
Bulan pergi ke arah kamarnya, untuk mengambil jaket sang anak. Sementara Samudra tetap menggendong Raka, terus dia pun mulai berpamitan dengan Ibu mertuanya sambil menunggu Bulan.
Sekembalinya Bulan, dia segera bergegas memakaikan Raka jaket dengan wajah Raka yang terlihat sangat bahagia. Setelah itu mereka pun menaiki motor sambil memberikan lambaikan tangan pada Ibu Dara.
...*...
...*...
2 jam kurang, akhirnya mereka sampai di depan Perusahaan. Dimana Bulan langsung turun secara perlahan, lalu dia bersalaman kepada suaminya dan juga anaknya. Setelah itu Bulan pun melambaikan tangannya sambil berjalan memasuki Perusahaan.
Sementara Raka dan Samudra yang melihat Bulan sudah masuk ke dalam, kembali melajukan kendaraannya meninggalkan tempat tersebut.
"Ayah, Ayah! Kantol Bunda gede uga ya, Laka mau deh kelja dicana. Boyeh tan, Ayah?" ucap Raka sambil mendongak keatas dengan suara yang sedikit di kencangkan.
"Boleh dong, Ayah malah seneng kalau Raka nanti bisa kerja di kantor seperti Bunda. Asalkan Raka jangan sepertu Ayah yang kerjanya di sawah ya. Kalau Raka di sawah kasian nanti warna kulit Raka bisa-bisa gosong kaya Ayah, saking lamanya di bawah teriknya sinar matahari." jawab Samudra, matanya fokus ke arah jalan sesekali melihat anaknya.
"Ihhh ndak papah Ayah, tan alo kita celing-celing kena matahali pasti cehat, anggap aja aya bayi agi di jemul cama Mamahna hihih ...."
Perkataan Raka berhasil membuat Samudra pun ikut tertawa sepanjang jalan, dia tidak menyangka jika anaknya memiliki bakat untuk menghibur siapa pun yang sedang bersedih.
Tanpa Samudra mengatakan tentang perasaannya, Raka seakan-akan sudah mengerti dan dia juga memiliki ikatan batin yang cukup kuat kepada kedua orang tuanya.
Sampai akhirnya di saat Samudra mengatakan hal itu pada anaknya, Raka langsung peka dan sedikit memberikan lelucon supaya Ayahnya bisa kembali tersenyum.
Sepanjang jalan Raka melihat pemandangan yang begitu indah, sesekali dia bernyanyi bersama Samudra agar perjalanan mereka tidak terasa begitu membosankan.
__ADS_1
Apa lagi jarak menuju rumahnya yang cukup jauh serta kemacetan dan jalanan yang rusak menjadi penghalang mereka untuk bisa sampai di waktu yang tepat.
Berbeda dengan Bulan, dia baru saja sampai dan duduk di mejanya tepat di depan pintu CEO. Akan tetapi, tiba-tiba saja telepon yang ada di atas meja berbunyi. Tanpa menunggu lama, Bulan segera mengangkatnya dan mendengar suara yang tidak asing dari telinganya.
[Ekhem, sudah jam berapa ini? Baru hari pertama, sudah berani datang di waktu yang sangat mepet. Bagaimana dengan hari esok dan seterusnya? Apakah kau akan datang seenak jidatmu?]
Degh!
Bulan terkejut ketika telinganya mendengar suara Tuannya yang sudah berada di dalam ruangan. Hanya saja, yang membuat Bulan aneh. Tuannya bisa tahu dari mana, Bulan baru saja datang tepat pukul 07.55 WIB. Padahal sudah di jelaskan jika jam masuknya pukul 08.00, sementara Bulan datang diwaktu yang sangat nyaris aja terlambat.
"Da-dari mana Tuan Dzaky bisa tahu jika aku datang di waktu yang sangat dekat dengan jam masuk?" gumam batin Bulan, saat wajah terlihat begitu bingung.
[Kenapa diam? Heran, bagaimana caranya saya bisa tahu semua pergerakanmu? Jangan mentang-mentang baru saya terima bekerja di sini, kau sudah bersikap seenaknya!]
