Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Penduduk Desa Tidak Sopan


__ADS_3

Namun, Bulan dan Raka yang tidak melihat ada sebuah mobil hanya bisa meneruskan langkah kaki mereka. Sampai-sampai kelakson mobil tersebut berbunyi dengan sangat nyaring, hingga keduanya pun menoleh dan berteriak sekeras mungkin.


Tin, tin!


"Aaarrghhhh ...."


"Bunda!"


"Raka!"


Teriak Bulan dan Raka secara bersamaan, hingga bunga yang tadinya terpegang erat di tangan Raka pun terjatuh ke bawah. Mata Raka melotot begitu besar saat melihat ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya dan semakin mendekat.


Ciiiitttttt!


Suara decitan mobil terdengar begitu nyaring, ketika sang pengemudi terpaksa menginjak rem mobilnya begitu dalam secara perlahan. Sehingga terdengar gesekan ban mobil yang sangat nyaring.


"Bunda, awas hiks ...."


Raka berlari berhambur memeluk Bundanya, membuat Bulan refleks begitu takut jika anaknya akan mengalami kecelakaan bersamanya.


Namun, untungnya mereka masih bisa selamat ketika mobil terhenti tepat sedikit lagi mengenai tubuh mereka.


"Raka, gapapa 'kan? Raka enggak terluka, 'kan?" tanya Bulan langsung menyamaratakan tinggi anaknya, dan mengecek semua tubuh anaknya saat mobil itu sudah berhenti.


"Hiks, La-laka gapapa Bunda. Bu-bunda uga gapapa tan? Bunda ndak cakit tan? Laka takut Bunda, hiks ...."


Raka langsung memeluk Bulan dengan sangat erat, dimana Bulan melihat anaknya seperti ketakutan. Semua itu karena jadiaan tersebut, hingga berhasil membuat tubuh mungil itu gemetar cukup hebat.


"Ssstt, tenang ya Sayang. Bunda ada disini kok, Bunda baik-baik aja. Raka enggak boleh takut lagi ya, lebih baik sekarang Raka istigfar supaya hati Raka bisa lebih tenang, okay?" nasihan Bulan diangguki oleh Raka.


Perlahan Bulan melepaskan pelukan anaknya, sambil melihat dan mendengar kalimat istigfar terucap di bibir kecil Raka. Meski, tidak terdengar jelas. Setidaknya Raka bisa mengucapkannya walaupun sedikit cadel.

__ADS_1


"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Saya benar-benar minta maaf atas kecerobohan ataupun kelalaian saya dalam mengendarai, soalnya tadi saya lagi terima telepon dari rumah sakit jika Mamah saya lagi sakit. Jadi sekali lagi maaf ya, udah membuat kalian hampir saja celaka karena saya!"


Seorang pria tampan keluar dari mobilnya dengan sangat gagah dan juga berwibawa. Walau wajahnya terlihat gelisan, tetapi dari penampilannya pun tidak membosankan.


Bulan melihat pria itu langsung berdiri dan membawa Raka ke dalam pelukannya, karena Raka masih sedikit syok akibat kejadian yang hampir menimpa Bundanya.


"Lain kali hati-hati, Tuan. Untung aja saya dan anak saya gapapa, bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak saya? Apakah Tuan bisa menggantikan semuanya? Tidak, bukan!"


Bulan terlihat begitu kesal pada pria itu. Seakan-akan dia ingin berusaha memisahkan Raka darinya, tetapi Allah masih memberikan keselamatan pada mereka, sehingga mereka masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Loh, saya 'kan sudah minta maaf secara baik-baik. Kenapa Nyonya ngegas seperti ini? Lagi pula, dari jauh saya udah mengklakson anda bukan? Cuman andanya saja yang jalan sambil melamun, bagian udah deket aja nyalahin orang. Dasar tidak tahu diri!"


Pria itu mulai terpancing akibat kepalanya begitu pusing ketika memikirkan kondisi Mamahnya, malah mendengar ucapan Bulan yang sangat menyudutkan semua kesalahan padanya.


"Ya harusnya anda tahu dong, jika anda berada di desa seperti ini. Minimal gunakan mobil anda dengan kecepatan normal. Lihatlah, ini jalan setapak Tuan. Bukan kaya di kota yang bisa lalu lalang sepuasnya!" ucap Bulan, nadanya semakin meninggi.


"Ehh, nyonya!"


