Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Harga Diri


__ADS_3

Cuman, sayangnya. Mereka memasukan Raka dan Ibu Dara di rumah sakit yang salah. Jadi, di rumah sakit ini menolak keras untuk melayani pasien yang berkaitan dengan BPJS.


Mau tidak mau, ini semua sudah terlanjur terjadi. Sehingga Samudra harus memutar otak untuk memikirkan bagaimana cari jalan keluar yang terbaik.


Sementara Bulan, dia masih terus mengaitkan semua kejadian itu agar dia bisa mendapatkan izin untuk bekerja. Karena ketika Bulan meminta izin berkali-kali, Samudra seakan-akan tidak pernah mau meresponnya dengan jawaban iya atau tidak. Jadi, dia masih menggantungkan antara mengizinkan atau tidak.


"Mas, kenapa sih diam terus. Suster itu, tuh bilang. Jika waktu kita enggak banyak, kalau sampai besok sore belum dibayar juga, maka Raka dan Ibu akan langsung di pulangkan!" ucap Bulan dalam keadaan wajah sedikit emosi.


"Ya sudah, kita pikirkan nanti ya. Sekarang lebih baik kamu kembali ke dalam temenin Raka sama Ibu, aku mau cari angin sebentar. Nanti aku kembali lagi, kamu makan duluan aja."


Samudra tersenyum sambil mengusap pipi Bulan perlahan, lalu bangkit dan meninggalkan Bulan sendirian.


Dimana Bulan hanya menatap kepergian Samudra yang mulai menjauh. Ya, mungkin Bulan paham jika Samudra saat ini sedang bingung dan juga khawatir. Cuman, kalau dia seperti ini malah membuat Bulan yang menjadi panik.


Bulan merasa jika Samudra seperti ingin lepas dari tanggung jawabnya, tapi mau bagaimana lagi. Memang mencari biaya rumah sakit tidaklah semudah yang di katakan. Apa lagi rumah sakit swasta itu, apa-apa semuanya serba bayar tanpa menerima BPJS atau sebagainya.


Bulan yang sudah tidak melihat suaminya, segera kembali ke dalam ruangan Raka dan Ibunya, sesekali dia bertegur sapa dengan pengunjung lainnya karena di dalam ruangan itu ada 10 bangkar yang saling berhadapan.


Sementara Samudra, dia pergi entah kemana. Yang terpenting dia jalan mengikuti arah langkah kedua kakinya, memutari rumah sakit sambil berpikir dan juga merenung. Langkah apa yang akan dia ambil, sedangkan keadaan perekonomian mereka tidaklah stabil.


Namun, harta yang mereka punya hanya tinggal 2 yaitu tanah dan juga rumah. Jika dia menjual tanahnya, maka Samudra tidak tahu harus memberikan keluarga kecilnya kehidupan dengan cara apa lagi.


Cuman, jika dia jual rumahnya. Maka, mereka harus bolak-balik ngontrak kesana-kemari, berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika tidak bisa melunasi pembayaran perbulannya.


Sulit, bukan? Ya, itulah yang di rasakan Samudra. Dia sangat dilema dengan keadaan seperti ini sampai akhirnya tanpa di sengaja, dia bersenggolan dengan seseorang yang membuat ponsel orang tersebut hampir saja terjatuh.

__ADS_1


Bugh!


"Astagfirullah, ma-maaf, Mas. Ma-maaf, saya tidak sengaja!" ucap Samudra tanpa melihat orang tersebut.


"I,-iya tidak apa-apa, harusnya saya yang minta maaf karena tidak seng ... Loh, Sa-sam? I-ini beneran, lu 'kan?"


Degh!


Saat mendengar orang itu mengenai dirinya, segera mungkin Samudra menoleh dan menatapnya. Betapa terkejutnya Samudra ketika dia bertemu kawan lamanya yang pernah satu Universitas dengannya.


"Sumpah, gua enggak nyangka, Sam. Akhirnya gua bisa ketemu lu juga di sini!"


Seorang pria memeluk Samudra cukup erat, begitu pun dengan Samudra. Wajah mereka terlihat sangat bahagia saat bertemu satu sama lain. Sampai beberapa detik, mereka pun menyudahi pelukannya sambil di penuhi dengan senyuman kecil.


"Asal lu tahu, Sam. Gua udah lama banget nyariin lu, kemana-mana. Ehh, tahunya lu malah ada di daerah ini? Andai gua tahu sejak lama, mungkin gua udah ketemu lu dari lama kali ya." ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Samudra dengan senang.