[Asalkan kau tahu, apapun yang semua karyawan lakukan semua itu tidak akan pernah sedikitpun lepas dari pengelihatan saya. Karena saya selalu memantau cara mereka bekerja, sedikit saja melakukan kesalahan maka terima hukumannya. Jadi, jangan pernah coba-coba untuk mengecohku. Paham!]
Bahkan ancaman itu membuat Bulan langsung terdiam, dia merasa bersalah dan juga segera meminta maaf agar urusannya tidak akan semakin memanjang.
Di tambah lagi, posisi Bulan masih sangatlah baru. Jadi dia tidak mau sampai kesempatan emas ini berakhir sia-sia, cuman karena Bulan datang kurang pagi dan nyaris saja terlambat.
[Ma-maaf, Tuan. Sa-saya mengaku, jika saya salah. Saya mohon keringanannya, perjalanan dari desa kecil tempat saya tinggal, menuju ke desa ini yang bisa di bilang hampir kota itu membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.]
[Padahal, saya sudah datang jauh lebih pagi. Namun, Tuan Dzaky tahu sendiri jika perjalanan dari desa saya itu sangatlah jelek. Belum juga macet, jadi saya harus melewati semua itu dengan waktu yang cukup lama. Akan tetapi, suami saya sudah berusaha jauh lebih cepat untuk datang ke kantor kok, Tuan.]
Jawaban dari Bulan sedikit membuat Dzaky kesal, karena baru dialah yang berani menjawab dengan panjang kali lebar tanpa rasa takut sedikitpun. Berbeda jika dengan karyawan lainnya, mereka lebih memilih mengiyakan supaya tidak membuat masalah menjadi panjang.
__ADS_1
Semua itu karena hampir 70 persen karyawan berasal dari kota. Dzaky mengambil mereka dari beberapa cabang perusahaan milik Papahnya yang dia pilih untuk ikut bersamanya untuk membangun perusahaannya sendiri. Jadi, hampir semuanya mengetahui bagaimana sifat Dzaky yang sebenarnya.
Dzaky memang terbilang Tuan yang sangat baik hati, akan tetapi dia memiliki sifat yang tidak suka di bantah ataupun, masalah yang seharusnya menjadi masalah kecil bisa menjadi besar. Hanya karena Dzaky mau terlihat perfek dari yang seharusnya.
[Oh, sudah berani ya kau membantah perkataan saya? Baiklah, jangan salahkan saya jika saya harus mengeluarkanmu dari----]
[Ti-tidak, Tuan. Saya mohon jangan keluarkan saya dari sini, ini adalah hari pertama saya bekerja. Berikan saya kesempatan lagi, saya janji besok saya akan datang lebih awal lagi.]
[Ma-maaf juga kalau saya sudah membantah perkataan Tuan Dzaky. Sekali lagi maaf Tuan, saya tidak akan mengulanginya la---]
[Cepat kerjakan berkas yang ada di ruangan saya, sekarang!]
Tut, tut, tut ...
Dzaky langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Bulan yang belum selesai berbicara hanya bisa membuka mulutnya terdiam bagaikan patung.
"Sumpah, baru kali ini ketemu orang semenyebalkan dia! Huhh, jujur saja kalau bukan karena Raka, aku tidak akan mau bertahan kerja di sini bersama orang angkuh seperti dia!"
"Ini yang tidak aku suka dari orang kaya, dia akan bersikap seenaknya terhadap orang di bawahnya, tanpa memikirkan perasaan seseorang yang sudah berusaha berjuang untuk mempertahankan haknya!"
Bulan menggerutu di dalam hatinya sambil menaruh telepon tersebut ke posisi awal, kemudian langsung segera pergi ke ruangan Dzaky.
Saking terburu-burunya Bulan, di melupakan sesuatu dan kembali mendapatkan peringatan keras serta wejangan di pagi hari dari Dzaky. Sehingga membuat hati Bulan semakin kesal dan juga gondok.
Rasanya Bulan ingin sekali menyerah, lalu pergi dari kantor ini. Hanya saja Bulan segera kembali teringat dengan tujuan utamanya, lalu dia pun bergegas beberapa kali mengucapkan istigfar didalam hatinya supaya dia dijauhkan dari hati yang mudah memanas.
__ADS_1
...***Bersambung***...