Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Trauma Indomie


__ADS_3

Raka memohon dengan nada yang sangatlah merendah, membuat Opa dan Omanya langsung mengangguki dengan antusias.


Seketika Raka melompat penuh ke girangan lantaran dia bisa bermain dengan Oma dan Opanya, sehingga rasa rindunya terhadap Bundanya yang baru saja kerja sudah terobati.


...*...


...*...


...Di Perusahaan Radhitya...


Bulan sedang fokus mengerjakan semua dokumen yang diambil dari atas meja Dzaky, hampir kurang lebih ada 15 sampai 20 dokumen yang harus Bulan kerjakan.


Sudah hampir jam makan siang Bulan telah selesai mengerjakan sekitar 5 dokumen yang berhasil dia kerjakan dengan sempurna.


Semua hanya tinggal Bulan berikan pada Dzaky untuk di cek kembali, jika ada kesalahan maka dia bisa memperbaikinya sambil dia mengerjakan dokumen yang lainnya.


"Hahhh, udah hampir mau jam makan siang. Cuman kerjaan belum selesai. Masih tersisa puluhan dokumen yang belum aku kerjakan, jadi gimana ini?"


"Apakah Tuan menyebalkan itu akan kembali mengusik hidupku? Terus bagaimana dengan jam pulangku, masa iya baru hari pertama udah lembur sih. Kasihan Mas Samudra nanti nunggunya terlalu lama, pasti dia lelah karena udah seharian ke sawah."


"Udah jam makan siang juga, gimana kalau aku makan dulu. Lagian juga Tuan Dzaky sedang meeting di luar bersama dengan asistennya, jadi amanlah. Aku bisa makan dulu sebentar, terus kerjain lagi deh. Atau kerja sambil makan pun bisa."


Bulan mengoceh sambil membereskan dokumen yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan, lalu memisahkannya. Supaya mempermudah dia untuk tidak salah memberikan berkas kepada atasannya.


Setelah mejanya rapi, Bulan membawa tasnya pergi ke arah Pantry kantor. Dimana ada 2 Pantry, pertama di lantai bawah khusus untuk semua karyawan dan di atas khusus untuk CEO beserta rekannya.

__ADS_1


Bulan berjalan perlahan, tersenyum dan saling nyapa satu sama lain ketika bertemu dengan beberapa OB di Panty.


"Siang, Bu. Ibu sekretaris Tuan Dzaky yang baru ya? Aduh, cantiknya natural banget. Tidak seperti sekretaris yang kemarin, cocok nih sama Tuan Dzaky." ucap salah satu OB di Pantry.


"Maaf, Mbak. Saya sudah berkeluarga, usia anak saya juga sudah mau jalan 5 tahun," balas Bulan tersenyum membuat beberapa OB tersebut terkejut.


"Ha-hahh? Se-serius Ibu sudah berkeluarga? Ko-kok bisa bekerja menjadi sekretaris Tuan Dzaky? Bukannya dia mencari yang single?" tanyanya dengan wajah yang benar-benar tidak percaya oleh perkataan Bulan.


"Serius, Mbak. Apa yang Mbak katakan juga benar kok, cuman mungkin saja ini adalah rezeki saya. Jadi, saya tidak mau menyia-nyiakan semua ini. Saya akan lebih semangat lagi bekerja, semua demi memberikan kehidupan yang lebih baik lagi untuk anak saya." jelas Bulan, membuat semuanya melongo menatap satu sama lain.


Rasanya sulit untuk mempercayai perkataan Bulan, akan tetapi apa yang Bulan katakan memang benar. Jika saat ini Bulan sangatlah beruntung, itu tandanya Allah memang telah memberikan rezeki seperti ini.


"Ibu beruntung banget ya, karena setahu saya Tuan Dzaky tidak mau karyawan baru yang akan bekerja disini memiliki status keluarga. Dia selalu meminta untuk mencarikan yang single agar tidak membuatnya pusing jika kebanyakan izin masalah keluarga dan sebagainya." ucapnya tersenyum.


"Alhamdulillah, semoga aja di sini memang rezekiku. Ohya, bolehkah aku memasak disini? Soalnya aku membawa Indomie untuk aku masak, karena ini sudah jam makan siang. Bisakah tunjukan aku dimana letak peralatan makannya?"


