Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Bertemu Ponakan Jefri


__ADS_3

Kurang lebih 2 jam, Samudra dan Raka sampai di halaman rumah. Tanpa harus membuang waktu banyak. Segera mungkin Samudra memandikan Raka, lalu memakaikan seragam.


Setelah itu, Samudra menyuapini Raka yang sedang memainkan games di dalam ponselnya. Selang beberapa menit semuanya sudah aman terkendali. Samudra segera mengantar Raka ke rumah Bi Edoh yang sudah menunggunya 5 menit yang lalu.


...*...


...*...


Tepat di jam istirahat sekitar pukul 12 siang menjelang Dzuhur, Raka dan kawan-kawannya langsung bergegas meninggalkan kelas menuju taman dan juga luar sekolah untuk membeli jajanan.


Namun, sayangnya. Ketika Raka keluar dan mencari Bi Edoh, tetapi dia tidak melihatnya. Raka celingak-celingkuk mencari keberadaan Bi Edoh sampai ada seseorang yang memanggilnya.


"Raka, sini!" ucap salah satu suster dari temannya yang Raka kenal.


"Ya, Bibi. Ada apa?" tanya Raka, saat dia sudah berada di hadapannya.


"Raka nyariin Bi Edoh ya? Maaf ya, Bi Edohnya lagi ke kamar mandi baru aja belum lama sih. Soalnya Bi Edoh bilang katanya perutnya lagi mules, nah ... Terus Bi Edoh nitipin ini, dia bilang kalau Raka udah keluar mau jajan ini ada uang buat Raka jajan."


"Cuman, Raka enggak boleh jajan sembarangan ya. Paling selesai Raka jajan nanti Bi Edoh udah balik lagi dari kamar mandi."


Suster itu tersenyum, sambil memberikan uang 10 ribu yang di titipin Bi Edoh kepada Raka untuk dia jajan


Ya, meskipun Raka masih kecil. Cuman dia sedikit mengerti tentang nominal uang, hanya saja dia sering lupa ketika beli jajan tidak mengambil kembaliannya dan malah langsung pergi begitu saja. Maka dari itu, setiap kali Raka mau jajan dia selalu di dampingi oleh Bi Edoh.


Namun, kali ini Raka harus jajan sendiri menggunakan uang yang sekarang sudah berada di dalam tangan mungilnya.


"Makasih, Bibi. Laka jajan dulu ya, nanti Laka kembali lagi." ucap Raka tersenyum menatapnya.


"Etts, tunggu. Raka tahu tidak ini uang 10 ribu banyak loh, jadi Raka kalau jajan hati-hati ya sama kembaliannya. Atau, mau Bibi anterin?" ucapnya, menawarkan diri.

__ADS_1


"Hem, tidak usah Bibi. Laka bisa kok, 'kan Laka sudah diajalin sama Ayah sama Bunda. Jadi, Laka udah bisa, enggak kaya dulu abis jajan langsung lali aja hehe ...." ucap Raka menyengir ketika dia mengingat kejadian lucu.


"Bener ya, jadi Bibi enggak usah nemenin nih?" ucapnya yang langsung diangguki oleh Raka.


"Ya sudah, jajan yang ngeyangin perut ya. Enggak boleh jajan aneh-aneh dan sembarangan. Oke? Nanti Bibi kena marah Bi Edoh kalau Raka bandel, enggak mau nurut." sahutnya cemberut, dan berpura-pura menekuk wajahnya seperti orang bersedih.


"Siap, Bibi. Laka janji, Laka bakalan nulut. Ya udah Bibi Laka jajan dulu ya, nanti kebulu abis Laka enggak kebagian. Dadah ...."


Laka pergi melambaikan tangannya sambil berlari kecil meninggalkan suster tersebut. Yang mana suster itu malah tertawa gemas melihat tingkaj Raka, berbeda dengan anak asuhnya yang sedikit nakal dan juga susah untuk dibilangin.


Beberapa suster lainnya pun selalu senang melihat Raka, karena dia merupakan anak yang baik dan juga pintar. Apa lagi kepatuhannya benar-benar membuat mereka mengacungi 2 jempolnya.


Ya, walaupun ada beberapa yang seperti Raka, cuman banyak sebagian anak yang seperti Raka sudah mulai susah untuk diaturnya dan juga dibilangin selalu saja membantah layaknya orang yang sudah dewasa.


Semua anak sepantara Raka sedang asyik jajan, sementara ada sepasang kekasih yang baru saja datang menggunakan motor ke TK tersebut untuk melihat ponakan dari di pria.