"Dasar penduduk desa tidak sopan, apakah begini cara berpikir orang desa di sini ketika bertemu dengan orang luar, hahh!"


"Awalnya saya sudah baik-baik ya, meminta maaf sama anda. Akan tetapi, ucapan anda begitu menyakitkan Nyonya!"


"Tidak pantas anda memakai hijab, jika cara berbicara anda masih sama seperti wanita yang tidak menggunakan hijab!"


"Bahkan banyak wanita pula yang tidak menggunakan hijab, memiliki sopan santun diatas dirimu!"


Degh!


Mendengar itu membuat Bulan semakin memuncak, satu sisi dia marah karena rasa ketakutannya akan kehilangan anaknya, ketika Raka malah memeluknya di saat bahaya seperti itu. Jika mungkin Bulan sendiri tak masalah.


Cuman ini ada Raka yang memeluknya, kalau sampai itu terjadi. Jujur, Bulan akan sangat terpukul dan akan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang membuatnya teledor ketika menjaga anaknya.

__ADS_1


Saat mulut Bulan ingin mengatakan sesuatu kembali, Raka menahannya karena dia sudah tidak kuat lagi mendengar keributan dengan suara meninggi seperti ini.


"Hehh, Tuan. Jangan--"


"Bu-bunda hiks, pa-pala Laka pucing."


Keluhan Raka berhasil menghentikan perdebatan tersebut. Bulan langsung mengecek kondisi anaknya yang saat ini sedikit demam. Mungkin, kejadian tadi membuatnya syok, dan tubuhnya segera meresponnya dengan cepat.


"Astagfirullah, Nak. Badanmu kenapa tiba-tiba panas? Maafkan Bunda ya, karena Bunda Raka jadi seperti ini. Sekarang kita pulang ya, kalau Raka enggak kuat bobo aja ya. Nanti sampai rumah Bunda berikan obat biar rasa pusingnya ilang."


Raka hanya bisa mengangguk menyembunyikan wajahnya di dada Bulan, lalu Bunda menatap sinis ke arah pria itu dan dia mengambil rantangnya lalu pergi secepat mungkin.


Bulan tidak mau jika suhu badan Raka semakin meninggi, itu akan membuat Bulan semakin merasa bersalah.


Sementara pria itu yang melihat Bulan pergi menggendong Raka, tiba-tiba saja dia merasa kesal dan menendang angin serta berteriak sekeras mungkin.


"Aaarrghh, si*al! Kenapa hari ini gua si*al banget sih, pertama gua udah jauh-jauh ke sini meeting malah di batalkan. Kedua Mamah masuk rumah sakit, karena darah tingginya kuat. Dan sekarang? Gua ketemu sama wanita aneh kaya itu, cihhh!"


"Dasar tidak tahu terima kasih, ini yang enggak gua suka saat gua ketemu sama orang desa! Lagian Papah ngapain sih, nyuruh gua dateng ke desa kaya gini. Udah hawanya panas, di tambah isinya juga panas. Aarrghh, membagongkan!"


Pria itu uring-uringan membuat beberapa motor yang lewat hanya bisa menatapnya aneh, lalu pria itu malah memarahinya dan dia pun segera memasuki mobilnya sambil menutupnya begitu keras.


Saking kesalnya, dia memukul setir bagaikan orang yang sedang melampiaskan emosinya. Beberapa menit, dia berusaha untuk menenangkan pikiran dan hatinya agar bisa melanjutkan perjalanan pulang untuk segera menemui Mamahnya yang sedang di rawat.


Tanpa basa-basi lagi, mobil itu melaju dengan kecepatan normal, lantaran pria itu takut jika dia kembali berurusan dengan orang desa yang sangat menjengkelkan. Sama seperti Bulan, yang malah bersikap seperti wanita yang tidak memiliki sopan santun.


Semua itu mungkin bisa terjadi akibat rasa cemas dan takutnya akan kehilangan Raka, jadi dia lepas kendali dan lupa sama apa yang di ucapakan itu. Nyatanya, perkataannya mampu melukai hati seseorang, walaupun wajar jika dia mengkhawatirkan kondisi anaknya.


Cuman tidak di benarkan juga, jika apa yang Bulan lakukan itu merupakan sikap yang baik dalam menghadapi suatu masalah. Satu posisi, pria ini sudah mengakui kesalahannya, sementara Bulan belum bisa terima. Dia hanya takut kalau kondisi anaknya yang masih sangat kecil, memiliki trauma akibat kajadian tadi.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2