"Nah, iya bener tuh. Gua udah selesai s2, terus gua balik dan gua di suruh bokap untuk mengurus Perusahaan di daerah sini. Awalnya gua enggak mau, cuman mau gimana lagi. Kalau gua nolak, lu tahu sendirikan. Pasti fasilitas gua bakalan di ambil. Jadi, ya udah gua terpaksa jalani semuanya. Dan lu gimana kabarnya, terus itu misi lu apa udah berhasil?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu membuat Samudra tersenyum. Sementara pria itu yang penasaran dengan arti senyuman itu, langsung mengajak Samudra untuk ke kantin agar mereka bisa mengobrol lebih santai lagi sambil mengopi.


Wajah keduanya sangatlah berseri, sama seperti sepasang kekasih yang baru saja ketemu. Nyatanya, mereka merupakan sepasang sahabat yang sempat terpisah karena harus meneruskan jalan hidup mereka masing-masing.


Dimana pria itu meneruskan masa pendidikannya untuk bisa memegang setengah saham dari orang tuanya, sementara Samudra meneruskan apa yang dia inginkan. Sesuai dengan misinya ketika dia baru masuk kuliah karena beasiswa.


Mereka berjalan bersama menuju kantin, disana pria itu menceritakan semua yang dia alami selama di luar negeri. Belum lagi tuntutan orang tuanya membuat dia sangat kesal, seharusnya dia mendapatkan saham yang ada di kota. Akan tetapi, dia malah di berikan saham yang ada di daerah situ dan semua itu harus si mulai dari nol.

__ADS_1


Samudra hanya bisa tersenyum mendengarkan sahabatnya ini berbicara tanpa henti, layaknya Bulan ketika dia sedang dalam mode mengambek.


"Huhh, sebenarnya gua enggak mau kaya gini, Sam. Lu tahu 'kan, dari kecil gua enggak pernah hidup susah. Cuman setelah gua lulus dengan nilai terbaik bahkan lulusan University terkenal gitu ya. Ehh, bokap malah kasih gua saham yang harus gua mulai dari nol. Bang*ke 'kan, kesel banget gua sumpah!"


Pria itu berbicara dengan nada yang sedikit meninggi sambil menyeruput kopi yang setengah panas. Samudra hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.


"Lu kenapa sih, Sam. Dari tadi gua cerita lu cuman senyam-senyum aja kek orang bisu. Emangnya cerita gua ada yang lucu? " tanyanya, kesal.


"Hehe, bu-bukan gitu. Dari kisah yang kamu ceritakan itu jauh lebih baik dari apa yang aku rasakan selama ini."


"Harusnya kamu itu lebih bersyukur lagi, kalau tidak dari sekarang mau kapan lagi kamu bisa mandiri. Dari cerita yang kamu ceritakan, aku paham. Disini orang tuamu itu sebenarnya tidak kejam, dia hanya sedang ingin memberikan kamu sebuah tantangan. Apakah kamu bisa melewatinya atau tidak?"


"Mereka hanya ingin melihat anaknya yang selama ini hidupnya serba berkecukupan, bahkan lebih. Apakah bisa menjadi laki-laki yang mandiri, ataukah laki-laki yang manja? Karena kelak, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin bagi keluarga kecilnya."


"Nah, jika kamu masih dalam keadaan manja, apakah kelak kamu akan selalu mengadahkan tangan kepada kedua orang tuamu, hanya untuk menghidupi keluarga kecilmu?"


"Terus, apakah kamu tidak malu. Jika kehidupanmu serta keluarga kecilmu itu ditanggung oleh kedua orang tuamu. Sementara kamu, apa mau selamanya hanya duduk manis menikmati yang ada tanpa usaha?"


"Banyak loh, contoh kehidupan di dunia ini yang tak seindah bayangan kita. Misalkan ada seorang pria yang hanya memiliki harta seadanya, hidup pas-pasan, tetapi punya semangat tinggi untuk bekerja. Maka, dia akan dihargai oleh pasangannya saat melihat hasil perjuangannya untuk mebahagiakan pasangannya."


"Berbeda kalau seorang pria hidup serba kemewahan dan apa-apa bisa keturutan, tetapi dia memiliki jiwa yang sangat malas untuk bekerja. Ya, maka dia harus terima jika setiap detik perkataan pasangannya bisa membuat hatinya terluka akibat kata-kata yang seakan-akan merendahkannya."


"Ingat, harga diri pria dan wanita itu sangatlah berbeda. Jika wanita dilihat dari tutur kata serta prilakunya yang baik, sementara pria terletak dari seberapa besar dia memiliki keinginan untuk bekerja. Kalau pria itu sangat malas untuk bekerja, apakah kelak harga dirinya tidak akan diinjak-injak oleh wanita yang apa-apa bisa sendiri, tanpa harus mengandalkan prianya?"


Degh!

__ADS_1


Jantung pria itu seketika nyaris saja berhenti ketika mendengar ceramah yang Samudra berikan. Karena meski dia beberapa kali di peringati oleh kedua orang tuanya, tetapi kata-kata Samudralah yang berhasil menyentuh hatinya.


...***Bersambung***...


__ADS_2