
"Sekali lagi kau berbicara seperti itu, maka hari ini adalah hari terakhirmu bekerja menjadi asisten pribadiku!"
Degh!
Mendengar ucapan Dzaky yang penuh keseriusan itu membuat asistennya langsung bergegas untuk meninggalkan ruangan demi keselamatan hidupnya.
Dia tidak mau jikalau Dzaky sampai hilaf memecatnya, maka tamatlah riwayatnya sekarang juga. Bisa-bisa dia akan kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa lagi menafkahi keluarganya dengan gaji yang Dzaky berikan setiap bulannya.
Sekeluarnya asisten itu dari ruangan Dzaky, pas bertepatan dengan Bulan yang ingin masuk ke dalam ruangan.
Baru saja Bulan mau mengetuk pintu ruangan, tiba-tiba pintu terbuka begitu saja hingga membuat asisten itu hampir saja menabrak Bulan.
"Astagfirullah, Tuan!" pekik Bulan langsung mundur menjauhi asisten Dzaky.
"Hyaakk, ngapain kamu disini hahh! Jangan bilang kamu lagi nguping pembicaraan saya sama Tuan?" ucapnya, terkejut.
"Yee, enak aj---"
"Ada apa ribut-ribut di luar!"
Dzaky memotong perkataan Bulan dari dalam ruangan, dengan keadaan pintu masih belum tertutup sempurna.
"Itu Tuan, asisten---"
Bulan menghentikan ucapannya di saat Dzaky melototkan matanya, menatap sinis ke arahnya. Sehingga dia menghentikan perkataannya dengan perasaan sedikit menakutkan setelah melihat tatapan Dzaky yang begitu menyeramkan.
"Kenapa dengan asistenku?" teriak Dzaky, menggunakan suara baritonnya.
"Eee-hehe ... Tu-tuan saya gapapa, kok. Saya kembali ke ruangan dulu, permisi!"
Dia pun segera menutup rapat pintu ruangan Dzaky, supaya Dzaky tidak mendengar perdebatan mereka.
__ADS_1
Pada akhirnya, asisten itu kembali menatap Bulan yang sedari tadi juga menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Lain kali kalau mau masuk ke ruangan Tuan, jika ada tamu yang berada di dalam. Urungkan niatmu untuk tidak mengganggunya, setelah tamu itu keluar barulah kamu bisa menemuinya. Paham!"
Bulan menganggukan kepalanya perlahan sambil sedikit menunduk, sampai akhirnya asisten Dzaky pun pergi begitu saja meninggalkannya menuju lift.
Dimana Bulan hanya bisa menatap kepergiannya dan langsung perlahan kembali mengetuk pintu ruangan Dzaky.
Tok, tok, tok!
"Tuan, ini saya Bulan." ucap Bulan di sela ketukan pintunya.
"Masuk!" sahut Dzaky dari dalam ruangan, suara begitu menggema.
Perlahan Bulan membuka pintu, lalu masuk ke dalam dan tak lupa kembali menutup pintu rapat-rapat. Kemudian kedua kakinya melangkah mendekati meja Dzaky, dimana Dzaky masih sibuk dan fokus pada pekerjaannya.
"Permisi Tuan, saya ke sini ingin memberikan beberapa berkas yang sudah saya kerjakan untuk Tuan periksa kembali. Sekalian saya ingin mengambil berkas lainnya yang mau saya kerjakan." ucap Bulan, memberikan sedikit senyuaman dengan paksa.
"Sudahlah, jangan banyak berbicara. Berikan berkasih itu, dan periksa berkas ini. Saya tidak mau banyak membuang waktu, karena hari ini saya ingin pulang lebih awal!" tegas Bulan.
"Memangnya ada rencana apa, sehingga kau sangat menginginkan pulang awal?" tanya Dzaky, penasaran.
"Itu bukan urusan Tuan, karena Tuan hanya bos saya bukan suami saya. Jadi jangan kepo dengan urusan pribadi saya, mengerti!" balas Bulan, perlahan maju beberapa langkah mendekati meja Dzaky.
Kemudian dia meletakkan beberapa berkas yang dia bawa ke atas meja Dzaky, sambil mengambil berkas lainnya yang berada diatas meja sebalah kanan.
Sementara Dzaky hanya terdiam saat menyaksikan adanya perubahan sikap Bulan kepadanya. Bagaimana tidak, Bulan yang awalnya selalu bersikap baik dan ramah, seketika berubah drastis menjadi cuek dan penuh keseriusan.
