Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Mau Sampai Kapan Sabar?


__ADS_3

Yang lebih anehnya lagi, mereka melihat betapa asyiknya Raka bermain dengan Omanya. Ada rasa senang dan ada juga rasa iri, dari dalam hati Bulan.


Sementar Ibu Dara langsung menyambut mereka dan meminta tolong pada Bulan untuk menyiapkan minuman buat mereka semua serta cemilan. Dimana tadi pagi-pagi sekali Ibu Dara membuatkan tempe mendoan untuk cemilan mengganjal perut mereka semua.


...*...


...*...


Setelah beberapa hari berlalu, saat ini Bulan dan Samudra sedang berada di kamarnya setelah makan malam. Sementara Raka, dia lagi ingin bermain dan tidur bersama Neneknya.


"Mas, tabungan kita sudah mulai menipis. Bahkan sebentar lagi Raka sudah harus masuk sekolah TK kecil. Terus bagaimana caranya kita bisa mendaftarkan dia sekolah, jika keuangan kita saja sedang sekarat seperti ini?" tanya Bulan sambil melipat baju atas kasurnya.


Samudra yang tadinya sedang menatap ponselnya, kini langsung melihat ke arah Bulan dengan wajah yang sedikit tersenyum. Lalu menaruh ponselnya di dekat meja kecil.


"Sabar ya, Dek. Insyaallah nanti kita bisa mendapatkan rezeki yang lebih dari ini, selagi kita ada niat, usaha dan doa pasti kita bisa menyekolahkan Raka. Kamu tenang dulu ya, Mas juga lagi memikirkan itu semua kok."


"Kamu 'kan tahu, saat ini hasil panen dari sawah semuanya tidak ada yang menguntungkan. Jadi aku harus kembali memulainya dari nol."


"Mas mohon sabar ya, Dek. Jika Raka tidak bisa sekolah TK, bismillah aja insyaallah nanti kita sekolahkan langsung masuk sekolah dasar aja ya."


Samudra berbicara dengan nada yang sangat lembut kepada istrinya, bahkan dia tidak pernah sekalipun membentak atau berkata kasar padanya. Walaupun dirinya sendiri juga bingung, harus bagaimana lagi mencari uang demi menyekolahan Raka yang seusinya itu harusnya sudah mulai mengenal pendidikan dini.

__ADS_1


"Mas ini, dari kemarin bilangnya sabar, sobar, sabar, sobar mulu. Mau sampai kapan kita harus sabar, Mas? Sampai kapan!"


"Harusnya uang tabungan yang kita gunakan buat bayar pendaftaran sekolah Raka itu sudah ada, tapi gara-gara kamu. Raka harus mengesampingkan pendidikannya, lagian apa sih yang kamu andalin menjadi seorang petani, hahh?"


"Kamu tahu kan Mas, jadi petani itu bukan keahlianmu. Apa lagi petani itu tidak memiliki gaji tetap yang ada setiap bulan, seperti ketika kamu kerja di kantor. Mending kalau hasil panennya bagus, kita bisa mendapatkan uang banyak."


"Nah, kalau kaya gini gimana? Ini sih namanya bukan untung, tapi buntung iya. Mana yang jadi korbannya Raka pula, sampai-sampai dia tidak bisa makan enak seperti anak pada umumnya dan juga harus mengesampingkan pendidikannya!"


"Dimana sih pikiranmu, Mas? Katanya kamu mau membahagiakan kami, tapi mana? Harusnya kamu tuhkerja aja di kantoran kenapa harus milih jadi petani coba. Nyusahin orang ajah, kalau kami mati kelaparan gimana?"


Degh!


Samudra hanya terdiam mendengarkan keluh kesah istrinya yang cukup menggemaskan untuknya. Meski semua itu bagaikan cubitan yang diberikan Bulan pada hatinya, tetapi Samudra tetap selalu tersenyum sambil memperbanyak istigfar didalam hati kecilnya.


"Dek, dengerin Mas ya. Yang namanya pekerjaan itu tidak ada yang enak. Semua pun punya kesulitannya tersendiri, bahkan sebelum aku menjadi pekerja kantoran juga, aku sebagai penjual ikan di pasar loh. Kamu tidak tahu 'kan? Nah, maka dari itu. Kamu tidak boleh meremehkan pekerjaan."


