Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Hadiah Menyebalkan


__ADS_3

Akhirnya Bulan berjanji, setelah dia mengetahui orang itu Bulan akan jujur pada suaminya. Walau tanpa Bulan sadari, itu sama saja seperti dia menggali lubangnya sendiri.


Namun, mau bagaimana lagi. Ketakutan membuat Bulan tidak bisa berpikir jernih, yang saat ini dia pikirkan hanyalah bagaimana mencegah hal negatif itu masuk ke dalam rumahnya. Supaya tidak membuat apa yang sudah dia bangun selama ini, tidak hancur sia-sia hanya karena foto yang diambil untuk membuat Samudra menjadi salah paham.


Beberapa menit mereka mengobrol, tanpa di sadari mereka pun tertidur dalam keadaan saling memeluk satu sama lain. Seakan-akan posisi itu seperti melambangkan kekuatan cinta mereka, yang tidak akan pernah bisa di pisahkan dengan apapun, kecuali maut dan juga takdir.


...*...


...*...


Pagi hari, di saat Bulan baru saja sampai di meja kerjanya. Tiba-tiba saja dia kebingungan ketika menemukan 1 paper bag berukuran besar sudah berdiri tegak menyambutnya.


"Loh, ini paket punya siapa? Terus kenapa ada di atas mejaku? Perasaan aku tidak memesan apapun, terus kenapa ada disini?"


Bulan benar-benar kebingungan melihat sekitarnya, sambil mencari keberadaan seseorang yang menaruh paper bag tersebut diatas mejanya.


Namun, tidak ada satu pun orang yang terlihat oleh Bulan dan membuatnya semakin panik. Sampai akhirnya asisten Dzaky keluar dari ruangannya ingin membuat kopi, dan bertemu oleh Bulan yang baru saja duduk dalam keadaan bingung.


"Kenapa wajahmu? Sakit?" tanyanya, di dekat meja Bulan.


"Tuan, apa kau tahu. Paper bag ini punya siapa? Soalnya ada di mejaku, apakah ini punya Tuan atau Tuan Dzaky?" tanya Bulan, sambil menoleh.


"Bukan, Tuan Dzaky belum datang lagi ada urusan. Palingan abis jam makan siang Tuan kembali ke kantor." jawab asisten tersebut.


"Kalau bukan buat Tuan Dzaky, terus buat siapa?" tanya Bulan, penasaran.


Wajah Bulan terlihat semakin bingung, rasanya dia ingin membuka isi paper bag itu. Akan tetapi, dia juga ragu kalau itu paket milik orang lain.


"Itu punyamu, semalam Tuan Dzaky menghubungiku dan dia memintaku untuk memberikan itu padamu." jawab asisten itu, sedikit cuek.

__ADS_1


"Hahh? Tuan Dzaky memberikan aku hadiah? Perasaan aku tidak ulang tahun, bahkan tidak ada satu pun orang yang tahu tentang ulang tahunku kecuali keluargaku sendiri. Terus ini hadiah apa, dong?" tanya Bulan, semakin dibuat penasaran.


"Memangnya kau kira memberi hadiah hanya di waktu ulang tahun saja, bisa jadi 'kan itu bonus atas kerja kerasmu yang membantu mengurus data-data kontrak besar."


"Udah sih, terima aja. Rezeki enggak akan datang 2 kali, pamali kalau sampai rezeki di tolak apa lagi dari niat baik atasanmu sendiri yang langka. Udahlah, aku pergi dulu mau buat kopi!"


Asisten itu pun pergi meninggalkan Bulan yang masih terduduk penuh keterkejutan, ketika mengetahui bahwa itu adalah hadiah dari Dzaky, atasannya.


"Tumben, Tuan Dzaky baik sama aku. Biasanya kalau baik pasti ada maunya, jangan bilang habis ini aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak lagi?"


"Ckkk, menyebalkan sekali punya atasan seperti dia. Memang benar kata karyawan lainnya, Tuan Dzaky orang yang pilih kasih. Buktinya dia tidak pernah memberikan apapun pada karyawannya, cuman kenapa sama aku royal banget?"


"Aisshh, dahlah terserah dia mau gimana kek. Yang penting hadiah yang dia berikan tidak menggunakan uang gajiku. Lebih baik sekarang aku lihat saja isinya apa, paling juga kaya makanan gitu. Soalnya udah kelihatan jelas dari logo paper bagnya."