Sebenarnya Bulan lakukan itu semua demi menghindari isu-isu tidak baik antara Bulan dan Dzaky. Lantaran Bulan benar-benar tidak ingin jika semua kabar negatif itu sampai ke telinga anak dan suaminya, hingga membuat mereka menjadi salah paham.
Ya, walaupun Samudra sangat memberikan kepercayaan kepada istrinya, tetapi tidak menuntup kemungkinan kalau rasa cemburu itu akan selalu ada disaat mereka masih saling mencintai satu sama lain.
__ADS_1
"Ya sudah Tuan, saya pamit kembali ke meja saya, supaya bisa langsung mengerjakan semua tugas yang menumpuk ini. Permisi!"
Bulan segera bergegas balik badan dan berjalan perlahan menuju pintu keluar. Dimana Dzaky benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain melihat kepergian Bulan.
"A-ada apa dengan dia? Ke-kenapa sikapnya sangat berbeda, apa karena dia marah padaku ketika aku melihat video wanita ****y?"
"Cuman apa alasan dia marah saat aku melihat video itu, apa jangan-jangan Bulan juga memiliki perasaan yang sama padaku? Benarkah begitu?"
"Hyaakk, apaan sih Dzaky! Mana mungkin Bulan mencintaimu, sedangkan dia memiliki anak dan suami yang lengkap. Jadi stop berpikir kalau cintamu ini akan terbalaskan, karena sampai kapanpun Bulan tidak akan pernah menjadi milikmu!"
Dzaky menegaskan dirinya sendiri agar perasannya tidak semakin berlarut kepada Bulan. Dzaky memang sadar bahwa dia sudah kelewat batasan, akan tetapi Dzaky tidak seperti pria lain yang ingin menghancurkan rumah tangga orang lain.
Namun, yang Dzaky bingungkan saat ini hanya satu. Kenapa dia bisa mencintai istri orang sedalam ini? Apa alasan cinta itu hadir ketika Dzaky tahu kalau Bulan tidak akan pernah bisa dia genggam, layaknya wanita single lainnya.
Entahlah, Dzaky sendiri pun bingung. Dia belum bisa memahami perasaannya sendiri. Sering kali Dzaky meraung ketika rasa cinta itu semakin menggebu-gebu di dalam hatinya, cuman Dzaky kembali di sadarkan bahwa Bulan bukanlah jodoh yang sebenarnya.
Sampai akhirnya Dzaky kembali menyibukan dirinya dengan bekerja, agar pikirannya tidak sampai terngiang-ngiang tentang Bulan.
Dzaky benar-benar berusaha keras untuk memendam perasaan itu, supaya hilang. Karena Dzaky tidak mau jika suatu saat nanti dia akan lepas kendali, dan malah merebut yang bukan haknya.
Sementara Bulan yang sudah kembali duduk di mejanya sambil mengerjakan berkas yang baru dia ambil di meja Dzaky, membuat dia hanya fokus pada layar laptopnya. Sesekali melirik ke arah dokumen yang sedang dia rombak untuk sedikit membenarkannya.
Bulan sengaja bersikap seperti ini untuk menjauhi Dzaky, karena dia sudah lelah di fitnah sana-sini dan dianggap sebagai wanita murahkan yang sedang mengincar pria kaya raya seperti Dzaky.
"Huhhh, sabar Bulan. Sabar! Ingat, tujuanmu. Jangan sampai semua itu sia-sia. Lagi pula aku tidak akan terpancing olehnya, sebab bagiku suamiku itu jauh lebih segalanya dari Tuan Dzaky."
"Ya, walaupun tidak sekaya Tuan Dzaky. Akan tetapi, Mas Sam sangat menyayangiku, mensuport diriku, dan selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dia pun tidak pernah lelah ataupun mengeluh ketika menghadapi sikap manjaku yang uring-uringan."
"Sudahlah, sekarang lebih baik aku fokus bekerja. Aku mau pekerjaan ini selesai lebih cepat, agar aku bisa pulang ke rumah dan bermain dengan Raka. Kasihan Raka, dia selalu merasa kesepian semenjak Neneknya tiada. Jadi, aku harus sering-sering pulang cepat agar bisa menghibur Raka agar dia tidak bosan dan juga suntuk ketika menghadapi kedua orang tuanya yang sibuk bekeja."
Bulan berbicara di dalam hatinya sambil sesekali di melihat ke arah ponselnya. Dimana tepat di layar kuncinya terdapat foto mereka bertiga sedang tersenyum penuh kebahagia.
__ADS_1
...***Bersambung***...