"Danu!" panggil pria itu sambil melambaikan tangannya, membuat anak yang dipanggil namanya pun menoleh.


"Aaa, ponakan Om tersayang. Akhirnya kita ketemu lagi ya, maafin Om. Baru bisa nemuin Danu lagi disini, soalnya Om baru ada waktu. Gapapa ya, jangan marah. Please!" ucap Jefri saat menggendong Danu.


"Ya, gapapa. Tapi, Om Jefli ke sini sama siapa? Kok Danu balu lihat Tante ini?" ucap Danu, menatap wanita di samping Jefri dengan wajah polosnya.


"Oh ini, kenalin ini calon istri Om Jefri. Namanya Tante Sabrina, cantik 'kan?" ucap Jefri tersenyum, sambil memperkenalkan Sabrina yang saat ini wajahnya terlihat tidak suka.


Namanya juga Sabrina, dia memang tidak menyukai anak kecil. Baginya anak kecil adalah anak yang paling menyebalkan baginya.


Dimana suaranya yang berisik, tingkahnya yang menguras emosi dan juga tangisannya yang hampir memecahkann gendang telinga, berhasil membuat Sabrina sangat muak dengan keberadaan anak kecil.


"Cantik, Om. Hai, tante. Aku Danu." ucap Danu tersenyum lebar sambil menjulurkan tangan mungilnya.

__ADS_1


"Hai juga!" sahut Sabrina cuek tanpa menjabat tangannya.


Danu yang melihat tingkah Sabrina yang sok cantik, membuat dia menatap ke arah Jefri kemudian membisikkannya dengan suara kecilnya.


"Om nemu Tante itu dimana? Kok cantik-cantik tapi sombong sih, dandanannya juga kaya Oma-oma yang ada di tipi-tipi ituloh. Ehh tapi, lebih kemirip badut jalanan sih hihi ...."


Danu cekikikan ketika dia baru selesai membisikan sesuatu di telinga Jefri, begitu juga Jefri dia ikut tertawa saat mendengar tawa Danu yang sangat lucu.


Mereka tertawa bersama membuat Sabrinya menatap malas ke arahnya, dia terlihat begitu cuek dengan apa yang mereka bicarakan.


Namun, ketika Sabrina sedang mengibaskan rambutnya sambil menutup sedikit wajahnya yang terkena sinar matahari.


"Aduh, panas banget sih. Dahlah, ayok katanya mau ke rumah Kakakmu. Kenapa harus ke sini sih!" keluh Sabrina, menatap kesal ke arah mereka.


"Sabarlah, Sayang. Aku nemuin ponakanku dulu, baru kita ke rumah Kakakku." jawab Jefri.


"Om mau ke lumahku? Wahh, asyik. Om Jefli nanti nginep ya, teyus kita main bareng. Oke?" ucap Danu, antusias ketika mendengar Jefri mengatakan akan ke rumahnya.


"Kalau nginep Om tidak bisa, tapi nanti pas Danu pulang sekolah Om udah ada di rumah Danu kok. Nanti kita main sampai puas ya, baru Om pulang ke rumah. Soalnya Tante sama Om besok kerja, sekarang aja Tante Sabrina ngambil cuti buat ketemu sama Danu. Jadi, Danu sekarang sekolah yang bener ya. Om mau ke rumah Danu dulu ketemu sama Mamah Danu, okay?"


Jefri menurunkan Danu dari gendongannya, kemudian Danu pun menganggukkan kepalanya dan pergi menuju Abang-abang yang memanggilnya lantaran jajanannya sudah jadi.


"Ckk, lama banget sih. Makannya kalau pergi tuh pakai mobil, ngapain sih pakai motor. Bikin kulit gosong aja, udah tahu skin care mahal. Malah diajak naik motor, enggak ngotak banget, sumpah!"


Sabrina memarahi Jefri dengan wajah kesalnya, cuman Jefri hanya bisa meminta maaf padanya. Sebenarnya Jefri memang punya mobil, cuman mobilnya tidak sebagus yang lain.


Ditambah lagi saat mau dipakai mobilnya malah rusak, jadi mau tidak mau mereka harus memakai motor. Hitung-hitung supaya bisa lebih dekat dan mesra lagi, tetapi namanya juga Sabrina dia selalu saja berbicara yang membuat hati Jefri serasa di cubit.


Disaat Sabrina sedang memarahi Jefri tiba-tiba saja Raka yang melihat wajah Sabrina tidak asing, langsung mendekatinya karena penasaran sama wajah Sabrina yang sedikit samar bagi Raka.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2