Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Maafkan Ayah


__ADS_3

Bulan berusaha menidurkan anaknya, sementara Samudra hanya duduk menyandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Semua itu Samudra lakukan agar dia bisa memperluas tentang pengetahuannya sebagai seorang petani.


Akan tetapi setelah Raka tertidur pulas, Bulan kembali memulai untuk membuka suara dan melanjutkan keinginannya untuk meminta izin bekerja pada suaminya.


"Mas, kasih aku izin 'kan, kalau aku kerja? Aku janji aku cuman kerja kok, enggak akan aneh-aneh. Aku hanya enggak mau perekonomian kita kaya gini terus."


"Aku pengen hidup kita sedikit membaik, supaya kelak disaat Raka sudah tumbuh besar. Dia tidak akan lagi jadi bahan cemooh orang di sini, aku cuman takut Mas. Jika suatu saat nanti Raka tidak bisa meneruskan pendidikannya, bagaimana dengan mentalnya? Apa dia bisa menghadapi omongan dari tetangga?"


"Mas sendiri tahu 'kan, mereka aja selalu merendahkan aku ataupun kamu Mas. Belum lagi mereka selalu membicarakan kejelekan kita kepada Ibu, sementara Ibu saja tidak keberatan dengan keadanmu."


"Bahkan ada tetangga kita yang lain aja, baru beli motor dan kerjaan sebagai petani sama sepertimu masih di bilang mereka dapat uang dengan hasil yang tidak baik. Terus apa kita mau selamanya berada di lingkungan seperti ini? Apakah lingkungan ini juga akan baik untuk pertumbuhan Raka?"


"Tidak, Mas. Ini adalah lingkungan yang buruk, mereka hidup dengan kesyirikan sehingga membuat hati mereka menjadi kotor. Setelah itu mereka bisa menghasut semua orang agar memiliki pikiran yang sama dengan jalan pikir mereka."


Samudra terdiam mendengarkan celotehan istrinya yang saat ini terlihat begitu takut, sedih dan juga kecewa dengan keadaan yang saat ini mereka jalani.


Di saat Bulan sudah mulai terdiam sambil sedikit terisak, Samudra langsung bangkit dari posisinya lalu mendekati istrinya, kemudian memeluknya dalam waktu yang cukup lama.


"Kalau kamu kerja, terus siapa yang akan mengurus Raka? Aku tidak bisa selalu merepotkan Ibu, Sayang. Semakin hari Ibu semakin menua, aku tidak bisa membuat Ibu kelelahan hanya karena mengurus cucunya."

__ADS_1


"Aku tidak masalah jika kamu mau bekerja, cuman aku tidak tega kalau di usia Raka yang sekecil itu waktu bersama dengan orang tuanya harus terbagi. Bagaimana jika Raka merasa kesepian?"


"Kamu juga tahu 'kan, waktuku hampir 12 jam berada di sawah, dan juga kebun karena itulah tuntutan tanggung jawabku untuk memberikan kalian nafkah lahir batin. Sementara kamu, jika kamu kerja apakah waktumu bisa kamu bagi antara pekerjaan, rumah, anak, suami dan yang lainnya?"


"Tugasmu sebenarnya menjadi Ibu rumah tangga pun itu sudah sangat mulia, Sayang. Kamu bisa mengajarkan Raka belajar, mengaji dan sebagainya bagiku udah masyaallah banget."


"Cuman jika kamu mengatakan seperti ini, sama saja itu semua membuktikan bahwa usahaku selama ini untuk memenuhi kebutuhan kalian sangatlah kurang. Seolah-olah aku ini kurang kerja keras dalam mencari nafkah untuk kalian."


Bulan menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan pelukan suaminya dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, Mas. Tidak seperti itu, aku tidak menganggap kamu kurang bekerja keras. Cuman ya gimana ya, aku juga bingung. Aku enggak bisa hidup seperti ini terus, Mas. Lebih baik kita usaha bersama, Mas kerja demi kebutuhan kita dan aku kerja demi membantu serta membahagiakan Raka."


