Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Memiliki Perasaan Lain


__ADS_3

Samudra tersenyum menganggukan kepalanya, lalu bersaliman kepada mertua dan anaknya. Ini lah hebatnya Samudra, hanya dengan sedikit saja memberikan nasihat. Raka suka benar-benar mengerti, seakan-akan cuman dialah yang bisa menasihati Raka dengan penuturan kata yang mudah di pahami.


Tak lupa Samudra juga menitip pesan


pada Raka. Jika memang dia sudah ngantuk, maka sebaiknya Raka tidur lebih awal dan tidak perlu memaksakan kehendak untuk menunggu Bundanya yang tidak tahu sampai rumah jam berapa.


Raka hanya mengangguk perlahan, lalu melihat Ayahnya sudah berjalan mulai menjauhinya. Bahkan suara motornya pun sudah tidak ada.


...*...


...*...


Bulan yang sudah mulai lelah mengerjakan kurang lebih 11 dokumen. Hanya tersisa 3 sampai 5 dokumen lagi, itu pun rasanya benar-benar capek.


Mau sampai kapan Bulan harus mengerjakan semuanya, sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah 7. Artinya, sebentar lagi semua karyawan akan kembali ke rumahnya masing-masing.


Rasanya Bulan ingin sekali segera pulang ke rumah agar bisa bermain dengan Raka, lantaran dia merasa kangen banget dengan anaknya yang hampir seharian ini tidak bertemu dengannya.


"Huhh, baru juga sehari masuk kerja, kok rasanya udah kangen banget sama Raka. Gimana ya dia di rumah, apa rewel atau enggak? Kasihan juga Ibu, pasti dia bingung. Apa lagi Raka tipekal anak yang susah untuk nangis, pasti sekalinya nangis lama banget."


"Mana ini masih tersisa 5 dokumen lagi, masa iya aku harus mengerjakan semuanya hari ini. Apa mungkin bisa kelar tepat waktu?"


"Toh, ini aja udah jam 6 dan dokumen masih tersisa 5 lagi, terus apa kabar dengan Mas Sam? Pasti saat ini Mas Sam udah ada di perjalanan. Masa aku tega, harus membuat Mas Sam menunggu lama di depan sih, kasian 'kan!"


Di saat Bulan sedang sibuk mengoceh dengan suara kecilnya sambil sedikit menata dokumen yang sudah dia pisahkan, antara yang sudah di kerjakan sama yang belum.


Tak lama ponselny berbunyi, dimana Samudra telah menelponnya untuk memberitahukan bahwa dia sudah sampai di depan kantor dan akan menunggu di tempat yang tidak jauh dari gerbang.


Bulan hanya bisa mengatakan bahwa dia masih menunggu sampai Tuannya keluar dari ruangannya, untuk pulang ke rumah. Barulah disitu Bulan bisa meninggalkan tempat kerjanya.


"Huhh, Tuan, Tuan. Mau sampai kapan sih ada di dalam ruangan terus, ayolah pulang. Cepat!"


"Kasihan suamiku, di sudah berada di depan untuk menungguku pulang, di tambah cuaca malam hari pasti sangat dingin. Aku cuman bisa berharap semoga Mas Sam tidak sampai terkena angin malam dan suhu tubuhnya tidak akan naik."

__ADS_1


"Haahh ... Kapan sih, aku bisa pulang!"


Bulan selalu mengeluh dan mendumel sendiri beberapa kali sambil membereskan meja kerjanya agar terlihat rapi ketika dia tinggalkan.


Tak selang beberapa menit, asisten Dzaky keluar dari ruangannya menuju ruangan atasannya untuk menjemputnya pulang, lantaran waktu sudah cukup larut malam.


Bulan melihat itu semua hanya bisa terdiam menatap ke arah pintu, dimana pintu terbuka bersamaan keluarnya mereka membuat Bulan segera berdiri untuk menghormatinya.


"Selamat malam, Tuan." sapa Bulan sambil tersenyum.


"Kenapa kamu masih ada di sini? Bukannya hampir semua karyawan sudah pulang?" tanya Dzaky, datar.


"Ya Tuan, tidak apa-apa. Saya nunggu Tuan sampai pulang, baru saya pulang. Lagi pula suami saya sudah jemput di depan sana 20 menit yang lalu," balas Bulan.


"Hem, ya sudah tinggalkan semua pekerjaanmu. Pulanglah, kembali lagi besok. Jangan sampai telat, jika kamu masih mau bekerja di sini!"


Dzaky menatap Bulan sekilas, lalu pergi bersama asistennya meninggalkan lantai atas. Selang beberapa detik, Bulan pun langsung bersiap-siap kemudian pergi meninggalkan meja kerjanya dengan sedikit terburu-buru.


