki kaget kenapa reaksimu malah di luar dari perkiraan Mas. Sekali lagi maafin Mas, ya Sayang. Maaf!"


"Hiks ... Aku kesel, Mas selalu berbicara seperti itu. Pokoknya aku enggak mau maafin Mas kalau Mas tidak mau membuatkanku cilok. Titik!"


Bulan langsung melepaskan pelukan suaminya, lalu menghapus air matanya dan sedikit menjauh sambil berpura-pura marah padanya.


Wajah Samudra yang awalnya ketakutan, kini menjadi sangat syok saat mendnegar permintaan konyok ostrinya di tengah malam seperti ini.


"Hahh? Ci-cilok? Ja-jam segini aku harus cari cilok kemana, Sayang? Kami lupa, ini udah jam 12 malam loh." tanya Samudra, bingung.


"Entahlah, cari aja sampai ketemu baru aku maj maafin, Mas. Kalau enggak, ya sudah Mas tidur aja di luar. Sana!" ucap Bulan, mengusir suaminya dengan gerakan tangan dan langsung tiduran membelakangi suaminya.


Sementara Samudra hanya terdiam cengo saat dihadapi dengan permintaan istrinya yang sangat aneh. Beberapa kali Samudra membujuk Bulan, tetapi dia tetap kekeh pada pendiriannya.


Sampai akhirnya, ada satu bisikan yang berhasil membuat Bulan luluh. Dan mereka pun kembali berbaikan dengan wajah yang berbunga-bunga.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2