Beberapa OB benar-benar bingung, lantaran Bulan sama sekali tidak merasa malu menunjukkan semua yang dia bawa itu. Bagi mereka biasanya semua karyawan jika sudah masuk jam makan siang akan berlomba-lomba untuk memesan di kantin ataupun melalui gofood.


Cuman kali ini sangatlah berbeda, Bulan memilih untuk masak sendiri walaupun dengan menu sederhana, tetapi dia tidak malu.


"Heii, Mbak. Kenapa melamun? Apakah Mbak ada masalah?" tanya Bulan sambil melambaikan tangannya, penuh kecemasan.


"Ahi-iya, ti-tidak, Bu. Saya cuman kagum aja sama Ibu, yang tidak malu dengan apa yang Ibu bilang tadi. Sementara semuanya malah berlomba-lomba terlihat makan mewah di kantin atau gofood di rumah makan lainnya." jelasnya sambil menatap temannya yang juga mengangguk setuju.


"Huhh, kalau aku ada uang banyak pun aku juga akan makan di kantin seperti yang lain. Hanya saja, aku cuman memegang uang untuk pegangan di jalan itu pun tidak banyak, lantaran kebutuhan perekonomian kami sedang surut." gumam Bulan di dalam.hatinya sambil terus mengukir senyuman kecil.

__ADS_1


"Setiap orang berbeda-beda, Mbak. Jadi ya biarkan saja mereka mau makan apa, saya cukup dengan ini pun sudah enak."


Jawaban Bulan membuat mereka tersenyum, lalu menunjukkan setiap laci yang ada di sana untuk memberitahukannya dimana saja letak alat makan tersebut.


Setelah itu, Bulan pun memasak mienya dengan wajah senang. Akhirnya dia bisa juga mengisi perutnya yang sudah dari tadi keroncongan.


Sebelum salah satu OB keluar dari Pantry dia mencoba untuk menasihati Bulan, yang membuat Bulan terkejut dan juga merasa takut.


"Bu, maaf jika mau makan mie lebih baik di sini saja ya. Jangan kemana-mana, soalnya Tuan Dzaky tidak menyukai seseorang memakan Indomie seperti ini. Ketika dia melihatnya pasti akan marah besar, tetapi berbeda jika memakan mie yang lainnya." nasihat OB itu membuat Bulan berbalik memasang wajah penuh khawair.


"Se-seriusan? Sebenci itukah Tuan Dzaky sama Indomie? Memangnya dia kenapa bisa seperti ini, Mbak?" tanya Bulan, penasaran.


"Entahlah, Bu. Beberapa kali ada OB atau karyawan lainnya yang makan Indomie, lalu ketahuan maka reaksi Tuan Dzaky benar-benar marah. Kalau yang saya dengar, kayanya di punya trauma tersendiri sama Indomie. Jadi saya sarankan Ibu makan di sini saja, untuk menjaga jarak aman."


Semakin OB itu menjelaskan kepada Bulan, semakin membuat Bulan menjadi tidak karuan. Cuman Bulan tetap berusaha tenang agar tidak terlihat ketakutan.


"Terima kasih, Mbak. Sudah menasihatiku, lagi pula Tuan Dzaky sedang meeting di luar dan itu pasti membutuhkan waktu yang lama dan akan kembli setelah makan siang. Jadi semuanya aman kok, saya makan juga tidak akan lama."


Bulan tersenyum sambil membuka bungkus bumbunya, sesekali menatap OB itu yang juga ikut tersenyum. Kemudian dia pun berpamitan pada Bulan untuk meneruskan pekerjaannya yang belum selesai meninggalkan Bulan di Pantry sendirian.


Seperginya OB tersebut, Bulan merasa senang karena Indomie yang dia inginkan sudah jadi dan aromanya sangat menggiurkan.


Bulan menuang perlahan mie tersebut ke dalam mangkok, lalu kembali menaruh panci di tas kompor dan mengangkat mangkok tersebut untuk menaruhnya diatas piring, agar tidak terlalu panas ketika Bulan membawa ke meja kerjanya.


Entah mengapa, setelah di berikan nasihat itu Bulan tidak terlalu menggubrisnya. Baginya jika dia makan di meja kerjanya, maka itu bisa membuatnya sedikit meringankan pekerjannya. Jadi, Bulan bisa makan sambil bekerja agar semua berkas-berkasnya bisa terselesaikan tepat pada waktunya, tanpa memikirkan efek sampingnya ketika bertemu dengan Dzaky.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2