Bulan mengoceh sambil duduk dan perlahan mulai membuka paper bag tersebut. Di dalam ternyata ada 2 kotak sehingga Bulan harus membukanya satu persatu. Kotak pertama yang Bulan buka berisikan sarapan pagi dengan secarik kertas yang ada di dalamnya.



"Masyaallah, ternyata benar 'kan isinya makanan. Wah kelihatannya roti sandwich itu enak banget, eh tapi tunggu dulu!"


"Kenapa di dalam kotak roti itu ada suratnya? Ya ampun, aku berasa kaya ada jaman dulu yang masih pakai surat-suratan cuman untuk menyampaikan sesuatu. Padahal 'kan ada ponsel, kenapa harus lewat surat?"


Bulan menatap bingung ke arah surat tersebut, sampai akhirnya dia menepuk dahinya sendiri karena Bulan baru sadar jika dia tidak lagi memegang ponsel. Pantas saja Dzaky menyelipkan surat tersebut di dalamnya.


"Astagfirullah'alazim, ya Allah. Aku baru ingat, ponselku 'kan kemarin rusak. Jadi sudah pasti Tuan Dzaky memberikan surat untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Huhh, dasar Bulan pikun. Baru juga punya anak satu sudah pelupa hihi ...."


Celoteh Bulan tertawa ketika melihat isi dari kotak tersebut, kemudian tangannya mengambil kertas itu dan membukanya secara perlahan.


"Ekhem, kayanya ada yang lagi senang mendapat apa yang diinginkan. Padahal kemarin nangis-nagis, sekarang udah bisa ketawa lagi ya?"

__ADS_1


"Hati-hati, ingat suami dan anak di rumah. Jangan buat mereka kecewa, atas sikapmu yang mulai melencong. Waspada aja kalau keluar jalur, panjang urusannya. Akan ada banyak korban yang terkena imbasnya!"


Asisten itu sedikit menyindir Bulan, saat dia baru saja ingin kembali ke ruangannya melewati meja kerja Bulan seketika melihat Bulan yang sedang tertawa. Padahal dibalik tawanya itu, Bulan menertawakan kebod*dohannya sendiri karena pelupa.


Namun, yang di lihat asisten itu berbeda. Seakan-akan Bulan tertawa akibat dia sudah mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Sampai membuat dia menjadi salah paham.


Begitu juga Bulan, saat mendengar perkataan asisten Dzaky malah membuatnya semakin bingung tidak karuan.


Matanya mulai mengikuti kemana asisten itu pergi, setelah pintu ruangan tertutup barulah Bulan terdiam dan segera menatap lurus ke arah depan.


"Apa maksudnya berkata seperti itu? Jangan bilang kalau dia curiga, kalau aku menyukai Tuan Dzaky?"


"Hyaakk, dasar asisten aneh. Ya kali aku suka sama atasan menyebalkan seperti dia, ogah banget. Mendingan juga suamiku, walaupun dia tidak kaya raya, tetapi dia punya kebaikan, ketulusan dan juga jiwa kestria yang sangat luar biasa!"


Tak henti-hentinya Bulan mengoceh karena pertakaan asisten itu yang berhasil membuatnya sewot di pagi hari, sampai tidak terasa Bulan memakan roti tersebut dengan lahap sambil membaca isi surat yang Dzaky berikan.


...Semua ini saya berikan sebagai permintaan maaf, lantaran kemarin saya sudah membuatmu bersedih. Semoga kamu menyukainya dan jangan lupa kerjakan tugas yang ada di ruangan!...


...Pokoknya setelah saya kembali setelah makan siang, semua berkas itu sudah harus selesai dan berada di ruangan saya kembali. Atau semua yang saya berikan padamu akan saya tarik kembali. Paham!...


Isi surat tersebut berhasil membuat Bulan kesal, bagaimana tidak. Orang Dzaky hanya memberikan roti sandwich yang harganya paling tidak sampai menjual televisi, akan tetapi Dzaky malah ingin menukarnya sama tugas-tugas yang menumpuk di ruangannya.


Bagaimana tidak kesal coba, Bulan saja yang awalnya makan dengan cara cantik. Seketika berubah layaknya orang yang sedang mencabik-cabik musuhnya.


Namun, tak berhenti dari situ. Bulan masih melupakan kotak kedua yang berdiam diri di dalam paper bag tersebut. Saat Bulan mengingat, masih ada yang tertinggal. Rasanya Bulan sangat malas sekali untuk membukanya.


Cuman mau bagaimana lagi, dia juga penasaran sama isinya. Jadi, mau tidak mau. Suka tidak suka, Bulan tetap harus membukanya meskipun wajah terlihat sangat kesal.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2