"Mau kita sebagai petani, penjual, ataupun pekerja kantoran semuanya sama, Dek. Selagi rezeki yang kita hasilkan halal, insyaallah hidup kita akan aman sejahtera. Dari pada kita mendapatkan rezeki yang melimpah, tapi dengan cara tidak halal. Maka, sampai kapanpun hidup kita tidak tenang."


"Ingat, Dek. Banyak dikitnya rezeki itu tergantung dari kitanya. Sedikit apapun rezeki yang kita hasilkan, kalau kita bersyukur insyaallah akan selalu cukup. Namun, jika hasil yang kita dapatkan lebih banyak tanpa rasa bersyukur, ya itu akan selalu kurang, kurang dan kurang. Tidak akan pernah cukup untuk hal apapun itu."


"Jika kita hidup menyesuaikan gaya hidup orang, itu tidak akan pernah ada habisnya, Dek. Lebih baik kita hidup sesuai dengan apa yang kita punya, apa yang kita miliki dan apa yang kita hasilkan. Kuncinya hanya tawakal, ikhtiar dan berdoa. Insyaallah sesulit apapun rezeki, pasti kita bisa mendapatkannya."

__ADS_1


"Percaya sama kekuasaan Allah, kalau Dia sudah berkehendak kunfayakun, jadilah maka terjadilah. Apapun yang tidak mungkin di dunia ini bisa menjadi mungkin bagi-Nya."


Bulan yang mendengar ceramah dari suaminya hanya bisa menatapnya dengan kesal, karena setiap kali dia mengeluh Samudra selalu saja menyuruhnya untuk sabar. Sedangkan kebutuhan semakin meningkat, ditambah mereka juga memiliki anak yang sudah bertambah pintar yang seharusnya mengenal bangku sekolah.


Samudra hanya mengelus dadanya sambil tersenyum, dia melihat istrinya selalu menanggapi semua perkataannya bagaikan omong kosong.


"Mas itu enggak pernah tahu bagaimana rasanya ketika diolok-olok oleh tetangga disini, mereka selalu bilang kapan Raka sekolah? Kenapa Raka enggak pernah beli baju baru? Kenapa Raka tidak punya sepeda? Kenapa Raka tidak pernah jalan-jalan? Dan masih banyak lagi. Gimana rasanya Mas, gimana!"


"Ibu yang tahu semuanya, tapi Ibu selalu menyuruhku untuk diam, sabar dan mengalah. Aku capek Mas, capek! Kenapa hidup kita tuh kaya gini banget, mau makan enak aja harus sebulan sekali. Itu pun kalau hasil panenmu untung, lah kalau buntung. Kita mau makan apa kedepannya, hahh? Makan batu!"


"Kalau begini caranya aku udah enggak kuat Mas, mendingan kita pisah aja. Mungkin itu jalan yang terbaik buat semuanya. Mas bisa menjalani hidup Mas sendiri dan aku sama Raka juga bisa mencari kehidupanku sendiri. Adil bukan? Aku tidak akan merasa kesusahan, dan Mas pun tidak akan merasa terbebani atas hidupku, Ibuku dan juga Raka!"


Untuk pertama kalinya Bulan mengatakan perkataan yang sangat menyakiti hati suaminya, disaat Samudra sedang bertahan mati-matian atas sikap istrinya yang begitu kelewat batas. Sementara Bulan malah mati-matian membunuh kesabaran didalam hati suaminya.


Untungnya disini Samudra hanya bisa tersenyum tanpa mau terpancing oleh perkataan istrinya. Terlihat betul bahwa Samudra seperti sedang menahan air matanya, sedangkan Bulan dia malah asyik mondar-mandir menaruh baju yang sudah dia lipat tanpa merasa bersalah atas ucapannya sendiri.


"Mas ke depan dulu ya, kalau kamu udah selesai membereskan pakaiannya. Lebih baik kamu istirahat, tenangi pikiranmu supaya emosi di dalam dirimu bisa mereda."


"Mas tahu saat ini mungkin kamu lagi capek dengan semua masalah perekonomian kita. Akan tetapi pesan Mas cobalah sedikit saja bersabar, insyaallah suatu saat nanti kita bisa hidup seperti apa yang kamu inginkan."


Samudra berbicara sambil berdiri, lalu dia melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu kamar. Baru saja Samudra mau membuka pintu, tiba-tiba dia kembali mengurungkannya saa mendengar perkataan istrinya yang sedikit membuatnya mulai terpancing.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2