"Sampai jam segini belum juga keluar, padahal ini hari pertama. Bagaimana kedepannya nanti? Apakah Bulan akan ada waktu untuk Raka? Apa lagi, dia berangkat kerja sangat pagi dan pulang larut malam seperti ini. Pasti mereka akan sangat jarang untuk bertemu."


"Disatu sisi Bulan pulang larut malam sehingga Raka pasti sudah tertidur, dan di posisi lainnya lagi Raka ingin sekali bisa bermain di temani oleh Bundanya."


"Hem, sudahlah. Biarkan Bulan meraih impiannya terlebih dahulu, namun jika semuanya sudah tidak bisa lagi di jangkau barulah aku akan mengambil keputusan demi kebaikanku, Raka dan juga dirinya."


Samudra berbicara di dalam hati kecilnya, saat matanya beberapa kali menoleh ke arah belakang melihat dari kejauhan kalau Bulan sama sekali belum terlihat.


Tak berselang beberapa menit, Bulan datang mendekati suaminya dengan wajah tersenyum dan terlihat begitu kelelahan akibat dia sedikit berlari.


"Assalammualaikum, Mas. Maaf ya nunggunya lama, soalnya atasanku baru aja pulang. Jadi, aku baru bisa keluar dari kantor."


"Waalaikumsalam, Dek. Ya, gapapa Sayang. Ya sudah ayo kita pulang, kasian Raka. Dia sudah nunggu kamu pulang loh."


Bulan langsung bersalaman pada suaminya, kemudian menatapnya dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Ya udah, ayo Mas. Aku juga kangen banget sama Raka. Rasanya kaya udah lama enggak ketemu dia, tapi Mas enggak jenuh 'kan nungguin aku?"


Perlahan Bulan naik ke motor suaminya, lalu dia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya.


"Sedikit sih, cuman gapapa. Yang penting Mas bisa mengantar dan menjemputmu kerja itu jauh lebih baik dari pada kamu harus pulang sendirian!" jawab Samudra, sambil menyalakan mesin motornya.


"Ya sudah, Mas. Nanti jika aku sudah gajian aku akan menyewa ojek langganan aja biar Mas enggak bolak-balik jemput aku. Kasihan Raka, pasti dia kesepian di rumah. Mas juga habis kerja di sawah, pasti capek. Jadi, lebih baik---"


"Selagi tubuh Mas sehat, apapun akan Mas lakukan demi kalian. Asal kamu tahu aja, Dek. Aku akan lebih tenang, kalau kamu berada di dalam pelukanku, dari pada aku duduk manis di rumah sedangkan kamu pulang menggunakan ojek. Paham, 'kan?


Bulan tersenyum mendengarperkataan manis itu dari bibir suaminya, sehingga dengan penuh kasih sayang. Bulan langsung memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan dagunya kepundak Samudra setelah dia menggunakan helm.


Mereka terlihat begitu mesra, sampai-sampai membuat seseorang yang berada di dalam mobil merasa sedikit iri.


Siapa lagi jika bukan Dzaky yang mobilnya berada tidak terlalu jauh dari motor Samudra. Ternyata Dzaky tidak langsung pulang, dia seakan-akan penasaran dengan sosok suami dari Bulan.


Hanya saja dia cuman bisa melihat dari sisi belakang, jadi wajah Samudra tidak terlihat jelas oleh pendangannya.


"Ohh jadi itu suaminya, boleh juga sih. Dari belakang penampilannya cukup gagah, terlihat juga kalau dia memang sangat mencintai istrinya. Cuman kenapa ya aku seperti mengenal pria itu, tapi siapa? Di tambah lagi hatiku kenapa terasa sesak ketika melihat adegan romantis itu?"


"Aarrghhh, si*al! Ada apa dengan perasaanku ini, kenapa jantungku rasanya mau copot?"


"Astaga, ingat Ky, ingat! Dia itu udah punya suami dan juga anak. Mana mungkin kalau kamu bisa memiliki perasaan lain sama tuh cewek!"


"Hahh, dahlah mending sekarang aku pulang bersih-bersih terus tidur. Jangan sampai besok telat datang ke kantor, bisa-bisa aku di cap jadi atasa yang tidak profesional!"


"Apa lagi aku selalu menanamkan sifat kedisplinan bagi semua karyawanmu, masa iya aku sendiri sebagai CEO mencontohkan yang tidak baik. Yang ada, aku bisa di demo sama mereka semua, huaa ... Tidak, tidak, tidak!"


"Pokoknya imageku harus tetap terjaga, jangan sampai rusak hanya karena wanita itu! Dasar menyebalkan!"


Dzaky berbicara dengan kesal di dalam mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya pergi meninggalkan kantor ketika motor Samudra sudah tidak terlihat oleh kedua matanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2