Perkataan Bulan hanya diangguki oleh Samudra, dia tidak bisa menjawab semuanya sekarang. Samudra malah mengalihkan pembicaraan tersebut dan meminta Bulan untuk segera beristirahat karena jam sudah mulai tengah malam.


Bulan paham, kalau saat ini Samudra sepertinya sangat berat untuk mengizinkannya bekerja. Ya, bagi Bulan wajar saja Samudra seperti itu. Karena terlihat jelas bahwa Samudra tidak mau anaknya sampai kekurangan waktu bersama atau pun kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Samudra mencium kening istrinya, lalu bangkit dan kembali ke tempatnya di sisi sebelah kiri Raka. Samudra langsung merebahkan badannya sambil menutup matanya.


Sementara Bulan melihat suaminya seperti itu, hanya bisa berharap semoga ada keajaiban yang bisa mengetuk pintu hati suaminya. Agar kelak bisa mengizinkannya kembali bekerja.

__ADS_1


Apa lagi selama ini Bulan belum pernh merasakan bekerja, karena ketika dia lulus sekolah Samudra langsung melamarnya dan menjadikan Bulan sebagai istrinya.


Perlahan Bulan merebahkan badannya, sambil menatap ke arah Raka lalu mencium pipinya kemudian dia pun memejamkan kedua matanya memasuki alam bawah sadarnya.


Kurang lebih 5 menit, perlahan Samudra membuka matanya. Ternyata, dia tidak tidur. Dia hanya berpura-pura tertidur agar Bulan tidak lagi meneruskan perkataannya.


Samudra memiringkan tubuhnya menatap wajah istrinya, lalu dia melihat ke arah wajah mungil nan lucu yang saat ini sedang tertidur pulas membuat hati Samudra benar-benar tersentuh.


"Maafkan, Mas ya Dek. Maafkan Ayah ya, Raka. Ayah belum bisa membuat kalian bahagia, Ayah selalu membuat kalian merasa kesulitan seperti ini."


"Cuman, kalian sabar ya. Insyaallah Ayah akan berusaha lebih keras lagi, agar Ayah bisa membahagiakan kalian semua. Ayah tidak bisa janji, akan tetapi Ayah akan tetap berusaha sampai kapanpun selama Ayah masih bisa membuka mata, selama itu pula Ayah akan berjuang demi kalian."


"Sebenarnya Ayah bukannya tidak mau memberikan izin untuk Bundamu bekerja, hanya saja Ayah takut jika nanti keadaannya tidak seperti ini lagi. Dimana Bundamu akan lebih banyak waktunya untuk bekerja, lupa akan tugasnya untuk menemanimu dan juga bermain bersamamu. Sementara Ayah, selaku kepala rumah tangga itu adalah tanggung jawab Ayah bukan Bundamu."


"Ditambah lagi Ayah takut jika nanti, Bundamu bekerja dengan pekerjaan yang enak serta gajinya lumayan. Maka, Bundamu tidak akan lagi menghargai Ayah karena semua kebutuhan berhasil Bundamu sendiri yang menghandlenya."


"Jadi, maafkan Ayah kalau Ayah belum bisa memenuhi kebutuhan kalian. Tapi, kalian tenang aja ya. Insyaallah, Ayah akan lebih semangat lagi kerjanya agar bisa berusaha memenuhi semua yang kalian inginkan. Jangan lupa juga selalu doain Ayah ya, supaya rezeki Ayah selalu melimpah untuk kalian. Aamin, Allahhuma Aamin ...."


Samudra berbicara dengan nada yang sangat kecil, tangannya perlahan terangkat untuk mengelus pipi istri dan anaknya. Tak lama dia memejamkan kedua matanya lalu ikut tertidur bersama mereka.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2