
Hanya satu harapkan mereka saat ini, yaitu mereka sangat-sangat menginginkan kesembuhan untuk Bulan maupun Samudra. Agar Raka bisa kembali menjalani kehidupannya bersama kedua orang tuanya.
Dzaky yang melihat itu, langsung meminta asistennya untuk membelikan minuman serta makanan karena Dzaky tidak mau sampai semua orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya malah menjadi sakit.
Begitu juga kedua orang tua Dzaky, mereka selalu meminta Dzaky untuk mengabarinya setiap ada perkembangan disana. Sebab, mereka harus mengurus acara Dzaky yang sempat tertunda akibat musibah yang terjadi pada Samudra.
10 menit berlalu, akhirnya sang dokter pun keluar dari ruangan bersama asistennya. Oma Dena, Raka dan juga Dzaky langsung berdiri mendekati sang dokter untuk menanyakan bagaimana keadaan Bulan saat ini.
"Doktel, Bunda Laka kenapa? Bunda enggak sakit kaya Ayah 'kan? Bunda Laka, Bunda yang hebat. Pasti akan selalu baik-baik aja, benar 'kan, Doktel?"
Raka membuka suara lebih dulu, sebelum Oma Dena mengatakan sesuatu tentang menantunya. Melihat Raka menangis, dokter cantik itu segera menyamakan tinggi Raka, kemudian mengelus pipinya di penuhi senyuman.
"Siapa namamu tadi, ganteng? Laka?" tanya sang dokter diangguki oleh Raka.
"Raka, Dok. Maaf dia sedikit cadel." sambung Oma Dena, membuat sang dokter mendongak sambil menganggukan kepalanya.
"Baiklah, sekarang Raka enggak boleh sedih lagi ya. Bundamu itu tidak sakit seperti Ayah kok, Bunda hanya kecepean dan sedikit terkejut saat tau kondisi Ayahmu yang sedang sakit."
"Ohya, dokter ada kabar gembira buat Raka. Cuman, Raka harus janji dulu sama dokter kalau Raka enggak boleh nangis lagi. Raka harus jadi anak yang kuat, supaya kedua orang tua Raka juga bisa ikutan kuat menghadapi ujian yang Allah berikan. Janji?"
Sang dokter tersenyum mencubit kecil pipi Raka, serta menghapus semua air mata yang masih menetes. Wajah Raka terlihat begitu bingung, sama apa yag dikatakan oleh sang dokter.
Bagaimana mungkin Raka akan mendapatkan kabar gembira, di saat Raka sendiri tahu bila Bunda dan Ayahnya sedang sakit. Lantas kabar gembira apa yang akan Raka dapat dari sang dokter? Entahlah.
Semua itu membuat yang lainnya pun ikut penasaran, mereka tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dokter. Sampai Oma Dena langsung berbicara lebih dulu, sebelum Raka menjawab ucapan sang dokter.
__ADS_1
"Kabar bahagia apa, Dok? Ada apa dengan menantu saya? Katakan, jangan buat saya menjadi panik!" ucapnya dengan wajah panik.
"Sabar, Tante. Kita tunggu dokter itu menjelaskannya, setidaknya ini bukan kabar buruk mengenai Bulan." sambung Dzaky mencoba menenangkan Oma Dena.
"Tenang ya, Nyonya. Berikan waktu untuk dokter menjelaskannya pada cucu, Nyonya." timpal asisten susternya.
Raka menatap wajah Omanya, lalu Dzaky setelah itu asisten Dzaky yang baru saja sampai setelah habis membelikan minum serta cemilan untuk mereka.
"Bagaimana? Raka bisa janji sama dokter untuk tidak menangis lagi? Kalau tidak, dokter tidak akan memberikan kabar gembira tentang Bunda Raka."
Sang dokter terus berusaha agar membuat Raka bisa lebih tenang lagi. Sebab, jika Raka selalu bersikap seperti ini. Itu sangat berbahaya bagi pertumbuhan sikisnya, bisa jadi Raka akan terkena sedikit gangguan mental kalau harus terus menerus merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
"La-laka janji, Laka enggak nangis lagi. Laka akan jadi anak yang kuat demi Bunda dan Ayah. Teyus kabal gembila dali doktel apa?" tanya Raka, tatapannya benar-benar polos ketika kedua mata indahnya itu langsung menatap manik mata sang dokter.
Perlahan sang dokter tersenyum, lalu dia memegang kedua bahu Raka sambil menarik napasnya secara perlahan. Kemudian satu kalimat terlontar dari sang dokter membuat semuanya langsung syok.
Degh!
Oma Dena segera menutup mulutnya sambil posisi mata membola besar dan hampir keluar. Dia sangat terkejut karena sebentar lagi cucunya akan bertambah menjadi dua.
Berbeda sama Dzaky, dia terkejut bukan karena merasakan kebahagiaan seperti yang lain. Melainkan hati Dzaky sudah sangat hancur, saat mengetahui bila Bulan kembali mengandung anak dari sahabatnya.
Harapan Dzaky untuk bisa memiliki Bulan, semakin menjauh. Seakan-akan takdir tidak pernah merestui Dzaky untuk selalu ada di dekat Bulan.
Asisten Dzaky yang memang mengerti apa yang di rasakan oleh atasannya itu, cuman bisa menepuk kecil pundaknya dari arah belakang sambil berbicara layaknya orang berbisik.
__ADS_1
"Yang sabar, Tuan. Bulan memang tidak di takdirkan untuk Tuan, lebih baik Tuan fokus untuk menyelamatkan sahabat Tuan. Kasihan dia, bila harus pergi meninggalkan istri serta anak-anaknya yang masih sangat membutuhkannya."
"Ya, kau benar. Aku harus menyelamatkan sahabatku, apapun caranya aku ikhlas bila Bulan hidup bahagia bersama suaminya. Dan aku juga berjanji, bila aku akan menghilangkan semua perasaan ini untuknya. Serta aku akan menganggap mereka sebagai keluargaku ataupun saudaraku."
Dzaky menjawab bisikan asistennya sambil melihat wajah Raka yang awalnya sangat sedih, sekarang sudah berubah menjadi bahagia. Semua berkat kabar baik yang dokter berikan padanya.
"I-itu altinya sebental lagi Laka akan punya adik, begitu doktel?" tanya Raka, antusias.
"Ya, benar." jawab sang dokter tersenyum lebar.
"Yeeey, holee ... Laka punya adik. Telima kasih ya Allah, Allah udah kabulkan doa Laka yang mau punya adik. Tapi, Allah juga jangan lupa kabulkan doa Laka supaya Ayah sama Bunda bisa sehat lagi. Laka, janji. Laka akan jadi anak yang baik, dan Kakak yang baik buat adik. Asalkan Allah mau mengabulkan doa-doa Laka."
"Laka tidak meminta sepeda balu, baju bagus, atau mainan balu kok. Laka cuman mau Ayah, Bunda sama adik sehat semuanya. Supaya nanti kalau Laka sudah ketemu adik, kita bisa main baleng-baleng. Pasti selu, dali pada Laka halus kehilangan Ayah. Laka engak mau, pelcuma Laka punya adik kalau Laka enggak punya Ayah. Mending Laka tidak punya adik sama sekali, tapi Laka bisa main sama Ayah setiap hali."
Lagi dan lagi, kata-kata anak kecil seusia Raka mampu membuat air mata semuanya menetes. Bahkan sang dokter pun ikut meneteskan air matanya, yang langsung di hapus.
Kemudian sang dokter pun memeluk Raka sangat lembut, dia berusaha untuk menenangkan Raka agar tidak lagi berlarut di dalam kesedihannya.
"Raka sabar ya, Sayang. Dokter yakin, Ayah Raka pasti kuat. Jadi nanti Raka bisa main sama Bunda, Ayah dan juga adik. Laka harus percaya, kalau Allah itu sangat mendengarkan doa-doa anak yang shaleh. Jadi, doa Raka kalau mau di dengar Allah. Raka halus rajin shalat ya. Supaya Allah akan segera menyembuhkan Ayah Raka."
Sang dokter berbicara sambil melepaskan pelukan Raka dan tersenyum. Raka cuman bisa menatapnya menggunakan tatapan bingung. Haruskah Raka senang atau sedih? Karena kedua suasana itu tidak mampu membuat pikiran Raka bisa teralihkan.
Perlahan sang dokter berdiri menatap Oma Dena yang dari tadi selalu penasaran sama kondisi kandungan menantunya. Karena, Oma Dena sangat tahu jika tidak semudah itu untuk membuat Raka mengerti sama keadaan saat ini.
Hanya Samudralah yang bisa membuat Raka mengerti oleh semuanya, sama halnya seperti Bulan. Terkadang dia juga bisa membuat Raka mengerti, tetapi terkadang dia pula suka gagal untuk memberikan pengertian sesuai dengan bahasa anak kecil.
__ADS_1
...***Bersambung***...